Radit, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang rendah, mendadak mendapatkan sistem misterius yang mengubah nasibnya. Dari mahasiswa biasa, kini bangkit menjadi sosok bertopeng putih yang bengis. Seluruh kekuatan, duniah bawah, dan kejayaan diraihnya.
Di tengah puncak, ia kembali menemukan arti hidup melalui cintanya pada Rania. Namun, tragedi kampus merenggut segalanya. Amarah dan dendam bangkit kembali menghancurkan dunia.
Setelahnya pembalasan tersebut, Radit memulai hidup baru dan meninggalkan segalanya hanya demi satu hal. Dirinya yang kuat dan menemukan kembali cintanya yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Di tengah keramaian itu, Radit melangkah masuk seperti mahasiswa biasa. Tas selempang sederhana, pakaian rapi tanpa simbol apa pun, Aura nya nyaris tak ada.
Jika ada kultivator ber pengalaman berdiri di dekat nya. Mereka hanya akan bisa merasa kan seorang pemuda dengan fondasi energi tipis, bahkan lebih lemah dari mahasiswa tingkat awal.
Namun itu semua hanyalah topeng Lain.
[ KONTROL AURA AKTIF ]
Penekanan Ranah : 99%
Ranah Tampak : Prajurit Akhir
Radit berjalan menuju kelas bersama Rania.
" Entah kenapa." Ujar Rania sambil menatap nya. " Akhir - akhir ini kau tampak lebih tenang, tidak seperti biasa nya."
Radit melirik nya sebentar. " Apakah itu buruk ?"
Rania tersenyum. " Tidak , justru sebalik nya."
Mereka duduk berdampingan di ruang kuliah. Dosen mulai menjelas kan materi dengan suara yang monoton. Beberapa mahasiswa menguap dan ada beberapa yang lain nya mencatat.
Namun tiba - tiba.... Seseorang masuk ke kelas. Seorang pria muda dengan senyum tipis, mengenakan jaket fakultas lain. Aura nya samar namun bagi Radit ... Itu jelas.
Kultivator , batin nya !!
Pria itu menyapu pandangan ke seluruh kelas , lalu berhenti sejenak di hadapan Radit , sangat singkat namun cukup jelas.
\[ Peringatan Sistem \]
Deteksi observasi tingkat tinggi.
Asal : Tidak di ketahui.
Rekomendasi : Tetap menyamar.
Radit tidak bereaksi, ia tetap menunduk, menulis catatan, seolah tak menyadari apa pun . Aura Grandmaster nya tetap terkunci dengan rapat, bahkan sistem pun hanya mengalir kan energi secukup nya untuk menjaga penampilan.
Pria itu akhir nya duduk di barisan belakang.
Rania berbisik . " Kau kenal dia ?"
" Tidak ." Jawab Radit pelan . " Dan lebih baik memang begitu."
Jam kuliah berakhir . Di koridor kampus, beberapa mahasiswa dari keluarga kecil mencoba memamerkan kemampuan kultivasi mereka. Energi berkilat sesaat... Hanya sekedar untuk pamer.
Radit lewat di antara mereka. Tak satu pun menyadari bahwa mereka sedang berdiri di samping, seseorang yang bisa menghentikan napas mereka hanya dengan satu pikiran.
Di taman kampus, Radit dan Rania duduk di bangku kayu.
" Kau tidak pernah tertarik pamer ke kuatan ?" Tanya Rania tiba - tiba.
Radit menatap kolam kecil di depan mereka. Air nya tenang. " Air yang tenang lebih dalam." Jawab Nya .
Rania terdiam lalu emngangguk.
Di ke jauhan , pria dari kelas tadi berdiri di bawah pohon, menekan alat komunikasi kecil.
" Target belum bisa di pastikan ." Gumam nyaa. " Namun ada sesuatu yang ... Aneh di kampus ini ..."
Malam hari nya Radit kembali ke rumah nya. Ia melepas segel kampus yang menekan aura nya dan membiarkan sedikit energi Grandmaster mengalir. Udara di sekitar bergetar lembut.
" Aku harus lebih berhati - hati." Gumam nya.
Karena semakin tinggi Ranah nya, semakin banyak mata yang akan mencari nya. Dan selama ia masih kuliah.... Ia harus menjadi mahasiswa biasa, meski di balik ketenangan itu... Berdiri seorang Grandmaster awal yang siap mengguncang dunia kapan saja.
Kereta cepat melaju membelah daratan timur. Radit duduk di kursi dekat jendela, mengenakan kalian sederhana. Di mata nya terpantul siluet kota pelabuhan terbesar di wilayah timur... Tempat cabang PT . AR ADITYA PUTRA berdiri dan mulai menunjukan taring nya.
Wilayah Timur berbeda dari Barat. Di sini., ke kuatan dan perdagangan berjalan berdampingan. Banyak keluarga kelas dua menanam pengaruh, sementara keluarga kelas satu hanya sesekali turun tangan.
Radit menuruni peron. Tak ada sambutan mencolok, tak ada iring - iringan. Namun di kejauhan , beberapa sosok bersetelan hitam ber diri diam... Mata mereka selalu mengawasi sekeliling. Itu adalah orang - orang nya.
Radit berjalan menuju gedung utama Cabang bagian Timur. Bangunan itu menjulang , fasad nya sederhana namun kokoh. Tidak mencolok, tetapi siapa pun yang paham peta kekuatan akan tahu... Perusahaan ini bukan pemain kecil.
Di lantai paling atas, ruang rapat sudah menunggu.. begitu Radit masuk....
" Salam kepada Direktur Bayangan."
Semua orang berdiri serempak. Topeng putih terpasang di wajah Radit dalam sekejap. Sistem menyelaras kan penyamaran, menutupi jejak aura nya hingga tak tersisa.
\[ Mode Topeng putih Aktif.\]
Identitas Tertutup.
Ranah : Tidak terbaca.
" Duduk ." Perintah Radit singkat.
Laporan demi laporan di papar kan.
" Dalam tiga bulan terakhir." Ujar menejer Timur. " Kita berhasil mengambil alih dua jalur distribusi energi murni. Keluarga kelas dua, Keluarga Wirawan... Mulai menunjukan ketidak puasan."
" Ranah tertinggi mereka ?" Tanya Radit.
" Jenderal Akhir."
Radit mengangguk pelan .
" Biarkan mereka resah." Ujar nya tenang. " Selama belum melewati garis."
Semua yang hadir menelan ludah. Mereka tahu... Bahwa garis itu di lewati , keluarga Lee akan lenyap tanpa suara.
" Namun ." Lanjut Radit. " Ada pergerakan dari keluarga kelas satu di timur.". Ruangan langsung sunyi.
" Nama."
" Keluarga Megantara." Jawab salah satu eksekutif . " Ranah tertinggi.... Master akhir."
Radit mengetuk meja perlahan.
Master akhir. Dulu itu adalah tembok tinggi, sekarang.. hanya satu langkah.
" Percepat ekspansi ." Kata nya. " Tapi jangan konfrontasi langsung, aku ingin melihat.... Siapa yang ber gerak lebih dulu."
Rapat berakhir. Radit berdiri di balkon gedung memandang pelabuan Timur yang sibuk. Kapal - kapal besar datang dan pergi, membawa kekayaan dan konflik.
" Bagus ." Gumam nya.
Namun tiba - tiba udara di belakang nya bergetar halus. Sebuah aura asing menyentuh tepi penghalang gedung.
Kemudian Radit berbalik.
" Sejak kapan keluarga Megantara mengirim mata - mata begitu ceroboh ?" Ucap nya dingin.
Keheningan kembali terasa. Kemudian suara tua terdengar dari bayangan.
" Jadi benar.... Topeng putih berada di wilayah timur."
Radit akhir nya menoleh, sorot mata di balik topeng putih nya dingin dan dalam.
" Dan kau.." kata nya pelan. " Baru saja membuat kesalahan."
Angin malam menyapu balkon gedung timur PT. AR ADITYA PUTRA. Lampu pelabuhan berkilau di kejauhan , memantul kan cahaya di permukaan laut yang gelap. Di balik topeng putih, Radit berdiri tenang terlalu tenang untuk situasi yang seharus nya tegang.
Sosok tua melangkah keluar dari bayangan. Jubah Abu - abu , wajah Ter tutup setengah , aura di samar kan rapi. Bagi kultivator biasa, ia akan tampak seperti utusan tingkat menengah. Namun bagi Radit.... Dia adalah mata - mata berpengalaman.
" Perkenalkan kan " suara itu parau. " Saya utusan dari keluarga Megantara ."
Nama itu menggema pelan di benak Radit. Keluarga kelas satu di wilayah Timur. Penguasa jaringan intelijen dan perdagangan gelap.
Ranah tertinggi : Master Akhir.
" Kelihatan terlalu jauh " ujar Radit datar. " Ini wilayah perusahaan."
Utusan itu tersenyum tipis.
" Wilayah Timur tidak mengenal batas yang tidak bisa di negosiasi kan."
Radit memiringkan kepala sedikit.
" Kesalahan pertama." Kata nya pelan. " Mengira aku datang untuk bernegosiasi."
Tanpa aba - aba, utusan itu mundur setengah langkah, tangan nya bergerak cepat membentuk segel. Namun.... Udara di sekitar nya membeli.
Bukan karena tekanan ranah yang meledak, bukan karena aura yang menindas , Melain kan karena kontrol absolut.
Radit melangkah satu kali. Hanya satu kali, jarak puluhan meter terlipat seperti kertas .
" Kesalahan ke dua." Suara Radit terdengar tepat di belakang telinga utusan itu. " Mengaktif kan teknik di hadapan ku ."
Telapak tangan Radit menyentuh punggung nya. Tak ada cahaya, tak ada suara, hanya denyut singkat dan jiwa utusan itu runtuh.
Mata mata keluarga Megantara membeku di tempat, lalu perlahan retak seperti patung tanah liat. Tubuh nya runtuh menjadi debu halus yang tersapu oleh angin laut.
Tak ada darah yang jatuh, tak ada jejak yang tertinggal . Radit berdiri kembali di posisi semula. Seolah tak pernah bergerak.
Bersambung......
lanjut kk, tetap semangat ya. saran aja sih, kalau ada waktu, sebelum lempar up, sebaiknya swasunting dulu, biar nggak terlalu banyak typo. 😊🙏🙏
ada beberapa typo ya thor, kalau sempet, ayo kita revisi. 💪
ceritanya bagus Thor, langsung subscribe, satu vote, dan dua iklan, untukmu. 😊.
ayo kita saling mendukung ya😊