NovelToon NovelToon
Milik Sang Ketos Dingin

Milik Sang Ketos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kasychan_A.S

Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.

​Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.

​Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.

​Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.

follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22-Idih... Najis... Najis

Setelah ucapan Sah yang bikin jantung Aluna serasa pindah ke ginjal, Arlan masih duduk tegak di tempatnya. Abbas, Ramma, dan yang lainnya mulai sibuk bersalaman, tapi pandangan Arlan tertuju ke arah Aluna.

​"Ayo Aluna, salim dulu sama Arlan. Kan sudah sah jadi suami," ujar Abbas dengan nada memerintah yang halus tapi bikin merinding.

​Aluna mematung. Matanya melirik tangan Arlan yang terulur diam di depannya. Di mata Aluna, tangan itu seperti benda terkutuk yang penuh kuman mematikan.

​"Idih... Najis... Najis banget harus pegang tangan dia," gumam Aluna pelan, tapi cukup keras sampai membuat Arlan menaikkan sebelah alisnya.

​"Aluna Hazel! Buruan!" bisik Mamah Calista sambil mencubit pinggang Aluna gemas.

​"Aduh! Iya, iya!" Aluna meringis. Dengan wajah yang ditekuk habis-habisan, dia mengangkat tangannya. Dia hanya menggunakan ujung ibu jari dan telunjuknya untuk menjepit ujung jari kelingking Arlan.

​"Salim yang bener, Aluna. Bukan lagi ambil sampah," tegur Ramma dengan suara baritonnya yang berat.

​Arlan yang sudah tidak sabar melihat drama dua jari Aluna langsung bertindak. Tanpa peringatan, Arlan menyambar telapak tangan Aluna dan menggenggamnya dengan sangat erat.

​"Diem," bisik Arlan dingin, matanya menatap tajam tepat di manik mata Aluna. "Salim sekarang, atau gue tarik lo ke kamar sekarang juga tanpa nunggu acara selesai."

​Aluna membelalak. 'Gila, ini Ketos beneran stres!' Karena takut ancaman Arlan bukan sekadar gertakan, Aluna akhirnya menunduk. Dia menempelkan dahinya ke punggung tangan Arlan selama 0,0001 detik, lalu secepat kilat menariknya kembali.

​"HUEKK! Najis... Najis banget!" Aluna langsung mengelap dahinya ke pakaiannya berkali-kali sampai kusut. "Tangan lo bau formalin ya?! Bau kulkas mati tau nggak!"

Arlan hanya menatap tangannya yang baru saja dilap-lap oleh Aluna dengan wajah sedingin kutub utara. Tidak ada kemarahan yang meluap, hanya tatapan tajam yang membuat siapa pun merasa perlu memakai jaket tebal.

​"Mulut lo kalau nggak bisa diem, gue lakban juga lama-lama," sahut Arlan datar. Ia berdiri, merapikan setelan jasnya tanpa sedikit pun memandang Aluna lagi.

​"Idih! Coba aja kalau berani! Dasar kulkas 12 pintu!" balas Aluna sambil mengerucutkan bibirnya.

​Bunda Nada tertawa kecil melihat tingkah dua remaja itu. "Sudah-sudah, kalian ini lucu sekali. Jeng Calista, mending kita ke dapur sekarang yuk? Kita siapkan makan malam. Pasti sudah pada lapar."

​"Oh iya, ayok Nada. Aluna, sini sayang, bantu Mamah sama Tante Nada di dapur," ajak Calista sambil memberikan tatapan 'awas kalau kamu bikin malu' kepada putrinya.

Aluna menyeret langkahnya menuju dapur mewah keluarga Abbas dengan wajah ditekuk sepuluh lipat. Ia masih mengenakan seragam SMA-nya yang sedikit kusut karena drama toilet tadi.

​"Tante Nada, Mamah... mending Tante sama Mamah duduk aja biar Aluna yang masak. Aluna lagi pengen ngulek sesuatu buat lampiasin emosi," ucap Aluna ketus tapi tangannya sudah cekatan mencuci tangan di wastafel.

​Tante Nada tersenyum lembut. "Loh, Aluna bisa masak? Tante kira tadi kamu mau istirahat dulu."

​"Aluna kalau udah di dapur pinter banget, Nada. Biarin aja dia yang pegang kendali," sahut Mamah Calista sambil menyiapkan celemek.

​Aluna langsung menyambar celemek motif bunga milik Tante Nada dan memakainya di atas seragam putih-abunya. Ia mulai mencincang bawang putih dengan kecepatan kilat.

Tak! Tak! Tak!

Bunyi pisaunya bener-bener menunjukkan kalau dia lagi emosi tingkat dewa.

Satu jam kemudian, aroma masakan Aluna bener-bener menggoda selera. Hidangan sudah tertata rapi di meja makan. Aluna melepas celemeknya dengan gaya koki profesional, meski wajahnya tetap judes.

​"Ayo semuanya, makan malam sudah siap!" seru Bunda Nada memanggil para pria.

​Arlan berjalan masuk ke ruang makan dengan langkah santai, tangannya dimasukkan ke saku celana seragamnya. Begitu dia duduk di kursinya, matanya melirik sekilas ke arah deretan masakan di depannya, lalu ke arah Aluna yang berdiri di seberang meja.

​"Wah, Aluna, masakan kamu harum sekali. Arlan, kamu beruntung dapet istri pinter masak begini," puji Abbas setelah mencicipi suapan pertama.

​"Oh ya, Aluna," Nada membuka suara sambil menatap Aluna penuh kasih. "Sekarang kan kamu sudah sah jadi bagian dari keluarga ini. Panggilan Tante dan Om diganti ya, Sayang."

Aluna tersedak air yang baru saja ia minum. "Uhuk! Hah? Ganti apa, Tan—eh?"

​"Panggil Ayah sama Bunda, sama seperti Arlan panggil kami," ucap Ayah Abbas tegas tapi ramah. "Mulai detik ini, kamu anak kami juga."

​Aluna melirik Mamah Calista yang lagi ngasih kode 'ikutin aja atau jatah uang jajan tamat'. Aluna menelan ludah dengan susah payah. "I-iya... Bun-Bunda... A-ayah..."

Abbas beralih menatap anak laki-lakinya yang masih asyik menyendok Beef Teriyaki buatan Aluna dengan wajah lempeng. "Arlan, kamu juga. Jangan panggil Om Ramma sama Tante Calista lagi. Sekarang mereka juga orang tua kamu."

​Arlan meletakkan garpunya dengan pelan, tidak menimbulkan bunyi sedikit pun. Dia menoleh ke arah Ramma dan Calista secara bergantian, lalu mengangguk takzim. "Iya, Yah. Arlan mengerti."

Hening.

​Cuma ada suara

ting... ting...

Dari ujung sendok Arlan yang menyentuh piring porselennya dengan sangat rapi dan teratur. Aluna merasa oksigen di sekitarnya mendadak tipis. Ia melirik Arlan dari sudut mata. Cowok itu makan dengan wajah datar, tanpa ekspresi, seolah daging teriyaki buatan Aluna itu rasanya sama saja dengan kertas.

​Bunda Nada yang sejak tadi memperhatikan anak dan menantunya, akhirnya merasa harus mencairkan suasana. Beliau menatap Arlan penuh harap.

​"Gimana, Lan? Masakan Aluna enak, kan?" tanya Bunda Nada sambil tersenyum lembut.

​Gerakan tangan Arlan terhenti. Dia tidak langsung menjawab. Dia mengunyah perlahan, menelan makanannya dengan tenang, lalu meletakkan sendok dan garpunya dengan posisi sejajar yang sangat presisi.

Arlan mengambil gelas air putih, meminumnya sedikit, baru kemudian menoleh sekilas ke arah Aluna yang sudah menahan napas.

"Lumayan," jawab Arlan singkat, padat, dan sangat menyebalkan.

Aluna yang tadinya sempat menahan napas menunggu jawaban, seketika ingin menyiramkan air putih ke wajah Arlan.

​"Masakan seenak ini cuma dijawab lumayan!" sela Aluna dengan nada yang naik satu oktavi. "Jangan dengerin dia! Itu lidahnya emang udah membeku, masa makanan seenak ini cuma dibilang lumayan? Najis banget sombongnya!"

​Arlan hanya melirik Aluna dengan tatapan datar, lalu kembali mengambil potongan daging kedua dengan sangat tenang. Seolah teriakan Aluna tadi hanyalah suara nyamuk lewat.

​"Sudah, sudah. Namanya juga pengantin baru, masih pada gengsi-gengsian," sahut Calista berusaha menengahi, meski suasananya tetap terasa canggung luar biasa.

​Setelah sesi makan malam yang penuh keheningan mematikan itu selesai, Ramma dan Calista berdiri untuk berpamitan.

"Abbas, Nada, sepertinya kami harus pulang sekarang. Sudah malam," ucap Ramma sambil menjabat tangan Ayah Abbas.

​Aluna yang mendengar kata 'pulang' langsung semringah. Ia segera menyambar tas sekolahnya dan berdiri di samping Mamahnya. "Ayo Mah! Ayo Pah! Buruan kita pulang! Aluna udah kangen banget sama kamar Aluna."

Namun, Calista justru menatap putrinya dengan tatapan iba sekaligus tegas. "Aluna sayang, kamu lupa? Mulai malam ini rumah kamu di sini. Kamu nggak pulang ke rumah Mamah."

​Senyum di wajah Aluna luntur seketika. "H-hah? Maksud Mamah... Aluna ditinggal? Di rumah ini? Sama si robot formalin?!"

​"Koper kamu sudah dipindahkan ke atas, Aluna. Di kamar Arlan," sahut Bunda Nada lembut.

​"NGGAK MAU! IDIH! NAJIS! PAPAHHH! MAMAAAHHH!" Aluna histeris saat melihat orang tuanya berjalan menuju pintu depan. Ia berlari mengejar mereka, bahkan sampai memegang pintu mobil saat Ramma dan Calista sudah masuk. "ALUNA MAU IKUT PULANG! ALUNA GAK MAU JADI TAWANAN KULKAS MATI! PAPAAAHHH!"

"Aluna Hazel! Malu" Ramma menarik pelan tangan Aluna yang masih bergelantungan di pintu mobil. "Kamu sudah besar, sudah sah jadi istri Arlan. Masa mau merengek kayak anak kucing?"

​"Bukan merengek Pah! Ini tuh evakuasi darurat! Aluna nggak bisa napas di deket kulkas formalin itu! Mamah! Tolongin Aluna!" Aluna beralih memeluk kaki Mamah Calista yang berdiri di samping mobil.

Calista menghela napas, merasa tidak enak hati pada keluarga Abbas yang menonton drama itu di teras. "Aluna, dengerin Mamah. Sekarang tempat kamu di sini. Belajar jadi istri yang baik, jangan bikin malu Papah sama Mamah, ya?"

​"NGGAK MAU! IDIH! NAJIS BANGET JADI ISTRI ROBOT!"

​Bunda Nada berjalan mendekat, mencoba menenangkan Aluna dengan mengusap bahunya. "Aluna sayang, jangan takut. Ada Bunda di sini. Kalau Arlan macam-macam atau galak, kamu lapor ke Bunda, biar Bunda yang jewer dia, ya?"

​"Arlan itu cuma kelihatannya saja dingin, aslinya kayak bayi," tambah Ayah Abbas yang ikut turun tangan. "Arlan, sini! Pamitan."

Arlan berjalan mendekat dengan langkah tegap dan wajah tanpa dosa. Dia menyalami tangan Ramma dan Calista dengan takzim.

"Hati-hati di jalan, Pah, Mah. Biar Aluna... Arlan yang urus."

​Mendengar kata 'urus', bulu kuduk Aluna meremang. "Tuh kan! Denger kan! Dia mau ngurus Aluna kayak ngurus tahanan politik! Mamahhh! Ikuttt!"

​Mobil Ramma mulai menyala dan perlahan melaju keluar gerbang. Aluna mencoba mengejar mobil itu sambil teriak-teriak histeris. "PAPAAAHHH! JANGAN TINGGALIN ALUNA SAMA KULKAS MATIIII! MAMAAAHHHH!"

​"Sudah, sudah. Ayo masuk, sudah malam," ucap Abbas sambil tertawa kecil, menganggap itu hanya bumbu pernikahan dini. Abbas dan Nada masuk lebih dulu ke dalam rumah, menyisakan Aluna yang masih berdiri lemas di pinggir gerbang dan Arlan yang berdiri di belakangnya.

​Suasana mendadak sunyi. Aluna perlahan berbalik dan mendapati Arlan tengah menatapnya datar dengan tangan masuk ke saku celana.

​"Sudah dramanya?" tanya Arlan dingin.

​"Idih! Siapa yang drama?! Gue itu beneran menderita! Puas lo?!" semprot Aluna sambil menghentakkan kakinya kesal.

​"Masuk. Kunci gerbangnya. Terus naik ke lantai dua, kamar paling ujung kiri," perintah Arlan tanpa peduli dengan omelan Aluna. Dia berbalik badan begitu saja masuk ke dalam rumah.

​"GAK MAU! GUE MAU TIDUR DI POS SATPAM AJA!"

​"Terserah. Tapi kalau besok pagi lo telat sekolah karena kedinginan di luar, jangan harap gue mau bantuin lo lolos dari hukuman piket lapangan," ucap Arlan tanpa menoleh sedikit pun.

​Aluna mematung. Sial, ancaman Ketos itu selalu tepat sasaran. Dengan wajah ditekuk seribu lipat, Aluna akhirnya menyusul masuk ke rumah mewah itu dengan langkah yang dihentak-hentakkan.

1
Suo
CIEEE KEINGAT ALUNAA/Grin/
Suo
Fix Aluna sih
Kim Umai
sehabis acara, datang lah pegal² 🤣
Ria Irawati
nanggung lun.. gk usah pulang sampai besok 🤭
Panda%Sya🐼
Aduh-aduh dingin-dingin ternyata peduli ya 🤭🤏
j_ryuka
lalat aja kepeleset apalagi hatinya kakak😭
j_ryuka
gue Tabok juga mulut Lo
Blueberry Solenne
Wkwkwk gila aja ngepel lg. 4. mau sekolah apa jadi OB di suruh ngepel mulu
Blueberry Solenne
Uhuk uhuk cie cie ada yang lagi sating tuhhh, udah pacaran aja kalian
pojok_kulon
Apa sekolahnya akan fokus, apa mereka nggak takut anaknya jadi nggak semangat untuk sekolah laki
pojok_kulon
wah jangan jangan Arlan tuh
Kim Umai
ada aja gebrakan nya tiap hari 🤣
Blueberry Solenne
asiik, serahkan smuanya sama Arkan ketimbang kecoa doang wkwkwk
Blueberry Solenne: Arlan, typo😭😭😭
total 1 replies
Blueberry Solenne
Ett dah udah kek bocil, eh emang bocil ya🤭
Suo
wahh jadi aluna berharap nya lain nih/CoolGuy/
Panda%Sya🐼
Enggak usah marah. Toh si Arlan bukan pacar kamu /Facepalm/
j_ryuka
akhirnya cieeee cieeeee
j_ryuka
hey awas aja kau lyra
Hafidz Nellvers
edyan bisa sama gitu 😱
Hafidz Nellvers
keren orang tuanya 🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!