Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BALIK RERUNTUHAN
Jakarta sedang meradang. Di permukaan, kota ini tampak normal, tapi di Hunter Net, video runtuhnya kediaman Naga Perak sudah diputar berulang-ulang seperti kaset rusak.
Nama "The Nameless Sovereign" menjadi hantu baru yang menghantui mimpi buruk para petinggi Asosiasi.
Namun, di dalam bunker rahasia di bawah kawasan industri yang berkarat, Kenzo justru sedang menikmati sunyi.
Dia duduk bersila di tengah ruangan, sementara pedang hitam Pemangsa Langit tertancap di depannya. Bilah pedang itu berdenyut merah, seperti sedang bernapas.
“Rekan, detak jantungmu meningkat 15%. Kau sedang memikirkan cara membantai orang Jepang itu atau sedang membayangkan Elara tanpa pakaian?” suara sistem bergema di kepalanya, sinis dan tajam.
“Diem lo, mesin sialan. Gue lagi nyesuain Mana si Wirya,” batin Kenzo.
“Terserah. Tapi ingat, Mana mu sekarang menyentuh 1.800. Kau sudah bukan lagi pemulung jeroan monster. Kau adalah monster itu sendiri.” ucap sistem.
Langkah kaki cepat memecah konsentrasi Kenzo. Elara datang sambil membawa dua kaleng kopi dingin, rambut pirangnya berantakan, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.
"Situasi di luar udah kayak kandang singa kemasukan srigala, Ken," Elara melempar satu kaleng kopi yang ditangkap Kenzo tanpa menoleh. "Asosiasi Hunter ngeluarin status 'Siaga 1'. Bram lagi pusing tujuh keliling diteken dewan direksi buat nyari lo. Tapi untungnya, topeng lo itu bener-bener bikin lo kayak hantu. Nggak ada satu pun CCTV yang bisa nangkep muka lo."
Elara menyalakan hologram. Peta Jakarta menyala dengan titik titik merah yang berkedip di area Monas.
"Masalahnya, kekosongan kekuasaan Naga Perak bikin tikus-tikus luar negeri berdatangan. Tim 'The Black Sun' dari Jepang udah mendarat. Mereka bawa Artifact Extraction Device prototipe. Mereka mau ngelacak sisa Mana lo di lokasi kejadian, Ken. Kalau mereka berhasil dapet frekuensinya, identitas lo cuma tinggal masalah waktu."
Kenzo meneguk kopinya, matanya berkilat emas. "Mereka mau nyontek kekuatan gue? Lucu banget si. Siapa yang lo saranin buat bantu gue beresin ini, cantik?"
Elara mendekat, duduk di meja tepat di depan Kenzo sehingga kaki jenjangnya menggantung. "Valeria. Eks-Kapten Vanguard peringkat Rank A+. Setahun lalu dia dikhianatin Asosiasi di Gate Merah. Semua timnya mati, dan dia dijadiin kambing hitam. Sekarang dia cuma jadi tukang pukul di bar bawah tanah The Abyss."
Kenzo berdiri, berjalan mendekat hingga wajahnya sejajar dengan Elara. Dia meletakkan tangan di paha Elara, membuat gadis itu sedikit tersentak. "Cantik nggak?"
"Lebih dari cantik, Ken. Dia mematikan," desis Elara, wajahnya memerah saat Kenzo mencium aroma lehernya. "Lo butuh dia sebagai 'dinding'. Gue nggak bisa selamanya jagain punggung lo pake komputer."
"Gue berangkat sekarang," Kenzo mengecup kilat bibir Elara, sebuah godaan singkat yang membuat gadis itu mematung. "Siapin setelan tempur gue, El. Malam ini bakal panjang."
The Abyss baunya kayak perpaduan muntahan, alkohol murah, dan keputusasaan. Kenzo masuk dengan tudung hoodie tertutup, mengabaikan tatapan lapar para Hunter pecundang di sana. Di pojok, dia melihat Valeria.
Rambut pendeknya berantakan, dan matanya hanya menatap gelas vodka kosong seolah itu adalah makam teman temannya.
Dua pria bertato Cobra mendekati meja Valeria. "Hei, Kapten Sampah. Bos Viktor pengen lo jagain kiriman barang orang Jepang malam ini. Lumayan buat bayar utang minum lo."
Valeria tidak mendongak. "Pergi sebelum gue ganti usus lo jadi tali jemuran."
"Halah, sok jual mahal—"
KREK.
Kenzo bergerak lebih cepat dari penglihatan mereka. Dia melintir tangan pria itu hingga tulang rusuknya ikut bergeser. Saat pria satunya mau nyabut pisau, Kenzo cuma ngelepas sedikit Mana Pressure. Dua preman itu langsung pucat, lutut mereka gemetar, dan lari tunggang langgang tanpa pamit.
Kenzo duduk di depan Valeria, menaruh Inti Mana Rank A murni di meja. Cahaya birunya memantul di mata Valeria yang lelah.
"Asosiasi bikin lo jadi sampah, Val," kata Kenzo, suaranya dingin tapi menggoda. "Gue dateng buat nawarin sapu buat bersih bersih gedung mereka. Bukan sebagai kacung, tapi sebagai pedang pertama gue."
Valeria menatap Inti Mana itu, lalu menatap mata Kenzo yang berkilat emas di balik bayangan. "Kenapa gue? Banyak Hunter lain yang lebih 'bersih' dari gue."
Kenzo condongin badannya, bisik pelan di deket kuping Valeria. "Karena gue tau lo tipe cewek yang lebih suka mandi darah daripada mandi parfum mahal. Dan gue punya banyak stok darah buat lo malam ini. Mau liat Asosiasi terbakar dari barisan paling depan?"
Valeria terdiam, lalu sebuah seringai tipis muncul di wajahnya yang kasar. Dia menjabat tangan Kenzo. Tangannya kasar, penuh bekas luka, tapi genggamannya sangat kuat.
“Rekan, kau baru saja mendapatkan seekor anjing perang. Aku mencium aroma dendam yang sangat lezat dari wanita ini,” suara sistem terdengar puas.
Kembali di bunker, suasana berubah dari persembunyian menjadi markas tempur. Valeria sudah memakai zirah hitam yang pas di tubuh atletisnya, sementara Elara sibuk dengan lima layar di depannya.
"Situasi kritis, Bos," suara Elara berubah serius. "Orang Jepang itu... mereka nggak nunggu. Mereka buka Gate ilegal di bawah Monas pake artefak pemancing Mana. Mereka mau ambil Crystal of Origin di dalemnya sebelum Asosiasi nyadar. Kalau Gate itu meledak, setengah Jakarta bakal jadi kawah."
Kenzo menarik pedang hitamnya. Rune merah di bilahnya berdenyut kencang. "Valeria, ini tugas pertama lo. Lo masuk lewat depan, bikin kekacauan seolah ada serangan teroris. Gue mau semua perhatian mereka tertuju ke lo."
Valeria menarik dua belati peraknya. "Kekacauan adalah spesialisasi gue, Bos."
"Elara, matiin semua satelit pengawas di area Monas. Gue mau malam ini jadi malam yang paling gelap buat tim 'Black Sun'."
Kenzo memakai Mask of The Nameless. Wajahnya menghilang, digantikan oleh topeng hitam yang tampak menjerit dalam diam.
"Ayo berangkat gaskeun," perintah Kenzo.
Hujan deras mengguyur Jakarta saat mereka sampai di Monas. Di bawah monumen nasional itu, tim 'Black Sun' sedang sibuk memasang kabel kabel magis ke sebuah lubang dimensi yang berputar-putar.
Valeria melompat dari kegelapan, belatinya menebas leher penjaga pertama tanpa suara. "Pesta dimulai, anjing anjing Jepang!" teriaknya sambil melepaskan Mana peraknya yang meledak ledak.
Sementara itu, Kenzo bergerak seperti bayangan. Dia melewati barisan penjaga tanpa terdeteksi, matanya tertuju pada Takagi pemimpin tim Jepang yang sedang memegang artefak emas.
“Rekan, Takagi punya skill 'Shadow Manipulation'. Dia tahu kau ada di belakangnya. Tiga... dua... satu... SEKARANG!” ucap sistem.
Takagi berbalik, bayangannya memanjang membentuk tombak-tombak hitam. "Siapa kau?!"
Kenzo muncul dari kegelapan, pedang hitamnya beradu dengan tombak bayangan Takagi. Ledakan energi membuat tanah di bawah mereka retak.
"Gue?" Kenzo menyeringai di balik topengnya. "Gue adalah mimpi buruk yang lo undang ke Jakarta."
"Valeria, habisin sisanya! Jangan kasih mereka pulang!" teriak Kenzo sambil menerjang Takagi dengan kecepatan yang melampaui logika.
Malam itu, di bawah bayang bayang Monas, Jakarta akan menyaksikan bahwa penguasa sebenarnya tidak duduk di kursi pemerintahan, tapi berdiri di atas tumpukan mayat lawannya.