___
"Vanya Gabriella" memiliki kelainan saat menginjak usia 18 tahun,dimana dia sudah mengeluarkan as* padahal dia tidak hamil.
dan disekolah barunya dia bertemu dengan ketua OSIS, "Aiden Raditya", dan mereka adalah jodoh.
"lo ngelawan sama gua? "
bentak Aiden marah
"nggak kak...maaf"
jawab vanya sambil menunduk ketakutan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malamfeaver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 36
Setelah kepergian rombongan orang tua yang cukup menguras energi mental, Vanya merasa tenaganya seolah tersedot habis. Ia kembali mengunci pintu penthouse dengan bunyi klik yang melegakan.
Di ruang tengah, Aiden masih setia pada posisinya, namun kini ia tampak sibuk dengan tablet di tangannya, menganalisis beberapa video pertandingan tim basket dari Amerika yang akan menjadi lawan mereka nanti.
"Kak, beneran Senin besok kita sudah harus berangkat?" tanya Vanya sambil menjatuhkan dirinya di samping Aiden. Ia langsung menyusupkan kepalanya ke bawah lengan Aiden, mencari posisi nyaman di ketiak suaminya.
Aiden meletakkan tabletnya, lalu beralih mengusap rambut Vanya. "Iya. Papi nggak pernah main-main kalau soal jadwal. Minggu malam kita sudah harus di bandara. Lo siap-siap aja, bakal banyak drama packing nanti."
"Ihh, aku kan jagonya kalau soal pilih baju! Yang masalah itu Kakak, kaki lagi sakit gitu gimana mau bawa koper gede?" Vanya mengerucutkan bibirnya, lalu tangannya mulai usil memainkan kancing kaos Aiden.
Aiden terkekeh, suaranya yang berat bergetar di dada, bikin Vanya makin nempel. "Kan ada istri gue yang hebat ini. Lagian, ada bagas sama yang lain. Mereka pasti mau jadi kuli angkut gue asalkan gue traktir makan di New York nanti."
Baru saja Vanya ingin membalas dengan rengekan manjanya, ponsel Aiden di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan masuk di grup chat tim basket.
Den, posisi aman? Kita udah di lobi depan tower lo nih. Katanya Kapten lagi sekarat, jadi kita mau kesana sambil bawa martabak.
Aiden mendengus melihat pesan itu. "Anak-anak mau ke sini. Siapin camilan sana, Van. Jangan sampai mereka liat kamar kita yang berantakan."
Vanya langsung lompat kaget. "Hah?! Sekarang?! Kak! Aku belum beresin daster aku di sofa!"
Vanya langsung lari tunggang langgang membereskan beberapa barang pribadinya yang tercecer, sementara Aiden cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah heboh istrinya. Tak lama kemudian, bel berbunyi.
Begitu pintu dibuka, muncullah rombongan sirkus SMA Global Cendekia Bagas, Arga, Kiki, dan Rian.
Kiki dan Rian membawa beberapa kantong plastik berisi martabak dan minuman kaleng. "Gimana kaki lo, Den? Masih berbentuk kaki atau udah jadi..." tanya Kiki sambil menghampiri Aiden di sofa.
"Masih bisa buat nendang lo kalau lo berisik," jawab Aiden santai.
Vanya keluar dari arah dapur sambil membawa baki berisi gelas-gelas sirup dingin. "Eh, ada Kak Bagas, Kak Arga... diminum ya," ucap Vanya dengan nada yang diusahakan seformal mungkin, meski wajahnya tetap terlihat imut.
"Waduh, vanya Ma cantik aja Pantas aja Aiden nggak mau sekolah, mau jagain berlian ternyata," goda Rian sambil mengambil gelas sirup.
Aiden langsung melempar bantal kecil ke arah Rian. "Mulut lo dijaga. Duduk."
Mereka akhirnya berkumpul di karpet bulu yang tebal, mengelilingi meja marmer yang penuh dengan martabak. Suasana yang tadinya sunyi berubah jadi sangat ramai. Mereka mulai membahas soal keberangkatan hari Senin nanti.
"Papi gue udah bilang ke gue, kita berangkat Senin jam 1 dini hari. Berarti Minggu malam jam 10 kita udah kumpul di Soetta," lapor Arga yang memang paling teliti soal jadwal.
"Gue udah cek ramalan cuaca, di New York lagi transisi ke musim dingin. Suhu bisa sampai 2 derajat celcius," tambah Rian sambil menunjukkan layar HP-nya.
Vanya yang duduk di samping Aiden langsung bergidik. "Dua derajat?! Itu mah kalau aku naruh air di luar langsung jadi es batu dong?"
"Makanya, Van. Nanti di sana jangan jauh-jauh dari Aiden. Dia kan badannya anget terus kayak termos," celetuk kiki yang langsung disambut tawa oleh bagas dan Rian. Vanya cuma bisa menunduk malu, sementara Aiden cuma tersenyum tipis senyum yang penuh arti yang cuma dimengerti oleh Vanya.
Obrolan berlanjut ke strategi permainan. Meski kaki Aiden sakit, otaknya tetap bekerja. Dia mulai memberikan instruksi pada Kiki sebagai playmaker cadangan jika sewaktu-waktu kakinya belum pulih 100 persen saat hari pertama latihan di New York nanti.
"Gue mau kita fokus di defense. Lawan kita di sana badannya gede-gede, Gas. Lo jangan cuma jago ngelawak, badan lo harus kuat nabrak mereka," tegas Aiden.
"Siap.., Demi medal menang, gue rela jadi banteng!" jawab Bagas semangat.
Hampir dua jam mereka mengobrol dan menghabiskan martabak, sampai akhirnya hari mulai gelap. Satu per satu mulai pamit pulang karena mereka juga harus menyiapkan barang-barang pribadi mereka.
"Gue balik dulu, Den. Van, jagain si Kapten ya. Jangan sampai dia makin sakit gara-gara olahraga malam melulu," bisik Bagas pelan pas lagi salaman di depan pintu, yang sayangnya masih bisa didengar Aiden.
"Bagas! Keluar sekarang atau gue coret lo dari daftar pemain!" seru Aiden dari sofa. Bagas langsung lari sambil tertawa ngakak diikuti yang lain.
Setelah pintu tertutup dan suasana kembali sunyi, Vanya bersandar di pintu sambil menghela napas panjang. "Temen-temen Kakak beneran nggak ada yang waras ya.."
Aiden terkekeh, dia memberikan isyarat agar Vanya mendekat. "Tapi mereka loyal. Dan mereka beneran peduli kok."
Vanya berjalan mendekat, lalu duduk di antara kaki Aiden yang selonjoran. Dia mulai memijat pelan area sekitar perban Aiden dengan sangat hati-hati.
"Kak... beneran Senin kita berangkat? Aku ngerasa kayak baru kemarin aku pindah ke sini, terus sekarang kita mau ke belahan dunia lain."
Aiden menarik tangan Vanya, menghentikan pijatannya, lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya yang hangat.
"Dunia luar itu keras, Vanya. Tapi selama gue punya lo di samping gue, New York cuma bakal jadi tempat bermain kita."
Aiden mencium puncak kepala Vanya, menghirup aroma sampo stroberi yang selalu menenangkannya.
"Besok kita nggak usah sekolah lagi. Kita fokus packing. Gue mau lo bawa semua keperluan lo, jangan sampai ada yang ketinggalan, terutama perlengkapan tempur buat gue."
Vanya mendongak, matanya yang bulat menatap Aiden polos. "Perlengkapan tempur apa? Vitamin? Obat oles...?"
Aiden menyeringai nakal, senyum yang selalu sukses membuat jantung Vanya berolahraga lari maraton.
"Bukan. Itu... stok baju tidur lo yang lucu-lucu. Gue butuh pemandangan bagus biar nggak stres selama di hotel nanti."
"KAK AIDEN! MESUMNYA KELUAR LAGI!" teriak Vanya manja, dia menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah di dada Aiden, sementara suaminya itu tertawa puas, menikmati sisa malam mereka.
semoga sehat selalu sekeluarga dan selalu di tunggu Upnya... 💙💛💙😘😘😘
gimana hebochnya pasangan muda belia dengan calon debaynya.. 👍🏻👍👍🏻💙💛💙😘😘😘
makasih novel mu,sangat menghibur 😘💪💪
yg selalu ceroboh
jdi bikin semua susah