NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab: 11

Langit malam di atas SMA Pertiwi tidak berbintang, tertutup lapisan awan mendung yang menggantung rendah seolah menekan atap sekolah. Pukul sembilan malam, gedung sekolah itu berubah wujud. Tidak ada lagi riuh rendah suara siswa, denting bel, atau aroma jajanan kantin. Yang tersisa hanyalah kerangka beton raksasa yang diselimuti bayangan, sunyi, dan mengintimidasi.

Di area belakang sekolah, dekat gudang peralatan olahraga yang jarang terkunci dengan benar, dua bayangan menyelinap masuk. Raka mendarat lebih dulu di atas rumput basah setelah melompati pagar tembok setinggi dua meter dengan ketangkasan seekor kucing liar. Dia berjongkok, menoleh ke atas pagar, dan mengulurkan tangan.

"Ayo, pegang tangan gue. Jangan lihat ke bawah," bisik Raka, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin malam.

Keyra, yang masih bertengger ragu di atas tembok, menelan ludah. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari tempo normal. Ini gila. Ini kriminal. Dan yang paling parah, ini ide Raka yang dia setujui. Dengan tangan gemetar, dia menyambut uluran tangan Raka. Cowok itu menariknya dengan sentakan kuat namun terkontrol, membiarkan Keyra mendarat di sebelahnya tanpa menimbulkan suara gaduh.

"Pendaratan 7 dari 10. Kakinya kurang nekuk," komentar Raka sambil menyeringai dalam kegelapan.

"Diem atau gue teriak maling biar kita berdua ditangkep," balas Keyra sengit sambil membersihkan debu di celana jins hitamnya.

"Galak banget. Bagus, simpen energi itu buat nanti kalau ketemu hantu toilet."

Mereka bergerak cepat menyusuri selasar yang gelap. Target mereka jelas: Ruang OSIS di lantai dua gedung utama. Berdasarkan pengamatan Raka selama seminggu terakhir—di sela-sela latihan basketnya—penjaga sekolah, Pak Asep, memiliki rute patroli yang sangat disiplin. Dia akan berada di pos depan selama lima belas menit untuk menyeduh kopi sebelum berkeliling ke sayap barat. Itu memberi mereka jendela waktu sekitar sepuluh menit untuk menyeberangi lapangan utama dan naik ke lantai dua.

Lantai keramik terasa dingin menembus sol sepatu kets mereka. Lampu koridor dimatikan untuk menghemat listrik, hanya menyisakan cahaya remang-remang dari lampu taman yang menembus ventilasi. Bayangan pilar-pilar sekolah memanjang, menciptakan ilusi optik seolah ada yang sedang mengawasi mereka dari sudut-sudut gelap.

"Lo yakin kuncinya ada di sana?" tanya Keyra dengan suara setengah berbisik saat mereka menaiki tangga.

"Julian itu perfeksionis, Key. Orang perfeksionis punya pola. Dia nggak pernah bawa kunci cadangan ruangan pulang karena takut hilang di jalan. Dia selalu naruh di pot bunga sintetis sebelah pintu. Gue pernah liat sekali pas gue dihukum bersihin koridor," jawab Raka penuh percaya diri.

Sesampainya di depan pintu ganda kayu jati berukir lambang sekolah itu, Raka langsung meraba pot tanaman lidah mertua palsu di sisi kanan pintu. Jarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan logam. "Bingo."

Bunyi *klik* saat kunci berputar terdengar sangat keras di telinga mereka. Raka mendorong pintu pelan-pelan. Aroma ruangan itu langsung menyergap hidung mereka. Wangi pengharum ruangan lavender yang mahal, kertas baru, dan dinginnya AC yang sepertinya lupa dimatikan—atau sengaja dinyalakan.

"Oke, kita nggak punya banyak waktu. Gue cek lemari arsip, lo cek meja Julian. Cari apa aja yang aneh. Laporan keuangan yang nggak masuk akal, surat teguran, atau... entahlah, rencana dominasi dunia," instruksi Raka sambil menyalakan senter kecil dari ponselnya, menutupi cahayanya dengan jari agar tidak terlalu terang.

Keyra mengangguk dan bergerak menuju meja kerja Julian yang besar dan rapi. Terlalu rapi. Tidak ada tumpukan kertas yang berserakan. Alat tulis tersusun berdasarkan tinggi dan warna. Laptopnya tidak ada, tentu saja. Keyra membuka laci pertama dengan hati-hati. Terkunci. Laci kedua, terbuka. Isinya hanya stapler, klip kertas, dan beberapa stempel OSIS.

Sementara itu, Raka berjongkok di depan lemari arsip di sudut ruangan. Dia membalik-balik folder dengan cepat. "Proposal Pensi... Laporan Kegiatan Bakti Sosial... Absensi Rapat... Sial, ini semua bersih banget. Nggak ada yang mencurigakan."

"Raka," panggil Keyra pelan. Dia menemukan sesuatu di laci terbawah yang sedikit macet. Sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam, terselip di bawah tumpukan amplop surat resmi. Bukan tempat yang wajar untuk menyimpan buku catatan pribadi.

Keyra membukanya. Tidak ada nama pemilik. Halaman-halamannya berisi deretan angka dan kode-kode aneh. *'Sektor 4 - Gagal. Relokasi dana ke pos B. Subjek: 112.'*

"Apaan tuh?" Raka mendekat, cahayanya menyorot halaman buku itu.

"Gue nggak ngerti. Ini kayak kode inventaris, tapi... Subjek? Sejak kapan sekolah nyebut barang sebagai subjek?" Keyra mengerutkan kening, jarinya menelusuri tulisan tangan yang tegak bersambung itu. Sangat rapi. Sangat Julian.

"Foto, cepetan," perintah Raka.

Baru saja Keyra mengeluarkan ponselnya untuk memotret, sebuah suara membuat darah mereka membeku. Bunyi langkah kaki berat. Bukan sepatu kets, tapi sepatu bot.

*Dug. Dug. Dug.*

Langkah itu mendekat dari arah tangga, diiringi siulan lagu dangdut yang sumbang.

"Pak Asep," desis Raka, matanya membelalak. Dia melirik jam tangannya. "Sial, dia kecepetan lima menit dari jadwal!"

Cahaya senter besar menyapu kaca jendela ruang OSIS dari luar koridor. Sinar putih menyilaukan itu bergerak liar, mencari-cari tanda kehidupan.

"Dia mau ngecek ruangan ini," bisik Keyra panik, memasukkan buku itu kembali ke laci dengan tangan gemetar. "Kita nggak bisa keluar lewat pintu!"

"Jendela juga nggak mungkin, kita di lantai dua dan di bawah beton semua," Raka memutar otak. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang minim tempat persembunyian. Meja Julian memiliki bagian depan yang tertutup, tapi jika Pak Asep masuk dan duduk, mereka tamat. Lemari arsip terlalu penuh.

Pandangan Raka jatuh pada lemari piala besar di sisi kiri ruangan. Lemari itu terbuat dari kayu jati kokoh dengan pintu kaca. Di bagian bawahnya, ada ruang penyimpanan piala-piala lama yang cukup besar karena beberapa raknya dicopot untuk perbaikan minggu lalu—Raka ingat melihat tukang kayu mengerjakannya.

"Sana!" Raka menarik lengan Keyra.

"Itu kaca, Raka! Kelihatan!"

"Bagian bawahnya kayu solid, Key! Masuk!"

Raka membuka pintu lemari itu. Keyra masuk lebih dulu, menekuk tubuhnya sekecil mungkin di antara piala-piala berdebu yang belum sempat dipajang ulang. Raka menyusul, memaksakan tubuh jangkungnya masuk ke ruang sempit itu. Dia menarik pintu lemari hingga tertutup rapat tepat sedetik sebelum gagang pintu ruang OSIS berbunyi.

*Cklek.*

Pintu ruangan terbuka. Cahaya senter Pak Asep yang terang benderang langsung membelah kegelapan ruangan. Raka dan Keyra berada dalam kegelapan total di dalam lemari bagian bawah, tapi celah kecil di antara pintu lemari membiarkan sedikit cahaya masuk.

Posisi mereka sangat intim, jauh melampaui batas kenyamanan teman biasa. Keyra duduk meringkuk dengan punggung menempel pada dinding lemari, sementara Raka berlutut di depannya, melengkungkan punggung untuk melindungi Keyra sekaligus menyembunyikan diri. Satu tangan Raka bertumpu di dinding di samping kepala Keyra, sementara tangan lainnya secara refleks menutup mulut gadis itu agar suara napasnya yang memburu tidak terdengar.

Wajah Raka hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Keyra. Dalam keremangan itu, Keyra bisa melihat butiran keringat di pelipis Raka dan rahangnya yang mengeras menahan tegang. Aroma tubuh Raka—campuran sabun, keringat setelah latihan, dan sedikit mint—mengisi ruang sempit itu, menggantikan bau debu dan logam piala tua.

Langkah Pak Asep terdengar berat memasuki ruangan. Sinar senternya menyapu meja Julian, lalu beralih ke papan tulis.

"Perasaan tadi ada suara," gumam Pak Asep. Suaranya terdengar bergema di ruangan sunyi itu. Langkah kakinya mendekat ke arah lemari piala.

Keyra memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdetak begitu kencang sampai dia takut Pak Asep bisa mendengarnya. Dia merasakan dada bidang Raka yang naik turun menahan napas, menempel pada lututnya yang ditekuk. Tangan Raka di mulutnya terasa hangat dan kasar, namun anehnya memberikan rasa aman.

Cahaya senter menembus kaca bagian atas lemari piala, tepat di atas kepala mereka. Jika Pak Asep menunduk sedikit saja dan menyorot ke bawah, tamatlah riwayat mereka. Skorsing. Panggilan orang tua. Dan yang terburuk: Julian akan tahu.

*Tuhan, tolong,* batin Keyra.

Pak Asep mengetuk kaca lemari piala dengan senternya. *Tuk. Tuk.*

"Hm. Tikus kali ya?" gumam penjaga itu lagi.

Raka mempererat pegangannya di dinding lemari. Otot lengannya menegang. Dia siap mendobrak keluar dan menciptakan keributan jika Pak Asep membuka pintu lemari, memberi kesempatan Keyra untuk lari.

Namun, keajaiban terjadi. Radio HT di pinggang Pak Asep berbunyi kresek-kresek. "Monitor, Pak Asep. Gerbang depan ada mobil masuk, kayaknya orang tua murid ketinggalan barang."

"Siap, meluncur," jawab Pak Asep.

Cahaya senter menjauh. Langkah kaki berat itu berbalik arah, menjauh dari lemari, lalu keluar dari ruangan. Pintu ruang OSIS ditutup kembali, meski tidak dikunci karena Pak Asep mungkin lupa atau berencana kembali lagi.

Suara langkah kaki Pak Asep perlahan menghilang di ujung koridor.

Selama satu menit penuh, tidak ada yang bergerak. Raka dan Keyra masih terkunci dalam posisi yang sama di dalam lemari piala yang gelap dan sempit.

Perlahan, Raka menurunkan tangannya dari mulut Keyra. Namun, dia tidak segera mundur. Ruangannya terlalu sempit untuk itu. Napas mereka beradu di udara yang tipis.

"Lo... oke?" bisik Raka. Suaranya serak dan rendah, getarannya terasa di kulit Keyra.

Keyra membuka matanya, menatap lurus ke dalam mata Raka yang kini beradaptasi dengan kegelapan. Ada intensitas di sana yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Adrenalin membuat pupil mata cowok itu membesar.

"Hampir mati jantungan," jawab Keyra, suaranya bergetar. "Tapi... gue sempet ngafalin kode di halaman pertama buku itu sebelum gue tutup."

Raka tertawa kecil, suara napas yang terhembus lega. "Lo gila. Kita hampir ketangkep, dan lo masih mikirin kodenya?"

"Itu gunanya gue di sini, kan?" Keyra mencoba tersenyum, meski sudut bibirnya masih kaku karena takut.

Raka terdiam sejenak. Dia tidak segera membuka pintu lemari. Tangannya bergerak, menyelipkan sejumput rambut Keyra yang berantakan ke belakang telinga gadis itu. Gerakan yang sangat lembut, kontras dengan situasi tegang barusan.

"Kerja bagus, Partner," bisik Raka. "Sekarang, ayo kita keluar dari sini sebelum gue kram otot karena nekuk kayak gini."

Raka mendorong pintu lemari hingga terbuka. Udara segar ruangan langsung menyerbu masuk. Mereka berdua merangkak keluar, terengah-engah, dengan keringat dingin membasahi punggung. Investigasi malam ini memang berbahaya, tapi sensasi tangan Raka yang melindungi Keyra di dalam lemari tadi meninggalkan jejak panas yang lebih membahayakan bagi hati Keyra daripada ancaman skorsing mana pun.

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!