di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10: Tarian Darah di Hutan Hitam
Hutan itu sunyi, seolah-olah pepohonan sendiri menahan napas menyaksikan pembantaian yang akan terjadi.
Lima pembunuh bayaran bergerak serentak. Mereka profesional. Tidak ada teriakan jurus, tidak ada ancaman kosong. Hanya desingan senjata yang membelah udara, mengincar titik vital: leher, jantung, ulu hati, dan paha.
Si Pemimpin dengan bekas luka bakar melesat paling depan, sepasang pisau gandanya berkilau hijau karena racun, mengincar leher Ye Yuan.
"Mati!" desisnya.
Di mata orang biasa, Ye Yuan sudah dikepung tanpa jalan keluar. Tapi di mata Ye Yuan yang kini bersinar ungu, gerakan mereka melambat.
Dia tidak mundur. Dia juga tidak menangkis.
Ye Yuan menghentakkan kaki kanannya.
BOOM!
[Langkah Hantu Asura]
Tanah di bawah kakinya meledak. Sosok Ye Yuan menghilang, meninggalkan bayangan kabur di tempatnya berdiri.
Serangan kelima pembunuh itu hanya mengenai udara kosong dan bayangan sisa.
"Di mana dia?!" teriak salah satu pembunuh di sebelah kiri.
"Di atasmu!"
Suara Ye Yuan terdengar dingin dari udara. Dia tidak melompat biasa; dia menggunakan ledakan Qi di kakinya untuk meluncur secara diagonal di udara, memutar tubuhnya seperti gasing maut.
Pedang patah hitam di tangannya terayun turun dengan momentum gaya berat yang mengerikan.
SPLAT!
Tidak ada suara dentingan logam. Hanya suara daging dan tulang yang dihancurkan paksa.
Pembunuh di sebelah kiri itu tidak sempat berteriak. Pedang Ye Yuan menghantam bahunya, terus turun membelah tulang selangka, rusuk, hingga pinggang. Tubuhnya terbelah separuh, hancur berantakan oleh beratnya pedang tumpul itu.
Darah menyembur seperti hujan merah, membasahi wajah Ye Yuan.
"Satu," hitung Ye Yuan datar.
Empat pembunuh lainnya membeku sesaat. Mereka sudah membunuh banyak orang, tapi cara membunuh sebrutal ini... menghancurkan manusia seperti menghancurkan semangka busuk... ini bukan gaya pendekar pedang. Ini gaya iblis.
"Hati-hati! Pedangnya sangat berat! Jangan ditangkis langsung!" teriak Si Pemimpin panik. "Formasi Jaring Laba-laba! Serang kakinya!"
Empat orang yang tersisa menyebar. Mereka melemparkan rantai besi berujung kait ke arah kaki dan tangan Ye Yuan, mencoba mengikat pergerakannya.
Clang! Clang!
Dua rantai berhasil melilit lengan kiri dan kaki kanan Ye Yuan. Dua pembunuh menarik rantai itu sekuat tenaga, menyeringai kemenangan. "Dapat kau!"
Si Pemimpin melihat kesempatan. "Bagus! Tahan dia!"
Dia melesat maju, pisau beracunnya siap menusuk jantung Ye Yuan yang "terikat".
Ye Yuan menatap rantai di lengannya. Dia tidak panik. Sudut bibirnya justru terangkat membentuk seringai mengerikan.
"Kalian pikir rantai mainan ini bisa menahan Asura?"
Ye Yuan tidak mencoba melepaskan rantai itu. Sebaliknya, dia mencengkeram rantai di tangan kirinya. Otot lengannya meledak dengan kekuatan penuh.
"Sini!"
Dengan satu sentakan kasar, Ye Yuan menarik pembunuh yang memegang ujung rantai itu.
"Waaaa!" Pembunuh itu terbang melayang, tertarik paksa ke arah Ye Yuan.
Ye Yuan menjadikan pembunuh yang melayang itu sebagai tameng hidup.
JLEB!
Pisau beracun Si Pemimpin, yang seharusnya menusuk Ye Yuan, justru menancap telak di dada anak buahnya sendiri.
"Ugh... Bos..." Pembunuh itu muntah darah hitam dan mati seketika. Racun itu sangat mematikan.
"Dua," hitung Ye Yuan lagi.
Si Pemimpin melotot horor, mencabut pisaunya dari mayat rekannya. "Bajingan gila!"
Ye Yuan tidak memberinya waktu berpikir. Dia melepaskan rantai di kakinya dengan satu tendangan yang mematahkan besi itu, lalu menerjang maju.
[Tebasan Pembelah Gunung!]
Kali ini targetnya adalah dua pembunuh tersisa yang masih bengong memegang rantai putus.
Ye Yuan mengayunkan pedangnya secara horizontal. Pedang itu meraung membelah udara.
"Tangkis!" teriak mereka berdua, mengangkat pedang besi mereka secara bersamaan.
Bodoh.
Menangkis pedang seberat itu dengan pedang biasa sama saja dengan mencoba menahan batu longsor dengan ranting kayu.
TRAANG! KRAK!
Pedang mereka patah seketika. Bilah hitam Ye Yuan terus melaju tanpa hambatan, memenggal dua kepala sekaligus. Kepala mereka menggelinding di tanah hutan yang lembap, mata masih terbelalak kaget.
"Empat."
Sekarang, hanya tersisa Si Pemimpin.
Pria dengan luka bakar itu gemetar. Kakinya mundur perlahan. Dia adalah kultivator Tingkat Sembilan Awal. Secara teori, levelnya di atas Ye Yuan. Tapi mentalnya sudah hancur melihat pembantaian sepihak ini.
"Kau... kau bukan manusia," gagap Si Pemimpin. "Siapa kau sebenarnya? Informasi yang kami dapat cuma bilang kau murid luar yang beruntung!"
Ye Yuan melangkah mendekat, menyeret pedangnya di tanah. Setiap langkahnya diiringi bunyi sreet... sreet... yang menyayat hati.
"Informasimu salah," kata Ye Yuan pelan. "Aku bukan murid yang beruntung. Aku adalah mimpi buruk kalian."
Si Pemimpin meraung putus asa, mengeluarkan seluruh Qi-nya. "Aku akan membawamu mati bersamaku!"
Dia melempar tiga bola asap hitam ke tanah. Poof!
Asap tebal menyelimuti area itu. Itu bukan asap biasa, tapi asap yang mengganggu indra spiritual. Si Pemimpin berniat menggunakan ini untuk serangan bokongan atau kabur.
Di dalam asap pekat, Ye Yuan berdiri diam. Dia memejamkan mata.
"Trik murahan," bisiknya.
Bagi pengguna Sutra Asura, mata hanyalah hiasan. Dia bisa "mencium" rasa takut. Dia bisa merasakan detak jantung musuhnya yang berpacu cepat di sebelah kanannya.
Ye Yuan tidak menoleh. Dia hanya menusukkan pedang patahnya ke samping kanan dengan gerakan backhand.
JLEB.
Suara daging tertusuk terdengar jelas.
Asap perlahan menipis.
Terlihat Ye Yuan berdiri membelakangi Si Pemimpin. Pedang patah Ye Yuan menembus perut pria itu dari depan hingga tembus ke belakang.
Si Pemimpin terbatuk, darah mengalir dari mulutnya. Dia menatap pedang hitam yang menembus tubuhnya. Dia bisa merasakan energi kehidupannya disedot dengan rakus oleh besi dingin itu.
"Ke-kenapa..." lirih Si Pemimpin.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Ye Yuan dingin, meski dia sudah tahu jawabannya.
"Hehe..." Si Pemimpin tertawa lemah, darah membasahi giginya. "Kau pikir... kau bisa menang? Tetua Li... sudah mengirim 'Si Jagal Besi' ke desamu. Saat kau sampai di sana... makam gurumu sudah akan jadi kandang babi..."
Mata Ye Yuan menyipit. "Si Jagal Besi? Kultivator Pembentukan Fondasi?"
"Setengah Langkah... tapi cukup untuk membunuh semut sepertimu..."
Cuih! Si Pemimpin meludahi punggung Ye Yuan.
Ye Yuan tidak bertanya lagi. Dia memutar pedangnya di dalam luka itu.
"Arghhh!"
"Terima kasih infonya. Sekarang, jadilah makanan pedangku."
Pedang Asura berdenyut kencang. Dalam hitungan detik, tubuh Si Pemimpin mengering, layu seperti mumi. Semua Qi dan esensi darahnya diserap habis.
Ye Yuan mencabut pedangnya. Mayat kering itu jatuh berdebum.
Ye Yuan berdiri sendirian di tengah hutan yang kini penuh mayat. Dia mengambil kantong penyimpanan mereka dengan cepat. Tidak ada rasa jijik, tidak ada rasa bersalah. Dunia kultivasi memakan manusia, dan dia baru saja menjadi pemangsa yang lebih besar.
Dia memeriksa dirinya sendiri. Ada beberapa luka goresan dan memar, tapi tidak fatal. Energi dari lima pembunuh ini mulai mengisi kembali staminanya.
"Desa Batu Kapur... Jagal Besi..."
Ye Yuan menatap ke arah matahari terbenam. Langit berwarna merah darah, seolah mencerminkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dia tidak beristirahat. Dia kembali mengaktifkan langkah kakinya, melesat menembus hutan.
Dua Jam Kemudian. Pinggiran Desa Batu Kapur.
Malam telah turun, tapi langit di atas Desa Batu Kapur terang benderang.
Bukan karena bulan, melainkan karena api.
Dari atas bukit kecil, Ye Yuan melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun.
Lumbung padi desa sudah runtuh menjadi arang. Beberapa rumah penduduk terbakar. Di alun-alun desa, puluhan warga desa—orang-orang yang dikenal Ye Yuan sejak kecil: Paman Zhang pandai besi, Bibi Liu penjual tahu, anak-anak kecil yang dulu bermain dengannya—semuanya dikumpulkan di tengah lapangan, berlutut dengan tangan terikat.
Di sekeliling mereka, berdiri belasan pria bertubuh kekar dengan senjata lengkap. Mereka tertawa-tawa sambil menendang warga yang mencoba melawan.
Namun, yang paling membuat mata Ye Yuan nyaris retak adalah pemandangan di bukit belakang desa.
Di sana, di depan nisan batu sederhana milik gurunya, Makam Pedang Tua, seseorang sedang berdiri.
Seorang pria raksasa setinggi dua setengah meter, bertelanjang dada dengan tato rantai di sekujur tubuhnya. Dia memegang sebuah sekop besi raksasa.
Itu pasti "Si Jagal Besi".
Di sebelahnya, nisan gurunya sudah hancur berkeping-keping. Tanah makam sudah digali setengah.
"Hoi, tikus-tikus desa!" teriak Si Jagal Besi, suaranya menggelegar sampai ke tempat Ye Yuan bersembunyi. "Mana harta karunnya?! Orang tua bangka ini pasti dikubur dengan teknik rahasia! Kalau tidak ada yang bicara, aku akan melempar tulang-tulangnya ke anjing!"
"Tuan! Tidak ada harta!" teriak Kepala Desa Zhang, wajahnya babak belur. "Tuan Tua Ye hanya pengembara miskin! Tolong jangan ganggu istirahatnya!"
"Bohong!"
DUAGH!
Jagal Besi menendang gundukan tanah makam itu hingga peti mati kayunya terlihat sedikit.
"Kalau begitu, aku akan membuka peti ini dan kencing di atas mayatnya!"
Jagal Besi mengangkat sekop raksasanya tinggi-tinggi, bersiap menghancurkan tutup peti mati itu.
Di atas bukit, di balik kegelapan hutan, Ye Yuan merasakan sesuatu putus di dalam kepalanya.
Rasionalitasnya lenyap.
Kemanusiaannya menguap.
Yang tersisa hanya satu keinginan murni: Pemusnahan Total.
Pedang patah di punggungnya bergetar begitu hebat hingga mengeluarkan suara dengungan yang menyakitkan telinga, seolah-olah ia juga marah karena "mantan pemiliknya" (atau setidaknya aura yang mirip) dihina sedemikian rupa.
Ye Yuan tidak lagi menyembunyikan auranya.
Dia melangkah keluar dari hutan.
Aura Qi berwarna merah kehitaman meledak dari tubuhnya, membentuk siluet raksasa samar di belakang punggungnya—siluet seorang prajurit berlengan enam yang memegang pedang.
[Niat Pedang Asura: Manifestasi Amarah]
"JAUHKAN TANGAN KOTORMU DARI SANA!"
Teriakan Ye Yuan bukan seperti suara manusia. Itu seperti guntur yang meledak tepat di telinga semua orang di desa itu.
Jagal Besi berhenti. Dia menoleh ke arah bukit.
Dia melihat sesosok pemuda melompat dari ketinggian lima puluh meter, pedang hitam di tangan, matanya menyala ungu, meluncur turun seperti meteor jatuh yang membawa kiamat.
Malam ini, Desa Batu Kapur tidak akan menjadi tempat pembantaian warga.
Malam ini, Desa Batu Kapur akan menjadi kuburan bagi para penjahat.
Asura telah tiba di rumah.
[Bersambung ke Bab 11]
Catatan Penulis:
Bab ini fokus pada transisi Ye Yuan menjadi "anti-hero" yang tidak ragu membunuh. Adegan pembantaian di hutan menunjukkan efektivitas Sutra Asura dalam pertarungan nyata (tanpa aturan). Akhir bab diset untuk big boss fight melawan Si Jagal Besi yang menodai makam gurunya.