Yin Chen menemukan papan catur ajaib di hutan bambu—setiap gerakannya mempengaruhi dunia nyata. Saat kekuatan gelap mengancam keseimbangan alam, dia bertemu Lan Wei dari kelompok Pencari Kebenaran dan mengetahui bahwa pemain lawan adalah saudara kembarnya yang hilang, Yin Yang. Bersama mereka harus menyatukan kekuatan untuk mengakhiri permainan kuno yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN BARU UNTUK WILAYAH UTARA
Setelah berhasil memperbaiki kondisi kawasan pelestarian di sekitar desa Cemara dan melihat bahwa kehidupan mulai kembali normal di sana, Yin Chen, Yin Yang, dan Lan Wei memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju inti dari Dataran Tinggi Biru. Mereka ingin memahami secara menyeluruh bagaimana jaringan energi alam bekerja di wilayah yang lebih luas dan menemukan cara untuk mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan praktik yang telah terbukti efektif.
“Kita perlu memahami bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik sendiri yang tidak bisa disamakan dengan yang lain,” kata Yin Chen sambil membuka buku catatan yang berisi pengamatan mendetail tentang kondisi alam di berbagai tempat. “Dataran Tinggi Biru memiliki sistem energi yang lebih kompleks karena letaknya yang strategis di antara beberapa wilayah penting dalam jaringan alam semesta.”
Mereka melanjutkan perjalanan melalui jalur yang semakin menanjak dan terpencil. Udara menjadi semakin dingin dengan adanya kabut tebal yang sering menyelimuti jalan mereka. Di sisi kanan dan kiri jalan, mereka menemukan beberapa batu besar dengan simbol-simbol yang sama dengan yang pernah mereka temukan sebelumnya—menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara wilayah ini dengan pusat-pusat energi alam yang lain.
Pada hari ketujuh perjalanan, mereka menemukan sebuah pemukiman kecil bernama Desa Anggur yang terletak di dekat danau besar yang hampir seluruhnya tertutup oleh rerumputan tinggi dan pepohonan yang jarang. Kondisi di sini terlihat sangat berbeda dengan desa-desa sebelumnya; tanahnya kering dan banyak tanaman yang layu akibat kurangnya air dan nutrisi yang cukup.
Mereka berhenti di rumah seorang wanita muda bernama Siti Mariam yang dikenal sebagai penyembuh tradisional lokal. Wanita ini dengan cepat menyadari bahwa mereka bukanlah pelancong biasa. “Saya bisa merasakan energi yang kuat dari kalian—energi yang membawa harapan bagi kita yang sedang mengalami kesulitan,” ucapnya sambil menyajikan air hangat dan makanan sederhana.
Setelah melihat kondisi desa secara langsung dan berbicara dengan penduduknya, mereka mulai melakukan analisis mendalam terhadap penyebab masalah yang terjadi. Lan Wei menggunakan alat ukur energi yang telah mereka kembangkan, sementara Yin Chen dan Yin Yang memeriksa struktur tanah, air, dan vegetasi di sekitar desa.
“Hasil pengukuran menunjukkan bahwa ada gangguan besar pada aliran energi alam di sini,” jelas Lan Wei setelah menyelesaikan pengukuran. “Ada sesuatu yang menghalangi aliran energi yang seharusnya mengalir lancar, menyebabkan tanah menjadi tidak subur dan sumber daya alam menurun drastis.”
Yin Chen menunjukkan beberapa batu besar yang terletak di atas bukit dekat desa. “Berdasarkan simbol-simbol pada batu tersebut, ada kemungkinan ada struktur kuno yang tersembunyi di bawahnya,” katanya. “Struktur ini mungkin telah terganggu dan menyebabkan gangguan pada keseimbangan alam di sekitar desa.”
Mereka menghabiskan beberapa hari untuk menyelidiki lokasi tersebut. Setelah membersihkan area yang tertutup oleh tanah dan akar pohon, mereka menemukan reruntuhan kuil kuno yang hampir seluruhnya tertutup. Simbol-simbol yang ada di sana sama dengan yang pernah mereka temukan sebelumnya, menunjukkan bahwa ini adalah salah satu titik penting dalam jaringan energi alam regional.
“Ini adalah bagian dari sistem yang menjaga keseimbangan di wilayah ini,” kata Yin Yang dengan keyakinan. “Struktur ini telah terganggu, menyebabkan gangguan pada aliran energi alam dan berdampak pada kehidupan di sekitarnya.”
Mereka mulai bekerja dengan hati-hati untuk membersihkan dan memperbaiki bagian-bagian penting dari struktur kuno tersebut tanpa mencoba membangunnya kembali seperti semula. Selama proses perbaikan berlangsung, penduduk desa mulai merasakan perubahan pada udara dan suasana sekitar mereka.
“Kita merasa ada energi baru yang mulai mengalir,” ucap salah satu penduduk dengan senyum yang kembali muncul di wajahnya. “Udara terasa lebih segar dan kita merasa lebih kuat daripada sebelumnya.”
Setelah beberapa minggu bekerja tanpa henti, mereka berhasil memperbaiki bagian penting dari struktur kuno tersebut. Aliran energi alam mulai kembali lancar, menyebabkan tanah yang sebelumnya kering menjadi subur kembali dan sumber air mulai mengalir dengan deras lagi. Penduduk desa mulai bekerja kembali dengan semangat baru, sementara anak-anak bermain dengan riang di sekitar jalan desa.
“Sekarang kita bisa melihat bahwa usaha kita tidak sia-sia,” kata Lan Wei dengan suara penuh rasa syukur. “Energi alam yang kembali lancar telah membawa perubahan besar bagi kehidupan di sini.”
Mereka menghabiskan beberapa minggu berikutnya untuk mengajarkan penduduk desa tentang cara menjaga keseimbangan energi alam secara mandiri. Mereka mengajarkan teknik-teknik khusus yang sesuai dengan kondisi lokal, serta bagaimana mengenali tanda-tanda gangguan dan cara menangani masalah sebelum menjadi lebih serius.
“Kita harus memberikan pengetahuan yang cukup agar mereka bisa mandiri setelah kita pergi,” kata Yin Chen sambil menunjukkan beberapa titik penting yang perlu diperhatikan secara berkala. “Dengan pemahaman yang benar, mereka bisa menjaga keseimbangan ini sendiri dan membantu wilayah lain yang mungkin mengalami kesulitan serupa.”
Setelah merasa yakin bahwa desa Anggur sudah bisa mandiri dan memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjaga keseimbangan alam secara mandiri, mereka melanjutkan perjalanan ke wilayah lain yang lebih jauh di bagian utara Dataran Tinggi Biru. Jalur yang mereka tempuh semakin sulit dengan banyak lereng curam dan batu yang menghalangi jalan. Udara menjadi lebih dingin dengan sedikit kabut yang menyelimuti area sekitar mereka.
Pada hari kedua perjalanan dari desa Anggur, mereka menemukan sebuah kawasan yang dikenal sebagai Hutan Pinus—suatu area yang penuh dengan pepohonan tinggi dengan daun yang lebat namun tanah yang kering dan tidak subur. Penduduk desa di sekitar wilayah ini tampak lesu dengan mata yang tidak bersemangat.
Mereka berhenti di rumah seorang penyembuh lokal bernama Bu Lina. Wanita ini dengan cepat menyadari bahwa mereka datang dengan tujuan yang baik dan segera menunjukkan kondisi alam yang sangat berbeda dengan yang seharusnya ada.
“Kita merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan tanah dan air di sini,” ucap Bu Lina setelah menunjukkan area sekitar rumahnya. “Tanah menjadi keras dan sulit diolah, sementara sumber air mulai menyusut secara drastis.”
Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan menggunakan alat ukur energi, mereka menemukan bahwa ada gangguan besar pada aliran energi alam akibat adanya struktur kuno yang tersumbat. Mereka bekerja dengan hati-hati untuk membersihkan dan memperbaiki bagian penting dari struktur tersebut tanpa mengubah bentuk aslinya.
Setelah beberapa minggu bekerja, mereka berhasil memperbaiki aliran energi alam yang terganggu. Tanah mulai menjadi subur kembali dan sumber air mengalir dengan deras lagi. Penduduk desa mulai merasa lebih bertenaga dan mulai bekerja dengan semangat baru.
“Sekarang kita bisa melihat bahwa usaha kita tidak sia-sia,” kata Yin Yang dengan suara penuh harapan. “Setiap langkah yang kita ambil membawa manfaat bagi banyak orang dan alam sekitar kita.”
Mereka melanjutkan perjalanan ke wilayah lain yang lebih jauh di bagian utara Dataran Tinggi Biru. Setiap desa yang mereka kunjungi membawa tantangan baru yang berbeda, namun dengan pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki, mereka berhasil membantu memperbaiki keseimbangan alam dan memberikan harapan baru bagi masyarakat lokal.
“Kita telah belajar bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik sendiri yang perlu diperhatikan dengan cara yang berbeda,” kata Lan Wei dengan suara penuh keyakinan. “Dengan kerja sama dan rasa hormat terhadap alam, kita bisa membawa perubahan positif bagi banyak orang dan wilayah yang membutuhkan bantuan.”
Setelah beberapa bulan bekerja di berbagai wilayah di Dataran Tinggi Biru, mereka berhasil membantu banyak desa dan kawasan alam yang mengalami kesulitan. Setiap tempat yang mereka kunjungi mulai menunjukkan perubahan yang positif dengan kehidupan yang kembali normal dan seimbang.
Mereka tahu bahwa perjalanan mereka sebagai penjaga keseimbangan alam tidak akan pernah berakhir. Ada selalu wilayah lain yang membutuhkan bantuan dan pengetahuan yang mereka miliki. Dengan hati yang penuh rasa syukur dan semangat yang tinggi, mereka melanjutkan perjalanan menuju wilayah baru yang masih membutuhkan bantuan mereka.
“Kita akan terus berjalan dengan tujuan yang jelas,” kata Yin Chen sambil melihat ke arah kejauhan. “Dengan pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki, kita siap menghadapi segala tantangan yang akan datang dan membawa harapan bagi dunia yang membutuhkan.”