Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *7
Setelah pembicaraan itu, Rin mulai berberes. Dia mulai mengemasi barang-barang yang benar-benar dia butuhkan di tempat tinggalnya yang baru. Sambil melakukan hal itu, wajahnya terlihat sangat murung. Bukan karena harus berpisah dengan tempat tinggalnya sekarang. Melainkan, karena hal-hal yang menyakitkan, yang datang secara terus menerus menghampiri hidupnya dalam sekejap.
"Rin."
"Ada apa, Ma?" Gadis itu bertanya tanpa menoleh. Sementara tangannya, terus memilih barang yang dia perlukan untuk dia bawa pergi.
"Baik-baik di tempat yang baru nantinya. Dan, jangan buat Mbayung merasa tidak nyaman karena kehadiran kamu. Dia-- "
Ucapan mamanya tertahan saat melihat Rin memberikan tatapan tajam ke arahnya. Sementara, Rin. Hatinya yang perih sangat mudah merasa emosi hanya dengan satu kata kecil saja.
"Aku belum pergi, Ma. Dan lagi, kenapa aku harus menjaga raut wajahku saat hatiku tidak baik-baik saja? Kenapa aku harus menjaga hati orang lain, sedangkan hatiku sendiri sedang terluka?"
"Rin. Dengarkan mama baik-baik! Jangan lampiaskan kesedihan mu pada orang yang bukan penyebabnya."
"Maksud, mama?" Rin berucap dengan nada penuh penekanan dengan cepat. "Jangan lampiaskan pada orang yang bukan penyebab? Apa maksudnya?"
"Rin! Mbayung itu anaknya baik. Dia juga tidak ingin memaksakan pernikahan ini. Tapi, ini adalah wasiat kakeknya. Kedua tetua itu telah berjanji untuk menyatukan keluarga lewat jalan pernikahan. Mbayung pernah mengatakan tidak ingin memaksa. Tapi sebelum neneknya meninggal, orang tua itu bersikeras untuk memastikan bahwa pernikahan ini tetap terlaksana."
Rin tidak punya kata-kata lagi untuk ia ucapkan. Mungkin, saat ini, rasa lelah dalam hatinya sudah melewati batas. Alhasil, dia hanya bisa mendengus pelan. Setelahnya, kembali melanjutkan pekerjaan memilih barang yang harus dia bawa ke desa.
...
Dua hari kemudian, Rin benar-benar berangkat ke desa. Orang tuanya ikut bersama untuk mengantarkan anak mereka ke tempat tinggal yang baru.
Perjalanan panjang terasa singkat, karena hati tidak menginginkan perjalan itu terjadi. Sepanjang perjalanan, mereka tiga hanya diam saja. Tidak banyak bicara.
Semakin jauh perjalanan yang mereka tempuh, semakin banyak pula pemandangan yang berubah. Mulai dari tiang-tiang listrik yang berganti dengan pohon. Ruko-ruko besar yang berganti dengan rumah-rumah sederhana. Hingga, jalan mulus yang berganti dengan bebatuan, lalu benar-benar berubah menjadi tanah.
Desa memang benar-benar jauh berbeda dari kota. Semuanya. Hampir semuanya tidak sama. Cara pandang orang desa juga sedikit lebih menakutkan di mata Rin.
Maklum, mereka adalah orang asing yang baru menginjakkan kaki ke tempat tersebut. Jadi, tentu saja akan terasa sangat canggung. Ketika mobil berhenti di depan gang utama yang ada di desa tersebut, Rin sangat enggan untuk turun.
Namun, bagaimanapun, dia tetap harus menginjakkan kaki ke tanah tersebut. Karena kedatangannya memang untuk tinggal di tempat asing itu.
Saat Rin baru membuka pintu setelah kedua orang tuanya turun. Seorang pemuda tampan datang mendekat. Pemuda itu terlihat cukup tampan untuk pria desa yang berpakaian jauh dari kata mewah. Rambut lurusnya jatuh rapi ke dahi. Tatapan matanya indah. Bibirnya manis sedikit memerah walau tanpa sentuhan pelembab bibir sedikitpun.
"Paman. Bibi. Selamat datang," ucap pemuda itu dengan sangat sopan.
Tidak hanya menyapa, pria itu juga meraih tangan papa dan mama Rin untuk bersalaman. Papa Rin menepuk pundak pria itu dengan pelan.
"Mbayung. Lama tidak bertemu, nak. Bagaimana kabar mu sekarang?"
"Aku baik, paman."
'Mbayung.' Rin menatapnya lekat. Ternyata, inilah sosok pemuda desa yang akan dinikahkan dengannya. Mbayung Kala Raka. Sebelumnya, Rin tidak pernah melihat wajah pemuda tersebut. Dia hanya pernah mendengar nama Mbayung di sebut setiap kali pembahasan perjodohan dibicarakan.
Tatapan Rin terhadap pria itu langsung berubah saat Mbayung melirik ke arahnya. Sedikit gugup dalam hati karena dirinya baru saja tertangkap basah karena sedang memperhatikan wajah tampan asing itu dengan tatapan sangat lekat.
Tidak ada senyum. Tidak ada sapa, pria itu langsung mendekat sesaat setelah mempersilahkan kedua orang tua Rin berjalan ke rumahnya.
"Biarkan aku bawa kopernya," ucap Bayu pelan.
Rin terlihat enggan untuk melepaskan barang tersebut. Tapi pada akhirnya, koper itu berpindah tangan juga tanpa banyak bicara.
"Terima kasih." Akhirnya, kata itu lolos dari bibir Rin tanpa terniat terlebih dahulu.
Pria itu tidak menjawab lagi. Sebaliknya, dia langsung beranjak maju tanpa banyak bicara. Rin menatapnya singkat. Setelah itu, ikut mengekori dari belakang.
Rumah desa sedikit sederhana. Terlihat cukup tua pula. Di dalam rumah itu hanya ada kursi kayu yang sepertinya sudah cukup berumur tua. Walau semuanya serba sederhana. Rumah ini terlihat rapi dan bersih. Semua tertata dengan indah di dalam rumah tersebut.
"Paman. Bibi. Silahkan duduk. Saya kebelakang sebentar."
"Tidak perlu repot, Bayu." Papa Rin angkat bicara.
"Paman. Tidak repot."
Pria itu langsung beranjak. Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan membawa satu teko kecil air yang berwarna oren. Sepertinya, itu adalah jus yang diperas secara manual. Karena di dalam air tersebut terdapat cukup banyak bulir jeruk. Tapi, tidak ada ampas jeruk di sana.
"Paman, bibi, silahkan. Maaf, hanya hidangan sederhana yang bisa saya sajikan. Karena di warung, stok makanan banyak yang kosong. Pemiliknya belum berangkat ke kota untuk belanja."
Senyum canggung mama Rin perlihatkan. Sementara papa Rin terlihat biasa saja. Mungkin, orang tua itu tidak memikirkan sedikitpun perasaan putri sulungnya.
"Gak papa, Bayu. Om kan sudah bilang tidak perlu repot-repot."
"Oh iya. Karena kami tidak bisa berlama-lama di sini, bagaimana kalau sekarang kita langsung membahas soal pernikahan itu saja," ucap papa Rin lagi setelah meneguk air yang Bayu suguhkan.
Pembicaraan yang langsung membuat jantung Rin berdetak dua kali lebih cepat. Walau sebelumnya, tujuan dia ke tempat itu sudah sangat jelas. Tapi pada kenyataannya, tetap saja, perasaan tidak bisa ia kendalikan dengan semaunya.
Karena pembahasan itu pula, Bayu langsung melirik Rin yang sedang menundukkan wajahnya. "Itu .... Aku ikut paman saja. Apapun yang paman katakan, aku akan terima."
Karena Bayu sudah berkata seperti itu, papa Rin langsung memutuskan, pernikahan Rin dan Bayu akan dilakukan nanti malam. Dengan berbagai pertimbangan tentunya, keputusan itu sudah dipikirkan baik-baik oleh papa Rin.
Pernikahan akan dilaksakan secara sederhana. Tidak ada resepsi, tidak pula ada acara hajatan yang meriah. Yang ada hanya, ijab kabut sebagai pengikat dua anak manusia dalam satu ikatan rumah tangga.
Sejujurnya, hati Rin menolak akan hal itu dengan sangat keras. Sayangnya, mimpi yang ia punya sudah hancur karena sebuah pengkhianatan kedua orang yang paling ia percaya. Karena itu, dia membiarkan apapun keputusan yang akan orang tuanya ambil untuk dia. Bagi Rin, mungkin takdir itu adalah takdir yang cukup bisa ia terima buat saat ini.