Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lahirnya sang pewaris dan penyesalan Cakra
Langkah kaki Hana yang masih gemetar karena kelelahan terhenti saat mendengar suara derit pintu pagar kayu yang sudah tua. Dua sosok wanita berjalan tergesa-gesa dari arah jalan setapak, membawa keranjang anyaman yang berisi sayur-mayur segar.
Wanita yang lebih tua memicingkan mata, berusaha menghalau sinar mentari pagi hingga matanya membelalak sempurna.
"Ya ampun, Hana! Kamu Hana anaknya Mbak Lestari?" teriak wanita itu dengan suara bergetar karena tidak percaya.
Hana menoleh, senyum tipis yang getir mengembang di bibirnya yang pucat. "Bude Mina... aku pikir Bude lupa sama aku!" ucapnya lirih. Ia segera menghambur ke pelukan wanita itu, mencari kehangatan yang selama ini hilang di Jakarta. Bude Minah adalah kakak satu ayah dengan mendiang ibunya Hana.
"Bude tidak akan pernah lupa sama kamu, Nduk. Hana kecil dan Hana yang sekarang, Bude masih kenal. Malah sekarang tambah cantik, kau mirip sekali dengan ibumu," puji Bude Minah sambil mengusap air mata yang mulai menggenang di pipi keponakannya itu.
Di belakangnya, seorang wanita muda dengan kain jarik sederhana ikut mendekat dengan wajah cerah. Rahma, sepupu Hana, menatapnya dengan binar kerinduan.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Hana! Kamu datang ke sini sendirian? Dengar-dengar kamu sudah menikah, Han. Mana suamimu?" tanya Rahma polos sambil menengok ke arah jalanan, berharap melihat mobil mewah atau sosok pria yang mendampingi Hana.
Seketika, tubuh Hana menegang. Senyumnya luntur, digantikan oleh tatapan kosong yang menyakitkan. Bude Minah yang sudah makan asam garam kehidupan segera menyadari perubahan raut wajah itu. Ia merangkul bahu Hana lebih erat, seolah ingin melindunginya dari badai yang tak terlihat.
Di dalam rumah yang remang-remang, di atas balai-balai kayu, Hana akhirnya menumpahkan segalanya. Suaranya terbata-bata menceritakan tentang fitnah keji Nyonya Inggit, pengkhianatan kepercayaan Cakra, hingga jebakan Riko yang menghancurkan martabatnya.
"Astaghfirullah... kenapa mereka begitu kejam sekali padamu, Hana? Semoga nanti Allah membalas semua perbuatan mereka. Kamu yang sabar ya, Nduk!" Bude Minah memeluk Hana yang menangis tersedu-sedu.
Rahma duduk di sampingnya, mengusap punggung Hana dengan lembut. "Yang sabar ya, Han. Kau tenang saja, di sini ada aku dan juga Ibu yang siap menemanimu selama di sini. Kebetulan rumah ini tidak ada yang isi dan memang diwariskan untukmu. Ibu selalu membersihkan rumah ini, berharap suatu saat kau pulang ke sini bersama dengan keluarga kecilmu..." Rahma terdiam sejenak, menyesali ucapannya yang terakhir, lalu menyambung, "Tapi tidak apa-apa, Hana. Di sini kamu aman."
Waktu bergulir seperti aliran sungai yang tenang namun pasti. Di pelosok Jawa Timur, Hana belajar untuk bangkit. Perutnya yang kian membuncit menjadi simbol harapan baru. Tak ada lagi air mata untuk Cakra; yang ada hanyalah doa untuk kekuatan bayinya.
Hingga suatu malam yang dingin, rintihan Hana memecah kesunyian desa. Dengan sigap, Bude Minah dan Rahma membawanya ke Puskesmas terdekat. Setelah perjuangan panjang yang mempertaruhkan nyawa, suara tangisan bayi laki-laki pecah, memenuhi ruangan yang sederhana itu.
"Selamat, Hana... anakmu tampan sekali. Wajahnya... sangat mirip dengan ayahnya," bisik Rahma saat meletakkan bayi merah itu di dekapan Hana, meskipun Rahma tidak pernah tahu seperti apa Wajahnya mantan suaminya Hana. Hana hanya tersenyum getir, mencium kening putranya yang memiliki garis rahang tegas, persis seperti pria yang dulu sangat ia cintai.
.
.
Sementara itu, di Mansion Ardiwinata, suasana terasa seperti kuburan. Cakra duduk di ruang kerjanya yang gelap, hanya ditemani botol minuman dan foto pernikahan yang kacanya sudah retak.
Beberapa bulan ini ia hidup seperti mayat hidup. Riko menghilang tanpa jejak seolah ditelan bumi, dan setiap informasi yang ia dapatkan selalu berujung pada jalan buntu. Nyonya Inggit tak henti-hentinya merongrongnya.
"Cakra, sampai kapan kamu mau begini? Lihat Jesika, dia selalu setia menunggumu. Menikahlah dengannya, hapus noda yang ditinggalkan wanita jal*ng itu!" bentak Nyonya Inggit suatu sore.
Cakra berdiri, matanya merah karena kurang tidur dan amarah yang terpendam. "Cukup, Mah! Jangan pernah sebut nama Hana dengan mulut itu lagi. Aku sudah tahu semuanya dari Papah. Kalau Mamah terus memaksa, aku akan pergi dari rumah ini dan tidak akan pernah kembali!"
Jesika yang berdiri di ambang pintu hanya bisa terpaku. Cakra benar-benar telah mati rasa. Hatinya telah terkunci rapat, terkubur bersama rasa bersalah yang tak terhingga. Di setiap tidurnya, ia hanya memanggil satu nama.
"Hana... di mana kamu, Sayang? Maafkan aku..."
Cakra tidak tahu, bahwa di sebuah desa kecil, seorang anak laki-laki baru saja lahir ke dunia, membawa darah Ardiwinata yang mengalir dalam kehampaan tanpa seorang ayah.
Malam itu, Cakra baru saja hendak merebahkan tubuhnya yang lelah saat ponselnya bergetar hebat. Pesan dari Jefri singkat namun membakar adrenalin.
"Tikus itu sudah masuk jebakan. Posisi: Gudang tua, pesisir Batam."
Tanpa pikir panjang, Cakra segera membelah langit malam dengan jet pribadinya. Baginya, setiap detik adalah siksaan sebelum ia berhasil menguliti kebenaran dari mulut Rico.
Jelang tengah malam, Cakra melangkah masuk ke dalam gudang yang lembap dan berbau karat. Di tengah ruangan, Rico terduduk lemas dengan tangan terikat tali tambang pada sebuah kursi kayu tua.
Lalu Cakra melangkah pelan, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Ayo cepat katakan padaku, Rico... Kau yang telah menjebak Hana, kan?"
Rico menyeringai licik, menatap Cakra dengan tatapan mengejek. "Kau itu bodoh, Cakra. Jelas-jelas istrimu itu menyukaiku. Dia yang mengundangku ke apartemen malam itu... dan kau tahu? Mungkin saja anak yang dikandungnya sekarang adalah darah dagingku." Riko telah mendapatkan kabar dari Nyonya Inggit soal kehamilan Hana beberapa bulan yang lalu dan ia pun dipaksa untuk mengakui bahwa Hana sedang mengandung darah dagingnya.
PLAK!
PLAK!
Dua tamparan keras mendarat di wajah Rico hingga sudut bibirnya robek dan mengucurkan darah segar. Amarah Cakra sudah berada di ubun-ubun.
"Aku tidak percaya dengan semua kebohonganmu! Katakan yang sebenarnya!"
Rico justru tertawa kecil, sebuah tawa yang seolah meremehkan martabat Cakra sebagai seorang suami. Kesabaran Cakra pun habis.
Cakra menoleh ke arah Jefri. "Jef, eksekusi pria iblis ini. Jangan beri ampun. Setelah kau habisi dia, buang mayatnya ke laut untuk menghilangkan bukti."
"Baik, Tuan."
Jefri melangkah menuju sebuah lemari besar di sudut gudang. Saat lemari itu dibuka, ia mengeluarkan sebuah mesin gergaji pemotong kayu. Bunyi mesin yang menderu keras tiba-tiba memecah keheningan malam, menciptakan suasana mencekam yang membuat nyali Rico menciut.
wajahnya Rico telah berubah menjadi pucat pasi. "Kau jangan macam-macam, Cakra! Aku ini sepupumu!"
Cakra yang posisinya membelakangi Rico, ia pun berbicara dengan nada dingin. "Aku tidak akan pernah mengakui pria menjijikkan sepertimu sebagai sepupuku. Membusuklah kau di neraka! Jef, hancurkan tubuhnya, jangan sampai ada yang tersisa!"
"Hey, bedebah! Kau sudah sinting ya?! Lepaskan aku! Jauhkan mesin itu!"
Jefri semakin mendekat. Mata gergaji yang berputar cepat itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Rico. Angin dari putaran mesin itu mulai menerpa kulitnya. Ketakutan akan kematian akhirnya meruntuhkan keangkuhannya.
"STOP! Oke, oke! Aku bicara! Semuanya adalah rencana dari ibumu, tante Inggit, dan Jesika!"
Langkah Jefri terhenti. Mesin gergaji masih menderu, namun Cakra mematung.
Rico bicara dengan napas memburu.
"Mereka dalangnya! Aku hanya dibayar untuk mendekati Hana dan memfitnahnya. Kami menggunakan lilin aromaterapi untuk membius Hana. Saat dia tak sadar, pacarku membantu melepaskan pakaiannya agar terlihat seolah kami telah melakukannya. Semuanya sandiwara, Cakra! Semuanya palsu!"
Dunia seolah runtuh menimpa bahu Cakra. Kebenaran itu lebih tajam daripada mata gergaji yang ada di depan Rico. Bayangan wajah Hana yang menangis tersedu saat ia mengusirnya tujuh bulan lalu, kini kembali menghantui pikirannya.
"AAAAAARRRRGGGHHHH!"
Cakra berteriak histeris. Tubuhnya yang gagah itu ambruk ke lantai gudang yang dingin. Ia memukuli lantai beton itu dengan kepalan tangannya hingga berdarah, mengabaikan rasa sakit fisiknya demi meredam rasa sakit di dadanya.
Air mata jatuh tak terbendung. Setiap isakannya adalah bentuk penyesalan yang terlambat.
"Hana... maafkan aku. Aku begitu bodoh karena tidak mempercayaimu. Aku telah menghancurkan hidupmu dan calon bayi kita karena fitnah keji ini..." batinnya meraung dalam tangis yang memilukan.
Bersambung...