"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Satu Bulan Menuju Akad
Langkah yang Tergesa
Kairo seolah berputar lebih cepat dari biasanya,
Membawa kabar yang melampaui samudera raya.
Restu telah turun dari lisan sang Kyai,
Membuka pintu bagi dua hati untuk menyatu abadi.
Namun waktu hanyalah sekejap mata yang dipinjam,
Tiga puluh hari untuk mengakhiri rindu yang terpendam.Satu bulan menuju janji yang paling suci,
Di tanah Jawa, sebuah akad telah menanti.
Dua minggu setelah pertemuan di perpustakaan itu berlalu seperti embusan angin gurun—singkat namun meninggalkan jejak yang kuat. Mas Azam tidak pernah menyangka bahwa keberaniannya menelepon Abah dari Khadijah akan membuahkan hasil secepat ini. Di apartemen kecilnya, Mas Azam duduk terpaku menatap ponselnya yang baru saja ia letakkan setelah percakapan panjang dengan Kyai sepuh di Jawa Tengah itu.
Bungah yang baru saja pulang dari kampus segera menghampiri kakaknya. Ia melihat wajah Mas Azam yang tampak campur aduk antara bahagia, tegang, dan bingung.
"Mas? Bagaimana? Abah-nya Mbak Khadijah bilang apa?" tanya Bungah antusias sambil meletakkan tas kitabnya.
Mas Azam mendongak, matanya berkaca-kaca. "Abah merestui, Dek. Beliau bilang sudah mencari tahu tentang keluarga kita dan beliau rida kalau Khadijah bersanding dengan Mas."
Bungah hampir saja bersorak, namun ia menahan diri saat melihat kerutan di dahi kakaknya. "Lalu kenapa wajah Mas seperti orang yang sedang menghadapi ujian munaqosah (skripsi) lagi?"
"Masalahnya satu, Dek," Azam menghela napas panjang. "Abah memberi syarat. Beliau tidak ingin ada pertunangan lama-lama. Beliau bilang, kalau memang niatnya ibadah, harus disegerakan. Mas diberi waktu paling lambat satu bulan dari sekarang untuk datang ke Jawa dan langsung akad nikah."
Bungah terbelalak. "Satu bulan? Tapi Mas, pengurusan berkas di KBRI, tiket pesawat, belum lagi urusan kampus Mas di sini... apa sempat?"
"Itulah yang sedang Mas pikirkan. Belasan tahun Mas di sini, tidak menyangka kepulangan Mas akan secepat ini dan untuk alasan yang begitu besar," jawab Azam. Ia kemudian menatap Bungah dengan tatapan sendu. "Lalu bagaimana denganmu, Adek? Mas tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di Kairo kalau Mas pulang untuk menikah dan menetap di Jawa."
Bungah terdiam. Selama ini Mas Azam adalah pelindungnya. Namun, ia teringat pada cincin "Al-Muntazir" di lacinya. Ia juga teringat pada Gus Zidan.
"Mas... Bungah sudah dewasa," ucap Bungah mantap.
"Satu bulan ini kita urus semuanya. Mas pulanglah, jemput kebahagiaan Mas. Bungah akan tetap di sini menyelesaikan kuliah. Mas Azam kan sudah titip Bungah ke teman-teman senior dan asatidz di sini. Bungah tidak akan apa-apa."
Hari-hari berikutnya menjadi hari paling sibuk dalam hidup Dr. Azam. Ia harus bolak-balik ke kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo untuk mengurus dokumen pernikahan internasional. Sementara itu, Khadijah juga mulai mengemasi barang-barangnya di asrama. Meskipun mereka akan menikah, mereka tetap menjaga jarak dan hanya berkomunikasi lewat Bungah atau pesan singkat seperlunya.
Bungah menjadi orang paling sibuk kedua. Ia membantu Mas Azam mengepak buku-buku yang akan dikirim lewat kargo ke Indonesia. Beribu-ribu kitab yang dikumpulkan Mas Azam selama sebelas tahun satu per satu masuk ke dalam kotak kayu.
"Buku ini saksi bisu Mas jomblo belasan tahun, Dek," canda Mas Azam saat memasukkan kitab Tafsir Al-Qurthubi.
"Sekarang buku-buku ini akan jadi saksi Mas jadi suami dokter," timpal Bungah sambil tertawa.
Di sela kesibukan itu, Bungah menyempatkan diri mengirim pesan ke Jawa Timur. Bukan ke Gus Zidan, melainkan ke Umi Aisyah. Ia mengabarkan bahwa Mas Azam akan segera pulang untuk meminang putri seorang Kyai besar.
Diam-diam, Bungah merasa dadanya sesak. Ia bahagia untuk kakaknya, namun membayangkan satu bulan lagi ia akan benar-benar sendiri di negeri asing ini tanpa Mas Azam, ada rasa takut yang mulai merayap. Tapi setiap kali rasa itu muncul, ia selalu menguatkan hatinya. Ini adalah ujian kemandirianku sebelum aku pantas bersanding dengan Kak Zidan, batinnya.
Satu bulan. Waktu yang sangat sempit untuk sebuah persiapan besar. Namun bagi Mas Azam dan Khadijah, setiap detik yang berlalu adalah langkah pasti menuju takdir yang sudah dituliskan di Lauhul Mahfudz. Kairo yang tadinya menjadi tempat belajar, kini mulai bersiap menjadi kenangan manis tempat cinta mereka pertama kali tertabrak oleh takdir.