Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Sangkar Emas Berjalan
Di dalam limusin Rolls-Royce yang kedap suara, udara terasa jauh lebih menyesakkan bagi Aira daripada saat ia dikejar rentenir tadi. Arkanza duduk tepat di sampingnya—terlalu dekat hingga lutut mereka bersinggungan. Pria itu sudah melepas sarung tangan kulitnya, menatap telapak tangannya sendiri yang baru saja bersentuhan dengan kulit Aira.
"Kenapa diam? Tadi kau sangat berisik saat memohon nyawa," suara Arkanza memecah keheningan, dingin dan tajam.
Aira meremas ujung blusnya yang robek. "Saya... saya hanya masih tidak percaya. Anda benar-benar membayar dua miliar itu? Hanya untuk... menikahi saya?"
Arkanza menoleh, seringai tipis muncul di wajahnya yang sempurna namun kaku. "Jangan terlalu percaya diri, Aira. Aku tidak membelimu karena kecantikanmu. Di mataku, kau tidak lebih dari sekadar tabung oksigen berjalan."
"Tabung oksigen?" Aira mengerutkan kening. "Saya tidak mengerti."
"Kau tidak perlu mengerti. Kau hanya perlu patuh," Arkanza tiba-tiba menarik tangan Aira, membawa jemari gadis itu ke depan bibirnya. "Sentuh aku di sini."
Aira tersentak, mencoba menarik tangannya. "T-Tuan, apa yang Anda lakukan?"
"Kubilang sentuh!" bentak Arkanza rendah. "Letakkan tanganmu di leherku. Sekarang."
Dengan tangan gemetar, Aira menuruti perintah itu. Jemarinya yang dingin menyentuh kulit leher Arkanza yang terasa panas. Ia bisa merasakan denyut nadi pria itu yang berdetak kuat di bawah telapak tangannya.
Arkanza memejamkan mata, menghela napas panjang seolah baru saja mendapatkan pasokan udara paling murni di dunia. "Luar biasa... kau benar-benar nyata."
"Anda... Anda sakit?" bisik Aira, mulai menyadari keanehan pria ini.
Arkanza membuka matanya, kilatan obsesi terpancar di sana. "Aku sakit, dan kau adalah satu-satunya obatnya. Jadi, jangan pernah berpikir untuk melarikan diri, atau aku akan memastikan ayahmu mendekam di sel paling bawah di kota ini."
"Anda mengancam saya setelah menyelamatkan saya?" Aira tertawa getir, air mata kembali menggenang. "Semua pria sama saja. Ayahku menjualku pada rentenir, dan Anda... Anda membeli saya untuk dijadikan kelinci percobaan?"
"Sebut sesukamu," Arkanza mendekatkan wajahnya, hidung mereka hampir bersentuhan. Aroma parfum sandalwood yang mahal bercampur dengan feromon pria itu membuat Aira pening. "Tapi di sarangku, kau akan makan makanan terbaik, memakai pakaian termahal, dan tidur di ranjang paling empuk. Syaratnya hanya satu: Kau dilarang menolak sentuhanku."
"Bagaimana jika saya menolak?" tantang Aira dengan sisa keberaniannya.
Arkanza menarik tangan Aira lebih kuat, menekan telapak tangan gadis itu ke dadanya sendiri. "Jika kau menolak, aku akan mati sesak napas. Dan jika aku mati, seluruh aset yang melunasi hutangmu akan ditarik kembali. Kau ingin kembali ke asbak kristal dan rentenir tua itu?"
Aira terdiam. Lidahnya kelu. Pria di depannya ini adalah monster yang sangat logis dalam kekejamannya.
"Kenapa harus saya?" tanya Aira lirih. "Banyak wanita yang jauh lebih cantik dan bersih di luar sana yang pasti mau mengantre untuk Anda."
"Karena mereka semua racun!" Arkanza tiba-tiba mencengkeram bahu Aira, wajahnya mengeras teringat trauma masa lalu. "Setiap wanita yang menyentuhku membuatku ingin mati. Hanya kau... hanya kau yang tidak membuat kulitku terbakar."
Arkanza menatap bibir Aira yang sedikit bengkak akibat insiden tabrakan tadi. "Malam ini, di mansion, aku akan memastikan sekali lagi. Jika tubuhku tetap menerimamu, maka besok pagi, kau akan resmi menjadi Nyonya Malik."
"Dan jika tubuh Anda menolak saya nanti?"
Arkanza melepaskan cengkeramannya, kembali duduk tegak dengan angkuh. "Maka kau akan kubuang ke jalanan malam ini juga. Tanpa uang, tanpa perlindungan, dan dengan polisi yang mencarimu atas kasus penganiayaan Broto."
Aira memalingkan wajah ke jendela mobil, menatap lampu-lampu kota yang melesat cepat. Ia terjepit di antara penjara dan kematian.
"Jadi, Aira..." Arkanza berbisik tepat di telinganya saat mobil mulai memasuki gerbang mansion yang megah. "Berdoalah agar tubuhku terus menginginkanmu. Karena hanya itu satu-satunya tiketmu untuk tetap hidup."
Mobil berhenti. Pintu dibuka oleh barisan pelayan yang membungkuk rendah. Arkanza keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya yang telanjang—tanpa sarung tangan—ke arah Aira.
"Turun. Sambut neraka barumu, Istriku."