Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.
Tara memasuki ruangan Bastian, langkahnya tegap dengan kepala sedikit menunduk. "Selamat sore, Tuan. Ada beberapa berkas yang perlu Anda tandatangani," ucapnya seraya menyerahkan map berisi dokumen di tangannya.
"Selamat sore," jawab Bastian. Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap Tara, asistennya yang selalu sigap.
"Bagaimana progres proyek kita? Apa semuanya berjalan lancar?" tanyanya kemudian.
"Alhamdulillah, semua berjalan sesuai rencana, Tuan," jawab Tara, mengangguk mantap.
"Satu lagi, Tuan," Tara menambahkan. "Saat ini Tuan Muda Abiyan telah menyelesaikan masa percobaan dan dipercaya sebagai asisten manajer."
Bastian manggut-manggut, senyum tipis terbit di bibir tipisnya. Ada sedikit rasa bangga, tetapi pria itu tidak mau berlebihan menunjukkannya.
Beberapa waktu lalu, ketika anak buah Tara melaporkan jika Abiyan bekerja di Kafe Impian, Bastian memerintahkan Tara untuk bernegosiasi dengan pemilik kafe. Dia bersedia berinvestasi di kafe tersebut dengan syarat, Abiyan mendapatkan bimbingan yang tepat dan terarah.
"Baguslah," katanya. "Bagaimana dia menjalani hidupnya di luar sana? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya menambahkan.
"Sepertinya Tuan Muda sangat menikmatinya, Tuan. Apalagi..." Tara terdiam sesaat, tampak ragu-ragu apakah harus menyampaikannya atau tidak.
"Ada apa, Tara? Kenapa kamu diam?" Bastian menegakkan tubuhnya. Tatapannya terlihat serius ke arah asistennya.
Tara menarik napas dalam. "Sepertinya Tuan Muda sedang jatuh cinta, tapi..." Kembali Tara tampak ragu.
"Ada apalagi, Tara? Kenapa kamu setengah-setengah memberikan informasi?" Bastian tampak tidak sabar dan sedikit kesal dengan sikap asistennya itu.
Tara menatap Bastian, pandangannya terasa ambigu. "Bagaimana reaksi Tuan jika tahu Tuan Muda Abiyan menyukai istri orang, apalagi sedang hamil?" batinnya berkecamuk.
Kali ini Bastian tidak lagi bertanya, dia memilih diam dan menunggu Tara melanjutkan ucapannya.
"Tapi...wanita itu sedang hamil, Tuan. Statusnya masih istri orang..."
"Apa...!" Seketika Bastian berdiri dari tempat duduknya.
"Apa dia sudah tidak bisa mencari wanita lajang, sampai-sampai harus jatuh cinta pada istri pria lain?" tanyanya, tampak kekecewaan terpancar pada raut wajahnya.
"Selidiki siapa wanita itu. Jika dia wanita yang tidak benar, jauhkan mereka bagaimanapun caranya. Kalau perlu singkirkan dia," ujarnya memerintah dengan tegas.
"Baik, Tuan. Segera saya laksanakan," jawab Tara, kemudian pamit undur diri.
Setelah Tara keluar ruangan, Bastian berjalan menuju jendela kaca menatap pemandangan kota sore itu. Kedua tangannya tersembunyi di balik saku celananya. Pikirannya berkecamuk, memikirkan tingkah anaknya yang semakin membuatnya khawatir.
"Hahhh..." Bastian membuang napas kasar, seolah beban hidupnya terasa berat.
.
.
.
Pagi itu, untuk pertama kalinya, Abiyan menjalankan tugasnya sebagai asisten manajer. Dia memberikan arahan kepada rekan-rekannya, "Pastikan semua sesuai standar, ya," ujarnya dengan ramah.
Dia memeriksa stok bahan, memastikan aman sampai seminggu ke depan, dan mengecek kebersihan dia area kerja, agar pelanggan merasa nyaman. Semua harus sempurna.
Namun, kemudian dia dikejutkan dengan laporan dari salah satu barista bahwa mesin kopi utama mengalami kemacetan, "Gawat, ini bisa menghambat pelayanan," gumamnya cemas.
Dengan pengetahuannya, Abiyan memeriksa mesin tersebut dan ternyata hanya tersumbat. Dia lalu membersihkannya dengan sigap, hingga akhirnya mesin bisa digunakan kembali. Kecepatan dan ketenangannya patut diacungi jempol.
Di sisi lain, Tyo menatapnya dengan sinis dari kejauhan, tetapi Abiyan mengabaikannya. Dia berusaha bekerja dengan profesional, mengenyahkan perasaan canggung setelah kejadian kemarin, dan fokus pada tanggung jawabnya.
Hingga siang hari, pelanggan datang silih berganti. Kafe itu ramai seperti biasanya, membuktikan kualitas dan pelayanan yang terjaga.
Di dalam ruangannya, Pak Joni memantau kinerja Abiyan melalui CCTV yang terhubung dengan tabletnya. Senyum tipis menghiasi bibirnya yang tebal. Ada rasa bangga dalam hatinya, tetapi dia belum merasa puas. "Masih banyak yang harus dia pelajari lagi," pikirnya.
.
Dengan langkah berat, Naraya memenuhi panggilan sidang perceraiannya dengan Farid. Sidang berjalan singkat dan lancar. Agenda mediasi sempat diajukan, tetapi ditolak. Kedua belah pihak sudah sepakat untuk berpisah. Hakim pun memutuskan untuk langsung mengetuk palu.
Perasaan Naraya campur aduk. Ada kelegaan, seolah terlepas dari beban berat yang selama ini menghimpitnya. Namun, ada juga kesedihan yang mendalam, karena pernikahan yang pernah ia impikan kini kandas di tengah jalan.
Naraya berjalan seorang diri dengan langkah lemah meninggalkan gedung pengadilan.
"Naraya!" Farid memanggilnya.
Pria itu menyusulnya dan berusaha meraih tangan Naraya, tetapi dengan cepat wanita itu menghindar.
"Ada apa lagi?" tanya Naraya, suaranya terdengar tegas dan datar.
"Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa sekarang. Kita hanya dua orang asing, jadi tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Naraya, berusaha mengendalikan emosinya.
"Maaf...Aku memang salah. Tapi ini semua demi kebaikan kita semua," ucap Farid, nada bicaranya datar tanpa sedikit pun penyesalan meski dia berkata maaf.
Naraya tertawa sinis. "Ya, demi kebaikan. Dan aku berharap anak ini lahir laki-laki agar dia tak pernah berhubungan dengan ayahnya."
"Aku juga berharap semoga kita tidak pernah bertemu lagi," ucapnya seraya melangkah pergi meninggalkan mantan suaminya.
Ucapan itu terasa begitu monohok bagi Farid, tetapi apa Farid peduli? Tentu saja tidak! Karena saat ini dia tengah menjalin hubungan dengan seorang wanita dari keluarga kaya, makanya dia menceraikan Naraya. Dan dia seakan merasa bangga telah menyingkirkan Naraya dalam hidupnya.
Naraya terus melangkah pergi. Ia tidak ingin membuang waktunya untuk berdebat dengan pria yang sudah tidak memiliki rasa kemanusiaan.
"Kenapa dulu aku bisa mengenal pria seperti dia dan jatuh cinta padanya?" batinnya kini penuh penyesalan.
Tiba-tiba, langkah Naraya terhenti. Seorang wanita paruh baya, yang tak lain adalah ibu Farid bersama seorang wanita seksi, menghampirinya dengan tatapan sinis.
"Jangan pernah berharap kamu bisa mendapatkan sepeser pun dari keluarga kami. Lagipula anak itu bukan cucuku, dan aku tidak akan pernah mengakuinya," kata ibu Farid dengan tatapan merendahkan.
Naraya menatap ibunya Farid dingin. "Saya tidak butuh uang kalian. Saya juga tidak ingin anak saya mengenal kalian suatu hari nanti. Kami tidak ingin ada urusan apa pun lagi dengan keluarga kalian."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Naraya kembali melangkah pergi, meninggalkan ibu Farid yang menatapnya dengan penuh kebencian. Ia merasa ini adalah keputusan yang tepat, karena hidupnya tidak akan pernah tenang, andai ia dan Farid tetap bersama. Keluarga Farid pasti terus mengusiknya dan ikut campur urusan rumah tangganya. Sudah benar Farid meninggalkannya, ia bisa menemukan ketenangan meski hidupnya terasa berat. Namun, ia bertekad untuk fokus pada masa depannya dan calon buah hatinya nanti.
.
.
.
Halo, pembaca yg baik hatinya.
Moms rilis karya baru nih. Tapi moms mengingatkan buat kalian yg hanya penasaran sebaiknya jangan buka, apalagi buka trus kasih like, tp habis itu hilang tanpa kabar.....
Please... tolong bantu moms agar karya baru moms bisa sampai episode panjang.
...----------------Sudah Rilis----------------...
Sinopsis
Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....