Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: BERTARUNG DENGAN TUBUH SEKARAT
# BAB 3: BERTARUNG DENGAN TUBUH SEKARAT
Tongkat besi melayang cepat ke arah kepala Bayu.
Refleks. Tubuhnya berguling ke samping, menghindari pukulan mematikan itu dalam hitungan detik. Tongkat menghantam lantai beton, memercikkan percikan api kecil.
"Bangsat! Diam aja lo!"
Preman kedua maju, mengayunkan tongkatnya dari atas. Brutal. Tanpa ampun.
Bayu menggelinding lagi, tapi tubuhnya protes keras. Rusuknya terasa patah. Napasnya tersengal. Paru-parunya kayak diremas.
Gue nggak bisa lama-lama kayak gini.
Tubuh ini terlalu lemah. Terlalu rusak. Beda banget sama tubuhnya dulu yang bisa bertarung berjam-jam.
Preman ketiga, yang lututnya baru aja Bayu patahkan, masih meraung di lantai. Darah keluar dari mulutnya, matanya merah, penuh dendam. "BUNUH DIA! BUNUH BANGSAT ITU!"
Dua preman yang masih berdiri saling pandang. Lalu mereka maju bareng. Coordinated. Nggak main-main lagi.
Sial.
Bayu mundur sampai punggungnya nyentuh dinding. Tidak ada jalan lagi. Pipa besi di tangannya terasa berat. Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena tubuh ini udah nggak kuat.
"Mati aja lo, sampah! Ngapain bertahan?! Hidup lo emang nggak ada gunanya!"
Kata-kata itu keluar dari mulut preman yang paling kanan. Wajahnya penuh bekas luka, senyumnya sadis.
Dan entah kenapa... kata itu menusuk.
Sampah.
Memori Kenzo menyeruak lagi. Kata-kata yang sama. Diulang-ulang oleh ibu tirinya. Adik tirinya. Teman sekolahnya. Semua orang.
"Kau itu sampah, Kenzo. Tidak ada gunanya."
Bayu merasakan sesuatu terbakar di dadanya. Bukan dadanya. Dada Kenzo. Tapi sekarang... ini juga dadanya.
Kemarahan.
Rasa sakit.
Dendam yang mengendap bertahun-tahun.
Dan... kesedihan yang begitu dalam sampai bikin napas sesak.
Kenzo... lo udah mati sebagai pecundang.
Tapi gue masih idup di tubuh lo.
Dan gue nggak akan mati lagi sebagai pecundang.
"LO PIKIR GUE TAKUT?!"
Teriakan Bayu mengagetkan kedua preman itu. Mereka berhenti sejenak.
Bayu melempar pipa besi ke wajah preman kiri. Telak. Kena hidung. Darah muncrat.
"ARGH!"
Saat preman kanan mengayunkan tongkatnya, Bayu justru maju. Masuk ke jangkauan dekat. Terlalu dekat buat tongkat itu efektif.
Dan dia melakukan hal yang paling kotor dalam buku petarung jalanan.
Dia menggigit.
Keras.
Tepat di tenggorokan preman itu.
"AAAAAAHHHHH!"
Preman itu berteriak histeris. Tangannya mencoba mendorong kepala Bayu, tapi Bayu nggak lepas. Gigi-giginya menancap dalam. Rasa darah mengalir di mulutnya. Asin. Amis. Menjijikkan.
Tapi Bayu nggak peduli.
Dia menarik kepalanya dengan paksa. Sepenggal daging ikut tercabut.
Preman itu jatuh, memegangi lehernya yang berdarah, matanya melebar penuh horor. Darah menyembur keluar dari luka terbuka itu. Banyak. Terlalu banyak.
"K-kau... gila..."
Suaranya keluar terbata, lalu... berhenti.
Tubuhnya kejang sebentar. Lalu diam.
Mati.
Bayu meludah darah ke lantai. Napasnya ngos-ngosan. Dadanya naik turun cepat. Matanya menatap mayat di depannya.
Gue... gue baru bunuh orang.
Tangan Bayu gemetar. Bukan karena penyesalan. Tapi karena... ini pertama kalinya. Dia pernah ngalahin orang sampai sekarat, tapi nggak pernah sampai bunuh.
Preman yang hidungnya patah mundur, wajahnya pucat. "L-lo... monster..."
Bayu menatapnya. Matanya kosong. Dingin. Bukan lagi mata Kenzo yang lemah. Tapi mata pembunuh.
"Monster? Kalian yang datang buat bunuh gue. Gue cuma... balikin aja."
Preman itu langsung balik badan, lari tunggang langgang keluar gudang. Ketakutan.
Yang lututnya patah mencoba merangkak. Lambat. Menyedihkan.
Bayu berjalan pelan ke arah dia. Setiap langkah terasa berat. Tubuhnya hampir roboh. Tapi dia tetap jalan.
"J-jangan... jangan bunuh gue... kumohon..."
Preman itu menangis. Air mata bercampur darah di wajahnya.
Bayu berhenti di sampingnya. Menatap dari atas. Ekspresinya datar.
"Siapa yang suruh kalian?"
"B-bos... bos kami... dia dibayar keluarga Samudera... buat... beresin anak gagal mereka..."
Keluarga Samudera.
Keluarga Kenzo sendiri.
Mereka yang nyuruh.
Sesuatu di dalam dada Bayu terasa... remuk. Bukan sakit fisik. Tapi sakit yang lain. Sakit yang nggak bisa dijelaskan.
Mereka... keluarga sendiri... nyuruh orang buat bunuh Kenzo.
Anak kandung. Darah daging.
Dibuang kayak sampah.
Bayu menutup matanya sebentar. Napas panjang.
Lalu dia menatap preman itu lagi.
"Pulang. Bilang ke bos lu, Kenzo udah mati. Tapi yang idup sekarang... bukan dia."
Preman itu mengangguk cepat, lalu merangkak keluar secepat yang dia bisa.
Bayu terduduk lemas di lantai. Punggungnya bersandar di dinding dingin. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Tubuhnya gemetar. Dingin. Kedinginan.
Dia menatap mayat yang tergeletak beberapa meter di depannya. Mata terbuka. Kosong. Darah menggenang di bawah tubuhnya.
"Gue... benar-benar di dunia lain."
Bisikannya pelan. Serak.
Ini bukan mimpi. Bukan halusinasi.
Ini nyata.
Gue mati. Terus idup lagi. Di tubuh orang lain.
Air mata keluar tanpa sadar. Bayu nggak tau kenapa dia nangis. Mungkin karena kelelahan. Mungkin karena takut. Atau mungkin... karena dia sadar.
Dia nggak akan pernah pulang.
Nggak akan pernah jadi Bayu Samudra lagi.
Ibunya yang udah mati... dia nggak bisa ziarahi lagi. Tubuhnya yang dulu... entah dikuburin di mana. Atau dibuang ke sungai kayak sampah.
Semua yang dia kenal... hilang.
Dan sekarang... dia harus idup sebagai Kenzo. Anak yang dibenci keluarganya sendiri.
"Kenapa... kenapa gue harus idup kayak gini lagi..."
Suaranya gemetar. Patah.
Lalu, suara itu muncul lagi. Dingin. Mekanik. Tapi kali ini... terasa seperti jawaban.
**[MISI PERTAMA SELESAI: BERTAHAN HIDUP]**
**[HADIAH DITERIMA]**
**[KEMAMPUAN BARU: TEKNIK BERTARUNG TINGKAT 1]**
**[POIN: 100]**
**[STATUS KESEHATAN: 20 PERSEN. PERINGATAN: SEGERA CARI PERAWATAN MEDIS]**
Bayu menatap kosong ke depan.
Sistem. Hadiah. Poin.
Semua itu... nggak penting.
Yang penting sekarang...
"Gue harus... idup."
Bisikannya pelan.
Dia mencoba berdiri. Jatuh lagi. Coba lagi. Jatuh lagi.
Tapi di percobaan ketiga... dia berhasil. Berdiri. Goyang. Hampir roboh. Tapi... berdiri.
Kakinya melangkah pelan. Keluar dari gudang. Keluar dari tempat Kenzo seharusnya mati.
Malam dingin menyambutnya. Langit gelap tanpa bintang. Jalanan sepi.
Bayu berjalan tanpa tujuan. Hanya... jalan. Karena kalau dia berhenti, dia takut... dia nggak akan bangun lagi.
Dan di kegelapan malam itu, satu hal jelas di kepalanya.
Kenzo mati sebagai pecundang.
Tapi gue akan idup... sebagai sesuatu yang lain.
Sesuatu yang mereka semua bakal takutin.