Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Izin
Jam di handphone Alvaro menunjukkan lima menit sebelum pukul tiga sore.
Dan untuk pertama kalinya sejak kebiasaan itu dimulai, dia tidak berada di kafe.
Dia berdiri di depan cermin tempat tinggalnya, mengambil napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya kembali. Tangan kanannya tampak sibuk merapikan kerah kaus, meskipun sebelumnya tidak ada yang perlu diubah.
“Tenang aja, Var,” bisiknya kepada dirinya sendiri. “Cuma mau ngajak ke galeri. ”
Dia bilang cuma.
Kameranya sudah berada dalam tas. Dompet ada. Kunci motornya sudah siap. Handphone? Sudah dicek tiga kali.
Alvaro duduk di tepi ranjang, memandangi lantai.
Yang membuat dadanya terasa berat bukan karena galeri seni itu. Namun karena ini adalah kali pertama ia mengajak Aurellia keluar… tanpa ada alasan untuk minum kopi.
Bukan sebagai pengunjung.
Bukan kebetulan waktu yang sama.
Tetapi sebagai undangan.
Dan kata itu terasa berat di pikiran.
Sementara itu, di kafe, Aurellia sering melihat jam.
Pukul empat lebih sepuluh menit.
Pintu kaca belum terbuka.
Dia berdiri di belakang bar, berpura-pura sibuk menyusun cangkir, meskipun susunan itu sudah tertata rapi sejak beberapa menit sebelumnya.
“Americano? ” tanya Dimas dengan santai.
Aurellia menoleh. “Hah? Apa? ”
“Biasanya ada yang pesan americano di jam kayak gini. ”
Aurellia menelan ludah. “Mungkin dia lagi ada banyak kerjaan. ”
“Oh,” jawab Dimas singkat. “Kalo biasanya nggak kayak gitu. ”
Aurellia hanya diam.
Dia benci kenyataan bahwa semua itu teringat jelas di benaknya.
Jamnya.
Pesanannya.
Dan sekarang… ketiadaan orang itu.
Bel pintu berbunyi.
Aurellia mengangkat kepala dengan cepat.
Dan jantungnya berdebar lebih kencang saat melihat Alvaro masuk.
Dia tidak menuju meja dekat jendela.
Tetapi langsung menuju ke kasir.
“Eh,” katanya terdengar agak kaku. “Kamu… lagi sibuk? ”
Aurellia menggeleng. “Enggak kok. Kenapa? ”
Alvaro menggaruk tengkuknya. “Aku mau… ngomong bentar. ”
Nada suaranya terasa berbeda.
Tidak se santai biasanya.
Lebih hati-hati. Lebih gelisah.
Dan entah mengapa, itu membuat Aurellia ingin tersenyum—tapi ia menahannya.
“Iya,” jawab Aurellia. “Ada apa emangnya? ”
Alvaro menghela napas pelan. “Kamu selesai shift am berapa? ”
Aurellia berkedip. “Jam lima. ”
“Oh. ” Alvaro mengangguk cepat. “Aku bakal nunggu. ”
“Americano? ” tanya Aurellia spontan.
Alvaro tertawa kecil. “Iya. Seperti biasa. ”
Alvaro duduk. Tapi kali ini dia tidak mengeluarkan kameranya.
Dia hanya menatap meja.
Mengusap telapak tangannya pada celana.
Tenang, katakan pada diri sendiri.
Jangan terlihat seperti akan presentasi.
Aurellia mengamatinya dari balik bar.
Biasanya Alvaro terlihat tenang. Diam, tetapi tegas.
Sekarang… berbeda.
Dia gelisah.
Dan tanpa disadari, Aurellia menyukai hal itu.
Jam lima tiba lebih cepat dari yang mereka duga.
Aurellia melepas apron, meletakkan tas di bahunya.
Alvaro langsung berdiri.
“Jadi…” katanya. “Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. ”
Aurellia mengangkat alisnya. “Kemana? ”
“Galeri seni. Ini kayak galeri independen. Nggak besar, tapi… menarik. ”
Aurellia terdiam sejenak.
Lalu ia tersenyum kecil. “Aku suka galeri. ”
Alvaro terlihat lega. “Serius? ”
“Iya. ”
“Oh. ” Dia tertawa, sedikit gugup. “Bagus. ”
Aurellia memperhatikan cara bicaranya—seakan setiap kata harus dipilih dengan sangat hati-hati.
“Kenapa kamu keliatan tegang banget? ” tanya Aurellia.
Alvaro cepat-cepat menggeleng. “Enggak. ”
“Bohong. ”
Dia terdiam, lalu menghela napas. “Aku jarang ngajak orang. ”
Aurellia menatapnya. “Kenapa ngajak aku? ”
Alvaro membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
“Aku…” Ia menghela napas. “Nyaman kalo ngobrol sama kamu. ”
Itu jujur. Tanpa berlebihan.
Dan itu membuat pipi Aurellia terasa hangat.
Galeri itu terletak di jalan kecil, tidak jauh dari jalan utama.
Bangunannya sederhana. Cat berwarna putih sudah sedikit mengelupas. Pintu kayu tua berbunyi berderak saat dibuka.
Di dalam, suasananya terasa sepi.
Beberapa karya seni menggantung tanpa jarak yang teratur. Sebuah instalasi kecil terletak di sudut ruangan. Aroma cat dan kayu saling bercampur.
Aurellia melangkah pelan, matanya menjelajahi setiap karya seni.
“Ini… nenangin banget rasanya,” ujarnya.
“Bener,” balas Alvaro. “Itu sebabnya aku suka. ”
Mereka melangkah bersebelahan, jaraknya dekat tapi tidak bersentuhan.
“Seninya sedikit… mentah,” kata Aurellia.
“Seolah jujur,” tambah Alvaro.
Aurellia menoleh. “Iya, bener. ”
Mereka berhenti di depan sebuah lukisan—goresannya kasar, dengan warna gelap.
“Kamu suka yang kayak gini? ” tanya Aurellia.
Alvaro mengangguk. “Yang nggak teratur tapi punya makna. ”
Aurellia tersenyum kecil. “Aku juga suka. ”
Di saat itu, mereka menyadari—selera mereka bertemu di titik yang tidak terduga.
Alvaro mengeluarkan kameranya.
Kemudian menyimpannya kembali.
Lalu mengeluarkannya lagi.
Aurellia mengamati.
“Ada apa? ” tanyanya.
Alvaro menelan ludah. “Aku mau tanya sesuatu. ”
Aurellia menoleh sepenuhnya. “Apa itu? ”
Alvaro memegangi kameranya dengan kedua tangan.
“Boleh aku… motret kamu? ”
Ada keheningan sejenak.
Aurellia terkejut.
Bukan karena menolak.
Tapi karena cara dia bertanya.
Bukan karena percaya diri yang berlebihan.
Bukan karena paksaan.
Tapi dengan hormat.
“Kenapa harus aku? ” tanya Aurellia pelan.
Alvaro berpikir sejenak. “Karena kamu… natural. ”
Aurellia tersenyum kecil. “Aku nggak bisa pose. ”
“Justru itu,” balas Alvaro cepat. “Aku nggak pengen kamu berpose. ”
Aurellia tertawa pelan. “Aneh banget. ”
“Bener,” kata Alvaro. “Aku emang aneh. ”
Ia memberi anggukan kecil. “Boleh. ”
Alvaro tampak seolah baru bisa bernapas lagi.
“Makasih ya,” ujarnya tulus.
Alvaro tidak meminta Aurellia untuk berdiri di tempat tertentu.
Ia hanya mundur sedikit, mengatur jarak.
Aurellia berdiri di depan lukisan, tangan dilipat di belakang punggung.
“Aku harus ngelakuin apa? ” tanyanya canggung.
“Be your self,” jawab Alvaro.
Aurellia mendengus. “Itu susah amat. ”
Alvaro tersenyum di balik kameranya. Kayaknya mudah. ”
Klik.
Aurellia menoleh. “Eh. ”
“Maaf,” kata Alvaro cepat. “Itu refleks. ”
“Curang. ”
“Justru bagus,” jawabnya. “Ekspresinya keliatan. ”
Aurellia menggeleng, tetapi senyumnya tidak pudar.
Klik lagi.
Aurellia melangkah, berhenti, membaca informasi tentang karya.
Alvaro memotret dari kejauhan.
Tanpa perintah.
Tanpa pengaturan.
Hanya mengamati.
Dan Aurellia merasa… nyaman.
Di salah satu sudut galeri, mereka duduk di bangku kayu.
Aurellia menatap Alvaro. “Kamu keliatan beda waktu memotret. ”
Alvaro mengangkat alis. “Maksudnya gimana? ”
“Kalem,” jawab Aurellia. “Seolah dunia berhenti. ”
Alvaro tersenyum kecil. “Karena aku konsentrasi. ”
Aurellia menunduk. “Aku suka liat cara kamu motret. ”
Alvaro menatapnya lebih lama.
“Boleh aku save fotomu? ” tanya Aurellia.
“Boleh dong... tapi nanti jangan lupa kirim ke aku juga yaa. ”
“Jangan diupload,” tambahnya cepat.
Alvaro mengangguk. “Aku janji. ”
Hening lagi.
Tapi hening yang menyenangkan. Ketika mereka keluar dari galeri, langit mulai gelap.
“Makasih,” kata Aurellia. “Aku seneng banget. ”
Alvaro mengangguk. “Aku juga. ”
Ia ragu sejenak, lalu berkata, “Kalo… lain kali kita pergi ke tempat lain, apa kamu mau? ”
Aurellia tersenyum.
“Mau,” jawabnya.
Dan untuk pertama kalinya, mereka pulang dengan perasaan yang sama—
bahwa kebiasaan kecil itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih.
Tanpa perlu diucapkan.