Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 2 bagian 6
Perkemahan dimulai pukul 09.00 dengan sangat ricuh. Guru dan siswa lain yang tidak berkepentingan diperbolehkan untuk pulang karena listrik belum juga menyala, hawa yang panas dan suasana yang kacau tentu tidak efektif untuk melakukan pembelajaran. Andre, Ida, dan Hani sedang melakukan briefing di aula. Ilyas dan beberapa anggota PMR lain tengah menyiapkan beberapa peralatan, sementara Jonatan belum datang. Pensi akan dilakukan malam hari, mungkin ia akan datang di jam itu.
Daniel tengah duduk di bangku taman mengamati anak-anak kelas 10 yang dengan semangat membangun tenda. Sebenarnya dia sangat tertarik untuk pulang, namun apa daya ia susah setuju dengan tawaran Ilyas. Kenapa agenda kemah ini tidak terlintas di benaknya, seharusnya ia tahu ikut PMR artinya menjadi relawan kesehatan yang siap di tempatkan dimana saja. Salah satunya adalah perkemahan ini, ikut perkemahan artinya akan menginap di sekolah. Ia berharap tidak ada sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi di tempat ini.
“Dan, temani aku ke kantor kepala sekolah ya, pencairan dana” ucap Nando.
Daniel dengan malas mengikuti Ilyas yang telah berjalan duluan.
“Kenapa tidak dicairkan sebelumnya?” tanya Daniel.
“Sebenarnya perkemahan ini di luar prediksi kami. Sudah mulai musim penghujan dan hanya kurang 3 bulan sebelum akhir semester” jawab Ilyas.
“Sekolah yang aneh” ucap Daniel.
Ilyas tidak menjawab karena begitu mereka sampai di Lobi dan kepala sekolah sudah di luar ruangan. Dia duduk di meja kerja daruratnya dan mengerjakan beberapa dokumen. Pintu kantornya terbuka mengeluarkan aroma sedap malam yang berbaur dengan bau busuk seperti bangkai. 2 orang petugas kebersihan tampak mengeluarkan satu per satu sofa di ruangan itu, dan menelisik sudut demi sudut.
“Kenapa pak?” tanya Ilyas penasaran.
“Ada bangkai tikus. Tidak tahu sejak kapan, baru tercium hari ini karena listriknya padam” jawab kepala sekolah.
Ilyas belum sempat menjawab, seorang petugas kebersihan sudah berteriak.
“Ketemu pak, besar sekali seperti tikus got, ini masuknya kapan ya?”
“Mungkin pas saya lupa tutup pintu pak, makanya saya jarang buka pintu kantor. Tolong dikembalikan lagi ya pak sofanya” jawab kepala sekolah.
Ilyas dan Daniel memperhatikan 2 ekor tikus besar yang mengeluarkan bau tak sedap dan beberapa belatung. Bagaimana mungkin tikus sebesar itu masuk dan tidak ada yang tahu? Itu bahkan bukan tikus rumahan.
“Ini pak, dokumen yang diminta dari petugas UKS” sela Ilyas begitu kepala sekolah duduk. Dia berusaha mengabaikan bangkai tikus itu.
“Oh, pencairan dana obat-obatan ya?” tanya Kepala Sekolah.
“Iya pak.”
Tanpa membaca dengan teliti Kepala Sekolah langsung membubuhkan tanda tangannya dan memberi stampel basah. Seharusnya meminta tanda tangan kepala sekolah bukan lah hal yang mudah, bagaimana mungkin seorang kepala sekolah dengan mudah memberi tanda tangan tanpa memeriksa kelengkapan dokumennya, bagaimana jika ada oknum yang ingin berbuat curang? Itu akan dengan mudah terlaksana.
Namun perhatian Daniel bukan hanya terfokus pada hal itu, tapi juga pada tangannya yang terlihat bergetar saat memegang pulpen, tampak seperti orang yang sedang ketakutan dan menyembunyikan sesuatu. Ia duduk tepat di depan pintu ruangan dengan setumpuk dokumen yang harus ia periksa, namun pandangannya selalu mengawasi petugas yang keluar masuk ruangan.
Ilyas dan Daniel berjalan menuju lahan parkir depan setelah mengambil uang dari Tata Usaha. Lahan parkir yang digunakan adalah tempat yang berdekatan dengan toilet, di sana ia melihat seorang tukang sapu yang pagi ini sempat berbicara dengan sopir Hani. Terlihat sangat sehat dan muda, tidak seperti kebanyakan tukang sapu sekolah.
“Itu tukang sapu baru ya? Aku baru lihat hari ini” ucap Daniel.
Ilyas segera mendongakkan kepalanya melihat sekeliling, selama ini ia tidak peduli pada setiap staf yang bertugas. Bukan hanya karena kelas mereka jauh, tapi karena dia selalu masuk siang. Bell selalu sudah berbunyi begitu ia sampai di kelas, dan halaman tentu sudah bersih dan rapi di jam itu. Ia tidak pernah bertemu satu pun staff kebersihan. Yang selalu ia temui hanya lah satpam halaman depan, dia adalah penyelamat saat ia telat masuk sekolah.
“Itu seperti kakak laki-lakinya Yuan” jawab Ilyas ragu. Ia memperhatikan dengan seksama dan dengan ragu mengambil ponselnya. Ia mencari sesuatu dan menunjukkannya pada Daniel.
“Coba lihat deh, ini orang yang sama kan?” tanya Ilyas.
Daniel mengamati foto di hp Ilyas. Foto itu diambil di atas makam yang masih baru, mungkin itu makam Yuan. Teman-temannya sekelasnya bersama wali kelas dan 3 orang yang terlibat seperti kerabat orang yang dimakamkan. Memang benar apa yang dikatakan Ilyas, satu dari ke-3 orang dewasa itu tampak seperti tukang sapu di sekolah.
“Tapi kenapa Hani tidak tahu?” tanya Daniel.
“Pada saat pemakaman Hani memang tidak ikut, dia sedang sakit jadi hanya absen muka lalu pulang. Meski ikut pun dia belum tentu ingat. Dia buruk dalam mengingat wajah orang baru. Tapi satu hal yang menjadi pertanyaanku adalah, mengapa ia memilih untuk menjadi tukang sapu sekolah? Padahal dia lulusan terbaik di angkatannya, jika dia tidak ingin kuliah pasti dapat pekerjaan yang lebih layak lah” jawab Ilyas.
“Dia lulusan apa?”
“Teknik Komputer Jaringan, ah sudahlah itu tidak penting”
Sepanjang perjalan menyiapakan obat Daniel benar-benar tidak fokus dengan apa yang tengah ia lakukan. Pemikirannya bercabang menentukan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Pagi ini petugas kebersihan itu datang dengan sangat pagi, bahkan sudah membersihkan halaman sekitar toilet sebelum satu staff pun datang. Lalu fakta bahwa dia adalah saudara dari arwah yang muncul di kelas mereka, rasanya itu terlalu kebetulan untuk dijadikan kebetulan.
Lulusan terbaik Komputer Jaringan tentu dapat memahami pemrograman dengan begitu mudah. Perangkat yang dipasang di toilet halaman depan tampaknya memang bukan jaringan yang rumit, tapi perlu ketelitian untuk memasangnya. Apalagi di tempat yang cenderung lembab, jika kabel yang digunakan tidak berkualitas baik maka kemungkinan besar konsleting tidak bisa dihindarkan.
Dalam lamunannya Ilyas tiba-tiba menyenggolnya,
“Dan itu mantan pertamanya Yuan, sepupunya Jonatan namanya Bagas.”
Daniel mengamatinya dengan seksama. Seorang laki-laki berkulit kuning langsat seperti Jonatan, tingginya hampir 180cm berkacak mata tebal dengan bingkai hitam polos. Jika dilihat sekilas ia hanya seperti siswa culun yang tampak mudah dibully, namun dari perawakan dan tatapan matanya Daniel tahu dia lah pembully yang asli. Apalagi begitu mendengar suaranya yang keras, dia pasti anak yang urakan di masa lalu.
“Andre bilang dia orangnya baik, tapi kalau ada orang yang tidak dia suka ya sama saja. Tukang bully, Jangan dipelototi nanti dia datang dan memukulmu tanpa alasan” ucap Ilyas memecah keheningan.
“Tidak ada yang mencurigakan dari dia” jawab Daniel.
“Ya kalau dia saja tidak mencurigakan lebih tidak mencurigakan lagi anak kelas sebelah. Ia sudah punya kekasih ketika Yuan meninggal, dan pada saat itu dia juga sangat sibuk dengan acara Club Bahasa Inggrisnya, mereka tidak lagi pernah bertemu” ucap Ilyas.
Daniel menganggukkan kepalanya dengan malas, tanda bahwa ia sudah tidak peduli.
Mereka akhirnya kembali ke sekolah dengan sekantong obat-obatan dan P3K. Sekali lagi mereka masuk melalui lobi utama dan melewati ruang kepala sekolah, bau kopi tercium sangat kuat begitu mereka memasuki area lobi. Apakah akhirnya kepala sekolah menggunakan pengharum ruangan? Listrik sudah menyala dan ruangan itu sudah kembali di tutup seperti biasa. 2 orang staff kebersihan terlihat menyapu kotoran yang tertinggal.
“Ini kopi tumpah atau bagaimana Bu?” tanya Ilyas begitu melihat begitu banyak bubuk kopi di lantai.
“Bukan, tadi kan ada bangkai tikus, kopinya digunakan untuk menghilangkan bau bangkainya. Ini lebih manjur daripada pengharum ruangan biasa” jawab petugas kebersihan itu.
Mereka tersenyum dan masuk ke halaman tengah, namun sebelum mereka keluar dari lorong mereka mendengar suara kepala sekolah yang berteriak,
“tidak ada orang yang masuk ke ruanganku kan?”
“Tidak pak” jawab staff kebersihan.
“Bagus, kalian tahu berapa banyak dokumen berharga dan hal rahasia yang ada dalam ruangan itu” ucap kepala sekolah sebelum terdengar pintu ditutup keras.
Dahi Daniel mengerut mendengar percakapan itu. Apa yang begitu berharga hingga kepala sekolah begitu takut kantornya dimasuki orang lain?
“Dan, mantan kedua Yuan yang sedang mengobrol dengan Andre. Namanya Dimas dari kelas MIPA 4. Aku dengar saat ini dia tidak punya kekasih, kabarnya dia tetangga pacar Yuan yang terakhir” ucap Ilyas begitu mereka memasuki area perkemahan.
Daniel mengalihkan pandanganya pada Andre yang sedang membicarakan sesuatu dengan anak yang tidak begitu ia kenal. Anak itu jelas lebih tinggi dari Andre, berkulit sawo matang dan lebih kurus dari Andre. Tidak terlihat seperti anak nakal yang suka melanggar peraturan, namun ia menggunakan sepatu yang tidak standar meski masih dengan warna yang sama.
“Sepertinya si Yuan ini terobsesi dengan kekasih yang tinggi yang tampak alim tapi sebenarnya kepala geng anak nakal” ucap Daniel begitu masuk ke tenda medis. Tidak ada orang di sana, sekumpulan alat kesehatan ditinggalkan begitu saja.
“Aku berpikir demikian, dan yang pasti dia memilih orang yang lebih kaya dari keluarganya. Katanya sih untuk memperbaiki nasib, makanya si Dimas ini diputus mau ganti yang lebih kaya” jawab Ilyas.
“Memperbaiki nasib dengan pacaran dengan yang lebih kaya, apa hubungannya? Lalu bukan kah si Dimas ini kaya juga, aku sering melihat dia dan gengnya nongkrong di kafe Magnolia saat hari libur” ucap Daniel sambil mengingat. Kafe itu terletak tidak jauh dari toko ATK ayahnya dan dia pasti tidak salah lihat.
“Memangnya yang suka nongkrong di kafe mahal itu cuman orang kaya? Terkadang orang bergengsi tinggi lebih sering kesana dari yang kita bayangkan, kalo tidak percaya tanyakan saja Andre, iya kan dre?”
Andre yang baru saja datang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
“Kenapa?” tanya Andre. Dia masuk ke tenda dan merebahkan dirinya ke matras. Ia baru saja meminta izin
“Kata Daniel, Dimas anak orang kaya” jawab Ilyas.
“Ya tidak tahu kalau orang tuanya kaya, yang pasti saat ini dia hanya tinggal dengan neneknya yang sederhana” ia memejamkan matanya “kalau ada yang cari bilang aku pusing” sambungnya.
“Lalu si Arvian ini kaya?” tanya Daniel lagi.
“Gosipnya sih iya” jawab Ilyas ragu.
“Apa sih kaya, ibunya loh jadi ARTnya nenekku, kalau mau masuk ke rumah dia biar lebih cepat memang harus masuk rumah nenekku dulu. Mungkin pas itu si Yuan tertipu disitu, kalau dia mau milih yang kaya ya sudah itu Bagas kaya, kenapa harus milih yang lain kena musibah kan” ucap Andre masih memejamkan mata.
Daniel bertukar pandang dengan Ilyas, fakta mengerikan macam apa ini? Terlalu banyak orang yang menyamar menjadi orang kaya untuk mendapatkan jodoh yang lebih kaya, tidak sadar mungkin yang sedang ia incar itu melakukan hal yang sama. Mungkin lebih baik mencari yang setara daripada berakhir kecewa.
“Kalo keluarga Bagas kaya, kenapa orang tua Jonatan bisa kerja di tempat ayahnya Daniel?” tanya Ilyas.
“Ya karena beda anak beda rejeki, meski sama-sama pekerja keras ayahnya Bagas lebih berani dalam mengambil resiko, sedangkan ayahnya Jonatan lebih suka berada di titik nyaman. Yang penting mereka sama-sama menghasilkan uang yang cukup dan tidak menganggur” jawab Andre malas.
Setelah kalimat terakhir Andre, suara kegaduhan terdengar dari arah aula yang saat ini tengah digunakan untuk upacara pembukaan perkemahan. Tapi mereka bertiga masih utuh di posisi mereka, seolah tidak peduli apa yang terjadi. Andre sudah izin untuk istirahat di tenda medis, sedangkan Ilyas dan Daniel sudah selesai melakukan tugas. Tidak sampai dua petugas berslayer kuning masuk ke tenda.
“Ada yang kesurupan di aula” teriak mereka sambil menyeret sebuah tandu.
“Tidak ada pelatihan untuk menangani kesurupan” ujar Ilyas santai.
Itu memang benar. Tidak ada satu pun relawan kesehatan yang diajari cara menjinakkan orang yang sedang kesurupan. Padahal itu sangat membantu apabila kasus seperti ini terjadi. Apakah memberi mereka teh hangat itu membantu?
“Ya jangan santai-santai saja, minimal kelihatan panik”
“Sekarang aku tanya, mereka teriak-teriak sambil berguling-guling tidak?” tanya Ilyas yang hanya dibalas anggukan oleh teman-temannya.
“Lalu kalian mau angkat dan naikan ke tandu? Kalau mereka terguling di tandu lalu patah tulang bagaimana? Sudah lah biarkan mereka di aula, bebas benturan dan minim resiko jatuh” ucap Ilyas. Meski berkata begitu ia dengan segera menyeret Daniel dan Andre menuju aula, membuntuti teman-temannya yang sudah lari duluan.
Di dalam aula kericuhan sudah terjadi, tempat itu lebih seperti area perang daripada aula upacara pembukaan Pramuka. Tiang bendera tersebar di sepanjang lantai, tombak-tombak buatan yang berserakan juga bunga hias yang potnya sudah hancur. Sebagain anak telah merapat ke pinggiran lapangan membiarkan ruang kosong di tengah-tengah mereka. 3 orang siswi dibaringkan di ruang kosong itu, seorang guru berpeci putih tengah mencoba menyadarkan seorang siswi dan 2 lainnya tengah dipeluk erat oleh 2 orang guru. Tidak ada yang tahu apakah hal ini berguna atau tidak, yang terpenting mereka berusaha.
“Woy Daniel, kau melihatnya? Ini jenis drama baru atau realita kehidupan?” tanya Ida yang tidak tahu muncul dari mana.
Daniel tidak menjawab, ia menyisikan poni di dahinya dan mencoba melihat dengan jelas apa yang terjadi. Dari ketiga siswa yang kesurupan hanya satu yang benar-benar diganggu oleh arwah seorang wanita berkebaya merah, dan yang lainnya hanya mencari perhatian. Daniel ingat arwah itu seharusnya ada di ruang kepala sekolah, bagaimana bisa di sini?
Daniel beradu pandang dengan arwah itu yang menujuk ke arah kepala sekolah. Dia mengerutkan dahi bingung, sebelum mengangguk paham.
“Itu yang dua pukul saja, nanti juga sembuh sendiri” ucap Daniel setelah lama hening. Dia memperhatikan sekeliling dan menemukan arwah Yuan berada di dekat seorang siswi, dia tidak melakukan apa pun, hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Penuh harap, sedih, atau kecewa mungkin.