NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Langkah yang Tidak Bisa Ditarik Kembali

Kiara menatap Laras yang masih berdiri di tengah kamarnya.

Aroma melati kini tidak lagi menusuk, melainkan lembut, seperti wangi yang tertinggal setelah seseorang pergi terlalu lama. Namun kehadiran Laras masih terasa nyata. Terlalu nyata untuk diabaikan.

“Kalau aku setuju membantu,” kata Kiara akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang ia kira, “apa yang harus aku lakukan?”

Sky menoleh cepat ke arahnya. “Kiara-”

“Aku tanya,” ulang Kiara, kali ini menatap Laras tanpa ragu. “Apa yang harus aku lakukan untuk menolong Bima?”

Laras mengangkat wajahnya. Tatapannya serius, nyaris berat.

“Kamu harus ikut orang tua Bima besok,” ujarnya. “Mereka akan membawanya ke seorang dukun.”

Sky langsung menyeringai. “Tunggu. Dukun?”

“Iya,” jawab Laras tenang. “Seorang dukun tua yang dikenal di wilayah selatan kota ini.”

“Dan kamu yakin dia bisa ngapa-ngapain?” Sky menyela sinis. “Kalau dukun itu cukup kuat, Bara nggak akan berani main sejauh ini.”

Laras mengangguk kecil. “Kamu benar.”

Kiara terdiam. “Jadi… dukun itu nggak cukup kuat?”

“Tidak untuk melawan Bara secara langsung,” jawab Laras jujur. “Kekuatannya terbatas.”

“Terus buat apa kami ke sana?” Sky mendesis.

“Karena dia bisa melihat,” ujar Laras. “Dan karena… jika Kiara ikut, kemungkinan Bima selamat akan jauh lebih besar.”

Jantung Kiara berdegup lebih cepat. “Aku?”

“Kamu hanya perlu bertemu langsung dengannya,” lanjut Laras. “Dukun itu akan melihat sendiri potensi yang kamu miliki.”

“Potensi?” Kiara tertawa kecil, gugup. “Aku bahkan nggak tahu apa yang sebenarnya salah sama diriku.”

“Justru itu,” kata Laras lembut. “Manusia yang tidak menyadari potensinya sering kali memiliki kekuatan terbesar.”

Sky menghela napas kasar. “Dan setelah itu?”

Laras menatap Kiara dalam-dalam. “Jika dukun itu menyuruhmu melakukan sesuatu, apa pun itu, kamu harus melakukannya.”

Kiara membeku. “Apa pun?”

“Ya,” jawab Laras tanpa ragu. “Meski terdengar tidak masuk akal. Meski bertentangan dengan logikamu. Meski membuatmu takut.”

Keheningan turun di kamar itu.

Kiara meremas ujung lengan bajunya. “Dan kalau aku menolak?”

Laras tidak langsung menjawab. Saat ia membuka mulut, suaranya terdengar lebih lirih dari sebelumnya.

“Kalau kamu menolak… Bima tidak akan bertahan lama.”

Sky memalingkan wajah. Rahangnya mengeras.

Kiara menelan ludah. “Kenapa harus aku?”

Tatapannya beralih ke Laras, mencari jawaban, apa pun, yang bisa ia pegang.

Namun Laras hanya tersenyum kecil. Senyum yang menyimpan terlalu banyak hal yang tidak diucapkan.

“Kamu akan mengerti nanti,” katanya.

“Apa maksud-” Kiara hendak bertanya lagi.

Namun udara di kamar tiba-tiba bergerak.

Aroma melati itu berputar pelan, lalu memudar. Sosok Laras perlahan memudar bersama wangi itu, seolah ditarik kembali oleh sesuatu yang tak terlihat.

“Laras!!” panggil Kiara refleks.

Terlambat.

Kamar itu kembali kosong.

Hanya ada Kiara.

Dan Sky.

Sky berdiri lama tanpa bicara.

“Aku nggak suka ini,” katanya akhirnya. “Sama sekali.”

Kiara mengangguk pelan. “Aku juga.”

“Ini bukan permintaan,” lanjut Sky. “Ini jebakan.”

“Mungkin,” jawab Kiara lirih. “Tapi Bima juga perlu bantuan.”

Sky menoleh tajam. “Kamu nggak harus ngelakuin ini sendirian.”

Kiara menatapnya. “Aku tahu.”

Namun jauh di dalam hatinya, ia juga tahu satu hal lain-

Langkah ini sudah ia ambil.

Dan ia tidak bisa mundur.

 

Pagi datang terlalu cepat.

Kiara terbangun dengan tubuh terasa berat, karena hampir semalaman ia tidak benar-benar bisa tidur. Jam di dinding menunjukkan pukul enam lewat sedikit.

Ia duduk di tepi ranjang, menarik napas dalam-dalam.

“Capek?” tanya Sky, yang melayang di dekat jendela.

“Kayak abis lari maraton di mimpi,” jawab Kiara pelan.

Ia bangkit, berjalan ke pintu kamar, lalu berhenti sejenak. Tangannya menggenggam kenop pintu yang terkunci sejak semalam.

Klik.

Pintu terbuka.

Begitu langkah Kiara terdengar menuruni tangga, suara itu langsung memancing reaksi.

“Kiara?”

Bu Rina muncul dari dapur, celemek masih terpasang. Wajahnya langsung berubah lega begitu melihat putri sulungnya berdiri di sana.

Pak Rahmat menyusul dari ruang tamu.

“Kamu sudah mendingan?” tanya ayahnya.

Tidak ada pertanyaan tentang semalam.

Tidak ada desakan.

Tidak ada interogasi.

Hanya kekhawatiran yang jujur.

Kiara mengangguk. “Lumayan.”

Bu Rina mendekat, meraih bahunya pelan. “Kamu butuh apa-apa? Sarapan? Teh hangat?”

Kiara menggeleng. “Nanti aja, Bu.”

Ia ragu sejenak, lalu berkata, “Aku… mau ke rumah Bima.”

Ekspresi Bu Rina berubah. Bukan marah. Bukan melarang. Hanya khawatir.

“Kondisinya masih sama?” tanya Pak Rahmat.

“Iya,” jawab Kiara jujur.

Pak Rahmat terdiam sebentar. Lalu mengangguk. “Hati-hati.”

Itu saja.

Kepercayaan itu terasa berat, tapi juga menguatkan.

“Aku anterin!” suara Aditya terdengar dari arah pintu depan.

Kiara menoleh. “Kak?”

Aditya sudah berdiri dengan jaket dan kunci motor di tangan. “Kebetulan aku libur. Daripada kamu naik sendiri.”

Bu Rina mengangguk setuju. “Iya. Lebih aman.”

Kiara tersenyum kecil. “Makasih, Kak.”

Sky memperhatikan semua itu dengan ekspresi sulit dibaca.

“Keluarga kamu… nggak banyak nanya,” katanya pelan.

“Mereka percaya,” jawab Kiara.

Dan itu yang paling menakutkan.

Di atas motor Aditya, angin pagi menerpa wajah Kiara.

Rumah-rumah berlalu. Jalanan mulai ramai.

Namun pikiran Kiara tertinggal di kamar semalam.

Pada aroma melati.

Pada kata apa pun itu.

Pada kemungkinan bahwa setelah hari ini, hidupnya tidak akan pernah kembali normal.

“Ki,” panggil Aditya dari depan. “Kalau capek, bilang.”

“Iya, Kak.”

Sky melayang di sisi mereka, mengikuti dengan wajah serius.

“Kalau dukun itu aneh-aneh,” gumam Sky, “aku nggak bakal diem.”

Kiara menghela napas. “Aku harap dia cuma… lihat aku.”

Namun di hatinya, Kiara tahu.

Tidak ada lagi yang sederhana sejak ia bisa melihat dunia ini.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!