"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Malam itu, stadion universitas penuh sesak. Sorot lampu stadium yang menyilaukan, suara genderang marching band, dan teriakan ribuan mahasiswa menciptakan atmosfer yang memekakkan telinga. Ini adalah pertandingan terbesar musim ini, dan semua mata tertuju pada Nickholes Teldford, sang quarterback bintang.
Di barisan penonton, Nadine duduk dengan perasaan campur aduk. Ia mengenakan hoodie kebesaran, mencoba tenggelam dalam keramaian. Di barisan depan, Clarissa tampak bersinar, memimpin sorak-sorai dengan seragam pemandu soraknya, sesekali melambaikan tangan dengan posesif ke arah Nick di lapangan.
Pertandingan berakhir dengan kemenangan telak berkat touchdown terakhir dari Nick. Stadion meledak dalam kegembiraan. Namun, saat teman-teman setimnya berlari untuk merayakannya, Nickholes justru melakukan sesuatu yang tidak terduga.
Ia tidak menghampiri Clarissa yang sudah bersiap memeluknya. Ia melepaskan helmnya, napasnya memburu, matanya memindai ribuan wajah di tribun.
Ketika ia menemukan sosok Nadine, langkahnya menjadi pasti.
Nick melompat melewati pagar pembatas tribun, mengabaikan teriakan bingung para fotografer dan rekan-rekannya. Ia menaiki anak tangga satu per satu menuju barisan tengah, tempat Nadine duduk terpaku.
"Nick? Apa yang kau lakukan?" bisik Nadine, jantungnya seolah ingin melompat keluar.
Nick tidak menjawab dengan kata-kata. Di depan ribuan pasang mata, di bawah sorotan kamera besar yang kini menayangkan wajah mereka di layar raksasa stadion, Nick menarik Nadine ke dalam pelukannya. Ia mencium Nadine dengan sangat dalam, sebuah ciuman yang penuh dengan pengakuan, permintaan maaf, dan kepemilikan yang nyata.
Keheningan sesaat menyelimuti stadion sebelum berubah menjadi bisikan-bisikan riuh. Clarissa berdiri membeku di pinggir lapangan, wajahnya memerah karena malu dan marah.
Nick melepaskan ciumannya, namun tetap menempelkan dahinya ke dahi Nadine. Suaranya terdengar melalui mikrofon lapangan yang tidak sengaja menangkap suaranya.
"Maafkan aku karena telah menyembunyikan mu begitu lama," bisik Nick, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar mereka. "Mulai detik ini, tidak akan ada lagi rahasia. Kau adalah satu-satunya, Nadine. Selalu kau."
Pukulan kenyataan itu jauh lebih dingin daripada udara malam di New York. Imajinasi Nadine tentang pengakuan cinta di tengah lapangan hancur berkeping-keping saat ia mengerjapkan mata.
Di bawah sana, di tengah riuhnya sorak-sorai kemenangan, Nickholes Teldford tidak melompat pagar untuknya. Sebaliknya, Nick merengkuh Clarissa yang berlari ke pelukannya. Nick mengangkat gadis itu, memutar tubuhnya, dan memberikan ciuman kemenangan yang disambut sorak-sorai seluruh stadion.
Nadine berdiri mematung. Dadanya sesak, seolah oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh, membasahi pipinya yang dingin. Ia merasa sangat bodoh. Kenaifannya telah membangun menara harapan yang terlalu tinggi, hanya untuk diruntuhkan dalam satu detik oleh pemandangan di depannya.
Nadine berbalik, langkahnya goyah saat ia mencoba keluar dari kerumunan manusia yang sedang bersukacita. Setiap tawa di sekitarnya terasa seperti ejekan. Ia berlari menuruni tangga, mengabaikan tatapan beberapa orang yang bingung melihat "gadis kutu buku" itu menangis sesenggukan.
Di pinggir lapangan, Nickholes sebenarnya sempat menoleh. Di sela pelukannya dengan Clarissa, matanya menangkap siluet jaket yang sangat ia kenal sedang menjauh dengan terburu-buru. Ia melihat punggung Nadine yang bergetar.
Hati Nick mencelos. Ia ingin melepaskan Clarissa, ia ingin berteriak memanggil nama Nadine, dan berlari mengejarnya. Namun, kakinya seolah terpaku di rumput stadion. Di sampingnya ada pelatih, kamera televisi, dan rekan setim yang meneriakkan namanya. Ego dan rasa takut akan runtuhnya reputasi kembali menjeratnya.
Nick hanya bisa berdiri diam, menatap kepergian Nadine dengan tatapan penuh luka yang tersembunyi.
Nadine sampai di kamarnya dengan napas tersengal. Ia langsung mengunci pintu dan merosot di baliknya. Ruangan itu sunyi, sangat kontras dengan hiruk pikuk di luar.
Ia menatap cermin di pintu lemarinya. Rambutnya berantakan, wajahnya merah, dan matanya bengkak.
Di sudut ruangan, ada hoodie milik Nick yang belum sempat ia kembalikan. Nadine meraih hoodie itu, mencium aromanya untuk terakhir kali, lalu dengan penuh kemarahan melemparnya ke dalam tempat sampah.
"Cukup," bisiknya pada diri sendiri.
Malam itu, sesuatu di dalam diri Nadine patah, namun sesuatu yang lain mulai mengeras. Ia menyadari bahwa selama Nickholes masih memilih "panggung" daripada dirinya, ia hanya akan selalu menjadi pemeran figuran yang tidak akan pernah diakui.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Nickholes masuk tepat tengah malam:
Nick: "Nadine, aku melihatmu tadi. Maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya karena kamera ada di mana-mana. Kau tahu aku hanya mencintaimu. Datanglah ke apartemenku sekarang, aku menunggumu."
Nadine menatap layar itu dengan senyum getir. Dulu, ia akan langsung berlari menuju taksi. Namun sekarang, jemarinya bergerak dengan pasti di atas layar.
Nadine: "Jangan tunggu aku, Nick. Pergilah pada penontonmu. Aku bukan lagi rahasiamu."
Nadine kemudian mematikan ponselnya dan mencabut kartunya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidur tanpa menunggu kabar dari pria itu.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰🥰