___
"Vanya Gabriella" memiliki kelainan saat menginjak usia 18 tahun,dimana dia sudah mengeluarkan as* padahal dia tidak hamil.
dan disekolah barunya dia bertemu dengan ketua OSIS, "Aiden Raditya", dan mereka adalah jodoh.
"lo ngelawan sama gua? "
bentak Aiden marah
"nggak kak...maaf"
jawab vanya sambil menunduk ketakutan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malamfeaver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab.35
Sinar matahari masuk malu-malu lewat jendela besar unit penthouse mewah itu. Biasanya, jam tujuh pagi suasana sudah sibuk dengan Vanya yang bolak-balik dandan dan Aiden yang sudah rapi dengan seragam OSIS-nya. Tapi pagi ini, suasananya beda total. Sunyi, tenang, dan aroma kopi bercampur susu hangat memenuhi ruangan.
Aiden masih berbaring di atas ranjang king size-nya. Kakinya yang dibalut perban elastis disangga oleh dua bantal tinggi. Wajahnya yang biasanya tegas kini terlihat sedikit lebih santai, meski sesekali dia meringis kalau posisi kakinya berubah.
"Kak... beneran nggak mau sekolah?" tanya Vanya yang baru keluar dari kamar mandi, sudah pakai kaos oversize dan celana pendek gemas. Rambutnya masih sedikit basah.
Aiden melirik istrinya, lalu menepuk sisi tempat tidur di sebelahnya. "Gimana mau sekolah, Gabriella? Jalan ke kamar mandi aja gue harus lompat-lompat kayak kelinci. Papi Andi juga sudah izinkan lewat telepon tadi subuh. Ketua OSIS butuh bed rest."
Vanya merangkak naik ke tempat tidur, duduk di samping kaki Aiden yang bengkak. "Ya udah, aku juga titip izin ke Elsa ya? Katanya aku mau jagain suami yang lagi manja."
"Bukan manja, tapi terluka demi masa depan kita ke Amerika," ralat Aiden sambil menarik tangan Vanya, mencium telapak tangannya lama. "Sini, deketan. Gue masih butuh obat yang tadi subuh kurang dosisnya."
Vanya mencibir, tapi dia tetap mendekatkan wajahnya ke dada Aiden. "Dasar! Alasan mulu!"
Baru saja suasana mau berubah jadi makin intim, tiba-tiba suara bel apartemen berbunyi nyaring. Ding-dong! Ding-dong!
Vanya tersentak kaget. "Siapa? Mami Bella.?"
"Cek sana. Kalau paket, suruh taruh depan aja," gumam Aiden yang malas bergerak.
Vanya bangkit, merapikan kaosnya sebentar, lalu berjalan menuju pintu depan. Begitu dia melihat layar interkom, matanya melotot. "Mampus! Mama Olivia sama Papa Airlangga!"
Vanya panik. Dia buru-buru lari kembali ke kamar. "Kak! Papa sama Mama ke sini! Sembunyiin itu! Itu... bungkus es batu sama botol-botolnya rapiin!"
Aiden langsung duduk tegak meski kakinya protes. "Ya biarin aja, Van. Kita kan udah sah. Lagian mereka orang tua kita."
Vanya nggak dengerin, dia sibuk masukin baju-baju kotor ke keranjang. Tak lama, pintu terbuka karena Mama Olivia memang punya access card cadangan.
"Vanya? Aiden? Loh, kok belum berangkat sekolah, Sayang?" suara lembut Mama Olivia terdengar dari ruang tamu.
Papa Airlangga menyusul di belakang, membawa keranjang buah besar. Begitu mereka masuk ke area kamar utama yang pintunya terbuka, mereka melihat Aiden yang lagi selonjoran dan Vanya yang mukanya merah padam.
"Eh, Papa... Mama... kok mendadak?" tanya Vanya cengengesan sambil menyalami tangan kedua orang tuanya.
"Mama khawatir pas Papi Andi telepon tadi pagi, katanya kaki Aiden cedera parah pas pertandingan kemarin. Ya ampun, Aiden... bengkak banget ini!" Mama Olivia langsung duduk di pinggir kasur, menatap kaki menantunya dengan iba.
Papa Airlangga menepuk bahu Aiden kuat. "Hebat kamu, Den. Papa bangga. Papi Andi tadi cerita di grup keluarga, kamu tetap main sampai akhir meski kaki sakit begitu. Itu baru laki-laki!"
"Terima kasih, Pa. Cuma cedera ringan kok, beberapa hari juga sembuh," jawab Aiden sopan, auranya langsung berubah jadi menantu teladan yang berwibawa.
Nggak lama setelah itu, pintu apartemen kembali terbuka. Kali ini Papi Andi Mahesa masuk bersama Mami Bella. Mami Bella tampil modis seperti biasa, meskipun mukanya kelihatan agak lelah.
"Vino mana, Mi?" tanya Vanya sambil mencium tangan mertuanya.
"Vino lagi les renang, Sayang. Tadi dia nangis-nangis mau ikut ke sini ketemu 'Tata Anya', tapi Mami bilang Kak Aiden lagi sakit, nggak boleh diganggu. Akhirnya dia mau berangkat setelah dijanjikan beli es krim pulang les nanti," jawab Mami Bella sambil tertawa kecil.
Papi Andi, sebagai Ketua Yayasan Pendidikan yang membawahi SMA Garuda Bangsa, duduk di sofa kamar yang cukup luas itu. Dia menatap Aiden dan Vanya bergantian dengan raut wajah puas.
"Aiden, Vanya... Papi ke sini mau kasih kepastian. Tiket sudah Papi urus. Karena kalian juara regional, kalian resmi jadi wakil Indonesia untuk Olimpiade Olahraga dan Sains tingkat Internasional di New York," buka Papi Andi dengan nada tegas.
Semua orang di ruangan itu langsung hening, mendengarkan.
"Jadwalnya maju. Hari Senin kalian sudah harus sampai di New York untuk proses registrasi dan adaptasi cuaca. Olimpiade utamanya hari Sabtu minggu depannya. Jadi, kalian punya waktu beberapa hari buat latihan di sana," lanjut Papi Andi.
Vanya kaget. "Senin sudah harus di sana, Pi? Berarti minggu besok berangkat?!"
"Iya. Hari ini hari Kamis. Kalian punya waktu tiga hari buat packing dan istirahat total. Aiden, Papi nggak mau tahu, hari Senin pergelangan kaki kamu harus sudah bisa dipakai jalan meski pelan. Nanti Papi kirim dokter ortopedi pribadi ke sini jam 10 pagi buat fisioterapi."
"Siap, Pi. Aiden usahakan," jawab Aiden mantap.
Mami Bella mengelus pundak Vanya. "Vanya, kamu jagain Aiden ya. Jangan malah kamu yang manja terus. Inget, di Amerika nanti cuacanya dingin banget. Mami udah belikan beberapa winter coat baru buat kalian, nanti sore dikirim ke sini."
Mama Olivia mengangguk setuju. "Iya, Vanya. Jangan lupa bawa asupan yang cukup buat Aiden. Mama tahu Aiden sangat bergantung sama kamu kalau lagi stres atau sakit begini."
Vanya menunduk malu, apalagi pas Papa Airlangga tertawa kecil. "Papa doakan kalian bawa pulang emas. Tapi yang paling penting, kalian jaga kesehatan di sana. Jangan malah asyik jalan-jalan terus lupa lomba."
Obrolan itu berlanjut sampai siang. Para orang tua sibuk membahas teknis keberangkatan, sementara Vanya sibuk membuatkan teh hangat dan camilan untuk mereka semua. Melihat dua keluarga besar itu berkumpul di ruang tamu penthouse-nya, ada rasa hangat yang menjalar di hati Vanya.
Setelah para orang tua pulang sekitar jam dua siang, apartemen kembali sunyi. Vanya langsung mengunci pintu dan melempar tubuhnya ke sofa di samping Aiden.
"Huuu... capek banget pura-pura jadi istri dewasa depan mereka," keluh Vanya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Aiden.
Aiden merangkul pinggang Vanya, menariknya makin rapat. "Tapi lo hebat tadi. Pas Mama tanya soal makanan, lo pinter jawabnya."
"Iya dong! Tapi Kak... senin lusa kita udah berangkat. Aku deg-degan. Ini pertama kalinya kita jauh banget dari rumah, cuma berdua."
Aiden menoleh, menatap mata Vanya dengan intens. Dia mengusap pipi Vanya lembut. "Nggak cuma berdua, ada tim basket juga kan di hotel nanti. Tapi kalau di dalam kamar... itu wilayah kekuasaan gue. Nggak akan ada yang berani ganggu."
Vanya tersenyum manja, dia memeluk Aiden erat. "Janji ya, jangan sakit lagi kakinya. Aku nggak mau di New York nanti aku yang harus gendong Kakak."
Aiden terkekeh, suara beratnya terdengar sangat seksi di telinga Vanya. "Gue janji. Tapi sebagai imbalannya, sore ini... gue nggak mau ada interupsi lagi. Gue mau lanjutin sesi yang tertunda gara-gara Papa sama Papi tadi."
Vanya baru mau protes, tapi bibir Aiden sudah lebih dulu membungkamnya dengan lembut, membawa mereka kembali ke dunia mereka sendiri di lantai 21, menyiapkan energi untuk perjalanan besar mereka menuju Amerika Serikat.