Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. Sebuah penyesalan
Eva memukul dadanya beberapa kali seolah berusaha menghalau rasa sesak yang menjeratnya. Eva bukan lagi wanita angkuh, ia hanyalah wanita yang merasa bersalah atas takdir kejam yang menimpa putrinya. Di sebelahnya, Lucas juga sama kacaunya. Kemejanya terlihat kusut, rambut coklatnya begitu berantakan. Lucas seolah menampilkan sisi paling tidak sempurna dalam hidupnya.
"Nak, kembalilah. Ibu bersalah, Vana. Ibu yang paling bersalah". Isakan pilu itu bergema di dinding rumah sakit. Lucas menelan ludahnya beberapa kali. Pria itu berkali-kali menggeleng seolah tak percaya dengan pemandangan menyakitkan di depannya. Lucas seperti terjebak dalam labirin pikirannya sendiri. Ia marah dan kecewa namun bingung bagaimana caranya melampiaskan rasa sakitnya.
"Ervana Moses, bangunlah! Jangan hukum ibu dengan cara sebodoh ini". Eva merengkuh tubuh kaku putrinya. Air matanya jatuh membasahi jasad sang putri. Lucas nyaris gila melihat ibunya sekacau itu. Ah, ini titik terendah selama hidupnya. Kehilangan adiknya seperti kenyataan paling menakutkan yang menjerat jiwanya. Lucas tidak pernah takut pada apapun, namun kali ini ia terlihat seperti seorang pecundang buruk rupa.
"Bukankah kau ingin mendapatkan semua perhatian ibu? Bangunlah, ibu akan melakukan apapun asalkan kau membuka matamu. Ibu menyesal, Vana. Ah, gadis sepertimu tidak pantas mendapatkan ibu sepertiku. Putriku baik hati, Lucas. Putriku seperti malaikat. Bagaimana bisa maut berlaku sekejam ini padanya?"
"Ibu". Suara Lucas terdengar bergetar. Kain putih yang menutupi sebagian tubuh kaku adiknya seperti menegaskan satu hal, adiknya memang telah meninggalkan dunia fana ini.
"A-aku kehilangan adikku. Aku benar-benar kakak yang buruk. Jika aku tidak menyetujui usul Renita, mungkin Vana masih menjadi milik kita. Vana masih tinggal di rumah Moses walaupun ia seperti orang asing di sana. Ah, keluarga macam apa kita? Kita yang seharusnya memberi rasa aman pada Vana malah mendorongnya pada maut. Vana, maafkan aku! Aku kakak yang buruk". Suara pria itu tenggelam bersama tangisannya ketika ia masih menelungkupkan wajahnya di dahi adiknya.
"Hei bangunlah, kau memang gadis kecil yang egois. Apa begini caramu membalas dendam? Ini tidak adil, Vana! Kembalilah lalu peluk aku seperti yang kau lakukan dulu. Kau bahkan menangis jika aku tak mengangkat teleponmu. Ini benar-benar menyakitiku, Vana. Aku pikir aku tidak takut apapun, nyatanya hal yang paling aku takutkan adalah kehilangan dirimu dan sekarang kejadian ini memukulku dengan sangat keras". Lucas mengusap rambut panjang adiknya dengan gerakan pelan. Suaranya terdengar sumbang dan sangat kacau.
Pintu ruangan itu didorong pelan. Lucas bahkan tak perlu repot-repot untuk mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Renita dan ayahnya yang berdiri kokoh di depan pintu kamar ruangan itu.
Efendi berdehem pelan demi menghalau perasaan asing yang tiba-tiba menyusup ke relung hatinya. Ervana meninggal? Hatinya berbisik lirih. Dua kata itu membuatnya nyaris ambruk. Ia mungkin masih menunjukkan keangkuhannya, bertingkah seolah-olah ia sama sekali tidak merasa kehidupan. Namun nalurinya sebagai seorang ayah tentu tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Efendi Moses lihatlah tubuh kaku putrimu ibu!" Eva berucap lirih sambil menghapus air matanya dengan gerakan pelan. Efendi maju selangkah, kakinya bergetar karena gelombang ketakutan yang menguasainya dalam sekejap.
"I-ini Ervana?" Pertanyaan itu seperti sebuah bisikan liar angin sore.
"Ini putri ayah! Putri yang paling ayah benci". Lucas menatap lemah wajah kaku sang ayah.
Apakah aku benar-benar membenci putriku? Hatinya berbisik sekali lagi. Tubuh kecil yang dulu selalu memeluknya dengan sangat erat kini tertutup kain putih. Ya Tuhan, ia bahkan tidak bisa mempercayai kenyataan menyakitkan ini.
"Lucas, ini adikmu? Ini putri ayah?" Suara itu terdengar bergetar. Lucas tertawa getir mendengarnya, pertanyaan itu terdengar seperti sebuah kebodohan.
"Bukankah ini yang ayah harapkan? Membawa orang asing lalu mengabaikan putri kandung ayah?"
"Lucas, berhenti menyalahkan Renita. Dia tidak tau apa-apa". Efendi berucap pelan, tidak setegas biasanya.
"Kalau bukan karena anak pungut sialan ini, adikmu mungkin masih baik-baik saja. Drama bodoh dan murahan yang ia ciptakan membuatku terpengaruh. Apakah ayah tau jika Vana meninggal karena minum racun? Ia tidak tahan dengan beban berat yang menghimpitnya. Wah, keluarga seperti apa kita ini? Merawat seorang anak tak tau asal-usul lalu membunuh mental Vana. Penghinaan ini benar-benar menjijikkan! Aku marah sekali dengan ayah dan gadis bodoh itu". Lucas menunjuk ke arah Renita yang menundukkan kepalanya dengan ketakutan yang susah payah ia tutupi. Bagaimana mungkin Lucas semarah ini? Bukankah pria itu membenci adiknya?
"Kak, ak-"..
"Tutup mulutmu, sialan. Topeng apa lagi yang ingin kau tunjukkan? Tidak tau diri dan angkuh. Berlagak seolah-olah kau gadis paling suci padahal tak lebih dari seekor rubah, licik".
Sial, jangan sampai pria ini mencurigaiku. Renita meremas kedua tangannya dengan takut. Lucas Moses, pria yang selalu memberinya perhatian kini tak lebih dari seorang musuh yang siap mengoyakkan harga dirinya.
"Lucas, tenanglah Nak! Sekarang bukan waktu yang tepat untuk saling menyalahkan. Bagaimanapun juga Renita adalah adikmu". Eva Moses mendekat lalu memeluk erat tubuh bergetar Renita. Gadis licik itu terlihat sangat takut sekarang. Eva memang kehilangan putrinya, namun rasa sayangnya pada Renita tidak bisa ia abaikan. Bagaimanapun juga, Renita adalah putri yang ia besarkan selama belasan tahun.
"Aku tidak peduli". Lucas memilih keluar lalu bertemu dengan Bian dan Ema yang masih setia menunggu di bangku luar.
"Tuan".
"Bian, tolong urus semuanya. A-aku percayakan semuanya padamu". Lucas menepuk pundak pengawal muda itu dengan pelan.
"Baik Tuan, tapi bolehkah aku melihat jenazah nona?".
"Masuklah". Ucap Lucas sebelum mendudukkan tubuhnya di bangku tunggu itu.
"Tu-tuan Lucas". Suara itu milik Ema. Gadis itu masih berusaha keras untuk merebut perhatian Lucas walaupun pria itu kerap menghinanya.
"Lebih baik kau pergi daripada aku menghabisimu dengan caraku sendiri. Semoga setelah ini kau bisa menghirup udara segar, wanita sialan. Jika aku mendapatkan bukti tentang perbuatanmu, bukan hanya kau yang hancur tapi keluargamu. Ingat baik-baik pesanku ini". Tubuh Ema menegang karena amarah dan rasa takut. Kepatuhannya pada Renita membuat Lucas mencecarnya. Harusnya ia berada di posisi aman sekarang. Ini semua gara-gara wanita murahan itu.
"Tu-tuan aku-"..
"PERGI".