NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Berondong

Terjerat Cinta Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Berondong / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga / Komedi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noorinor

Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.

Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.

Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

..."Apa pun yang kakak pikirkan sekarang, percaya sama aku, kakak cuma salah paham....

...Jangan membebani pikiran kakak dengan hal-hal yang tidak perlu. Aku cinta dan sayang sama kakak."...

Lydia berkali-kali membaca pesan dari Arion. Setelah mengobrol panjang dengan Rina dan membaca pesan itu, apakah sekarang kesimpulannya semuanya hanya salah paham?

"Kalau benar cuma salah paham, berarti yang gue lakukan tadi..." Lydia mengacak rambutnya, merasa malu dengan kelakuannya sendiri.

Ia sudah menangis, menuduh Arion, dan ternyata semua hanya salah paham. Lydia tidak tahu apakah ia bisa bersikap biasa saja saat bertemu Arion nanti. Ia sudah terlalu malu dengan kelakuannya sendiri.

"Gue gak sanggup ketemu Arion besok, ini terlalu memalukan," keluhnya.

Ia benar-benar sudah kehilangan mukanya untuk bertemu Arion. Menurutnya, lebih baik menahan rindu tidak bertemu, daripada harus menahan malu.

"Kenapa gue harus ngambil kesimpulan sendiri, dan kenapa juga gue harus nangis? Mana tangisan gue keras banget lagi tadi," jeritnya tertahan.

Lagipula, kenapa ibu Arion tiba-tiba memberi kartu ATM. Kenapa keluarga mereka suka sekali menghamburkan uang?

Lydia tidak tahu berapa uang di kartu ATM itu. Tapi ia yakin jumlahnya tidak sedikit. Wajar saja jika ia sampai berpikir uang itu kompensasi untuknya agar menjauhi Arion.

"Emang gue kelihatan banget pengangguran yang butuh duit ya?" ucap Lydia bermonolog.

Meskipun Lydia dipecat tidak hormat dari Adhivara Grup dan kini menjadi pengangguran, ia sebenarnya memiliki aset yang cukup banyak dari hasil kerjanya selama ini. Ia tidak perlu dikasihani hanya karena statusnya sebagai pengangguran.

Lydia membuka aplikasi mobile banking-nya. Saldo yang tertera di sana sekitar enam ratus juta rupiah. Belum termasuk aset lain seperti saham, emas, apartemen, dan mobil.

Ia mungkin bukan berasal dari keluarga kaya raya, tapi jelas ia tidak kekurangan uang. Tidak ada alasan bagi keluarga Arion untuk merasa kasihan dan memberinya uang.

"Uang segini gak bisa gue pamerin ke Arion," Lydia menggantungkan kalimatnya, lalu menoleh ke arah barang-barang mahal pemberian Arion yang masih tersimpan rapih di kamarnya.

"Gue kerja keras selama lima tahun, tapi Arion bisa menghabiskan semuanya dalam satu hari," lanjutnya.

Ada jeda sebentar sebelum Lydia kembali bicara.

"Tapi tetap aja, gue bukan orang yang butuh banget duit."

***

Pagi ini, Lydia berencana pergi pagi-pagi dari apartemen untuk melamar pekerjaan di perusahaan milik Jevan.

Namun, ternyata ia masih kalah pagi dari Arion. Laki-laki itu sudah berada di ruang tamu apartemen Lydia, entah siapa yang membukakan pintu.

"Apa ini? Gue gak bisa kabur dari Arion?" batinnya sambil bersembunyi di balik tembok.

Ia masih malu untuk bertemu Arion setelah yang terjadi kemarin, tapi ia juga tidak bisa kemana-mana jika Arion saja nangkring di dekat pintu apartemennya.

"Kenapa lo di sini? Arion sudah nungguin lo tuh," ucap Rina dari belakang tubuh Lydia.

Lydia terkejut mendengar suara Rina. Beruntung, ia bukan tipe orang yang latah saat kaget, jadi tidak ada suara yang keluar yang bisa membuat Arion menoleh ke arah mereka.

Dengan cepat, Lydia berbalik menghadap Rina dan memintanya supaya tidak berisik.

"Sut, jangan sampai Arion lihat ke sini. Gue mau kabur dari dia," ujarnya.

Rina menatap Lydia dan ke belakang tubuh Lydia bergantian, ternyata Arion menyadari kehadiran Lydia dan langsung menghampirinya.

"Kenapa mau kabur dari aku?" tanya Arion, membuat tubuh Lydia menegang.

"Sial, gue malah ketahuan lagi," Lydia mengumpat dalam hati. Jika bisa, ia ingin sekali menghilang dari sana sekarang juga.

Lydia menatap Rina, berharap Rina membantunya menghindari Arion. Namun, Rina berkhianat dan memilih kabur sendirian.

"Kalian berdua ngobrol saja, gue mau pergi sekarang," ucap Rina sebelum pergi meninggalkan Lydia, seperti seorang pengkhianat yang membiarkan sahabatnya sendiri terbunuh oleh musuh.

Lydia memejamkan mata sejenak saat Rina melewatinya begitu saja, lalu bibirnya mengeluarkan decakan.

"Dasar, pengkhianat," batinnya kesal.

"Kak," panggil Arion sambil memegang bahu Lydia.

Lydia menarik napas sejenak sebelum berbalik dan menghadapkan tubuhnya pada Arion.

"Ah, apa tadi? Kabur? Kamu pasti salah dengar," ujarnya sambil berpura-pura tersenyum.

Rina sempat menoleh ke arah Lydia dan menggeleng. Ia merasa sahabatnya berubah konyol karena jatuh cinta pada berondong.

"Semoga kesalahpahaman kalian selesai deh," ucapnya dalam hati sebelum keluar dari apartemen Lydia.

Kembali ke tempat Lydia dan Arion. Terlihat Arion hanya menatap Lydia setelah apa yang perempuan itu katakan barusan.

"Aku tidak salah dengar," ujar Arion, tanpa ada sedikitpun emosi yang terlihat di wajahnya.

Arion datang pagi-pagi ke apartemen Lydia untuk meluruskan kesalahpahaman, bukan berniat menghakimi Lydia atas kelakuannya tadi malam.

"Maaf," lirih Lydia. Matanya kemudian tanpa sengaja melihat luka lebam di sudut bibir Arion.

"Ini bekas pukulan Marvin tadi malam. Pasti sakit ya?" tanyanya sambil menyentuh luka di bibir Arion.

Arion tersenyum, lalu menahan tangan Lydia dan mencium punggung tangannya lembut.

"Iya, sakit. Tapi tidak lebih sakit dari Kakak yang tadi malam meninggalkan aku dan menolak diantarkan pulang," jawabnya.

"Kakak minta maaf soal tadi malam," ujar Lydia, membiarkan Arion mencium dan menggenggam erat tangannya.

Arion kemudian menatap mata Lydia. Mata itu masih sembab karena menangis tadi malam, tapi tatapan cinta dan sayangnya kembali seperti biasanya.

"Jangan berubah lagi, Kak," pintanya tanpa membalas permintaan maaf Lydia.

Baginya, Lydia tidak salah apa-apa dan kesalahpahaman dalam hubungan sudah biasa. Yang terpenting tangan mereka masih saling menggenggam.

"Kakak tidak berubah. Justru karena Kakak terlalu mencintai kamu, pikiran Kakak kacau sekali tadi malam," ungkap Lydia jujur.

Setelah berpikir sepanjang malam, Lydia sadar bahwa alasannya bertingkah memalukan karena ia terlalu mencintai Arion. Ia tidak terima jika Arion tidak mencintainya, tidak terima jika Arion menyuruhnya pergi dengan memberinya sejumlah uang—meski semua itu mungkin hanya salah paham.

"Luka kamu belum diobati ya? Biar Kakak obati, Kakak ambil dulu kotak obatnya," ujar Lydia sambil berniat pergi mengambil kotak Obat.

Namun, sebelum sempat melangkah, tangan Arion yang sempat terlepas dari genggamannya menahannya dengan menarik pinggangnya.

"Tidak usah. Lukanya bisa diobati dengan hal lain," ucap Arion, lalu menempelkan bibirnya di bibir Lydia.

Lydia yang paham maksud Arion langsung memberikan kecupan. Mungkin masih ada kesalahpahaman di antara mereka, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa mereka saling menginginkan.

"Kamu dijodohkan oleh Mamah kamu?" tanya Lydia di sela ciuman mereka.

Arion refleks menghentikan ciumannya, lalu menatap wajah Lydia.

"Jadi itu alasan Kakak berpikir keluarga aku mau balas dendam ke Kakak?" ujarnya, membalikkan pertanyaan Lydia.

"Ya, itu salah satunya," jawab Lydia seadanya.

"Astaga, Kak! Kenapa Kakak berpikir aku dijodohkan? Kakak overthinking karena kemarin aku tidak memberi kabar seharian? Tidak ada yang dijodohkan, Kak. Orang tua aku juga tidak sekolot itu," jelas Arion.

Ia benar-benar tidak menyangka Lydia akan berpikir ke sana. Orang tuanya dulu memang menikah karena perjodohan, tapi mereka tidak mau Arion mengalami hal yang sama dan membebaskan Arion untuk memilih pasangannya sendiri.

"Terus kenapa Mamah kamu memberi Kakak kartu ATM?" tanya Lydia, membuat Arion tampak berpikir keras.

Apa hubungannya Lydia yang berpikir Arion dijodohkan dengan mamah Arion yang memberi kartu ATM?!

"Mamah sudah tahu tentang hubungan kita, dan ATM itu cuma hadiah," jelas Arion beberapa saat kemudian.

Kini giliran Lydia yang berpikir keras. Bukankah kemarin Liam dan teman-temannya mengatakan ibu Arion marah mengetahui hubungan mereka?

1
Resa05
ditunggu up nya kak
Resa05
wah makin penasaran nih
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Resa05
semangat up-nya thor!
Reverie Noor: terimakasih ❤
total 1 replies
Resa05
sayang banget cerita bagus kayak gini ga rame, semangat up terus thor!
Resa05: bakal jadi pembaca setia, semoga ceritanya seru terus ya thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!