Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase Kecil
Di kediaman Wijaya pagi itu tidak lagi diawali dengan ketegangan yang mencekam. Sinar matahari menembus jendela kaca besar, memantul pada lantai marmer yang mengilap, namun suasana di meja makan tetap terasa sunyi yang sarat akan wibawa. Sasha duduk dengan anggun, mengenakan gaun kerja berwarna hitam pekat yang kontras dengan kulit putih porselennya. Di hadapannya, Gio duduk dengan tenang sembari menyesap kopi pahitnya, matanya sesekali melirik ke arah tablet yang menampilkan pergerakan pasar saham.
Meskipun Dimas sudah berada di balik jeruji besi, sisa-sisa badai belum sepenuhnya reda. Beberapa loyalis lama keluarga Satya masih mencoba bermain di air keruh, melakukan sabotase kecil pada rantai pasokan logistik Wijaya Group. Namun, bagi Sasha, itu hanyalah kerikil kecil yang mudah ditendang.
"Mereka mencoba memotong jalur distribusi di utara, Gio," ucap Sasha tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen digitalnya. "Sangat amatir."
Gio meletakkan cangkirnya perlahan. "Aku sudah mengirim tim untuk 'berdiskusi' dengan mereka semalam. Pagi ini, mereka seharusnya sudah mengerti bahwa bermain api denganmu hanya akan membakar tangan mereka sendiri."
Sasha tersenyum tipis, sebuah senyum yang mematikan. Ia tahu benar apa arti 'berdiskusi' dalam kamus Gio. Pria itu tidak pernah menggunakan kata-kata jika tindakan bisa menyelesaikan masalah dengan lebih permanen.
Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil menuju kantor pusat. Di sepanjang jalan, Gio tetap waspada, matanya terus memantau spion dan kendaraan di sekeliling mereka. Setelah kejadian di hotel luar kota itu, Gio meningkatkan protokol keamanan ke level tertinggi. Ia tidak lagi mengizinkan siapa pun mendekat dalam radius tiga meter dari Sasha tanpa pemeriksaan ketat.
Sesampainya di gedung Wijaya Group, Sasha disambut oleh barisan karyawan yang menunduk hormat. Aura kepemimpinannya kini terasa jauh lebih dominan. Ia bukan lagi sekadar ahli waris yang mencoba bertahan; ia adalah penguasa yang telah memenangkan perang besar.
Di ruang kerjanya, Sasha memanggil kepala divisi hukum. "Pastikan semua aset Dimas yang telah disita segera dikonversi menjadi saham yayasan. Aku ingin namanya dihapus sepenuhnya dari sejarah perusahaan ini."
"Baik, Nyonya. Namun, ada satu hal... pengacara Dimas mengajukan banding atas dasar kesehatan mental kliennya," lapor staf tersebut dengan ragu.
Sasha terdiam sejenak, namun sebelum ia bisa menjawab, suara rendah Gio terdengar dari sudut ruangan.
"Kesehatan mental?" Gio melangkah maju, tangannya masuk ke saku celana kainnya yang rapi. "Sampaikan pada mereka, jika mereka ingin bermain dengan kartu kegilaan, aku bisa memastikan Dimas benar-benar kehilangan akalnya di dalam sana. Katakan pada mereka untuk menarik banding itu dalam dua puluh empat jam, atau aku akan merilis rekaman keterlibatan pengacara itu dalam pencucian uang Satya."
Staf hukum itu menelan ludah, mengangguk cepat, dan segera undur diri. Sasha menoleh pada Gio, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau selalu selangkah lebih maju, bukan?"
"Aku hanya tidak suka melihatmu membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting, Sha," jawab Gio tenang.
Sore harinya, kejutan datang dari sumber yang tak terduga. Seorang informan lama yang bekerja untuk Dimas mengirimkan sebuah paket ke kantor Sasha. Di dalamnya terdapat sebuah kunci gudang tua di pelabuhan dan sebuah surat singkat bertuliskan: "Harta karun terakhir sang pecundang."
Sasha dan Gio memutuskan untuk memeriksanya sendiri malam itu. Dengan pengawalan ketat, mereka sampai di sebuah gudang terbengkalai yang berbau garam dan karat. Saat pintu dibuka, cahaya lampu senter Gio menyorot ke tengah ruangan.
Bukan emas atau uang tunai yang mereka temukan. Melainkan puluhan kotak berisi arsip rahasia tentang para pejabat yang selama ini menerima suap dari keluarga Satya untuk memuluskan jalan Dimas.
"Ini adalah bom atom," bisik Sasha, jemarinya menyentuh salah satu map. "Dengan ini, aku bisa mengendalikan setengah dari orang-orang berpengaruh di kota ini."
Gio memeriksa beberapa dokumen lainnya, lalu menatap Sasha dengan serius. "Atau ini bisa menjadi target di punggungmu, Sasha. Informasi sekuat ini membuat orang menjadi nekat."
"Maka itu adalah tugasmu untuk memastikan tidak ada yang berani menarik pelatuknya, Gio," balas Sasha dengan penuh percaya diri.
Ia mengambil salah satu map paling krusial, lalu menyerahkannya pada Gio. "Hancurkan sisanya. Kita hanya butuh yang paling penting untuk memastikan posisi kita tidak tergoyahkan selama puluhan tahun ke depan."
Gio mengangguk. Ia memerintahkan anak buahnya untuk membakar gudang itu setelah mereka mengambil apa yang diperlukan. Di bawah kegelapan malam, api besar melahap gudang tua tersebut, menghanguskan sisa-sisa dosa keluarga Satya untuk selamanya.
Kembali ke rumah, keheningan malam terasa begitu intim. Kelelahan fisik mulai merambat, namun ada rasa puas yang mendalam di hati Sasha. Ia berdiri di balkon kamarnya, merasakan angin malam menerpa wajahnya.
Gio datang menghampiri, membawakan sebotol wine merah dan dua gelas kristal. Ia menuangkannya perlahan, lalu memberikan satu gelas pada Sasha.
"Untuk kemenanganmu, Ratu," ucap Gio, mendentingkan gelasnya pada gelas Sasha.
Sasha menyesap minumannya, matanya menatap kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana. "Ini bukan hanya kemenanganku, Gio. Ini kemenangan kita."
Gio meletakkan gelasnya di atas pagar balkon, lalu menarik Sasha ke dalam pelukannya. Tangannya yang besar melingkar posesif di pinggang Sasha, memberikan rasa aman yang tak tertandingi oleh dinding beton mana pun.
"Aku memikirkan sesuatu," gumam Sasha, kepalanya bersandar di dada Gio.
"Apa itu?"
"Setelah semua kekacauan ini... apakah kita bisa benar-benar hidup normal? Tanpa senjata, tanpa ancaman, tanpa harus selalu waspada?"
Gio terdiam sejenak, menghirup aroma rambut Sasha yang harum. Ia tahu bahwa dunia mereka tidak akan pernah benar-benar 'normal'. Kekuasaan selalu menuntut tumbal. Namun, ia juga tahu bahwa ia akan melakukan apa pun untuk menciptakan ilusi kedamaian bagi wanita di pelukannya ini.
"Normal adalah hal yang membosankan untuk orang seperti kita, Sha," bisik Gio parau. "Tapi aku berjanji, aku akan membuat dunia ini berlutut sehingga kau tidak perlu lagi merasa terancam saat kau menutup mata."
Sasha mendongak, menatap mata hitam Gio yang berkilau di bawah cahaya bulan. Ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri di sana—seorang wanita yang telah menemukan tempat kembalinya.
Sasha menarik kerah kemeja Gio, membuat pria itu menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Hasrat yang sempat tertahan selama hari-hari yang sibuk kini kembali berkobar, jauh lebih panas dari api yang membakar gudang tadi.
"Kau tahu, Gio," bisik Sasha di depan bibir pria itu. "Terkadang aku merasa kau lebih berbahaya daripada semua musuhku jika kau sudah menatapku seperti ini."
Gio memberikan senyum tipis yang penuh dengan dominasi yang tertahan. Ia mengangkat Sasha dengan mudah, membuat kaki wanita itu melilit pinggangnya, lalu membawanya masuk menuju ranjang besar di dalam kamar.
"Bahaya adalah bagian dari diriku, Sasha. Dan kau adalah satu-satunya orang yang berhak memiliki seluruh sisi gelapku malam ini."
Sasha mendesah saat punggungnya menyentuh sprei sutra yang dingin, namun tubuh Gio yang panas segera menyelimutinya, menjanjikan malam panjang yang akan menghapus semua lelah dan ketakutan.
"Kalau begitu, hancurkan aku dengan caramu, Gio. Jangan sisakan satu bagian pun dari diriku yang tidak kau klaim."
Gio tidak menjawab lagi, ia langsung membungkam bibir Sasha dengan ciuman yang haus akan kepemilikan, membiarkan malam kembali menjadi milik mereka berdua sepenuhnya.