NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Sebelas

Lampu-lampu kantor sudah mulai menyala satu per satu saat Han melangkah keluar dari lobi. Dari kejauhan, di bangku taman dekat gerbang, ia melihat sosok yang sangat ia kenal.

Felicia duduk di sana dengan bahu merosot. Gadis itu sudah melepas high heels-nya—mungkin karena kakinya sudah tidak sanggup lagi menopang tubuh setelah seharian ia suruh naik-turun gudang. Han terpaku. Dari balik pilar, ia memperhatikan Felicia yang tengah memijat telapak kakinya yang kemerahan, wajahnya ditekuk habis-habisan, bibir glossy yang tadi siang mengganggunya kini nampak pucat karena kelelahan.

Rasa bersalah menghantam Han tepat di ulu hati.

Bodoh kamu, Han. Dia itu cuma gadis kecil yang berusaha kerja bener, malah kamu siksa gara-gara kamu nggak bisa kontrol perasaan sendiri, maki Han dalam hati.

Ia merogoh saku jasnya, mencari kunci mobil. Niatnya sudah bulat: Ia akan mendekat, menawarkan tumpangan, dan mungkin—mungkin saja—meminta maaf dengan cara yang paling tidak terlihat memalukan. Baru saja Han hendak melangkah keluar dari bayang-bayang pilar, sebuah motor gede berhenti tepat di depan bangku Felicia.

Seorang pemuda mengenakan seragam mekanik biru dongker dengan noda oli tipis di lengannya turun dari motor. Rey. Han tahu anak itu—mekanik jenius dari bagian workshop yang usianya jauh lebih muda darinya. Seumuran dengan Felicia.

"Waduh, ini asisten kesayangan Pak Bos kok malah kayak zombi pinggir jalan begini?" suara Rey terdengar renyah, penuh keakraban yang tidak pernah Han miliki.

Felicia mendongak, dan seketika wajahnya yang tadi ditekuk langsung berubah cerah. Senyumnya mengembang lebar—jenis senyum yang tidak pernah ia berikan pada Han seharian ini. "Rey! Ih, jangan ngejek! Gue mau mati rasanya, si Bos robot itu beneran ngasih kerjaan nggak masuk akal hari ini!"

Rey tertawa, lalu tanpa canggung duduk di sebelah Felicia. Sangat dekat. "Sini, liat kakinya. Keseleo nggak?"

"Nggak sih, cuma pegel banget."

"Makanya, udah dibilang jangan sok-sokan pakai hak tinggi kalau kerja di lapangan. Nih, gue bawa sandal jepit cadangan di bagasi, mau pakai nggak?"

Han mengepalkan tangannya di balik saku jas. Ia melihat Felicia tertawa renyah sambil memukul pelan lengan Rey. Pemandangan itu terasa lebih panas daripada cuaca siang tadi. Ada kecocokan alami di antara mereka berdua—obrolan yang mengalir, tawa tanpa beban, dan kedekatan yang terasa... benar.

Sedangkan dia? Dia hanyalah bos kaku yang memberikan instruksi lewat pesan singkat dan menyiksa asistennya dengan tumpukan arsip hanya karena cemburu.

"Ayo, gue anter balik. Ojol lo cancel aja, mending duitnya buat beli martabak," ajak Rey sambil memberikan helm cadangan ke Felicia.

"Beneran ya? Asik! Martabak telor tapi!"

Han memperhatikan dari kejauhan saat Felicia naik ke boncengan motor Rey dengan riang. Saat motor itu menderu menjauh, meninggalkan area kantor, Han masih berdiri di tempat yang sama.

Ia menunduk, menatap sepatu kulitnya yang mengkilap dan mahal. Ternyata, sedekat apa pun ia mencoba menarik Felicia ke dunianya dengan baju-baju mewah, Felicia tetap terlihat lebih bahagia di atas motor tua dengan sandal jepit pinjaman.

Han menghela napas panjang, mengeluarkan ponselnya, dan menghapus draf pesan yang tadinya berisi: Sudah sampai rumah?

"Mungkin memang seharusnya kamu tetap jadi asisten, Felicia. Bukan yang lain," bisiknya pahit, meski hatinya jelas-jelas menolak kalimat itu.

***

Pagi harinya, suasana di lantai pimpinan terasa lebih dingin dari biasanya. Tidak ada lagi sindiran soal lipstik, tidak ada tatapan tajam yang menuntut perhatian. Pak Han berubah menjadi mesin kerja yang sangat efisien—dan sangat asing.

Biasanya, jam sepuluh pagi ada pesan masuk: "Saya mau salad, belikan dua. Satu untuk kamu." Tapi hari ini, hingga jam makan siang tiba, ponsel Felicia sepi seperti kuburan.

"Pak, makan siangnya mau saya pesankan apa?" tanya Felicia ragu sambil berdiri di pintu.

Han tidak mendongak dari tumpukan berkas. "Tidak usah. Saya ada online meeting sambil makan di meja. Kamu makan saja sendiri."

Suaranya datar, tanpa emosi, seolah kejadian di lift atau drama kartu nama kemarin tidak pernah terjadi. Felicia keluar ruangan dengan bahu lesu. "Kok gue berasa kayak diputusin ya? Padahal jadian aja nggak," gumamnya kesal.

Karena Maria sedang dalam misi diet ketat "hanya air putih dan doa", Felicia akhirnya berakhir di kantin bersama Rey.

Scene Kantin: Bakwan vs Gengsi

"Nih, makan yang banyak. Biar tenaga lo pulih habis disiksa si Bos Robot," kata Rey sambil meletakkan sepiring bakwan jagung ekstra sambal di depan Felicia.

Felicia tertawa, tapi matanya sesekali melirik ke arah pintu kantin. "Rey, menurut lo... kalau orang tiba-tiba berubah jadi cuek banget, itu kenapa ya? Padahal kemarin kayaknya dia... ya gitu deh."

Rey mengunyah baksonya santai. "Biasanya sih ada dua kemungkinan. Satu, dia lagi sariawan. Dua, dia lagi sadar diri kalau dia kalah saing sama yang lebih muda dan lebih asik." Rey nyengir sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Ih, pede banget lo!" Felicia melempar tisu bekas ke arah Rey, membuat mereka tertawa riuh.

Di saat yang sama, Pak Han sebenarnya baru saja turun ke area kantin. Dia tidak benar-benar ada meeting. Dia hanya ingin memastikan satu hal: Felicia makan dengan benar. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu.

Dari kejauhan, ia melihat Felicia tertawa lepas—jenis tawa yang tidak pernah keluar jika sedang bersamanya—saat Rey mengacak rambut gadis itu karena gemas. Pemandangan itu membuat ulu hati Han terasa seperti diremas.

Lihat kan, Han? Dia jauh lebih cocok di sana. Tertawa di kantin yang gerah, makan bakwan, dengan pria yang mengerti dunianya. Bukan di restoran bintang lima dengan pria kaku yang cuma bisa ngatur warna lipstik.

Han memutar badan, kembali ke atas dengan perut kosong dan hati yang makin beku.

Kembali ke Ruangan

Sore harinya, Felicia masuk ke ruangan Han untuk menyerahkan laporan terakhir. Kali ini, dia tidak memakai lipstik karamelnya. Dia sengaja memakai lipstik paling pucat yang dia punya, sampai dia kelihatan seperti orang yang kurang darah.

"Laporannya sudah selesai, Pak," ucap Felicia singkat, meniru nada bicara Han yang dingin.

Han melirik sekilas, lalu berhenti. Ia menatap wajah Felicia yang nampak sayu dan bibirnya yang pucat pasi. Hatinya mencelos.

"Kamu sakit?" tanya Han, suaranya sedikit melunak tanpa ia sadari.

"Enggak, Pak. Kan Bapak sendiri yang minta saya pakai lipstik pucat supaya Bapak bisa fokus kerja. Jadi saya turuti," jawab Felicia telak, nada bicaranya mengandung sedikit racun sindiran.

Han terdiam. Dia merasa seperti penjahat kelas kakap. Dia ingin bilang, "Saya cuma nggak mau orang lain lihat kamu," tapi yang keluar malah: "Ya, bagus. Setidaknya saya bisa fokus membaca angka-angka ini."

Felicia menghentakkan kaki, benar-benar habis kesabaran. "Bapak tahu nggak? Bapak itu orang paling aneh yang pernah saya kenal! Kemarin narik-narik saya ke lift, sekarang anggap saya kayak pajangan mati. Terserah Bapak deh!"

Felicia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu.

"Felicia, tunggu."

Langkah Felicia terhenti. Han bangkit dari kursinya, berjalan mendekat namun tetap menjaga jarak profesional yang menyakitkan.

"Besok tidak ada meeting formal, jadi kamu nggak perlu pakai baju yang terlalu bagus atau lipstik pucat lagi," Han menjeda, matanya menatap lantai. "Pakai saja baju yang membuat kamu nyaman. Dan pakai sandal jepit kalau memang kaki kamu masih sakit."

Felicia menoleh, bingung. "Bapak... ngintipin saya di parkiran kemarin ya?"

Wajah Pak Han memerah sampai ke telinga. "Saya hanya... kebetulan lewat."

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!