NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Pertemuan Yang Tak di Sadari

Lampu di ruangan kerja Arslan masih menyala, hanya menyisakan cahaya dari lampu meja yang menyorot tumpukan jurnal medis. Arslan memijat pangkal hidungnya yang terasa kaku setelah lima jam berdiri di ruang operasi. Keberhasilannya menyelamatkan nyawa bayi tadi seharusnya membuatnya lega, namun ada rasa gelisah yang tidak bisa ia jelaskan saat memikirkan pertemuan di kediaman pemimpin perusahaan Bell-Lau yang terkenal perfeksionis.

Ponselnya bergetar. Nama Ega muncul di layar.

"Ya, Pak Ega. Bagaimana hasilnya?" tanya Arslan, suaranya parau karena kelelahan.

"Berjalan lancar, Pak. Pihak mereka setuju untuk integrasi sistem. Namun, ada satu syarat yang cukup spesifik," Ega memberi jeda sejenak. "Untuk tahap uji coba prototipe di laboratorium pusat mereka di Jerman, mereka meminta perwakilan teknis dari AR-Tech yang berangkat. Tapi... pemimpin perusahaan itu menekankan dengan sangat tegas bahwa orang itu bukan Anda, Pak Arslan."

Arslan mengerutkan kening, ia menegakkan duduknya. "Bukan saya? Kenapa? Saya yang memegang algoritma utamanya. Logikanya, saya yang harus mengawasi uji coba di Jerman."

"Alasannya demi efisiensi waktu karena Anda adalah seorang dokter aktif, Pak. Mereka bilang mereka butuh orang yang bisa fokus 24 jam di lab tanpa terganggu urusan pasien. Saya rasa itu masuk akal," jelas Ega.

Arslan terdiam. Masuk akal, tapi terasa sangat personal, batinnya. Ia menghela napas panjang. "Baiklah, siapkan tim senior untuk berangkat ke Jerman. Saya akan pantau dari sini."

Setelah menutup telepon, Arslan memutar kursi kerjanya menghadap layar komputer. Jemarinya bergerak lincah mengetikkan nama Bell-Lau Technology pada mesin pencari. Ia ingin tahu siapa sebenarnya orang-orang di balik perusahaan itu yang begitu gigih menjauhkannya dari proyek ini.

Baru saja halaman profil perusahaan itu terbuka, pintu ruangannya diketuk dan terbuka sebelum ia sempat mempersilakan masuk.

"Dokter Arslan? Masih lembur saja?"

Seorang wanita cantik dengan jas dokter yang disetrika sempurna melangkah masuk. Dokter Gea. Senyumnya manis, namun matanya memancarkan ambisi yang jelas. Gea adalah dokter umum di rumah sakit yang sama, dan sudah menjadi rahasia umum bahwa ia mencoba mendekati Arslan sejak hari pertama Arslan bergabung.

Gea berjalan mendekat, meletakkan tas tangannya di atas meja Arslan, lalu sedikit membungkuk hingga aroma parfum floral-nya memenuhi ruangan. "Operasinya sukses kan? Aku dengar tadi kasusnya sulit sekali. Kamu pasti lelah dan lapar."

Arslan tidak mengalihkan pandangan dari layar. "Sudah tugas saya, dokter Gea. Ada perlu apa?"

Gea tertawa kecil, jemarinya dengan berani membetulkan letak stetoskop di leher Arslan. "Jangan dingin begitu. Sebagai sesama dokter, aku cuma mau memastikan rekanku tidak pingsan karena kurang nutrisi. Bagaimana kalau kita makan malam? Ada restoran Italia baru di dekat sini. My treat."

Arslan menutup tab pencarian di komputernya dengan cepat saat Gea mencoba melirik layarnya. Ia merasa tidak nyaman. Pikirannya masih tertuju pada Abel dan kemarahan Reno yang ia rasakan melalui pesan Rian tadi.

"Maaf, dokter Gea. Saya masih banyak pekerjaan administratif," jawab Arslan datar, berusaha menjaga jarak profesional.

"Pekerjaan tidak akan pernah habis, Arslan. Tapi kesehatanmu itu investasi," rayu Gea lagi, kini suaranya melembut, mencoba mencari perhatian pria yang dikenal sebagai pangeran es di rumah sakit itu.

Arslan berdiri, menyambar jasnya. "Terima kasih tawarannya, tapi aku ada janji lain. Selamat malam, dokter Gea."

Arslan melangkah keluar ruangan, meninggalkan Gea yang mendengus kesal. Ia tidak pergi makan malam. Ia masuk ke dalam mobilnya dan kembali membuka ponselnya. Ia menatap sebuah foto dirinya dengan Abel sewaktu SMA, saat mereka terjalin hubungan rahasia.

"Lo dimana, Bel? Gue kangen." Lirihnya, menenggelamkan wajahnya pada setir mobil.

......................

Untuk malam kesekian kalinya Arslan di tekan untuk lepas dari profesi dokter, kegelisahan Arslan mencapai puncaknya. Perdebatan dengan Papanya di meja makan tadi benar-benar menguras emosi. Sang Papa tetap bersikukuh bahwa gelar spesialis anaknya hanyalah pajangan, sementara Arslan merasa jiwanya ada di sana. Untuk meredam amarah, ia memutuskan kembali ke rooftop bar, bergabung dengan Bimo dan kawan-kawan lamanya.

"Lan, baru dateng udah kayak orang mau perang aja mukanya," celoteh Bimo sambil menyodorkan segelas minuman.

Arslan hanya tersenyum kecut, mencoba larut dalam tawa kawan-kawannya. Namun, jauh di sudut kota yang lain, suasana di kediaman Bellvania sangat mencekam.

Saat Abel selesai mengecek laporan kerja selama Reno dinas ke luar negeri, ia berjalan menuju kamar Farel. Abel yang bekerja di rumah seketika panik saat mendapati wajah Farel memerah dan tanpa tangisan.

"Farel... sayang, bangun, Nak," bisik Abel dengan suara bergetar. Tangannya menyentuh dahi Farel yang terasa sangat panas, seperti membara. Termometer menunjukkan angka 39.8°C.

Reno sedang berada di luar negeri untuk urusan proyek terbaru mereka, dan supir yang biasa mengantar jemput dirinya sedang pulang kampung. Abel panik. Tanpa pikir panjang, ia menyambar kunci mobil dan menyelimuti Farel dengan kain hangat. Dengan napas memburu, ia melajukan mobil menuju Rumah Sakit Pusat—tempat di mana ia tahu pelayanan darurat pediatri adalah yang terbaik.

Sesampainya di IGD, Abel berlari menggendong Farel. "Tolong! Anak saya... suhunya tinggi sekali dan dia mulai sesak!"

Perawat jaga segera mengambil alih Farel dan membawanya ke ruang tindakan. "Tenang, Mbak. Kami akan tangani segera. Tolong urus administrasinya dulu."

Di rooftop bar, ponsel Arslan bergetar. Sebuah nada khusus yang hanya menyala untuk panggilan darurat rumah sakit.

"Dokter Arslan, mohon maaf mengganggu. Ada pasien bayi usia 3 bulan dengan febrile convulsion dan riwayat prematuritas. Dokter jaga sedang menangani kecelakaan beruntun di ruang sebelah. Kami butuh keahlian Anda sekarang!"

Seketika, aura pria tongkrongan Arslan lenyap. "Saya ke sana dalam sepuluh menit. Siapkan diazepam dan oksigen!"

Arslan menyambar jaketnya, mengabaikan teriakan kawan-kawannya, dan melesat membelah jalanan malam Jakarta yang lengang.

Arslan tiba di rumah sakit, langsung mengganti pakaiannya dengan jas putih dokter dan masker medis yang menutupi sebagian wajahnya. Ia melangkah cepat ke ruang tindakan anak.

Di sana, di balik tirai, ia melihat seorang wanita muda berdiri membelakangi pintu. Wanita itu mengenakan kemeja santai, rambutnya pendeknya terurai indah, dan ia tidak memakai kacamata. Ia tampak begitu anggun namun rapuh, bahunya bergetar karena isak tangis yang tertahan.

Arslan tidak memerhatikan wanita itu secara detail. Fokusnya hanya satu: bayi di atas brankar.

"Suhu masih 39.5, Dok," lapor perawat.

Arslan segera memeriksa detak jantung Farel dengan stetoskopnya. "Anak ganteng... bertahan ya," bisiknya lembut. Gerakan tangannya sangat cekatan, menyuntikkan obat penurun panas dan memeriksa saturasi oksigen.

Abel membeku di tempatnya berdiri. Suara itu. Meskipun tertutup masker dan suasana medis yang kaku, frekuensi suara itu mengirimkan desiran yang luar biasa hebat ke sekujur tubuhnya. Jantung Abel berdegup lebih kencang daripada saat ia membawa Farel tadi.

Arslan? batinnya menjerit.

Abel menatap punggung pria itu. Postur tubuh yang lebih tegap, pundak yang lebih lebar, dan cara pria itu menangani Farel dengan begitu lembut namun tegas. Apakah ini benar Arslan? Jika benar, ini adalah Arslan yang berbeda—Arslan yang memiliki tujuan hidup, bukan Arslan yang brengsek dengan bertaruh 30 juta untuk sebuah perasaan.

Namun, Arslan sama sekali tidak menoleh ke arah Abel. Baginya, wanita di sampingnya hanyalah ibu atau wali dari pasiennya. Dengan masker yang menutupi wajahnya dan fokus penuh pada Farel, Arslan tidak menyadari bahwa gadis yang ia cari selama lebih dari lima tahun kini berdiri hanya satu meter darinya.

"Ibu, tolong tenang ya," ucap Arslan tanpa menatap Abel, matanya tetap pada monitor detak jantung. "Putra Ibu sudah melewati masa kritisnya. Suhunya mulai turun. Kita akan observasi di ruang rawat inap."

Abel tidak berani bersuara. Ia takut jika ia bicara, Arslan akan mengenalinya, dan ia belum siap untuk itu. Ia hanya mengangguk pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil terus menatap Farel.

Dalam hatinya, Abel merasakan kepedihan yang aneh. Pria yang dulu menghancurkan hatinya, kini menjadi pria yang menyelamatkan napas keponakannya—satu-satunya harta peninggalan Sarah.

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!