Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian yang Sia-Sia
Hujan badai yang mengguyur Jakarta seolah mewakili kehancuran hati Katya. Dengan pipi yang masih terasa panas dan berdenyut akibat tamparan Donny, ia memacu mobilnya membelah jalanan yang licin. Pikirannya kosong, hanya ada gema suara tamparan dan senyum kemenangan Ian yang terus berputar di kepalanya. Ia tidak membawa apa pun, selain tas tangan dan luka yang menganga di batinnya.
"Cukup, Mas. Cukup," bisiknya di antara isak tangis yang tertahan.
Tujuannya hanya satu: rumah masa kecilnya. Rumah tempat ayahnya, Arman, selalu menjadi pelindung baginya. Meski ayahnya sedang sakit, Katya merasa hanya di sana ia bisa menemukan sisa-sisa kedamaian yang belum terjamah oleh racun keluarga Adiwangsa.
Sesampainya di halaman rumah orang tuanya, Katya berlari menembus hujan. Ia berharap pelukan hangat atau setidaknya keheningan yang menenangkan. Namun, saat ia membuka pintu depan yang tidak terkunci, pemandangan di ruang tengah membuatnya terpaku di tempat.
Aroma parfum mawar yang tajam dan asing menyeruak, mengalahkan aroma minyak kayu putih yang biasanya menyelimuti rumah itu. Di sofa panjang, ayahnya yang tampak pucat sedang bersandar. Dan di sampingnya, duduk seorang wanita yang sangat ia kenali: Clarissa.
Wanita itu sedang menyuapi Arman dengan bubur dengan gerakan yang sangat lembut, bahkan cenderung mesra. Ia sesekali mengusap bibir Arman dengan tisu dan membisikkan sesuatu yang membuat ayahnya tersenyum lemah.
"Ayah?" suara Katya terdengar parau, nyaris tak terdengar di antara gemuruh petir di luar.
Clarissa menoleh. Senyumnya mengembang, namun matanya memancarkan kilat kemenangan yang dingin. "Ah, Katya. Kamu pulang di waktu yang tepat. Ayahmu baru saja melewati masa kritisnya."
Katya melangkah mendekat dengan sisa-sisa kekuatannya. "Apa yang Tante lakukan di sini? Kenapa Tante bisa ada di rumah Ayahku?"
Arman menatap putrinya dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rasa sayang, namun tertutup oleh kabut keraguan. "Katya... Clarissa yang menjagaku sejak tadi. Dia... dia menceritakan banyak hal yang tidak pernah Ayah tahu soal Donny."
"Ayah, jangan percaya padanya! Dia bekerja sama dengan Ian untuk menghancurkan kita!" teriak Katya frustrasi. Ia mencoba meraih tangan ayahnya, namun Clarissa dengan halus menghalanginya.
"Sstt... Katya, jangan berteriak. Ayahmu butuh ketenangan. Lagi pula, bukankah seharusnya kamu bersama suamimu yang 'hebat' itu? Oh, aku lupa. Apakah pipimu itu bekas kasih sayang darinya?" tanya Clarissa sambil menunjuk bekas kemerahan di wajah Katya dengan nada mengejek.
Katya terperangah. Bagaimana Clarissa bisa tahu secepat itu?
"Jangan kaget. Ian selalu memberiku kabar terbaru. Kasihan sekali kamu, Katya. Menikahi pria yang hanya mencari bayangan mantan kekasihnya, lalu sekarang dibuang demi anak kandungnya yang selama ini ia sembunyikan," Clarissa berdiri, meletakkan mangkuk bubur, dan berjalan mendekati Katya dengan keanggunan seorang pemenang.
"Keluar dari sini, Clarissa! Ini rumah Ayahku!"
"Rumah ini? Rumah yang katanya dibeli dengan uang bantuan Donny?" Clarissa tertawa pendek. "Atau mungkin lebih tepatnya, rumah yang menjadi mahar untuk menjualmu?"
Arman terbatuk keras, wajahnya semakin memucat. "Katya... apakah benar Donny menikahimu hanya untuk aset tanah kita?"
"Tidak, Ayah! Itu fitnah!"
Clarissa menghela napas panjang, seolah merasa iba. "Katya, berhentilah membela pria yang sudah menyerah padamu. Kamu pikir kenapa Donny menamparmu tadi? Bukan hanya karena Ian. Tapi karena dia sudah menemukan jalan untuk lepas dari jeratanmu tanpa kehilangan citranya."
Wanita itu kemudian merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah map biru tua. Ia membukanya perlahan di depan mata Katya yang mulai mengabur karena air mata baru.
"Donny tahu kamu akan lari ke sini. Dia sudah menyiapkan ini melalui asistennya, Zaky, yang tadi memberikannya padaku untuk disampaikan kepadamu. Dia bilang, dia tidak ingin melihat wajahmu lagi setelah apa yang kamu lakukan pada Ian."
Katya menggelengkan kepala dengan keras. "Bohong! Mas Donny tidak mungkin melakukan itu secepat ini!"
"Dia pria yang praktis, Katya. Sekali kepercayaannya hilang, dia akan memotong bagian yang rusak agar tidak menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan saat ini, kamulah bagian yang rusak itu."
Clarissa menarik selembar kertas dari dalam map. Sebuah dokumen dengan kop surat kantor hukum ternama. Di bagian bawah kertas itu, terdapat kolom tanda tangan yang sudah terisi.
Jantung Katya seolah berhenti berdetak. Ia sangat mengenal guratan pena itu. Bold, tegas, dan sedikit miring ke kanan. Itu adalah tanda tangan suaminya. Tanda tangan yang biasanya membubuhkan restu pada kebahagiaan mereka, kini berada di tempat yang paling menghancurkan.
Clarissa menyodorkan kertas itu tepat di depan wajah Katya yang membeku. "Ini adalah Surat Gugatan Cerai dan Kesepakatan Hak Asuh Anak. Donny sudah menandatanganinya. Dia melepaskanmu, Katya. Dia memilih putranya, dia memilih masa lalunya, dan dia memilih untuk mengakhiri sandiwara ini. Sekarang, giliranmu untuk menandatanganinya dan pergi dari hidupnya selamanya."
Katya menatap tanda tangan Donny dengan pandangan nanar, sementara di luar, petir menyambar seolah ikut merobek sisa-sisa harapannya.