‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️
Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.
Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.
Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.
Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.
Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut
ANTI DAO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alam Rahasia Lembah Gunung Jinting 5
Kesadaran kembali kepada Lu Daimeng bukan dengan sentakan kaget, melainkan dengan kejernihan yang dingin dan absolut.
Dia membuka matanya.
Dunia di sekelilingnya sunyi. Gua tempat dia pingsan dua bulan lalu masih sama: gelap, lembap, dan dipenuhi tulang belulang yang kini telah menjadi debu karena energinya diserap habis. Mayat si Kerdil dan anak buahnya telah lenyap, hanya menyisakan tulang kering di lantai batu.
Lu Daimeng duduk tegak. Tidak ada rasa kaku. Tidak ada rasa sakit.
Tubuhnya terasa... sempurna.
Luka di bahunya telah tertutup, meninggalkan pola kulit yang lebih tebal, seolah-olah dilapisi baju zirah biologis yang tak terlihat. Tulang-tulangnya terasa berat, padat oleh mineral yang diserap dari bebatuan gua selama dia tidak sadar.
Namun, di balik kesempurnaan fisik itu, ada satu hal yang menjerit.
Lapar.
Bukan lapar karena perut kosong. Ini adalah kelaparan eksistensial. Singularitas Ganda (dua inti Anti-Dao) di dalam perutnya berputar dengan kecepatan gila, menuntut bahan bakar. Selama dua bulan koma, mereka telah menjaga Lu Daimeng tetap hidup dengan memakan apa saja yang ada di atmosfer gua, tapi itu hanya remah-remah. Sekarang mesin itu sudah bangun, dan mesin itu butuh bensin yang lebih tinggi.
Mata Lu Daimeng—sepasang Triple Pupil hitam yang berputar di dalam sklera hitam—langsung terkunci pada satu-satunya sumber energi di ruangan itu.
Telur Naga Hitam.
Telur setinggi dua meter itu masih berdiri di altar batu. Namun, detak jantungnya terdengar berbeda. Lebih cepat. Lebih panik.
DUM... DUM... DUM...
Telur itu tahu. Predator yang tidur di sebelahnya telah bangun.
Lu Daimeng berdiri. Tubuh besar, bayangannya menelan altar itu. Dia tidak membuang waktu untuk memeriksa kondisinya atau merenungi nasib. Logikanya sederhana: Ada makanan. Ada penghalang (cangkang). Hancurkan penghalang.
Dia mengambil pedang hitam (Baja Meteorit Dingin) yang tergeletak di sampingnya. Pedang itu masih utuh, meski sedikit tumpul.
Lu Daimeng berjalan mendekat.
Tekanan gravitasi dan Niat Naga yang dulu hampir menekannya, kini terasa seperti angin sepoi-sepoi. Tubuhnya telah beradaptasi. Dia telah menyerap frekuensi energi itu saat tidur.
"Kau bersembunyi terlalu lama," suara Lu Daimeng parau, belum digunakan selama enam puluh dua hari.
Dia berdiri di depan telur itu. Dia mengangkat pedang hitamnya tinggi-tinggi.
Dia tidak menggunakan teknik pedang. Dia menggunakan Dark Null.
Energi hitam pekat mengalir dari lengannya, menyelimuti bilah pedang hingga logam itu bergetar dan mendesis. Kepadatan Dark Null-nya saat ini jauh lebih tinggi daripada sebelum dia koma.
"Buka."
Lu Daimeng menebas.
BANG!
Suara benturan logam dengan sesuatu yang jauh lebih keras dari logam menggema di seluruh gua.
Lu Daimeng terdorong mundur satu langkah. Tangannya kesemutan hebat.
Dia melihat telur itu.
Tidak ada retakan. Hanya ada goresan putih tipis di permukaan cangkang hitam yang bersisik itu.
Telur Naga Hitam ini bukanlah telur ayam. Cangkangnya terbuat dari kalsium yang dipadatkan dengan Essence kegelapan selama ribuan tahun. Kekerasannya setara dengan berlian yang diperkuat Qi.
Dan yang lebih parah... pedang di tangan Lu Daimeng.
Krek.
Retakan halus muncul di bilah pedang hitam itu.
"Senjata ini..." Lu Daimeng menatap pedangnya dengan kecewa. "Terlalu lemah untuk menampung Dark Null-ku, dan terlalu rapuh untuk menembus kulit naga."
Tapi Lu Daimeng bukan tipe yang menyerah.
"Jika satu kali tidak cukup..."
Dia maju lagi.
Dia memegang pedang itu dengan dua tangan. Dia mengaktifkan seluruh otot punggungnya.
BANG! BANG! BANG!
Dia memukul telur itu seperti pandai besi memukul baja dingin. Setiap pukulan mengirimkan gelombang kejut yang merontokkan debu dari langit-langit gua.
Telur itu berdenyut marah. Aura ungu memancar dari cangkangnya, mencoba menolak serangan itu.
KRAAAK!
Bukan telur yang pecah.
Pedang hitam itu meledak.
Bilah Baja Meteorit Dingin itu hancur berkeping-keping di tangan Lu Daimeng, tidak kuat menahan benturan antara kekuatan fisik Lu Daimeng yang mengerikan dan kekerasan mutlak cangkang naga.
Pecahan logam melesat ke segala arah, menggores pipi Lu Daimeng. Namun, goresan itu menutup cepat.
Lu Daimeng membuang gagang pedang yang kini tak berguna.
Dia berdiri dengan tangan kosong di depan telur raksasa yang masih utuh itu.
"Keras kepala," desisnya.
Dia menempelkan telapak tangannya ke permukaan telur. Kulitnya bersentuhan dengan cangkang yang kasar dan dingin.
Seketika, dia merasakannya.
Bukan hanya kekerasan fisik. Ada lapisan energi pelindung yang sangat padat di permukaan telur. Aura Naga. Ini adalah medan gaya alami yang melindungi embrio di dalamnya.
Dan anehnya... Anti-Dao di perut Lu Daimeng bereaksi.
Kedua singularitas itu bergetar. Mereka mengenali aura ini. Selama dua bulan, mereka telah "mencicipi" aura ini yang bocor ke udara. Sekarang, saat bersentuhan langsung, mereka menginginkan sumber utamanya.
"Kau mencoba melindungi dirimu dengan energi," analisis Lu Daimeng, matanya menyipit, keenam pupilnya berfokus pada struktur mikroskopis cangkang itu. "Tapi bagiku, pelindungmu adalah makanan pembuka."
Lu Daimeng tidak memukul lagi.
Dia mencengkeram.
Jari-jarinya yang sekeras baja menekan permukaan telur. Dia memejamkan mata dan membalikkan putaran singularitas di perutnya.
HISAP.
Medan Dark Null terbentuk di telapak tangannya. Bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menyedot energi.
Dia mulai menyedot Aura Naga yang melapisi cangkang itu.
Telur itu bergetar hebat. Embrio di dalamnya merasakan dinding pertahanannya sedang dikuliti hidup-hidup. Ia mencoba melawan, mengirimkan gelombang kejut psikis.
Tapi jiwa Lu Daimeng sudah terlalu rusak untuk merasakan takut. Dia hanya merasa lapar.
Satu jam berlalu. Dua jam.
Lu Daimeng berdiri seperti patung, tangannya menempel pada telur. Keringat dingin mengucur di dahinya. Ini adalah perang tarik-menarik.
Perlahan tapi pasti, lapisan ungu yang menyelimuti telur itu memudar. Tersedot masuk ke dalam tubuh Lu Daimeng, dimurnikan menjadi tenaga murni.
Tanpa perlindungan energi, cangkang fisik telur itu mulai kehilangan integritas strukturalnya.
Kletek.
Sebuah suara kecil terdengar.
Salah satu sisik hitam seukuran piring makan di permukaan telur itu longgar. Ikatan molekulnya melemah karena energinya dicuri.
Sisik itu jatuh ke lantai.
Klang.
Mata Lu Daimeng terbuka. Dia melihat celah itu. Di balik sisik yang jatuh, ada lapisan cangkang dalam yang lebih lunak, bersinar redup.
Tapi dia tidak menyerang bagian lunak itu.
Tangan kirinya bergerak cepat, memungut sisik hitam yang jatuh di lantai. Sisik itu tebal, tajam, dan sekeras batu karang.
Lu Daimeng memasukkannya ke dalam mulutnya.
KRAK.
Gigi gerahamnya beradu dengan sisik naga.
Suara itu mengerikan. Seperti seseorang mencoba mengunyah keramik.
Rahang Lu Daimeng, yang telah berevolusi berkat memakan daging monster dan batu roh, ditekan hingga batas maksimal. Gusi berdarah. Akar gigi menjerit.
Tapi dia terus menekan.
KREK... PRAK.
Sisik itu pecah.
Lu Daimeng mengunyah serpihan tajam itu, menelan rasa darahnya sendiri bercampur dengan rasa mineral purba yang pekat.
Perutnya menyambut serpihan itu dengan sukacita. Asam lambung Anti-Dao melelehkan mineral naga itu, mengirimkan kalsium super ke seluruh kerangkanya.
"Energi ini terlalu enak," katanya.
Dia kembali menempelkan tangan kanannya ke telur. Menghisap lagi.
Satu sisik lagi jatuh. Dia memakannya.
Dua sisik jatuh. Dia memakannya.
Proses ini berlangsung selama dua minggu.
Dua minggu di dalam kegelapan gua yang sunyi. Seorang monster berwujud manusia perlahan-lahan menguliti dan memakan "rumah" dari seekor naga yang belum lahir.
Tubuh Lu Daimeng berubah lagi.
Kulit Lu Daimeng semakin padat dan jika dilihat melalui miskroskop terdapat miliaran sisik naga disetiap selnya yang membuatnya sangat keras. Matanya semakin tajam. Napasnya mulai mengandung sedikit panas, seolah ada tungku api di dalam dadanya.
Aura Anti-Dao miliknya bercampur dengan Aura Naga. Menjadi sesuatu yang lebih gelap. Lebih dominan.
Akhirnya, hari itu tiba.
Hampir seluruh permukaan telur itu telah botak. Sisik-sisik pelindung luarnya habis dimakan. Hanya tersisa lapisan cangkang dalam yang tipis, berwarna putih keruh, berdenyut lemah mengikuti detak jantung makhluk di dalamnya.
Makhluk di dalam itu ketakutan. Dia bisa melihat bayangan Lu Daimeng melalui selaput tipis itu. Bayangan predator yang sabar.
Lu Daimeng mundur satu langkah.
Dia mengepalkan tangan kanannya.
Dia tidak menggunakan senjata. Tangannya adalah senjata.
"Waktunya keluar," bisiknya.
Dia memusatkan seluruh sisa energi Dark Null yang dia miliki ke lengan kanannya.
Tapi kali ini, dia melakukan sesuatu yang lebih ekstrem. Dia memadatkan energi itu. Dia menekan partikel-partikel ketiadaan itu hingga mereka saling bergesekan, menciptakan panas friksi yang tidak wajar.
Lengan kanannya mulai berasap.
Uap hitam mengepul dari pori-porinya. Otot-ototnya membengkak, urat-uratnya menyala ungu gelap. Suara mendesis terdengar, seperti besi panas yang dicelupkan ke air.
Ini adalah beban maksimal yang bisa ditanggung tubuh fisiknya.
Lu Daimeng menarik tinjunya ke belakang. Kuda-kudanya rendah, mencengkeram lantai batu hingga retak.
Dia menatap pusat telur itu.
Tidak ada nama teknik atau apapun.
BUUUMMMM!!!
Tinjunya melesat.
Saat buku-buku jarinya menyentuh selaput cangkang itu, tidak ada suara pecah. Yang ada adalah suara ledakan.
Gelombang kejut menghancurkan sisa-sisa cangkang menjadi debu halus. Cairan amnion (air ketuban naga) muncrat ke segala arah, membanjiri lantai gua dengan lendir berbau amis dan ozon.
Lu Daimeng berdiri di tengah banjir lendir itu, napasnya memburu, lengannya masih berasap.
Di depannya, di atas altar yang kini basah kuyup, meringkuk sesosok makhluk.
Bayi Naga Hitam.
Tingginya saat berdiri sekitar 1,6 meter—hampir setinggi manusia dewasa.
Bentuknya mengerikan dan agung. Tubuhnya ramping, tertutup sisik hitam basah yang baru terbentuk. Dia memiliki empat kaki dengan cakar setajam silet, sayap kelelawar yang masih terlipat basah di punggungnya, dan ekor panjang berduri.
Kepalanya berbentuk seperti tombak, dengan dua tanduk lurus yang baru tumbuh.
Mata naga itu terbuka.
Mata reptil vertikal berwarna ungu menyala. Tatapannya penuh dengan kebingungan, ketakutan, dan insting membunuh bawaan lahir.
Naga itu menatap Lu Daimeng.
Makhluk ini baru saja lahir, tapi dia bukan bayi lemah. Aura yang dipancarkannya setara dengan Ranah Pembentukan Jiwa Tahap 9 Puncak. Giginya sudah cukup kuat untuk memutus leher sapi.
"Ghhhrrrr..." Naga itu menggeram kondisi fisiknya lemah, mencoba merentangkan sayapnya, mencoba menyemburkan napas pertamanya.
Tapi Lu Daimeng lebih cepat.
Dia tidak membiarkan naga itu memahami dunia ini lebih dahulu. Dia tidak memberinya kesempatan untuk menyadari kekuatannya sendiri.
Lu Daimeng menerjang menembus lendir.
Tangan kanannya—tangan yang baru saja menghancurkan cangkang—meluncur lurus ke depan.
Dia tidak memukul. Dia mencengkeram.
Jari-jarinya yang besar dan kuat mengunci leher naga itu.
GABRUK.
Lu Daimeng membanting bayi naga itu ke altar batu.
"Kiiiikkkk!" Naga itu memekik, suaranya melengking tinggi. Dia mencakar lengan Lu Daimeng dengan kaki belakangnya. Cakar naga itu merobek kulit Lu Daimeng, darah segar mengucur.
Tapi Lu Daimeng tidak bergeming. Wajahnya datar, dingin, tanpa emosi. Dia menatap mata ungu naga itu dengan enam pupilnya yang berputar lambat.
"Tidak ada ibu yang akan menyelamatkanmu," bisik Lu Daimeng. "Dan aku bukan ayahmu."
Cengkeramannya mengerat.
Otot-otot lengan Lu Daimeng, yang diperkuat oleh aura naga yang dia makan, menekan trakea naga itu.
Naga itu menggelepar. Ekornya menghantam sisi tubuh Lu Daimeng, mematahkan satu tulang rusuknya. Mulut naga itu terbuka, api hitam kecil mulai terbentuk di tenggorokannya, bersiap untuk membakar wajah Lu Daimeng.
Lu Daimeng melihat api itu.
Dia mendekatkan wajahnya.
"Telan kembali."
KRAK.
Lu Daimeng mematahkan leher naga itu dengan satu sentakan brutal ibu jarinya.
Api di tenggorokan naga itu padam sebelum sempat keluar.
Mata ungu itu melebar, lalu kehilangan cahayanya. Tubuh yang baru saja melihat dunia selama sepuluh detik itu menjadi lemas. Jatuh kembali ke atas altar yang dingin.
Hening.
Lu Daimeng berdiri di sana, tangannya masih mencengkeram leher bangkai naga itu. Darah dan lendir menetes dari tubuhnya.
Dia tidak merasa menang. Dia merasa lelah....
Ini mungkin adalah sumber daya terbaik di seluruh alam rahasia ini. Daging naga murni. Darah naga murni. Inti naga murni.
Dan sekarang, semuanya miliknya.
Di dalam gua yang terkunci dari dunia luar, di dalam Alam Rahasia yang tertutup selama sepuluh tahun, monster yang sebenarnya baru saja memenangkan hak makannya.
Bersambung...