Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Aroma Persaingan di Lantai 50
Gedung Abraham Corp menjulang tinggi dengan megahnya di pusat SCBD. Airin melangkah masuk ke lobi yang berlapis marmer dengan perasaan campur aduk. Berkat "tugas kelompok khusus" yang diberikan Jordan, Airin kini memiliki kartu akses khusus untuk naik langsung ke lantai 50 lantai di mana kantor CEO berada.
Airin mengenakan blazer berwarna nude di atas dress bunganya, mencoba tampil lebih profesional meski wajah polosnya sulit menyembunyikan identitas mahasiswinya. Begitu pintu lift terbuka, ia langsung disambut oleh suasana kantor yang sunyi namun sangat sibuk.
"Permisi, saya Airin Rodriguez. Saya diminta Pak Jordan untuk mengerjakan proyek riset di sini," ucap Airin lembut kepada seorang wanita yang duduk di meja depan ruangan Jordan.
Wanita itu, Clarissa, adalah sekretaris senior Jordan yang sudah bekerja selama tiga tahun. Ia cantik, bertubuh tinggi semampai dengan pakaian kantor yang sangat ketat dan riasan yang tajam. Clarissa mendongak, matanya menatap Airin dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menilai yang tidak bersahabat.
"Oh, jadi kamu 'mahasiswi spesial' itu?" Clarissa berujar dengan nada sinis yang kental. Selama ini, Clarissa adalah orang yang paling dekat dengan jadwal Jordan, dan dia menyadari perubahan drastis bosnya akhir-akhir ini termasuk bagaimana Jordan sering pulang lebih awal dan tampak sangat protektif terhadap ponselnya.
"Saya hanya menjalankan tugas kuliah, Mbak," jawab Airin tetap tenang, meski ia bisa merasakan aura permusuhan yang kuat.
"Pak Jordan sedang rapat penting. Kamu tunggu saja di kursi pojok itu. Jangan menyentuh apa pun, barang-barang di sini harganya lebih mahal dari biaya kuliahmu," ucap Clarissa ketus sambil kembali fokus pada komputernya.
Airin hanya mengangguk pelan dan duduk di pojok ruangan. Ia mulai membuka laptopnya, mencoba fokus pada data yang diberikan. Namun, setiap kali asisten lain lewat, Clarissa sengaja berbicara dengan suara keras tentang betapa "merepotkannya" mengurus mahasiswi magang yang tidak tahu apa-apa.
Tiba-tiba, pintu ruangan CEO terbuka. Jordan keluar bersama beberapa manajer. Wajahnya yang tegang karena rapat seketika melunak saat matanya menangkap sosok Airin di pojok ruangan. Ia mengabaikan para manajernya dan langsung berjalan lurus ke arah Airin.
"Sudah lama menunggu?" tanya Jordan. Suaranya yang dingin tadi mendadak berubah menjadi hangat dan penuh perhatian.
"Baru sebentar, Jordan," jawab Airin lirih, ia melirik ke arah Clarissa yang kini wajahnya tampak kaku karena kaget melihat perubahan sikap bosnya.
Jordan menyadari tatapan Airin. Ia melirik Clarissa dengan tajam, seolah bisa membaca apa yang baru saja terjadi. "Clarissa, kenapa Airin duduk di sini? Bukankah aku sudah bilang siapkan meja di dalam ruanganku?"
"Maaf, Pak, saya pikir Tuan ingin privasi saat rapat tadi," jawab Clarissa dengan suara yang bergetar.
"Jangan pernah biarkan dia menunggu di luar lagi. Dia bukan tamu, dia prioritasku," tegas Jordan tanpa mempedulikan wajah Clarissa yang memucat karena malu dan cemburu.
Jordan meraih tangan Airin, menuntunnya masuk ke dalam ruangan kantornya yang luas. Begitu pintu tertutup, Jordan langsung menarik Airin ke dalam pelukannya. Ia menghirup aroma rambut Airin dalam-dalam, mengabaikan fakta bahwa mereka masih di kantor.
"Apa dia mengganggumu?" bisik Jordan sambil mengusap pinggang Airin dengan posesif.
"Hanya sedikit bicara ketus. Tidak apa-apa, aku sudah biasa," sahut Airin, mencoba menenangkan Jordan yang tampak mulai emosi.
"Aku tidak suka ada yang merendahkanmu, bahkan dengan kata-kata kecil sekalipun," Jordan merunduk, memberikan kecupan-kecupan kecil yang menuntut di bibir Airin yang mngerucut karena merasa tidak enak dengan keributan tadi. "Di sini, kamu adalah ratunya. Mengerti?"
Airin hanya bisa pasrah saat Jordan mulai "menarik upeti" atas gangguan yang ia terima tadi, sementara di luar ruangan, Clarissa meremas pulpennya hingga patah, menyadari bahwa posisinya di hati sang CEO memang sama sekali tidak ada dibandingkan gadis polos bergaun bunga itu.