Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34: Romansa Paris dan Surat Panggilan Jaksa
Paris, Prancis.
Cahaya matahari musim semi menerobos masuk lewat jendela kaca besar di Atelier Elie Saab. Di tengah ruangan privat itu, Kara Anindita berdiri di atas podium kecil.
Dia mengenakan mahakarya.
Gaun pengantin berwarna champagne white dengan ribuan kristal yang dijahit tangan, membentuk motif bunga yang rumit namun elegan. Ekor gaunnya menjuntai sepanjang tiga meter, memberikan kesan megah bak Ratu Eropa.
Desainer senior butik itu merapikan ujung veil Kara. "Sempurna, Mademoiselle. Ini jauh lebih hidup daripada sketsa awalnya."
Damian, yang duduk di sofa beludru sambil memegang gelas champagne, meletakkan gelasnya. Dia berdiri, berjalan mendekat, matanya tidak lepas dari Kara.
"Gimana?" tanya Kara, berputar pelan. "Lebih bagus dari gaun yang disiram wine itu kan?"
"Jangan bandingkan sampah dengan karya seni," jawab Damian. Suaranya rendah, penuh kekaguman. "Kamu terlihat... breathtaking."
Damian mengecup punggung tangan Kara. "Aku nggak sabar liat kamu jalan di altar pake ini."
Kara tersenyum bahagia. Rasa sakit hati di butik Pierre kemarin lenyap tak berbekas. Uang memang tidak bisa membeli cinta, tapi uang bisa membeli solusi terbaik untuk masalah hati.
Setelah fitting, mereka berjalan-jalan menyusuri tepi Sungai Seine. Angin Paris yang sejuk menerpa wajah mereka. Damian menggenggam tangan Kara erat, seolah tak mau melepaskannya sedetik pun.
"Habis nikah, kita tinggal di mana?" tanya Damian. "Rumahku di Menteng, atau kita beli penthouse baru?"
"Rumah baru aja. Jauh dari Ibumu," canda Kara. "Aku nggak mau tiap pagi sarapan teh campur sianida."
Mereka tertawa. Hidup terasa begitu ringan. Kara merasa dia sudah menang. Dia punya perusahaan, dia punya Damian, dan dia punya masa depan cerah.
Dia lupa, bahwa di Jakarta, matahari sedang terbenam dan bayang-bayang mulai bergerak.
Jakarta, Indonesia.
Di ruang kerjanya yang gelap, Bu Sofia meletakkan gagang telepon rumah antiknya.
"Terima kasih, Pak Dirjen. Saya tunggu kabar baiknya," ucap Bu Sofia datar sebelum menutup telepon.
Di seberang mejanya, Clarissa duduk dengan wajah cemas namun penuh harap.
"Gimana, Tante? Berhasil?"
Bu Sofia tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya.
"Uang bisa membeli gaun mahal di Paris, Clarissa. Tapi uang baru seperti mereka... seringkali lupa membersihkan jejak administrasinya."
"Surat perintah sudah keluar. Sore ini, 'Istana' Anindita akan diguncang gempa."
Kantor Pusat Anindita Group, Sudirman.
Suasana kantor yang biasanya sibuk tapi teratur, mendadak berubah menjadi neraka.
BRAK!
Pintu kaca lobi didorong paksa. Sepuluh orang pria berbadan tegap mengenakan rompi khusus bertuliskan SATGAS SUS (Satuan Tugas Khusus) masuk dengan langkah cepat.
"Mohon perhatian! Tidak ada yang boleh meninggalkan ruangan! Letakkan semua alat komunikasi!" teriak pemimpin rombongan itu sambil menunjukkan lencana kewenangan.
Resepsionis menjerit kaget. Satpam yang mencoba mendekat langsung ditahan.
Maya, asisten Kara, berlari keluar dari ruangannya. "Ada apa ini, Pak? Kalian siapa? Mana surat tugasnya?!"
"Kami dari Tim Penyidik Gabungan," jawab petugas itu dingin, menyodorkan selembar kertas berlogo garuda. "Surat Perintah Penggeledahan dan Penyitaan Aset PT. Anindita Group atas dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Penggelapan Pajak Korporasi."
Kaki Maya lemas. "Pencucian uang? Itu nggak mungkin! Bos saya bersih!"
"Jelaskan nanti di pengadilan. Sekarang, minggir. Kami akan menyita semua hard disk dan dokumen keuangan di ruangan CEO."
Para petugas itu merangsek masuk. Mereka membuka paksa lemari arsip, memasukkan tumpukan dokumen ke dalam boks plastik besar. Mereka mencabut kabel komputer server.
Garis polisi berwarna kuning-hitam dipasang melintang di pintu masuk ruangan Kara.
Maya gemetar. Dia merogoh saku celananya diam-diam, mencoba menghubungi satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan mereka.
Restoran Le Jules Verne, Menara Eiffel.
Makan malam itu sempurna. Foie gras, Caviar, dan pemandangan lampu kota Paris di bawah kaki mereka.
Kara sedang menyuapkan dessert ke mulut Damian sambil tertawa.
Drrrt... Drrrt...
HP Kara yang tergeletak di meja bergetar panjang.
Nama Pak Hadi (Legal) muncul di layar.
"Bentar ya, Pak Hadi telepon. Tumben malem-malem," kata Kara. Dia mengangkatnya dengan santai. "Halo, Pak Hadi? Jangan bilang ada dokumen merger yang kurang tanda tangan, saya lagi di Paris nih..."
"Nona Kara..." suara Pak Hadi di seberang sana terdengar panik dan napasnya memburu. "Nona harus pulang. Sekarang. Cari tiket pesawat paling cepat malam ini juga."
Senyum Kara memudar. "Kenapa, Pak? Ada masalah?"
"Kantor digeledah, Nona. Sekarang. Tim Satgas sedang mengangkut server kita."
Sendok di tangan Kara jatuh ke piring. Klunting.
"Digeledah? Atas dasar apa?!" suara Kara meninggi, membuat beberapa tamu restoran menoleh.
"Dugaannya Pencucian Uang dan Penggelapan Pajak selama 5 tahun terakhir. Dan yang lebih parah... Rekening operasional perusahaan baru saja di-freeze oleh otoritas keuangan. Kita lumpuh total, Nona."
Kara merasa darahnya surut dari wajah. Dunia sekelilingnya berputar. Menara Eiffel yang indah tiba-tiba terlihat seperti jeruji besi raksasa.
"Siapa..." desis Kara. "Siapa yang lapor?"
"Surat laporannya anonim. Tapi melihat kecepatan prosesnya... ini pesanan orang kuat, Nona. Sangat kuat."
Kara mematikan telepon. Tangannya gemetar hebat.
"Ra? Kenapa?" Damian memegang tangan Kara, wajahnya berubah siaga.
Kara menatap Damian dengan mata nanar.
"Kantor digeledah. Rekening dibekukan. Aku dituduh Money Laundering."
Damian menggeram. Rahangnya mengeras seketika. Dia tidak perlu bertanya siapa pelakunya. Dia tahu ibunya punya "teman" di posisi strategis yang bisa melakukan hal sekeji ini.
"Mama..." bisik Damian penuh amarah.
Kara berdiri, mengambil tasnya. "Aku harus pulang, Dam. Kalau aku nggak ada di sana besok pagi, mereka bakal ngeluarin surat DPO (Daftar Pencarian Orang). Aku bakal jadi buronan."
"Kita pulang," Damian berdiri, melempar serbetnya ke meja. "Aku panggil pilot sekarang."
Malam romantis itu berakhir tragis.
Mereka berlari meninggalkan restoran mewah itu, meninggalkan Paris, menuju pesawat jet yang akan membawa mereka kembali ke medan perang.
Tapi kali ini, Kara takut.
Musuhnya bukan lagi Rio yang bodoh atau Clarissa yang ceroboh.
Musuhnya adalah sistem. Dan melawan sistem... risikonya bukan cuma bangkrut, tapi penjara.
Di dalam taksi menuju bandara, Kara menatap jalanan Paris yang buram oleh air mata.
"Dam... kalau aku dipenjara... merger kita batal kan?"
Damian merangkul Kara erat, mencium puncak kepalanya.
"Nggak ada yang bakal penjara kamu. Aku bakal bakar seluruh Jakarta kalau perlu, buat ngeluarin kamu."
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏