Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Batas Akhirnya Di Ucapkan
Pendopo terasa lebih luas dari biasanya ketika hanya ada dua orang di dalamnya.
Darma Wijaya mempersilakan Sucipto duduk di sofa, gerakannya santai, seperti tuan rumah yang sedang menerima tamu lama. Di luar, Karno dan beberapa anak buah berdiri di depan gerbang dengan mata yang lurus menatap jalan masuk, sigap dengan cara yang berbeda dari sigap biasa.
"Sudah lama rasanya kita tidak bicara berdua seperti ini." Darma Wijaya menuangkan teh tawar ke dalam dua gelas. "Kalau tidak salah tiga tahun lalu, kamu datang kemari bersama Ratna."
Ia tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Lebih seperti seseorang yang sedang mengingatkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu diingatkan.
Sucipto menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia langsung meneguknya perlahan, lebih untuk menutupi gugup yang hinggap di dadanya daripada karena haus.
"Selama ini aku melihat keluargamu cukup patuh." Darma Wijaya duduk di seberang, meletakkan gelasnya dengan hati-hati. "Bahkan... semua yang aku inginkan selalu kamu penuhi."
Ia meneguk tehnya pelan, lalu melirik ke arah makam para leluhur yang terlihat dari jendela samping.
"Desa ini bukanlah sarang bagi manusia yang tidak patuh, To."
Nada suaranya turun. Bukan marah. Tapi ada sesuatu di bawahnya yang membuat udara di ruangan itu terasa lebih berat.
"Mereka sudah ada lebih dulu." Ia menunjuk ke arah makam itu dengan dagunya. "Dan kamu lihat sendiri kemarin, para tengkulak begitu senang dengan hasil panen di desa ini."
Darma Wijaya berdiri. Berjalan menuju lemari kayu tua yang terkunci rapat di samping jendela. Kuncinya ia ambil dari saku, membuka gembok kecil dengan gerakan yang sudah hafal, lalu membuka pintu lemari itu setengah.
Sucipto bisa melihat sekilas dari tempatnya duduk. Di dalam ada beberapa lembaran kertas yang sudah menguning, dilipat rapi dan ditumpuk, dengan tulisan tangan yang terlihat tua. Di sampingnya ada sesuatu yang dibungkus kain putih, tidak besar, tapi cukup untuk membuat Sucipto tahu bahwa apa pun yang ada di sana bukan sekadar arsip biasa.
"Di dalam sini," kata Darma Wijaya tanpa menoleh, tangannya menyentuh salah satu lembar kertas itu sebentar, "semuanya sudah tertulis dengan jelas."
Ia menutup lemari itu kembali. Mengunci. Memasukkan kunci kembali ke sakunya. Lalu berbalik menatap Sucipto.
"Jangan pernah ada lagi orang-orang yang merasa perlu mengubah apa yang sudah berjalan dengan baik."
Sucipto menundukkan kepala.
Ia tahu siapa yang dimaksud tanpa perlu disebutkan.
Darma Wijaya berjalan santai kembali ke arah Sucipto. Berdiri di depannya, kedua tangannya menepuk pundak Sucipto beberapa kali. Seperti sedang membersihkan debu yang menempel di baju. Tapi tekanannya berbeda. Bukan kasih sayang. Lebih seperti seseorang yang sedang memberikan beban sekaligus perintah yang harus dilaksanakan, dan tidak ada pilihan untuk menolak.
"Sekarang, aku sudah percaya padamu, To." Suaranya turun jadi bisikan. "Jangan sampai kepercayaan itu sia-sia."
Ia melangkah mundur, duduk kembali di sofa.
"Ingat, To." Matanya tidak lepas dari wajah Sucipto. "Sang Dewi tidak akan suka kalau ada yang berkhianat padanya."
Sucipto bangkit dari duduknya. Berlutut. Menundukkan sedikit tubuhnya dengan cara yang sudah lama ia pelajari untuk dilakukan, meski setiap kali melakukannya ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa seperti patah.
"Baik, Kanjeng." Suaranya pelan tapi jelas. "Aku akan mengawasi anakku lebih ketat lagi."
Ia berhenti sebentar. Lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah lagi, hampir tidak terdengar.
"Mohon maafkan aku, Kanjeng. Aku sudah mengecewakan kepercayaan yang diberikan."
Darma Wijaya mengangguk sekali. "Pergi."
Sucipto mundur selangkah. Dua langkah. Lalu berbalik dan berjalan keluar dari pendopo.
Angin kecil bertiup saat ia keluar.
Disertai bisikan halus yang terdengar di telinga, seperti suara yang datang dari arah yang tidak bisa ditunjuk. Sucipto hanya menunduk, mengatupkan bibirnya rapat, dan terus berjalan menuju sawah.
Di sana ia masih melihat Fariz sedang mencangkul. Nyaris setengahnya sudah selesai.
Sucipto berjalan cepat menuruni pematang, kakinya menginjak tanah basah, lalu langsung merebut cangkul dari tangan Fariz dengan kasar.
"Balik. Kamu sudah bikin malu aku!"
Ia mendorong tubuh Fariz, tidak keras tapi cukup untuk membuat Fariz terhuyung setengah langkah.
Fariz terkesiap.
Selama ini Sucipto tidak pernah memarahinya sekasar ini. Bahkan sejak kecil, pria yang ada di hadapannya ini selalu menjaga tubuhnya agar tidak tersakiti. Tapi kali ini berbeda. Fariz melihat sesuatu di mata ayahnya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bukan hanya marah. Lebih seperti takut yang dipaksakan jadi marah karena tidak tahu harus jadi apa lagi.
Tanpa banyak bicara, Fariz keluar dari sawah. Kakinya menemukan tanah kering di tepi, lalu ia berjalan ke pancuran kecil di sisi pematang untuk membasuh lumpur yang menempel.
Air mengalir ke kakinya. Dan warnanya berubah.
Cokelat tua, sedikit lengket, dan ada jentik kecil yang bergerak mengalir dari pancuran itu. Fariz menatapnya sebentar. Tapi ia tidak bereaksi. Tidak mengerutkan dahi, tidak mundur. Ia hanya terus membasuh kakinya dengan tenang, seperti tidak terjadi apa-apa.
Karena ia tahu Sucipto sedang mengawasi dari belakang.
Dan bereaksi sekarang hanya akan membuat semuanya lebih buruk.
Fariz berjalan pulang dengan wajah campur aduk. Kesal, bingung, marah, semuanya bercampur jadi satu dan tidak ada yang bisa ia keluarkan karena tidak ada tempat untuk mengeluarkannya.
Orang-orang yang ada di sekitarnya menyapa. Ia tidak balas. Bukan karena sombong. Hanya karena suaranya terasa macet di tenggorokan dan ia takut kalau ia buka mulut, yang keluar bukan salam tapi sesuatu yang lain.
Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke kamar. Berganti pakaian. Merebahkan tubuh di atas kasur.
Ratna berdiri di ambang pintu beberapa detik kemudian.
"Ibu bilang apa? Kalau disuruh ke sawah ya pergi ke sawah. Jangan mampir ke sana kemari. Sekarang bapakmu marah, toh?"
Suaranya tidak keras. Tapi ada kekecewaan di sana yang terdengar lebih berat dari teriakan.
Ia tahu Fariz sedang menahan sesuatu. Tapi ia juga tahu kalau menahan itu tidak akan menyelesaikan apa pun kalau Fariz tidak belajar untuk nurut.
"Nggak ada makan siang hari ini." Ratna berbalik. "Tunggu perintah dari bapakmu."
Lalu ia pergi ke belakang rumah.
Hingga pukul tiga sore, Fariz diam di kamar.
Perut mulai berbunyi pelan. Lapar yang perlahan naik dari lambung ke dada, tapi ia diamkan saja. Mungkin ini yang pantas. Mungkin ini yang harus ia tanggung.
Suara pintu terbuka keras.
"Mana Fariz?!" Suara Sucipto tinggi, langkahnya berat masuk ke dalam rumah.
Ratna menunjuk ke arah kamar. Sucipto langsung melangkah ke sana, membuka pintu tanpa mengetuk.
Fariz masih membelakangi pintu, berbaring menghadap dinding.
"Otakmu di mana, Iz?!"
Sucipto berdiri di tengah kamar, urat di lehernya menegang, napasnya pendek dengan cara orang yang sudah menahan marah terlalu lama dan sekarang tidak bisa menahan lagi.
"Dari tiga tahun lalu Bapak sudah larang kamu untuk bergaul di pondok! Sekarang kamu masih datang diam-diam ke sana. Mau kamu apa sih?!"
Fariz tidak menjawab. Tidak bergerak.
"Bapak nggak mau tahu." Sucipto melangkah lebih dekat. "Mulai hari ini kamu sudah nggak boleh lagi keluar rumah. Kalau kamu berani melanggar perintah Bapak..."
Ia berhenti. Napas pendek. Lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah tapi jauh lebih tajam.
"Jangan pernah lagi kembali ke rumah ini."
Pintu dibanting keras.
Fariz tidak langsung menangis.
Ia berbaring di situ, menatap dinding kayu yang sudah retak di beberapa bagian, mendengar langkah ayahnya menjauh, mendengar suara pintu depan tertutup, mendengar rumah kembali sunyi.
Dadanya sesak. Tapi air mata tidak keluar. Seperti ada yang menahannya di dalam, membiarkannya menggenang tapi tidak jatuh.
Ia bangun. Duduk di tepi kasur. Menatap lantai.
Lalu mengambil wudhu.
Maghrib tiba tanpa suara azan dari masjid.
Imam sudah pergi. Dan tidak ada pengganti. Jadi desa ini maghrib tanpa azan, seperti maghrib yang tidak lengkap tapi tidak ada yang protes.
Fariz shalat di kamar. Duaa rakaat. Gerakannya pelan, tidak terburu. Seperti sedang mencoba mengingat sesuatu yang hampir lupa, dan tubuhnya mencoba mengingatkan kembali bagaimana rasanya bergerak dengan cara yang benar.
Setelah salam, ia tidak langsung berdiri.
Ia duduk di atas sajadah, tangan di pangkuan, kepala tertunduk menatap alas sujud yang sudah tipis dan kusam.
Isya datang. Ia shalat lagi. Tiga rakaat. Lalu duduk lagi di tempat yang sama.
Dari sejak maghrib hingga setelah isya, ia masih berada di atas sajadah itu. Tidak berdoa. Tidak membaca apa pun. Hanya duduk dengan kepala tertunduk, seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak datang-datang, atau seperti sedang mencoba bicara tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Beban di dadanya tidak berkurang. Malah semakin dalam.
Tengah malam.
Rumah sudah sunyi sepenuhnya. Suara Ratna yang mencuci piring sudah berhenti. Suara Sucipto yang berbalik di kasur sudah berhenti. Hanya jangkrik dan angin yang masuk dari celah jendela.
Fariz masih duduk di atas sajadah. Tapi sekarang punggungnya bungkuk, kepalanya hampir menyentuh lutut, dan bahunya bergetar pelan.
Air mata yang tadi tidak keluar, sekarang keluar.
Tidak banyak. Tidak berisik. Hanya jatuh pelan ke sajadah di bawahnya, satu per satu, seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan dan akhirnya menemukan jalan keluar tanpa izin.
Ia menangis dalam diam. Seperti semua yang ia lakukan selama ini. Diam. Patuh. Menahan.
Tapi kali ini menahan saja tidak cukup.
Klotak.
Klotak.
Ssst.
Suara gemeratak dari balik jendela.
Fariz mengangkat kepala, mengusap matanya cepat. Suara itu datang lagi. Disertai desis, seperti ada yang mencoba memanggil tapi tidak mau keras-keras.
Ia berdiri. Melangkah ke jendela dengan hati-hati, tidak mau menimbulkan bunyi.
Bayangan bergerak di balik sirip jendela. Dagu yang bergerak samar, kulit putih, tangan yang sedang berusaha mendorong sirip dengan perlahan.
Fariz mengintip dari celah.
"Aisyah!"
Ia membuka sirip jendela lebih lebar. Aisyah berdiri di sana, napasnya sedikit terengah, seperti baru saja berlari atau bersembunyi. Di tangannya ada sebuah buku.
Bukan buku kecil. Buku tebal, sampulnya sudah lusuh, dengan tulisan tangan di pinggirnya yang terlihat tua.
"Iz." Suaranya pelan tapi mendesak. "Aku menemukan ini."
Ia mengulurkan buku itu lewat jendela.
Fariz menerimanya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Membuka halaman pertama. Dan di sana, dengan tulisan tangan yang rapi tapi sudah memudar, tertulis nama yang membuat dadanya terasa seperti ditekan dari dalam.
Kyai Salman bin Abdullah