Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Dalam lelapnya yang seharusnya menjadi pemulihan, pikiran Luna justru terseret kembali ke lorong gelap masa lalu yang mengerikan.
Trauma itu rupanya belum sepenuhnya hilang; ia hanya bersembunyi di balik tumpukan kebahagiaan sesaat.
Di dalam mimpinya, Luna kembali berada di gudang tua yang dingin dan lembap.
Ia melihat bayangan Noah yang tertawa sinis sambil memegang seutas tali, sementara Dirga berdiri di sudut ruangan dengan tatapan dingin penuh pengkhianatan.
"Kamu tidak akan pernah bisa lari, Luna," suara Noah menggema, memantul di dinding-dinding beton.
"M-mas..Tolong aku.." igau Luna dalam tidurnya.
Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Tubuhnya yang mungil bergetar hebat di bawah selimut sutra yang mahal.
"J-jangan... Jangan mendekat..." suaranya semakin serak, penuh ketakutan.
Pratama, yang baru saja memejamkan mata, seketika tersentak bangun.
Ia melihat istrinya sedang berjuang dalam mimpi buruk yang hebat.
Tangan Luna yang tidak terpasang infus mencengkeram sprei dengan kuat hingga jemarinya memutih.
"Dik! Bangun, Dik! Ini Mas!" Pratama segera duduk dan merangkul bahu Luna, mencoba membangunkannya tanpa menyakiti tangannya yang sedang diinfus.
"Lepaskan... Mas Pratama! Tolong!" Luna berteriak kecil, napasnya tersengal-sengal.
"Sayang, lihat Mas! Kamu aman, kamu di rumah!"
Pratama menangkup kedua pipi Luna dengan telapak tangannya yang hangat.
"Noah tidak ada di sini. Dirga tidak ada di sini. Mas di sini, Mas menjagamu."
Luna tersentak bangun dengan mata melotot lebar dan napas yang memburu.
Begitu melihat wajah teduh Pratama di depannya, tangisnya pecah seketika.
Ia langsung menghambur ke pelukan suaminya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Pratama yang kokoh.
"Mas, mereka datang lagi. Mereka mau bawa aku pergi," isak Luna sesenggukan.
Pratama memeluknya dengan sangat erat, seolah ingin menunjukkan bahwa tidak akan ada satu orang pun yang bisa menembus penjagaannya.
Ia mengusap punggung Luna dengan gerakan lembut yang menenangkan.
"Sstt... tenang, Dik. Itu cuma mimpi. Mas janji, selama Mas masih bernapas, mereka tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. Mas di sini, Mas tidak akan ke mana-mana."
Pratama terus membisikkan kata-kata penenang dan doa-doa di telinga Luna sampai perlahan isak tangis itu mereda, meski tubuh Luna masih sesekali tersedak karena sisa ketakutannya.
Melihat istrinya yang masih gemetar hebat dalam pelukannya, Pratama tahu bahwa obat medis saja tidak cukup untuk menyembuhkan luka batin Luna.
Ia meraih tangan Luna, menggenggamnya erat, lalu mulai melantunkan sholawat Nabi dengan suara yang sangat rendah, lembut, dan penuh penghayatan.
Suara bariton Pratama yang tenang menggema di kamar yang sunyi itu.
Alunan sholawat yang keluar dari bibirnya seolah membawa energi kedamaian yang luar biasa.
Perlahan namun pasti, ketegangan di tubuh Luna mulai mengendur.
Cengkeraman tangannya pada baju Pratama perlahan melemah, dan napasnya yang semula memburu kini mulai tertata kembali.
Setiap bait doa yang diucapkan Pratama seakan menjadi benteng gaib yang mengusir bayang-bayang Noah dan Dirga dari pikiran Luna.
Dalam dekapan hangat suaminya, Luna merasa benar-benar terlindungi.
Perasaan aman itu menyelimutinya seperti selimut tebal di tengah malam yang dingin.
Hanya dalam beberapa menit, kelopak mata Luna kembali tertutup rapat.
Ia kembali terlelap, masuk ke dalam tidur yang lebih dalam tanpa gangguan mimpi buruk lagi.
Pratama tidak berhenti.
Ia terus melanjutkan bacaannya hingga ia yakin Luna benar-benar sudah tenang.
Setelah itu, ia mengecup ubun-ubun istrinya cukup lama.
"Tidurlah yang nyenyak, Sayang. Malaikat menjagamu," bisik Pratama lirih.
Ia tetap terjaga sepanjang sisa malam itu, duduk bersandar di kepala ranjang sambil terus memperhatikan setiap helaan napas Luna.
Baginya, malam ini adalah bukti bahwa perjuangannya menjaga Luna bukan hanya soal fisik, tapi juga soal menjaga ketenangan jiwanya.
Di tempat yang sangat kontras dengan kemewahan rumah Luna, suasana terasa lembap dan pengap.
Cahaya hanya berasal dari satu lampu bohlam yang berkedip-kedip di sebuah ruang bawah tanah milik Noah.
Ruangan itu penuh dengan layar monitor dan tumpukan botol minuman keras yang berserakan.
Noah duduk di depan layar yang menunjukkan beberapa rekaman CCTV ilegal dari kawasan perumahan elit, sementara Dirga mondar-mandir dengan gelisah, memegang sepucuk senjata api yang terus diperiksanya.
"Kita tidak bisa di sini terus, Noah!" bentak Dirga, suaranya parau karena kurang tidur.
"Polisi sudah mulai mengendus jaringan lamaku. Kalau kita tetap bersembunyi di lubang tikus ini, kita hanya tinggal menunggu waktu sampai mereka mendobrak pintu atas."
Noah memutar kursinya, wajahnya terlihat jauh lebih tirus dengan lingkaran hitam di bawah matanya.
"Lalu mau apa? Keluar sekarang sama saja menyerahkan leher ke polisi. Arini dan Papa Jati sudah memasang penjagaan berlapis."
"Aku tidak peduli!" Dirga memukul meja dengan keras.
"Aku kehilangan segalanya! Mulai dari posisiku di perusahaan, hartaku, namaku. Semua karena si tukang soto itu dan Luna yang keras kepala. Aku lebih baik mati sambil menyeret mereka bersamaku daripada membusuk di sini."
Noah menyeringai licik, matanya berkilat menatap salah satu layar monitor yang menunjukkan gerbang rumah baru Luna.
"Tenang, Dirga. Aku baru saja dapat info kalau si cantik Luna sedang sakit. Dia kena types dan harus istirahat total. Ini kesempatan kita."
"Maksudmu?" tanya Dirga sambil menyipitkan mata.
"Pratama pasti lengah karena fokus merawat Luna. Arini dan Papa Jati sibuk mengurus kantor yang kacau," Noah berdiri dan mengambil jaket hitamnya. "Kita akan menyerang saat mereka merasa paling aman. Kita tidak butuh banyak orang, cukup kita berdua untuk menyelesaikan urusan ini selamanya."
Dirga tersenyum sinis, merasakan adrenalin yang kembali memuncak.
"Bagus. Aku ingin melihat wajah Pratama saat dia menyadari bahwa keberaniannya tidak akan bisa menyelamatkan nyawa istrinya kali ini."
Di tengah kegelapan ruang bawah tanah itu, sebuah rencana jahat telah matang.
Mereka mulai mengemas peralatan, bersiap untuk keluar dari persembunyian demi satu serangan terakhir yang mematikan.
Malam yang sunyi di kediaman mewah itu mendadak berubah menjadi mencekam.
Di dalam kamar yang temaram, Pratama sedang bersimpuh di atas sajadah, tenggelam dalam kekhusyukan sholat Tahajud.
Suaranya yang melantunkan doa dalam sujud terakhir menjadi satu-satunya bunyi di ruangan itu.
Ceklek!
Noah dan Dirga menyelinap masuk layaknya bayangan hitam.
Mereka menatap Luna yang terbaring lemah dengan selang infus, lalu beralih pada Pratama yang masih bersujud.
Noah mengeluarkan senjata apinya, moncong pistol itu diarahkan tepat ke punggung Pratama yang tak berdaya.
Tepat saat itu, Luna terbangun karena firasat buruk.
Matanya membelalak melihat Noah yang siap menarik pelatuk ke arah suaminya.
"JANGAN!!" teriak Luna dengan sisa kekuatannya.
DORR!
Suara ledakan senjata api memecah keheningan malam.
Bukan Pratama yang jatuh, melainkan Luna yang dengan nekat melempar tubuhnya menghalangi arah peluru.
Peluru panas itu menembus bagian bawah dadanya.
"Luna!" teriak Pratama histeris, langsung membatalkan sholatnya dan menangkap tubuh istrinya yang lunglai.
Darah segar mulai merembes membasahi baju tidur Luna.
Noah dan Dirga membeku. Mereka tidak menyangka Luna akan melakukan tindakan senekat itu.
Ketakutan melihat darah dan mendengar sirine keamanan yang mendadak meraung di seluruh rumah, mereka segera berbalik lari tunggang langgang. Namun, di depan gerbang, mereka sudah dikepung.
"Jangan bergerak!" teriak tim keamanan. Noah dan Dirga tertunduk lesu, tangan mereka diborgol dengan kasar, mengakhiri pelarian pengecut mereka.
Di dalam kamar, suasana begitu memilukan.
"M-mas.." rintih Luna dengan suara yang nyaris hilang. Wajahnya sangat pucat, tangannya yang dingin berusaha menyentuh wajah Pratama.
"Tahan, Sayang! Jangan tutup matamu!" Pratama membopong tubuh istrinya dengan tangan gemetar.
Ia tidak peduli lagi dengan infus yang tercabut paksa. Air matanya jatuh menetes di pipi Luna.
Pratama berlari keluar rumah sambil mendekap erat tubuh Luna, meneriakkan nama istrinya seolah ingin menahan nyawa wanita itu agar tidak pergi.
👍👍👍👍