NovelToon NovelToon
Milik Sang Ketos Dingin

Milik Sang Ketos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: kasychan_A.S

Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.

​Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.

​Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.

​Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.

follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25-gosipan

Aluna memandangi lembaran kertas foto yang sudah agak melengkung di bagian ujungnya itu. Jarinya mengusap pelan wajah anak perempuan kecil yang memakai bando bunga matahari besar di kepalanya. Itu jelas dirinya, waktu masih belum kenal apa itu rasa kesal pada cowok kaku.

​"Gue lucu juga ya pas kecil," gumamnya, bibirnya sempat tersenyum tipis.

​Tapi senyum itu hilang saat matanya bergeser ke dua bocah laki-laki yang mengapitnya. Di sisi kanan, ada bocah laki-laki yang tertawa sangat lepas, seolah dunia ini isinya cuma komedi. Tangannya merangkul bahu Aluna kecil dengan sangat protektif. Aluna menyipitkan mata, mencoba menggali ingatan di kepalanya yang terasa seperti perpustakaan berdebu.

​"Ini... siapa sih? Mukanya nggak asing, kayak pernah liat di mana gitu?" Aluna mencoba mengingat.

​Lalu, pandangannya beralih ke sisi kiri. Aluna seketika mendengus. Bocah laki-laki yang satu ini bener-bener merusak pemandangan foto yang tadinya estetik. Anak itu duduk tegak, tangan ditaruh di atas lutut dengan sangat rapi, dan matanya menatap tajam ke arah kamera. Tidak ada senyum, tidak ada binar ceria, yang ada cuma tatapan dingin yang seolah-olah dia sedang dipaksa foto di tengah hukuman sekolah.

​"Buset... ini bocah makan apa ya pas kecil? Judes banget, asli. Auranya kok... kok sebelas dua belas sama si Ketos formalin itu?" Aluna mengamati lebih dekat, membandingkan mata bocah di foto itu dengan mata Arlan.

​"Dih, masa iya si robot itu punya temen dari kecil? Nggak mungkinlah. Palingan ini bocah yang dulu suka nangis kalau kalah main kelereng terus sekarang jadi sombong," gumamnya lagi sambil mencibir ke arah foto itu.

​Aluna membolak-balik foto tersebut, berharap ada tulisan nama atau tanggal di belakangnya, tapi hasilnya nihil. Hanya ada noda bekas air dan sedikit debu. Ia mencoba memanggil-manggil ingatan tentang taman bermain itu, tapi kepalanya malah mendadak berdenyut nyeri.

Karena panik dan dikejar waktu, Aluna asal menyelipkan kembali foto itu ke bagian paling dalam koper pink-nya, tercampur dengan tumpukan kaos kaki yang berantakan. Ia tidak sadar kalau foto itu terselip dalam posisi yang mudah terlihat jika seseorang membuka kopernya lagi.

​Di meja makan, suasananya bener-bener canggung kalau bukan karena ada Nada. Arlan duduk dengan posisi sangat tegak, memotong sosis di atas nasi gorengnya dengan sangat rapi seolah setiap potongan harus memiliki ukuran yang sama secara matematis.

​"Nah, itu Aluna sudah turun. Sini Sayang, sarapan bareng Arlan," ajak Nada sambil tersenyum manis.

​Aluna duduk di depan Arlan. Ia melirik Arlan yang bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arahnya. "Pagi, Bunda..." sapa Aluna dengan suara yang sangat lembut dan sopan, khas anak teladan di depan orang tua.

​"Pagi, Sayang. Arlan, itu nasinya kasih ke Aluna," tegur Bunda Nada saat melihat anaknya asyik makan sendiri.

​Arlan tanpa ekspresi menggeser piring nasi goreng yang baru disiapkan Nada ke hadapan Aluna. Gerakannya kaku, mirip robot yang baru diisi baterai.

​Aluna ingin sekali membalas, tapi dia ingat ada Nada. Dengan senyum paksa yang terlihat sangat manis.

​"Iya Bunda, makasih ya Kak Arlan sudah diambilin," ucap Aluna. Suaranya terdengar sangat manis, tapi tangannya memegang sendok begitu erat sampai kuku-kukunya memutih.

Aluna melirik piringnya. Arlan benar-benar hanya menggeser piring itu tanpa melihat wajahnya sama sekali. Cowok itu kembali fokus memotong sosisnya dengan ketenangan yang menyebalkan.

​"Oh iya, Ayah mana, Bun? Kok kursinya kosong?" tanya Aluna sambil mulai menyuap nasi gorengnya perlahan, mencoba bersikap anggun di depan Nada.

​"Ayah sudah berangkat dari jam lima tadi, Sayang. Ada meeting mendadak di kantor pusat," jawab Nada sambil mengoles selai ke roti bakarnya. "Makanya, hari ini Arlan yang harus jagain kamu. Kalian berangkat bareng ya? Arlan, bonceng Aluna. Jangan biarkan dia naik ojek sendirian, nanti Ayah kamu marah kalau tahu kalian nggak rukun."

​Aluna hampir saja tersedak potongan sosis. Berangkat bareng si Robot Formalin ini ke sekolah? Itu sama saja dengan menyerahkan diri ke kandang macan atau lebih tepatnya, menyerahkan diri ke pusat gosip nasional SMA Garuda.

​"E-eh, bareng Kak Arlan, Bun?" Aluna melirik Arlan dengan cemas.

​Arlan meletakkan garpunya dengan bunyi denting yang halus tapi tegas. Ia akhirnya menatap Aluna, tapi tatapannya sedingin es kutub utara. "Terserah Bunda aja."

​Aluna memaksakan tawa kecil yang terdengar sangat kaku. "A-ah, iya Bunda. Nggak apa-apa kok, Aluna bareng Kak Arlan aja." ucap Aluna dengan nada yang dibuat-buat, padahal dalam hati dia ingin sekali melempar sendok ke wajah kaku itu.

​"Nah, gitu dong. Bunda seneng liatnya," Nada tersenyum puas.

​Begitu sarapan selesai, Arlan langsung berdiri tanpa suara. Ia menyampirkan tasnya di bahu kiri dengan sangat rapi. "Gue tunggu di depan. Lima menit," ucapnya singkat pada Aluna sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang makan.

​"Idih, gayanya..." gerutu Aluna pelan setelah Arlan menghilang dari pintu. Ia segera menghabiskan susunya dan menyalami Nada. "Aluna berangkat ya, Bunda!"

Begitu Aluna menginjakkan kaki di teras, ia melihat Arlan sudah duduk di atas motor besarnya. Helm full-face hitam sudah terpasang, mesin motor menderu halus namun terdengar mengancam di telinga Aluna.

​Aluna berjalan mendekat, tapi bukannya naik, ia malah berdiri di samping motor dengan tangan bersedekap dan wajah judes yang kembali ke setelan pabrik.

​"Ngapain diem di situ? Naik," suara Arlan terdengar berat dari balik helm.

​"Gue nggak sudi berangkat bareng lo!" bisik Aluna ketus sambil melirik waspada ke arah pintu rumah, memastikan Bunda Nada tidak sedang mengintip. "Tadi itu gue cuma akting biar Bunda nggak kepikiran. Sekarang, lo pergi sana duluan!"

​Arlan membuka sedikit kaca helmnya. Matanya yang tajam menatap Aluna dengan tatapan meremehkan. "Baguslah. Gue juga nggak minat bawa beban tambahan di jok belakang. Terus lo mau ke sekolah pake apa? Terbang?"

​"Gue udah pesen ojek online, bentar lagi nyampe di depan gang! Pokoknya kita nggak boleh kelihatan bareng pas nyampe gerbang. Kalau kita bareng, makin mateng tuh fitnah toilet, bisa-bisa jadi gosip satu sekolah!" semprot Aluna dengan nada pedas.

​Arlan menutup kaca helmnya kembali dengan bunyi klik yang tajam. "Terserah. Jangan telat, atau gue bakal kasih lo hukuman lagi kalau lo telat semenit pun lewat dari jam tujuh."

​"IDIH! Dasar psikopat jabatan!" umpat Aluna.

​Tanpa membalas lagi, Arlan langsung menarik gas motornya, meninggalkan kepulan asap tipis dan debu yang membuat Aluna terbatuk-batuk.

​"Uhuk! Uhuk! Dasar kulkas rusak! Gue sumpahin ban motor lo bocor!" seru Aluna sambil mengumpat habis-habisan.

​Aluna segera berlari menuju gerbang untuk menunggu ojeknya.

Aluna turun dari ojek sekitar lima puluh meter sebelum gerbang SMA Garuda. Ia sengaja turun agak jauh supaya tidak ada yang melihatnya turun dari kendaraan yang berbeda arah dengan rumah Arlan. Setelah merapikan seragam dan rambutnya yang agak berantakan kena angin, ia melangkah masuk dengan perasaan was-was.

​Begitu melewati gerbang besar bertuliskan SMA GARUDA, atmosfer mendadak terasa berat. Aluna merasa seperti ada ratusan pasang mata yang sedang menelanjangi dirinya.

​"Eh, itu kan Aluna?"

"Iya, yang kemarin digerebek sama si Arlan di toilet perempuan itu kan?"

"Gila ya, padahal Arlan kelihatannya alim banget, ternyata tipenya yang kayak gitu."

"Tahu tuh, paling si ceweknya yang kegatelan duluan."

​Aluna meremas tali tasnya kuat-kuat. Kepalanya tertunduk, langkah kakinya dipercepat. Ia ingin segera sampai di kelas dan menghilang dari pandangan orang-orang. Namun, bisik-bisik itu makin kencang saat ia melewati mading sekolah.

​"Sst, pelan-pelan. Orangnya denger tuh," celetuk seorang siswi yang sedang bergerombol di depan loker.

"Biarin aja, emang bener kan? Katanya sampai dipanggil orang tua. Berarti emang udah parah banget kelakuannya."

1
Suo
knp harus di jaga cba imeh nya😭
Suo
nanti nyesel. loh arlan
Ria Irawati
roman-romannya jatuh cinta nih🤭
j_ryuka
yeh peluk aja
only siskaa
mulai suka ciee
SarSari_
kok senyum² ya...🫣🫣
SarSari_
duuh mulai datang si penganggu😤
Mentariz
savage abizzz 👍
Mentariz
Wah udah hapal banget nih pesanan aluna
Mentariz
Gak tahan godaan juga kan, lun 🤭
Panda%Sya🐼
Sariawan itu musuh terbesar ku 😭
Panda%Sya🐼
Arlan jangan gitu... nanti bucin kan susah
pojok_kulon
Nanti juga kamu nempel terus Al
pojok_kulon
Berisik amat Al
j_ryuka
peluk peluk peluk
j_ryuka
ngapa di tempat sampah 😭😭kalau terbang lagi gimana
pojok_kulon
haduh Al jangan keras kepala
pojok_kulon
Sadis banget Arlan
Ria Irawati
yah nantangin nih bocah
SarSari_
udah ngincer dari awal toh ternyata,🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!