"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Januari 2023
Suara musik gamelan dan riuh rendah tamu undangan masih terdengar lamat-lamat di lantai bawah hotel berbintang ini. Disa, dengan kebaya pengantin putih yang masih melekat cantik di tubuhnya, menghela napas lega. Akhirnya, prosesi panjang itu selesai. Senyumnya tak luntur sejak tadi pagi, membayangkan masa depannya bersama Abdi pria santun yang selalu mendahulukan ibunya. Bagi Disa, pria yang sayang ibunya adalah jaminan pria yang akan menyayangi istrinya juga.
Disa melangkah pelan menuju kamar suite tempat keluarga besar Abdi beristirahat sejenak sebelum pulang. Ia ingin mengajak Abdi kembali ke kamar pengantin mereka. Namun, langkah Disa terhenti di depan pintu kayu jati yang sedikit terbuka.
"Ini uangnya semu Bu. Mas sudah hitung tadi sama adik-adik," suara bariton Abdi terdengar pelan namun tegas.
Disa mengintip dari celah pintu. Di dalam sana Abdi sedang duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Ibunya yang tidak lain adalah ibu mertuanya, Bu Ratna. Di tangan Abdi ada tas plastik besar berisi tumpukan amplop merah dan putih kado pernikahan yang baru saja mereka terima dari ratusan tamu.
"Alhamdulillah... untung kamu sadar, Abdi. Utang Ibu buat biaya kuliah adikmu si Rian itu sudah ditagih-tagih terus. Belum lagi renovasi dapur rumah kita yang mandek," ujar Bu Ratna sambil tangannya dengan sigap meraup amplop-amplop itu ke dalam tasnya sendiri.
Jantung Disa mencelos dan dia ingat betul, tadi malam mereka sudah sepakat bahwa uang kado itu akan dijadikan DP rumah agar mereka tidak perlu mengontrak setelah menikah.
"Tapi, Bu... Disa belum tahu soal ini. Dia pikir uang ini buat DP rumah kami," suara Abdi sedikit ragu.
Bu Ratna mendengus. "Disa itu sudah jadi istrimu. Dia harus tahu kalau baktimu pada Ibu itu nomor satu. Surga kamu ada di sini, Abdi," jawabnya sambil menunjuk kakinya. "Kalau kamu nurut Ibu, rezekimu bakal lancar jangan jadi anak durhaka hanya karena takut sama istri."
Abdi terdiam lalu mengangguk pelan. "Iya, Bu Mas mengerti, ini bakti terakhir Mas sebagai anak lajang. Rezeki kita nanti diganti Tuhan, Mas yakin Disa bakal paham.".
Di balik pintu, Disa meremas ujung kebayanya hingga jemarinya memutih. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh satu tetes, merusak riasan pengantinnya yang mahal. Kalimat "rezeki diganti Tuhan" yang keluar dari mulut Abdi mendadak terasa seperti kutukan bukan doa.
Tiga Tahun Kemudian: Januari 2026.
"Mas, Fikri demamnya sudah 39 derajat. Dia harus dibawa ke rumah sakit sekarang!" suara Disa bergetar hebat sambil menggendong putranya yang lemas.
Abdi yang baru pulang kerja tampak lelah, ia mengusap wajahnya kasar. "Pakai uang tabungan darurat saja, Dis. Mas lagi nggak pegang uang."
"Tabungan darurat?" Disa tertawa getir. "Mas lupa? Bulan lalu kamu ambil semua buat beli motor baru buat Rian, kan? Katanya kasihan adikmu harus naik ojek ke kampus."
"Itu investasi, Dis! Biar Rian cepat lulus dan bisa bantu kita!" bantah Abdi keras kepala.
Disa tidak mau berdebat dan dia segera berlari menuju laci tempat ia menyimpan kartu asuransi kesehatan Fikri. Namun, saat membuka map tersebut tangannya gemetar kartu itu ada, tapi ada sebuah surat pemberitahuan dari perusahaan asuransi yang terselip di sana.
PEMBERITAHUAN: Polis asuransi atas nama Fikri Abdiansyah telah dicairkan secara sepihak pada tanggal 10 Desember 2025..
Disa mematung. Tanggal itu... adalah tanggal yang sama saat adik iparnya, Shinta, memamerkan foto lamaran mewahnya di hotel berbintang.
"Mas..." suara Disa sangat rendah, hampir seperti bisikan yang mematikan. "Kamu mencairkan asuransi pendidikan dan kesehatan Fikri?"
Abdi tersentak dan wajahnya memucat seketika. "Itu... itu cuma dipinjam sebentar, Dis. Ibu nangis-nangis Shinta nggak punya uang buat mengadakan pesta yang di tanggung bersama calon suaminya. Mas nggak tega melihat Ibu malu di depan calon besannya...".
Tiba-tiba, ponsel Abdi yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah notifikasi Instagram muncul. Disa menyambarnya lebih cepat dari kilat. Itu postingan terbaru Ibu mertuanya.
Sebuah foto tangan keriput dengan dua cincin emas besar di jari manis dan telunjuk. Keterangannya berbunyi: "Alhamdulillah, punya anak laki-laki saleh dan berbakti itu rezeki luar biasa. Makasih ya Abdi sayang, hadiah emasnya sudah Ibu terima. Surga memang ada di bawah telapak kaki ibu."
Disa melihat ponsel itu, lalu melihat anaknya yang merintih kepanasan dalam dekapannya, dan terakhir menatap suaminya yang masih berdiri mematung.
"Bakti, ya Mas?" Disa tersenyum, tapi matanya dingin seperti es. "Oke kalau begitu, nikmati baktimu sendirian."
Disa meraih tas bayinya mengambil kunci mobil yang selama ini ia cicil dari hasil jualan online-nya sendiri dan melangkah menuju pintu.
"Mau ke mana kamu?!" teriak Abdi.
Disa berhenti tanpa menoleh. "Ke tempat di mana 'bakti' tidak membunuh anakku. Dan Mas... jangan cari aku. Karena besok, bukan cuma tagihan rumah sakit yang akan datang kepadamu, tapi juga sesuatu yang selama ini kamu lupakan: Logika Kewajiban."
Disa membanting pintu dengan keras. Di dalam saku jaketnya, ia meremas sebuah flashdisk kecil berisi seluruh rekaman percakapan dan mutasi rekening yang diam-diam ia kumpulkan sejak tahun 2023.