Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE TIGA PULUH EMPAT
Mansion Keluarga Grayson…
Di ruang keluarga yang nampak mewah dengan deretan kursi sofa besar berlapis kulit gelap, suasana terasa begitu tenang namun juga menekan.
Langit-langit tinggi dihiasi lampu kristal besar yang memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan. Dindingnya dipenuhi lukisan klasik dan rak buku tua yang tersusun rapi, memberi kesan bahwa rumah itu telah berdiri selama puluhan tahun dan menyimpan banyak cerita.
Di salah satu kursi utama yang menghadap langsung ke jendela besar, duduk seorang pria tua dengan rambut yang telah memutih seluruhnya.
Tubuhnya sudah tidak setegap dulu, namun sorot matanya masih tajam.
Kakek Hercu.
Tangannya bertumpu pada tongkat kayu hitam yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Ujung tongkat itu sesekali diketukkan pelan ke lantai marmer, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan.
Beberapa pria berpakaian hitam berdiri tak jauh darinya, menjaga jarak dengan sikap hormat.
Tak ada yang berani berbicara.
Sampai akhirnya langkah kaki terdengar dari arah lorong panjang mansion itu.
Seorang pria tinggi dengan tubuh tegap berjalan masuk ke dalam ruangan tanpa terburu-buru.
Dia adalah Harvey Grayson, putra kedua nya.
Harvey berjalan cepat mendekati kakek Hercu dan berhenti tepat dibelakang pria tua itu.
"Papa". Sapa Harvey sopan
Kakek Hercu tak langsung membalas sapaan itu, ia masih setiap berdiri memandang kearah luar jendela. Cerutu yang terselip disela jari tangan kanannya ia hisap pelan. Asapnya mengepul diudara.
Luan, sang asisten pribadi kakek Hercu dengan setia menemani dan mendampingi pria tua itu, berdiri tak jauh darinya.
Kakek Hercu menghisap lagi cerutu itu lalu berbalik badan. Tatapannya langsung jatuh pada Harvey, hanya sebentar setelah itu ia mendudukkan dirinya dikursi single sofa.
"Pa, papa memanggil ku?" Harvey membuka pembicaraan.
Kakek Hercu tak langsung menjawab lagi, ia matikan ujung cerutu itu diatas asbak. Lalu, ia sandarkan punggungnya disandaran kursi sofa.
"Dimana Bastian ?"
Bukannya menjawab, Kakek Hercu justru balik bertanya. Menanyakan keberadaan cucu angkat kesayangannya itu.
Sejak pertama kali Harvey membawa Bastian pulang kemansion utama Grayson. Kakek Hercu langsung tertarik pada remaja delapan belas tahun itu.
Wajahnya yang tampan, namun tertutup dengan kumalnya pakaian yang ia kenakan saat itu, membuat Bastian terlihat seperti pemuda jalanan yang baru saja melewati banyak kesulitan hidup.
Namun bukan itu yang menarik perhatian Kakek Hercu.
Melainkan sorot matanya.
Tatapan tajam yang sama sekali tidak dimiliki oleh remaja seusianya.
Tatapan yang dingin, tenang… dan penuh kewaspadaan.
Sejak saat itu, Kakek Hercu sudah tahu bahwa anak itu bukan orang biasa.
Ia melihat sesuatu dalam diri Bastian.
Sesuatu yang bahkan belum disadari oleh Bastian sendiri.
Harvey menghela napas pelan sebelum akhirnya menjawab.
"Anak itu belum ingin pulang pah".
Kakek Hercu yang mendengar itu juga ikut menghela nafas pelan seraya mengetukkan pelan ujung tongkatnya ke lantai.
Tak!
"Ini semua juga karena ulah mu Har. Kau yang membawa nya pulang ke mansion ini tapi kau juga yang mengusir nya". Ucap Kakek Hercu dengan suara yang rendah tapi terdengar sedikit menyindir.
"Pah! Aku tidak mengusir nya. Tapi-"
"Tapi kau hanya menuruti permintaan tak masuk akal istri mu itu! Kalau dulu saja kau tidak ingin mengasuhnya serahkan pada papa saja!"
Suara Kakek Hercu tidak meninggi, namun nada dinginnya cukup untuk membuat suasana ruangan terasa semakin berat.
Harvey menegang di tempatnya.
Ia tahu betul ayahnya tidak pernah benar-benar memaafkan keputusan yang ia ambil bertahun-tahun lalu.
“Pa… waktu itu situasinya berbeda,” ucap Harvey mencoba menahan nada suaranya tetap tenang.
Kakek Hercu hanya mendengus pelan.
“Berbeda?”
Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap lurus ke arah putra keduanya itu.
“Anak itu baru lima belas tahun saat kau membawanya kemari.”
Kakek Hercu mengetukkan tongkatnya sekali lagi ke lantai marmer.
Tak!
“Lima belas tahun, Harvey.”
Ruangan itu kembali sunyi.
Luan yang berdiri di samping tetap menunduk hormat, namun dari sorot matanya terlihat ia memahami arah pembicaraan yang mulai memanas itu.
Harvey menghela napas panjang.
“Aku tidak pernah bermaksud menyakitinya, Pa.”
Kakek Hercu menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa, matanya menyipit sedikit.
“Namun kau tetap melakukannya.”
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Lalu pria tua itu kembali berbicara dengan nada lebih tenang, namun jauh lebih tajam.
“Untungnya anak itu tidak selemah yang kau kira.”
Tatapan Kakek Hercu berubah dalam.
“Dia kembali berdiri dengan kakinya sendiri.”
Harvey tidak membantah.
Ia tahu itu benar.
Bastian tidak pernah kembali meminta apa pun dari keluarga Grayson sejak hari ia meninggalkan mansion ini.
Namun justru karena itulah…
Harvey tahu Bastian bukan lagi anak lima belas tahun yang dulu ia bawa pulang.
Kakek Hercu kemudian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
“Sekarang jawab pertanyaan Papa.”
Nada suaranya kembali dingin.
“Di mana Bastian?”
Harvey terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.
“Dia sedang menjaga seorang gadis.”
Alis Kakek Hercu terangkat tipis.
“Gadis?”
Harvey mengangguk pelan.
“Iya, Pa.”
Beberapa saat ruangan kembali hening.
Kakek Hercu menatap lurus ke depan, seolah sedang memikirkan sesuatu yang cukup menarik perhatiannya.
Lalu sudut bibirnya perlahan terangkat tipis.
“Menarik.”
Ia bergumam pelan, lalu menoleh kearah Luan.
"Luan". Panggil nya
"Ya tuan?"
"Cari tau siapa gadis itu dan segera kirimkan informasi nya pada ku sedetail mungkin". Perintah Kakek Hercu
Luan mengangguk, "Baik tuan".
"Pah! Papa tidak bisa bertindak sesuka hati papa. Bastian anak ku. Aku yang membawanya kemari". Harvey ikut menimpal, nada bicaranya sedikit meninggi.
Mendengar itu, Kakek Hercu hanya mendengus pelan seraya mengetukkan kembali ujung tongkatnya dilantai.
Tak!
"Kalau kau keberatan, mulai hari ini papa yang akan angkat Bastian jadi anak. Papa akan segera menjadikan dia pemimpin klan mafia blood stone secepatnya". Ucap Kakek Hercu dengan tegas, setelah itu ia bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya pergi.
"Pa!!"
Seruan Harvey menggema di ruang keluarga yang luas itu.
Namun Kakek Hercu tidak berhenti melangkah.
Pria tua itu tetap berjalan perlahan menuju lorong utama mansion dengan tongkat kayunya yang mengetuk lantai marmer setiap langkahnya.
Tak…
Tak…
Harvey mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras.
“Papa tidak bisa mengambil keputusan sebesar itu tanpa membicarakannya lebih dulu dengan keluarga.”
Langkah Kakek Hercu akhirnya berhenti.
Beberapa detik ia hanya berdiri membelakangi Harvey.
Lalu perlahan ia menoleh setengah badan.
Tatapannya tajam, penuh wibawa yang selama ini membuat seluruh anak buahnya langsung menundukkan kepala merasa segan dengannya.
“Keluarga?”
Kakek Hercu mengulang kata itu pelan.
“Kalau memang kalian menganggapnya keluarga sejak awal… anak itu tidak akan pernah meninggalkan mansion ini.”
.
.
.
Bersambung....
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut