Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.
Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.
Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.
Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.
Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK YANG TAK SEHARUSNYA ADA Part 2
POV Maria
Tiga puluh dua kota pesisir melaporkan anomali gravitasi.
Tujuh negara kehilangan komunikasi laut selatan.
Vatikan mengirim pesan satu kalimat:
“Kitab Pra-Penciptaan Bab 0 telah dibuka.”
Aku menutup mata.
Itu tidak pernah terjadi.
Bahkan dalam perang dunia mana pun.
“Berapa lama?” tanya seseorang di ruangan.
Aku menjawab sebelum siapa pun sempat menghitung.
“Kurang dari dua puluh empat jam sebelum manifestasi penuh.”
Seseorang bersumpah pelan.
Aku menunjuk layar.
“Kita evakuasi semua rute selatan. Hentikan lalu lintas udara global lintang bawah. Aktifkan protokol langit gelap.”
“Langit gelap?” tanya jenderal NATO.
Aku menatapnya.
“Kita matikan satelit sipil. Semua.”
“Itu akan membuat dunia panik.”
“Dunia sudah mati jika kita tidak melakukannya.”
Tidak ada yang berdebat lagi.
POV Dunia — Sang Raja Sejati Kedua
Ia tidak bergerak.
Ia tidak perlu.
Realitas menyesuaikan diri di sekitarnya.
Air laut di bawah es menjadi padat.
Gelombang berhenti sebelum mencapai zona keberadaannya.
Dan di dalam sesuatu yang bisa disebut kesadaran—
Ia mengingat.
Bukan manusia.
Bukan peradaban.
Tapi eksperimen yang terlalu lama dibiarkan berjalan.
Dan eksperimen itu… akan dihapus.
POV Maria
Angin selatan memotong kulit seperti pisau tipis.
Sebastian berdiri di sebelahku. Diam. Stabil. Seperti selalu.
“Adrian tahu?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menegang sedikit.
“Dia tidak bodoh.”
Sebastian mengangguk. Tidak ada cemburu. Tidak ada tuduhan.
Hanya kelelahan seorang pria yang tahu dunia terlalu besar untuk konflik kecil.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Aku menatap cakrawala yang hampir tidak terlihat.
“Aku tidak tahu apa arti ‘baik’ lagi.”
Ia menyentuh pundakku sebentar.
Dan itu cukup.
POV Maria — Kesadaran Arthur
Denting itu berubah.
Bukan peringatan lagi.
Lebih seperti… kesedihan.
Dan untuk pertama kalinya—
Aku merasakan emosi dari warisan Arthur yang bukan milikku.
Penyesalan.
Aku menahan napas.
“Arthur…” bisikku dalam pikiran.
Tidak ada jawaban.
Hanya satu sensasi:
Ia pernah melawan yang ini.
Dan hampir kalah.
POV Dunia — Pesan Kedua
Semua layar dunia berkedip.
Tidak ada sinyal.
Tidak ada frekuensi.
Namun teks muncul:
Kesalahan fase dua dimulai.
POV Maria
Aku berdiri di ruang komando.
Semua orang menunggu.
Semua dunia menunggu.
Aku mengangkat kepala.
“Siapkan siaran global,” kataku.
Operator ragu.
“Isi pesannya, Yang Mulia?”
Aku menatap kamera utama.
Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi simbol dunia—
Aku berbicara bukan sebagai ratu.
Bukan sebagai komandan.
Tapi sebagai manusia yang tahu mungkin ini pesan terakhir sebelum dunia berubah selamanya.
“Ini Maria Joanna,” kataku.
“Apa pun yang terjadi dalam 24 jam ke depan—”
Aku berhenti.
Menarik napas.
“Jangan mati dalam ketakutan.”
Lampu siaran menyala merah.
Dan di selatan—
Langit mulai kehilangan warna.
POV Dunia — Antartika
Pertama—
Warna menghilang.
Bukan langit menjadi hitam.
Bukan cahaya padam.
Warna hanya… berhenti memiliki arti.
Sensor satelit tidak membaca suhu.
Tidak membaca tekanan udara.
Tidak membaca radiasi.
Karena semua konsep itu berhenti berlaku.
Zona Antartika Selatan berubah menjadi ruang yang tidak mau diukur.
Lalu—
Es pecah dari dalam.
Bukan retak.
Bukan hancur.
Terbuka.
Seperti luka lama yang akhirnya memutuskan untuk tidak menutup lagi.
Dan dari kedalaman yang tidak memiliki dasar—
Ia muncul.
Raja Sejati Kedua.
Tidak memiliki bentuk tetap.
Kadang seperti manusia terlalu tinggi.
Kadang seperti struktur geometris hidup.
Kadang seperti bayangan yang lupa bagaimana cara menjadi bayangan.
Di atas kepalanya—
Mahkota hitam.
Bukan logam.
Bukan energi.
Lebih seperti… konsep kekuasaan yang menolak realitas.
Saat ia melangkah—
Air laut di sekitarnya berubah menjadi permukaan datar sempurna.
Gravitasi berhenti bernegosiasi.
Dan untuk pertama kalinya—
Planet Bumi merasakan sesuatu berdiri di atasnya seperti meja eksperimen.
POV Maria
Aku jatuh berlutut.
Bukan karena serangan.
Karena otakku menolak memproses apa yang baru saja kurasakan.
“Dia… di sini,” bisikku.
Semua alarm kapal berbunyi bersamaan.
Lampu merah menyala.
Operator berteriak data yang tidak masuk akal.
“Zona gravitasi anomali meluas!”
“Gelombang laut berhenti!”
“Medan magnet… hilang!”
Sebastian berlutut di depanku.
“Maria. Lihat aku.”
Aku memaksakan fokus.
Wajahnya nyata.
Stabil.
Manusia.
“Aku masih di sini,” kataku.
Tapi bahkan aku tidak yakin.
POV Adrian
Aku melihat mereka.
Cara Sebastian memegang pundak Maria.
Cara Maria menatapnya seperti ia adalah jangkar terakhir dunia.
Dan sesuatu yang jelek muncul di dadaku.
Bukan marah.
Lebih seperti… kesadaran bahwa aku bukan pusat dunianya.
Dan mungkin… tidak pernah.
Aku menelan emosi itu.
Karena sekarang—
Kami mungkin akan mati bersama.
POV Dunia — Kota Pertama Jatuh
Valparaíso, Chili.
Penduduk melihat laut surut dalam satu napas.
Tidak ada tsunami.
Tidak ada gelombang raksasa.
Laut hanya… mundur.
Lalu berhenti.
Ikan menggantung di udara seolah lupa gravitasi.
Mobil berhenti bergerak.
Burung jatuh—bukan karena mati.
Karena udara kehilangan fungsi sebagai medium.
Lalu—
Langit retak.
Dan sebagian kota…
Menghilang.
Bukan meledak.
Bukan hancur.
Dihapus.
Seperti kesalahan pada dokumen digital.
POV Maria
Aku merasakan setiap kehidupan yang hilang seperti jarum tipis menembus sarafku.
“Aku harus pergi ke sana,” kataku.
Sebastian langsung:
“Aku ikut.”
Adrian, sepersekian detik lebih lambat:
“Aku juga.”
Dan di sana—
Konflik pertama muncul.
Halus.
Nyaris tak terlihat.
Tapi nyata.
Sebastian menatap Adrian.
Tidak bermusuhan.
Tapi menilai.
“Ini bukan misi heroik,” kata Sebastian.
“Ini kemungkinan bunuh diri.”
Adrian menjawab tenang.
“Semua yang kita lakukan sekarang adalah itu.”
Aku berdiri di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya—
Aku merasa dunia di luar lebih sederhana daripada dunia di dalam hatiku.
POV Dunia — Raja Sejati Kedua Berbicara
Tidak ada suara.
Tidak ada bahasa.
Tapi setiap makhluk hidup menerima satu makna:
Fase pembersihan dimulai.
Eksperimen gagal.
Realitas akan dikoreksi.
POV Maria — Bentuk Fisik Terlihat
Layar utama kapal akhirnya menampilkan visual.
Dan seluruh ruangan berhenti bernapas.
Ia berdiri di atas laut beku.
Tinggi sekitar dua kali manusia—
Tapi perspektif kamera selalu salah.
Seolah ia lebih besar dari yang bisa direkam.
Tubuhnya seperti lapisan realitas bertumpuk.
Terkadang transparan.
Terkadang padat seperti batu purba.
Mahkota hitam mengorbit perlahan di atas kepalanya—
Tidak menyentuh.
Tidak terikat gravitasi.
Dan matanya—
Kosong.
Tidak benci.
Tidak marah.
Hanya… tidak menganggap kami penting.
Aku berbisik:
“Dia bahkan tidak melihat kita sebagai musuh…”
Sebastian menjawab:
“Lebih buruk.”
POV Adrian
Maria berdiri terlalu dekat dengan Sebastian.
Itu detail kecil.
Tapi otak manusia tetap manusia bahkan saat kiamat datang.
Aku benci diriku karena memikirkan ini sekarang.
Tapi aku juga tahu—
Jika ini benar-benar akhir dunia…
Aku tidak ingin menghilang sebagai seseorang yang hanya berdiri di pinggir hidupnya.
“Maria,” panggilku.
Ia menoleh.
Dan untuk sepersekian detik—
Ratu hilang.
Hanya dia.
Itu cukup.
Untuk sekarang.
POV Dunia — Kota Kedua Jatuh
Cape Town.
Setengah langit berubah menjadi putih kosong.
Gedung tidak runtuh.
Mereka hanya… berhenti eksis.
Bayangan orang masih tertinggal beberapa detik di tanah.
Lalu hilang juga.
POV Maria — Transisi ke Perang
Aku menarik napas dalam.
Air mata hampir turun—
Tapi tidak sempat.
“Aktifkan mobilisasi global penuh,” kataku.
“Semua negara. Semua militer. Semua teknologi. Semua yang ada.”
Operator ragu.
“Itu berarti… perang dunia.”
Aku menatap layar Raja Sejati Kedua.
“Tidak.”
Aku berkata pelan.
“Itu berarti kita mencoba bertahan sebagai spesies.”
Di Antartika—
Raja Sejati Kedua mengangkat satu tangan.
Bukan ancaman.
Bukan serangan.
Lebih seperti… memilih titik berikutnya untuk dihapus.
Dan di seluruh dunia—
Langit mulai retak.
Bukan suara keras.
Bukan ledakan.
Hanya bunyi halus seperti kaca tipis yang tidak kuat menahan realitas.
Dan manusia—
Akhirnya sadar—
Mereka tidak pernah menjadi spesies dominan.
Mereka hanya…
Yang paling lama bertahan.
Perang bukan dimulai dengan tembakan.
Perang dimulai saat manusia memutuskan—
Mereka tidak akan pergi diam-diam.