Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12.Perjalanan.
Fajar belum menyentuh langit ketika Yun Lan sudah berdiri di halaman belakang rumah.
Udara masih dingin. Embun menggantung di ujung daun. Dunia seolah menahan napas sebelum hari benar-benar lahir.
Di kandang kayu sederhana, kuda hitam milik ayahnya mengangkat kepala pelan ketika mendengar langkahnya.
Kuda itu tidak meringkik.
Hanya menatap.
Seolah mengenali siapa yang datang.
Yun Lan mengusap leher hewan itu perlahan.
“Maaf, Paman Hitam,” bisiknya pelan. “Hari ini bukan ayah yang menunggangimu.”
Kuda itu mendengus pelan, napas hangatnya menyentuh punggung tangan Yun Lan.
Ia bergerak cepat, terlatih seperti yang sering ia lakukan membantu ayahnya dulu. Memasang pelana, mengecek tali kekang, memastikan semuanya kuat tanpa suara berlebihan.
Dari kejauhan, ibunya berdiri di bawah bayang pohon.
Tidak mendekat.
Tidak mengganggu.
Hanya mengawasi.
Tatapan seorang ibu yang mencoba menghafal wajah anaknya untuk waktu yang lama.
Yun Lan menaiki kuda dengan gerakan ringan.
Tas kain tergantung di bahunya.
Plakat keluarga Li terasa berat di dalamnya.
Bukan berat karena kayunya.
Tetapi karena maknanya.
Ia menoleh.
Ibunya masih di sana.
Mereka saling menatap dalam diam.
Tidak ada lagi yang perlu diucapkan.
Karena semua sudah diputuskan sejak malam tadi.
Yun Lan menunduk hormat dari atas kuda.
Ibunya membalas dengan anggukan kecil.
Lalu Yun Lan menarik tali kekang.
Kuda hitam itu bergerak pelan.
Meninggalkan halaman.
Melewati jalan tanah desa Ying yang masih tidur.
Tidak ada suara.
Tidak ada saksi.
Hanya jejak kaki kuda yang perlahan memudar di tanah basah.
Ia tidak menoleh lagi.
Karena ia tahu…
Jika ia menoleh, ia mungkin tidak akan sanggup pergi.
Perjalanan menuju perbatasan timur bukan perjalanan singkat.
Butuh berhari-hari melewati perbukitan, ladang kosong, jalan berbatu, dan hutan yang jarang dilewati manusia.
Hari pertama masih mudah.
Jalan desa berubah menjadi jalan setapak.
Lalu berubah lagi menjadi jalur tanah yang hampir tak terlihat.
Yun Lan tidak berhenti.
Ia hanya berhenti sesaat untuk memberi kuda minum di sungai kecil.
Sisanya, ia terus bergerak.
Semakin jauh dari desa.
Semakin jauh dari rumah.
Semakin dekat pada takdir yang menunggunya.
Menjelang sore, angin mulai berubah.
Dingin.
Dan sunyi.
Hutan di depan tampak gelap bahkan sebelum matahari tenggelam.
Pohon-pohon tinggi menjulang rapat, menutup cahaya.
Tanahnya tidak rata.
Akar-akar besar mencuat dari tanah seperti ular tidur.
Yun Lan tahu, ia harus melewati hutan ini jika ingin mempersingkat perjalanan dua hari.
Ia menarik napas panjang.
“Baiklah,kita pasti bisa melewatinya paman hitam” gumamnya pelan.
Kuda hitam itu melangkah masuk.
Suasana langsung berubah.
Sunyi yang berbeda.
Sunyi yang terasa hidup.
Hanya suara langkah kuda dan gesekan dedaunan.
Tidak ada burung.
Tidak ada serangga.
Seolah hutan ini… menahan sesuatu.
Paman hitam kuda Yun lan tiba-tiba merasa cemas, dirinya seperti ingin lari tapi Yun lan berusaha menenangkan kuda ayahnya itu.
“Tenang..., malam ini kita harus melewati hutan ini agar cepat sampai. ”
Tina-tiba alam mulai bersikap tidak biasa.
Langit semakin gelap.
Kabut tipis mulai turun di antara batang pohon.
Paman hitam mulai cemas.
Yun Lan merapatkan pakaian.
Tangannya tetap siaga di dekat pisau kecil di pinggang.
Lalu—
Angin berhenti.
Benar-benar berhenti.
Kuda hitam mendadak berhenti melangkah.
Telinganya tegak.
Tubuhnya menegang.
“Ada apa?” bisik Yun Lan.
Dan saat itulah—
Cahaya.
Sebuah cahaya sangat terang tiba-tiba muncul di depan mereka.
Bukan dari samping.
Bukan dari belakang.
Tetapi dari atas.
Seperti kilatan matahari yang jatuh dari langit.
Kuda hitam meringkik keras.
Yun Lan menutup matanya karena cahaya itu terlalu terang untuk di lihat oleh mata telanjang.
Cahaya itu menghantam tanah beberapa langkah di depan mereka dengan suara yang membuat tanah bergetar.
Debu dan daun kering beterbangan.
Yun Lan menutup wajahnya dengan tangan.
Jantungnya berdegup keras.
Ketika cahaya itu perlahan meredup…
Yang terlihat di tanah membuat napasnya tercekat.
Seseorang.
Tubuh seorang pria.
Tersungkur di tanah.
Telanjang.
Yun Lan membeku beberapa detik.
Otaknya seperti menolak memahami apa yang dilihat matanya.
Langkahnya hati-hati mendekat.
Tangannya gemetar saat membuka tas dan mengeluarkan selimut tipis yang ia bawa.
Ia menutupi tubuh pria itu dengan cepat.
Pipinya memanas.
Ini pertama kalinya ia melihat pria dewasa tanpa sehelai kain pun.
Tetapi rasa kagetnya lebih besar dari rasa malu.
“Masih hidup?” gumamnya.
Ia berlutut di samping tubuh itu.
Tangannya menyentuh leher pria itu.
Hangat.
Ada denyut.
Lemah.
Tapi ada.
Yun Lan mengembuskan napas lega.
Ia membalikkan tubuh pria itu perlahan agar bisa melihat wajahnya.
Dan di saat itulah—
Dunia seolah berhenti untuk kedua kalinya malam itu.
Wajah pria itu…
Wajah itu…
Sangat familiar.
Terlalu familiar.
Dahi yang tegas.
Hidung lurus.
Garis rahang tajam.
Dan aura wajah yang… tidak biasa.
Yun Lan menatapnya lama.
Jantungnya mulai berdegup tidak teratur.
“Tidak mungkin…”
Bisiknya hampir tak terdengar.
Wajah itu…
Sangat mirip.
Sangat mirip dengan sosok yang muncul di mimpinya sebelum ia hidup kembali.
Sosok yang memberinya kekuatan.
Sosok yang ia yakini sebagai Dewa Yun.
Tangan Yun Lan perlahan menjauh dari wajah pria itu.
Tubuhnya merinding.
Ia menatap sekeliling.
Hutan masih sunyi.
Tidak ada tanda-tanda orang lain.
Tidak ada jejak.
Tidak ada suara.
Hanya mereka berdua.
Dan cahaya yang tadi jatuh dari langit… kini sudah hilang sepenuhnya.
“Kenapa kamu mirip dengan nya…” bisiknya.
Pria itu tiba-tiba batuk pelan.
Tubuhnya bergerak sedikit.
Matanya bergetar.
Dan perlahan… terbuka.
Tatapan mereka bertemu.
Mata pria itu bening.
Dalam.
Dan entah kenapa… membuat Yun Lan merasa seperti sedang ditatap tembus hingga ke pikirannya.
Pria itu tampak kebingungan.
Sangat kebingungan.
Ia menatap Yun Lan.
Lalu menatap sekeliling.
Lalu kembali menatap Yun Lan.
Bibirnya bergerak pelan.
“Aku…”
Suaranya serak.
“…di mana?”
Yun Lan tidak langsung menjawab.
Karena pikirannya masih berputar.
Pria ini…
Mirip Dewa Yun.
Jatuh dari langit.
Tanpa pakaian.
Di tengah hutan sepi.
Dan sekarang bertanya di mana ia berada.
Semua ini terasa tidak masuk akal.
Tetapi entah kenapa…
Tidak terasa mustahil.
“Kau!... ”ucap pria bertubuh pucat itu.
“Kau kenal aku?. ”
“Tentu saja kenal, sama manusia yang menolak menjadi pendamping dewa. ”
“Jadi kau benar dewa Yun, dewa minta nyawa manusia itu. ”
“Tunggu..., kau salah. Aku tidak meminta nyawa manusia, pendeta kalian yang menawarkan. ”
“Sial sekali, aku bertemu denganmu. ”ucap Yun lan kesal.
Yun lan pun berdiri hendak pergi dengan paman hitam, tapi dewa Yun merasa tersinggung dengan ucapan Yun lan.
Dewa Yun pun berdiri sambil memegang penutup tubuhnya. “Dasar manusia kurang ajar!, apa kamu tidak takut hukuman dari ku. ”ucapnya dengan nada marah.
Langkah Yun lan berhenti dan menoleh kearah dewa Yun. Dirinya menatapnya dengan tajam, tidak ada rasa takut.
“Apa aku harus berlutut, menyembahmu? lihat dulu dirimu itu, sudah seperti manusia atau jangan-jangan kamu dewa yang di buang. ”
Dewa Yun lalu marah dan mengerakan tangannya, “Dasar wanita tak tahu terimakasih!. Aku akan kembalikan kamu seperti yang dulu. ”
Yun lan pun takut, bagaimanapun juga jika benar-benar kembali kesaat itu berarti dirinya menjadi arwah dan orang tuanya sudah mati.
Dirinya tidak bisa merubah takdir keluarganya, Yun lan merasa keajaiban ini akan berakhir.
Dirinya lalu memejamkan mata, dan tidak bisa berkata-kata lagi.
Yun lan memejamkan matanya cukup lama, sangat lama tapi tidak merasakan perubahan pada dirinya.
“Tidak ada yang terjadi?. ”tanyanya bingung.