Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi
Kedamaian telah benar-benar kembali ke Queenstown. Kenneth dan James kini sering terlihat menghabiskan waktu di klub golf atau sekadar minum cerutu bersama, menertawakan betapa keras kepalanya mereka di masa muda.
Masa lalu yang berdarah itu telah mereka kubur dalam-dalam demi masa depan anak-anak mereka.
Malam itu, setelah pulang dari jamuan makan malam di kediaman Graciano berakhir, Alexa segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang kokoh, menarik napas dalam-dalam seolah mencoba menyimpan sisa aroma parfum Kenzo yang sempat terhirupnya tadi.
Kamar Alexa sangat mencerminkan kepribadiannya, elegan, rapi, dan minimalis. Namun, jika seseorang membuka laci meja riasnya yang paling bawah, mereka akan menemukan sebuah kotak beludru hitam yang sangat ia jaga.
Alexa duduk di tepi tempat tidur, membuka kotak itu dengan gerakan yang sangat lembut.
Di dalamnya terdapat sebuah sapu tangan satin berwarna biru tua dengan inisial "K.G."
barang milik Kenzo yang jatuh secara tidak sengaja yang diambil Alexa dan tak pernah ia kembalikan.
"Kau tumbuh dengan sangat luar biasa, Kenzo," bisik Alexa, jarinya mengusap inisial tersebut.
Alexa bangkit dan berjalan menuju jendela besarnya yang menghadap ke arah kota.
Di sudut meja kerjanya, terdapat sebuah buku sketsa. Ia membukanya, memperlihatkan puluhan gambar sketsa wajah Kenzo dari berbagai sudut. Ada Kenzo yang sedang mengerutkan kening saat membaca, Kenzo yang sedang menatap hujan di lampu merah tempo hari, hingga Kenzo yang sedang tersenyum tipis pada Hazel.
Semua sketsa itu dibuat dengan detail yang luar biasa. Alexa memuja setiap garis wajah Kenzo. Baginya, Kenzo bukan sekadar putra dari sahabat ayahnya, tapi sebuah mahakarya yang telah ia amati dari kejauhan selama bertahun-tahun.
"Semua orang mengira aku hanya gadis pendiam yang baru pulang dari luar negeri," gumamnya sambil tersenyum kecil pada pantulan dirinya di cermin. "Mereka tidak tahu bahwa setiap langkah yang kuambil, setiap buku yang kubaca, dan setiap tempat yang kukunjungi... semuanya adalah cara agar aku bisa sejajar denganmu."
Pemujaan Alexa tidak bersifat merusak. Ia tidak ingin menghancurkan Kenzo, ia ingin menjadi satu-satunya wanita yang layak berdiri di samping pria sekelas Kenzo Graciano. Itulah sebabnya ia belajar dengan sangat keras, menjaga bicaranya, dan memperhatikan setiap detail pakaiannya agar Kenzo selalu terkesan.
Ia mengambil ponselnya, melihat sebuah foto yang berhasil ia ambil secara diam-diam saat makan malam tadi, Kenzo sedang tertawa kecil sambil memegang gelas wine.
Alexa mencium layar ponselnya dengan lembut. "Tinggal sedikit lagi, Kenzo. Kau sudah mulai menatapku. Dan begitu kau benar-benar melihatku, kau tidak akan pernah bisa berpaling lagi."
Ia tahu tentang Liora. Ia menghargai perasaan Kenzo pada mendiang sahabatnya itu karena itu membuktikan bahwa Kenzo adalah pria yang setia. Alexa tidak ingin menghapus Liora, ia hanya ingin menjadi masa depan yang membuat Kenzo merasa tidak perlu lagi menoleh ke belakang.
Keesokan harinya, Alexa mengirimkan sebuah pesan singkat ke ponsel Kenzo.
"Terima kasih untuk makan malamnya, Kenzo. Sampai bertemu di galeri hari Sabtu nanti."
Alexa meletakkan ponselnya, kembali memasang wajah gadis baik-baik yang tenang, dan bersiap untuk sarapan bersama ayahnya, James, yang sama sekali tidak tahu betapa besarnya pemujaan putrinya terhadap putra Kenneth.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading 🥰
terimakasih
ceritanya bagus