Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebersamaan
Vila Puncak, Area Kolam Renang, Pukul 08.15
Kabut pagi masih menyelimuti lembah, menciptakan pemandangan seperti lukisan Tionghoa kuno. Udara begitu dingin hingga napas setiap orang mengembun menjadi awan putih kecil.
Tapi itu tak menyurutkan semangat Reza dan Roni, yang—dengan teriakan berani—lompat ke dalam kolam renang berpemanas yang uapnya mengepul ke udara dingin.
"ARRGGHH DINGIN BANGET PAGI-PAGI BEGINI!" teriak Roni, meski airnya hangat.
"DASAR GILA!" teriak Siska dari tepi kolam, mengenakan hoodie tebal dan menyeruput teh panas. Dia, Andika, dan Bowo memilih untuk menikmati sarapan di balkon yang diselimuti selimut.
Ferdy berdiri di ambang pintu kaca, memandangi pemandangan itu sambil menggenggam cangkir kopi hitam. Dia memakai sweter tebal dan celana training.
Malam yang tenang dan "percakapan" dengan Dasima telah memberinya ketenangan. Hari ini adalah hari terakhir, dan ada sesuatu yang ingin ia lakukan sebelum mereka pulang.
Kirana muncul dari dapur, membawa nampan berisi roti panggang dan selai. Dia tampil segar dengan rambut basah diikat sanggul sembarangan, memakai cardigan panjang dan legging.
"Sarapan sudah siap yang di dalam!" panggilnya.
Mereka semua akhirnya berkumpul di ruang makan besar dengan meja kayu panjang. Suasana riuh dengan cerita lucu kemarin malam, rencana hari ini, dan keluhan tentang betapa cepatnya waktu berlalu.
Setelah semua mulai makan, Ferdy mengetuk gelas jusnya dengan sendok.
"Teman-teman, boleh minta perhatian sebentar?"
Semua diam, memandangnya.
"Gue cuma mau bilang… terima kasih banyak udah nemenin gue ke sini. Acara ini… spesial banget buat gue. Nggak cuma buat ngerayain kelulusan skripsi, tapi juga buat ngerasain kayak gimana punya… keluarga besar kayak gini." Ucapannya tulus, dan beberapa mata mulai berkaca-kaca.
"Dulu, sebelum ketemu kalian, sebelum project PAMOR, sebelum… semua ini, gue cuma anak rantau yang numpang hidup di Jakarta, ngejar mimpi tapi sering banget nyaris nyerah.”
“Tapi kalian—Andika, Roni—lo berani ajak gue bikin project gila. Temen-temen skripsi, lo pada nggak pernah ninggalin gue meski gue sering ngambek dan hilang. Ibu Kos yang baik. Dan…" dia berhenti, menatap Kirana yang duduk di seberangnya,
"Kirana. Yang dari tabrakan nasib di kantin sampe sekarang jadi bagian penting dari perjalanan kita."
Kirana tersenyum, matanya bersinar.
"Makasih udah bikin acara kayak gini. Udah ngenalin kita semua sama dunia yang mungkin nggak pernah kita sentuh.”
“Tapi lebih dari itu, makasih udah nunjukkin kalo perbedaan latar belakang nggak harus jadi tembok. Kita bisa duduk di sini, makan roti panggang yang sama, ketawa soal hal yang sama."
Reza langsung nyeletuk, "Jadi, kapan lagi kita diundang ke sini, Kir? Sekalian ngerayain wisuda Ferdy nanti!"
Tawa riuh menyambut. Kirana tertawa sambil mengangguk. "Bisa saja! Kapan-kapan kita adain lagi. Yang penting kita semua masih kompak."
"KOM-PAK! KOM-PAK!" teriak Roni dan Reza bersahutan, membuat suasana semakin cair.
Ferdy melihat sekeliling. Ini adalah momen kebersamaan yang sempurna.
Tapi di balik bahunya, di dekat jendela yang memandang ke kabut, dia merasakan kehadiran yang juga memperhatikan, dengan perasaan campur aduk: bahagia melihat Raden-nya dicintai banyak orang, namun juga sedih karena tidak bisa benar-benar menjadi bagian dari kerumunan itu.
—
Pukul 14.00 – Persiapan Pulang
Koper dan tas sudah dikemas. Vila yang tadi berantakan oleh kehidupan, kini kembali rapi. Suasana sedikit melankolis karena akhir pekan yang menyenangkan telah usai.
Di halaman depan, mereka membagi penumpang untuk perjalanan pulang. Mobil sewa akan dikemudikan Andika, diisi oleh Roni, Reza, dan Siska. Itu artinya, Fortuner Kirana akan diisi oleh Kirana, Ferdy, dan Bowo.
"Gue yang nyetir aja," usul Ferdy tiba-tiba, sebelum pembagian final.
"Loe udah nyetir kemaren. Giliran gue."
Kirana terkejut, lalu senyum lebar muncul.
"Beneran? Nggak apa-apa?"
"Ya, kalau lo percaya sama nyetir gue," jawab Ferdy sambil mengambil kunci mobil dari tangan Kirana. Ini adalah cara untuk mengurangi "hutang budi" dan juga untuk menjaga agar ia yang memegang kendali—secara harfiah.
"Oke, deal," kata Kirana, senang.
Bowo dengan cerdik langsung membuka pintu belakang. "Gue tidur di belakang ya, masih ngantuk." Itu artinya, Ferdy dan Kirana akan ada di depan, berdua.
Mereka berpamitan dengan vila, berfoto terakhir, lalu mobil-mobil mulai meluncur menuruni jalan berliku meninggalkan kesejukan Puncak.
—
Di Dalam Fortuner, Pukul 14.45
Suasana di dalam mobil hangat dan nyaman. Bowo di belakang benar-benar tertidur lelap setelah lima menit perjalanan, mendengkur pelan. Musik jazz instrumental lemput diputar dari sound system premium mobil.
Ferdy fokus menyetir. Jalanan turunan berliku menuntut konsentrasi. Kirana duduk di sampingnya, awalnya diam, menikmati pemandangan dari jendela. Tapi perlahan, dia mulai mengobrol.
"Kamu nyetir ternyata smooth ya," puji Kirana.
"Jalanan Jakarta itu sekolah nyetir yang keras," jawab Ferdy sambil tersenyum.
"Dibandingin sama macet di Casablanca, jalan ini mah santai."
Mereka berbicara tentang banyak hal: rencana editing foto project heritage, kemungkinan pameran solo suatu hari nanti, bahkan tentang rencana wisuda Ferdy. Percakapan mengalir mudah, tanpa paksaan.
"Ferdy," ucap Kirana tiba-tiba, suaranya lebih serius.
"Aku mau bilang terima kasih juga. Untuk ucapanmu tadi pagi. Itu… berarti banget buat aku."
"Iya, dari hati," jawab Ferdy, matanya tetap di jalan.
"Dan… aku juga mau minta maaf. Untuk… kemarin malam. Aku agak berlebihan waktu takut angin aneh itu." Kirana menunduk, memainkan ujung cardigannya.
"Gak apa-apa. Semua orang punya ketakutan sendiri."
"Tapi… aku memegangmu. Dan itu mungkin bikin kamu nggak nyaman, mengingat… keadaanmu."
Ferdy diam sejenak. "Aku ngerti. Dan aku nggak marah. Tapi… ya, aku harap lo ngerti juga batasannya."
Kirana mengangguk. "Aku ngerti. Aku cuma… manusia. Kadang, refleks atau perasaan itu lebih kuat dari niat buat menjaga jarak."
Dia menatap profil Ferdy yang fokus. "Tapi janjiku masih sama. Aku akan tetap ada. Dan aku akan tetap menjaga jarak yang kamu mau. Tapi… izinkan aku untuk tetap… mengagumimu dari kejauhan."
Kalimat itu diucapkan dengan begitu tulus dan rendah hati, sehingga Ferdy merasa sedikit tersayat.
"Kirana, lo deserve orang yang bisa kasih lo perhatian penuh. Bukan orang kayak gue yang… hatinya udah punya penunggu."
"Tapi kamu yang aku mau," jawab Kirana pelan. "Dan siapa tahu? Mungkin 'penunggu' itu suatu hari akan memberkati kita. Atau… mungkin aku akan belajar untuk mencintaimu cukup dengan menjadi temanmu seumur hidup."
Perempuan ini luar biasa, pikir Ferdy. Kekuatan dan ketulusannya membuatnya hampir tidak punya daya.
Perjalanan berlanjut. Saat memasuki tol dan lalu lintas mulai lancar, obrolan menjadi lebih ringan. Mereka tertawa melihat Bowo yang tidur sambil bergumam aneh. Mereka berbagi cerita lucu masa kecil.
Di kursi belakang, di sebelah Bowo yang tidur, Dasima duduk. Dia mendengarkan setiap kata, merasakan setiap nuansa percakapan.
Kali ini, tidak ada kecemburuan yang membara. Yang ada adalah rasa hormat yang dalam pada keteguhan Kirana, dan rasa syukur yang tak terhingga pada kesetiaan Ferdy.
Kau menemukan orang-orang yang baik di kehidupan barumu, Raden, pikir Dasima dengan lembut. Dan aku senang untukmu.
—
Rest Area KM 50, Pukul 16.30
Mereka berhenti untuk sholat dan membeli oleh-oleh khas Puncak: stroberi dan teh. Di rest area, mereka bertemu lagi dengan mobil sewa. Semua terlihat segar kembali setelah istirahat.
"Siapa yang nyetir selanjutnya?" tanya Andika.
"Gue lanjutin aja," jawab Ferdy. "Masih kuat."
"Gantian dong, biar adil," usul Kirana.
"Sekarang aku yang nyetir."
Ferdy akhirnya setuju. Untuk perjalanan tersisa, dia akan duduk di samping, dan Bowo tetap di belakang. Tapi saat mereka kembali ke mobil, Bowo tiba-tiba mengeluh perut tidak enak, mungkin karena kebanyakan makan stroberi. Dia memilih untuk pindah ke mobil sewa, bertukar dengan Siska yang ingin coba naik mobil mewah.
Siska, yang cerdas dan sensitif, segera paham dinamika. Begitu mobil melaju, dia pura-pura sibuk dengan ponsel dan headphone-nya, memberi ruang pada mereka berdua di depan.
Perjalanan akhir menjadi lebih sunyi. Kirana menyetir dengan hati-hati. Ferdy kadang memandang keluar jendela, kadang menutup mata sejenak. Kelelahan akhir pekan mulai terasa.
Saat macet mulai terjadi di pintu tol Jakarta, Kirana berbicara pelan.
"Akhir pekan ini… adalah akhir pekan terbaik yang pernah aku habiskan dalam waktu lama, Ferdy."
Ferdy membuka mata. "Iya, gue juga."
"Bukan karena tempatnya. Tapi karena orang-orangnya. Terutama… karena kamu ada di sana."
"Kirana…"
"Aku tahu. Kamu nggak perlu bilang apa-apa. Cukup dengarkan aku kali ini. Aku bahagia bisa melihatmu tertawa lepas, bahagia melihatmu diterima teman-temanmu, bahagia bisa memberimu sedikit kebahagiaan. Itu sudah cukup buatku untuk sekarang."
Dia menatap jalan di depan, senyum kecil di bibirnya.
"Aku akan tetap di sini. Seperti yang aku janjikan. Dan aku akan terus mendukungmu, sebagai teman, sebagai rekan kerja. Tapi izinkan aku juga untuk… tetap mencintaimu, dengan caraku yang sunyi ini. Itu pilihanku."
Ferdy tidak bisa berkata-kata. Ada beban yang besar di dadanya, beban karena tidak bisa membalas perasaan sejujur dan setulus itu.
Mobil akhirnya sampai di depan kosan Ferdy di Lenteng Agung. Senja sudah mulai turun.
"Terima kasih untuk nyetirnya, dan untuk semuanya," ucap Ferdy sebelum turun.
"Terima kasih sudah mau datang," balas Kirana.
"Sampai ketemu lagi di meeting project."
Ferdy mengangguk, lalu pergi ke belakang mengucapkan selamat tinggal pada Siska, sebelum akhirnya masuk ke gerbang kosannya.
Dari dalam mobil, Kirana menatap punggungnya sampai hilang dari pandangan, lalu menarik napas panjang.
Siska melepas headphone-nya. "Dia cowok yang baik, Kir. Dan loe cewek yang kuat banget."
"Terima kasih, Siska. Aku cuma… mencoba."
"Tapi loe sadar kan, dia seperti tidak bisa balas perasaan loe?"
"Iya, aku sadar. Tapi mencintainya… sudah membuatku menjadi versi diriku yang lebih baik. Jadi, tidak ada penyesalan."
Sementara itu, di kamar kosnya, Ferdy melemparkan tasnya ke lantai dan berbaring di tempat tidur. Dia lelah, namun pikirannya penuh.
"Dasima," panggilnya.
"Aku di sini."
"Gue bingung. Kirana… dia terlalu baik. Dan perasaannya terlalu tulus."
"Kau tidak perlu bingung. Kau sudah jujur. Dan dia memilih untuk tetap mencintai dengan caranya. Hormati pilihannya, seperti dia menghormati pilihanmu."
"Tapi rasanya… gue nyakitin dia."
"Lebih menyakitkan jika kau membohonginya. Kau sudah melakukan yang benar, Raden. Sekarang, istirahatlah. Perjalanan panjang telah usai. Dan perjalanan yang lain masih menanti."
Ferdy mengangguk, memejamkan mata. Akhir pekan di Puncak telah berakhir, membawa kenangan indah, ikatan yang semakin kuat, dan konfirmasi akan perasaan-perasaan yang kompleks.
Dan seperti kata Dasima, perjalanan yang lain—mencari tahu kebenaran tentang masa lalu mereka—kini terasa lebih mendesak untuk dimulai.