Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan DiHari Selasa
Hujan di hari Selasa sore turun tanpa peringatan, mengubah langit Jakarta yang tadinya abu-abu kusam menjadi gelap pekat hanya dalam hitungan menit. Di lantai tujuh belas gedung perkantoran tempat Raka bekerja, suara rintik air yang menghantam kaca jendela terdengar seperti dengungan statis yang tak kunjung berhenti.
Raka menatap layar monitornya. Kursor berkedip di akhir kalimat laporan bulanan yang seharusnya sudah ia selesaikan satu jam lalu. Namun, sejak pukul dua siang tadi, fokusnya berantakan.
Ada denyut nyeri yang tumpul di pelipis kirinya. Awalnya hanya samar, seperti gangguan kecil yang bisa diabaikan dengan segelas air putih, tetapi kini denyut itu telah berubah menjadi palu yang memukul ritmis setiap kali ia mengedipkan mata. Raka tahu penyebabnya. Ia memaksakan diri bekerja terlalu keras kemarin—sebagai kompensasi atas akhir pekan yang kacau secara emosional—dan tubuhnya kini menagih istirahat yang tidak ia berikan.
Ia memijat pangkal hidungnya, mencoba mengusir rasa pening. Pendingin ruangan sentral kantor terasa lebih menusuk dari biasanya. Raka merapatkan jaket hitamnya, tapi rasa dingin itu seolah merembes dari dalam tulang, bukan dari udara luar.
"Ka, lu nggak balik?"
Suara itu memecah konsentrasi Raka. Ia menoleh sedikit. Bayu berdiri di sekat kubikelnya, sudah menyandang tas ransel dengan helm ojek *online* dijinjing di tangan kanan.
"Bentar lagi," jawab Raka. Suaranya terdengar parau, kering. Ia berdeham pelan untuk menjernihkan tenggorokan. "Masih ada dikit yang harus dicek."
Bayu tidak langsung pergi. Ia menyipitkan mata, meneliti wajah rekannya itu dengan tatapan yang membuat Raka tidak nyaman. Bayu memiliki kepekaan sosial yang sering kali dianggap Raka sebagai gangguan, tapi di saat yang sama, itu adalah satu-satunya bentuk perhatian tulus yang ia terima di kantor ini.
"Muka lu pucet banget, Ka. Kayak tembok baru dicat dasar," komentar Bayu jujur. Ia meletakkan helmnya di meja Raka, lalu merogoh saku samping tas ranselnya. "Nih."
Sebotol kecil minyak angin aromaterapi meluncur di atas meja, berhenti tepat di samping *mouse* Raka.
Raka menatap botol kecil itu. "Gue nggak apa-apa, Bay. Cuma kurang tidur."
"Ambil aja. Gue masih punya stok satu lagi di tas," kata Bayu santai, tidak menerima penolakan. "Lagian di luar hujan deres banget. Macetnya bakal gila. Mending lu pake itu dulu, merem bentar sepuluh menit, baru pesen taksi. Jangan maksa nyetir atau naik kereta kalau mata lu udah kayak zombie gitu."
Raka ingin membantah, ingin mempertahankan citra 'karyawan teladan yang tak tersentuh penyakit', tapi denyutan di kepalanya semakin kencang. Akhirnya, ia hanya mengangguk pelan. "Makasih, Bay."
"Yoi. Gue duluan ya. Hati-hati lu." Bayu menepuk bahu Raka sekilas sebelum berjalan menuju lift, meninggalkan Raka kembali dalam keheningan kubikel yang mulai sepi karena sebagian besar karyawan sudah pulang.
Raka mengambil botol minyak angin itu. Tutupnya berwarna hijau tua. Ia membukanya perlahan.
Aroma *eucalyptus* dan *menthol* yang tajam langsung menyeruak, memenuhi rongga hidungnya.
Dan seketika itu juga, Raka tidak lagi berada di kubikel kantornya.
Ingatan itu datang tanpa permisi, menyeretnya mundur ke tiga tahun lalu. Di sebuah kamar kos sempit dengan ventilasi yang buruk. Saat itu Raka demam tinggi selama dua hari. Ia terbaring tak berdaya di kasur busa tipis, menggigil di balik selimut tebal.
Sosok itu ada di sana. Duduk di tepi kasur, memegang botol minyak angin yang aromanya persis sama dengan yang kini ada di tangan Raka.
*"Kamu tuh keras kepala banget sih,"* omel perempuan itu pelan. Tangannya yang mungil dan sejuk menuangkan sedikit minyak ke telapak tangan, lalu menggosoknya hingga hangat sebelum memijat pelipis Raka. *"Udah tahu mau hujan, malah nekat motoran nggak pake jas hujan."*
Raka ingat rasanya. Pijatan itu tidak terlalu ahli, kadang sedikit terlalu keras, kadang terlalu lembut, tapi sentuhan kulitnya memberikan rasa aman yang aneh. Raka ingat bagaimana ia memejamkan mata, menikmati aroma minyak angin yang bercampur dengan aroma sabun mandi perempuan itu—wangi vanila yang manis. Kontras, tapi menenangkan.
*"Kalau udah sembuh, janji nggak boleh sakit lagi ya,"* bisiknya waktu itu, menempelkan punggung tangan ke dahi Raka untuk mengecek suhu. *"Aku nggak suka liat kamu lemah gini. Kamu jelek kalau lagi sakit."*
Raka tersenyum pahit mengingat ledekan itu. Dulu, ia akan membalas dengan candaan atau menarik tangan perempuan itu untuk memeluknya.
Kini, di bawah lampu neon kantor yang berdengung, Raka membuka matanya. Tidak ada siapa-siapa. Hanya deretan kursi kosong dan layar komputer yang mulai meredup masuk ke mode *sleep*. Aroma minyak angin itu bukan lagi tanda perhatian, melainkan pengingat brutal bahwa sekarang, jika ia sakit, ia harus mengurus dirinya sendiri.
Tidak ada tangan sejuk yang mengecek dahinya. Tidak ada omelan khawatir. Hanya ada Raka dan kepalanya yang mau pecah.
Ia menuangkan sedikit cairan itu ke jarinya, mencoba meniru gerakan pijatan mantannya dulu. Rasanya berbeda. Tangannya sendiri terasa kasar dan asing. Efek hangatnya ada, tapi efek menenangkannya hilang. Itu hanyalah reaksi kimia *menthol* pada kulit, tanpa emosi, tanpa rasa sayang.
Raka menutup botol itu rapat-rapat, seolah ingin mengurung kenangan itu kembali ke dalamnya. Ia menyimpan botol pemberian Bayu ke dalam laci, memutuskan untuk tidak menggunakannya lagi. Aromanya terlalu berbahaya.
Ia mematikan komputer. Laporan itu bisa menunggu besok. Tubuhnya menuntut istirahat, dan jiwanya menolak untuk terus disiksa oleh bau *eucalyptus*.
Perjalanan pulang adalah siksaan tersendiri. Raka memilih menggunakan taksi *online* karena tak sanggup berdesakan di kereta dengan kondisi kepala seperti ini. Hujan membuat Jakarta lumpuh. Mobil merayap pelan di antara lautan lampu merah kendaraan lain. Wiper mobil bergerak monoton ke kiri dan ke kanan, menghapus air hujan hanya untuk membiarkannya buram lagi sedetik kemudian.
Di kursi belakang, Raka menyandarkan kepalanya ke jendela yang dingin. Sopir taksi memutar siaran radio yang membahas banjir di beberapa titik kota, diselingi lagu-lagu pop masa kini yang tidak Raka kenal.
Ia merasa sangat kecil dan sangat sepi.
Biasanya, di saat-saat sakit seperti ini, ponselnya akan menjadi penghubung. Dulu, ia akan mengirim pesan manja: *"Yang, kepalaku sakit."* Dan balasan akan datang cepat, penuh emoji khawatir atau saran obat. Sekarang, layar ponselnya gelap. Notifikasi yang masuk hanya dari grup WhatsApp kantor dan *spam* promosi pinjaman *online*.
Ia bisa saja menghubungi ibunya, tapi itu hanya akan memicu rentetan pertanyaan lain. *"Makanya, cari istri biar ada yang ngurusin,"* begitu kira-kira suara ibunya yang terbayang di kepalanya. Raka tidak sanggup mendengar itu sekarang.
Taksi akhirnya berhenti di depan lobi apartemennya satu jam kemudian. Raka menyeret langkahnya menuju lift. Lorong apartemen terasa sunyi dan steril. Tidak ada aroma masakan tetangga, tidak ada suara TV.
Sesampainya di unitnya, Raka melempar tas kerja ke sofa dan langsung menuju dapur. Ia butuh sesuatu yang hangat. Ia membuka lemari penyimpanan makanan. Kosong. Hanya ada beberapa bungkus mi instan dan satu *cup* bubur instan rasa ayam.
Raka mendengus pelan. Pilihan yang menyedihkan.
Sambil menunggu air mendidih, Raka duduk di kursi makan, menatap kosong ke arah ketel listrik. Ia ingat sup ayam yang pernah dibuatkan mantannya. Rasanya hambar karena perempuan itu lupa menaruh garam, tapi Raka menghabiskannya sampai tetes terakhir karena ia tahu usaha di baliknya. Perempuan itu bukan pemasak yang handal, tapi dia berusaha.
Bunyi *klik* dari ketel listrik menyentaknya kembali ke masa kini.
Raka menuangkan air panas ke dalam *cup* bubur instan. Uap mengepul, membawa aroma penyedap rasa buatan yang kuat. Ia mengaduknya perlahan dengan sendok logam. Bunyi denting sendok beradu dengan dinding *cup* terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu.
Ia menyuapkan bubur lembek itu ke mulutnya. Asin. Gurih. Panas. Tapi rasanya kosong. Makanan instan ini dirancang untuk mengenyangkan perut, bukan untuk menghibur hati.
Malam itu, Raka menelan obat pereda nyeri yang ia temukan di kotak P3K—obat generik yang ia beli sendiri enam bulan lalu. Ia mematikan lampu, menarik selimut sampai ke dagu, dan meringkuk dalam posisi janin.
Tubuhnya menggigil, bukan hanya karena demam yang mulai naik, tapi karena realitas yang menghantamnya lebih keras dari biasanya. Bahwa kemandirian yang ia banggakan selama ini, ketangguhan yang ia tunjukkan di kantor, runtuh begitu saja saat virus flu menyerang.
Ia merindukan tangan itu. Ia merindukan omelan itu.
Di tengah kesadarannya yang mulai kabur karena efek obat, Raka bergumam pelan, nyaris tak terdengar, menyebut sebuah nama yang sudah lama tidak ia ucapkan dengan suara keras. Suaranya hilang ditelan suara hujan yang masih menderu di luar jendela, menegaskan bahwa malam ini, ia harus sembuh sendirian.
Garis waktu terus berjalan, menyeretnya ke hari Rabu, tapi Raka merasa sebagian dirinya masih tertinggal di kamar kos sempit tiga tahun lalu, menunggu pijatan di pelipis yang tak akan pernah datang lagi.
***