Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya yang Menghilang
Mereka mengubur Kirana di lereng kecil Gunung Lawu, di bawah pohon beringin tua yang akarnya menjulur seperti tangan pelindung. Tanah di sana masih hangat dari getaran Naga Tanah, tapi Jatayu bersikeras—ia ingin Kirana tidur di tempat yang dekat dengan api gunung, dekat dengan Phoenix yang pernah ia lindungi seumur hidupnya.
Banda menggali tanah dengan tangan kosong, meski air dari kekuatannya bisa saja membantunya. Ia ingin merasakan setiap genggaman tanah itu—rasa sakit, rasa bersalah, rasa kehilangan yang nyata. Jatayu berdiri di samping, goloknya tertancap di tanah sebagai tanda. Bayu hanya diam, mata merah karena menahan tangis—ia tidak terlalu dekat dengan Kirana, tapi kematian itu terasa seperti pukulan bagi semua orang.
Saat tanah terakhir ditimbun, Jatayu berlutut. Ia meletakkan kalung kecil berbentuk matahari dari batu api phoenix di atas gundukan tanah—kalung yang dulu Kirana pakai setiap hari.
“Kau selalu bilang… kau akan tetap menyala, meski dunia gelap,” bisik Jatayu, suaranya pecah. “Tapi sekarang… kau pergi duluan. Dan aku… aku tidak bisa memaafkan diriku karena membiarkan itu terjadi.”
Banda berlutut di sampingnya, tangannya memeluk bahu Jatayu. “Ini bukan salahmu. Ini kutukan. Dan Kirana… dia memilih melindungi kita. Dia mati dengan senyum, Jatayu. Dia tidak menyesal.”
Jatayu menunduk, air mata jatuh ke tanah—air mata emas yang menguap jadi uap tipis sebelum menyentuh gundukan. “Aku seharusnya yang mati. Aku yang seharusnya membayar harga untuk pengkhianatan Garini. Bukan dia. Dia tidak pernah memilih jalan ini.”
Bayu berdiri di belakang, suaranya pelan tapi tegas. “Kirana tidak akan ingin kalian menyalahkan diri sendiri. Dia bilang… dia ingin melihat kalian bahagia. Jadi… jangan sia-siakan itu. Kita lanjut. Demi dia.”
Jatayu mengangguk pelan. Ia bangkit, menyeka wajahnya. “Kita lanjut ke puncak. Kristal cahaya ada di sana. Dan kalau Naga Cahaya bangun… kita akan hadapi apa pun yang datang.”
Mereka meninggalkan makam kecil itu saat fajar menyingsing. Langit berwarna merah darah—seolah langit sendiri berduka. Angin membawa bau abu dan hujan yang akan datang, tapi tidak ada suara burung atau binatang. Hanya keheningan yang mencekam.
Pendakian ke puncak Lawu terasa lebih berat. Setiap langkah seperti menarik beban tak terlihat. Banda merasakan kutukan semakin dalam—suara di kepalanya sekarang bukan lagi bisikan, tapi teriakan yang jelas:
“Bunuh dia. Bunuh Phoenix itu. Hanya dengan darahnya kau akan bebas. Hanya dengan nyawanya kau akan menjadi raja sejati.”
Ia berhenti di tengah jalur, tangannya menekan dada. Napasnya tersengal. Jatayu langsung mendekat, tangannya menyentuh lengan Banda.
“Banda… apa yang kau rasakan?”
Banda menggeleng, tapi matanya sudah mulai berubah—biru gelap bercampur hijau beracun sejenak. “Suara itu… semakin kuat. Dia bilang kalau aku tidak bunuh kau sekarang… dia akan bangkit sepenuhnya dan menelan kita semua.”
Jatayu memegang wajah Banda dengan kedua tangan. “Lihat aku. Dengar aku. Suara itu bukan kau. Itu kutukan. Itu Naga Tanah yang mencoba mengendalikanmu. Tapi kau lebih kuat dari itu.”
Banda menutup mata. “Aku takut, Jatayu. Aku takut kalau aku kehilangan kendali lagi… aku benar-benar akan membunuhmu. Dan kali ini… tidak ada Kirana untuk menghalangi.”
Jatayu menarik Banda ke pelukannya. “Kalau itu terjadi… aku akan mati dengan senang hati. Karena aku tahu kau mencintaiku. Dan itu lebih berarti daripada hidup abadi tanpa kau.”
Bayu yang mendengar dari belakang menelan ludah. “Kalian… kalian tidak boleh bicara seperti itu. Kita masih punya harapan. Kristal cahaya… mungkin itu yang bisa mematahkan semuanya.”
Mereka melanjutkan pendakian. Malam tiba saat mereka hampir di puncak. Kuil cahaya terlihat samar di kejauhan—bangunan batu putih yang sudah retak, tapi masih memancarkan cahaya samar seperti bintang jatuh yang tertahan di bumi.
Begitu mereka mendekat, cahaya itu tiba-tiba padam.
Kegelapan menyelimuti semuanya.
Dari dalam kuil, suara langkah berat terdengar—bukan langkah manusia. Naga Cahaya muncul di pintu kuil: tubuhnya ramping, bersisik putih keperakan, mata seperti matahari yang redup. Tapi ada sesuatu yang salah—sisiknya retak-retak, dan dari retakan itu mengalir darah hitam pekat. Kutukan Naga Tanah sudah merembes ke dalamnya juga.
“Anak campuran…” suara Naga Cahaya seperti angin yang berbisik melalui cahaya. “Kau membawa tiga kristal. Tapi cahaya terakhir adalah milikku. Dan aku… sudah tidak lagi murni.”
Banda maju, kristal ketiga di tangannya menyala putih. “Kami datang untuk mematahkan kutukan. Bukan untuk bertarung denganmu.”
Naga Cahaya menggeleng pelan. “Kutukan sudah terlalu dalam. Aku sudah melihat masa depan. Satu dari kalian harus mati. Kalau tidak… dunia akan kembali ke kegelapan abadi.”
Jatayu melangkah ke samping Banda. “Kalau itu benar… biarkan aku yang mati. Aku sudah siap.”
Banda menarik Jatayu ke belakang. “Tidak. Tidak ada yang mati malam ini.”
Naga Cahaya tertawa pelan—suara yang seperti kristal pecah. “Kau masih tidak mengerti. Kutukan bukan hanya memaksa pilihan. Ia memaksa pengorbanan. Dan pengorbanan itu sudah dimulai sejak Kirana mati. Sekarang… giliran salah satu dari kalian.”
Tanah di sekitar kuil retak lagi. Tangan lumpur muncul—Naga Tanah tidak mau kalah. Ia muncul dari bawah, tubuh raksasa lumpur dan batu yang lebih besar dari sebelumnya, mata hijau beracun menyala terang.
“Kalian pikir kalian bisa mengalahkan aku?” raung Naga Tanah. “Aku adalah tanah itu sendiri. Aku adalah akhir dari segalanya. Dan anak campuran… kau akan menjadi senjataku.”
Banda merasakan kutukan mencapai puncak. Tubuhnya berubah lagi: sisik muncul penuh, mata berubah hijau, dan tangannya mengarah ke Jatayu. Air membara muncul dari tanah, kali ini lebih besar—ombak yang siap menenggelamkan segalanya.
Jatayu tidak mundur. Ia malah memeluk Banda erat, api Phoenix-nya menyala penuh.
“Ingat aku,” bisiknya. “Ingat kita. Ingat Kirana yang mati untuk kita. Jangan biarkan kutukan menang.”
Banda berjuang melawan suara di kepalanya. “Aku… aku tidak bisa… aku tidak mau…”
Bayu berteriak dari belakang. “Banda! Lawan itu! Kau lebih kuat dari kutukan!”
Tapi tubuh Banda sudah tidak lagi miliknya. Ombak membara meluncur ke arah Jatayu.
Jatayu tidak menghindar. Ia hanya memeluk lebih erat.
Dan saat ombak itu hampir menyentuh, cahaya dari kristal ketiga meledak—putih murni, menyilaukan. Naga Cahaya menggeram kesakitan, tapi cahaya itu menyelimuti Banda dan Jatayu.
Di dalam cahaya itu, visi terakhir muncul: Garini, ayah Banda, Kirana kecil, dan Naga Cahaya muda berdiri bersama. Garini berbisik: “Kalau suatu hari kutukan mencoba memisahkan api dan air… ingat: cahaya lahir dari kegelapan. Dan cinta lahir dari pengorbanan.”
Cahaya memudar. Ombak membara surut. Tubuh Banda kembali normal. Naga Tanah meraung terakhir, tubuhnya runtuh kembali ke tanah—kali ini benar-benar hancur, meninggalkan hanya retakan besar dan abu.
Naga Cahaya berdiri di depan mereka, sisiknya mulai pulih. “Kalian… mematahkan bagian pertama kutukan. Tapi Naga Tanah bukan satu-satunya ancaman. Ada kegelapan yang lebih besar di luar empat raja. Dan kristal cahaya… adalah pintu ke sana.”
Ia menunduk, meletakkan kristal cahaya putih murni di depan Banda.
“Ambil. Tapi ingat: cahaya bukan akhir. Ia adalah awal dari perang baru.”
Banda mengambil kristal itu. Cahaya putih menyatu dengan ketiga kristal lain—menghasilkan bola cahaya emas yang melayang di antara mereka.
Jatayu memeluk Banda erat, air mata mengalir. “Kita… kita selamat.”
Banda memeluk balik. “Untuk Kirana. Untuk Garini. Untuk kita.”
Bayu tersenyum lelah. “Dan sekarang… apa selanjutnya?”
Bola cahaya berputar pelan, lalu membentuk visi baru: dunia di luar empat raja—kegelapan yang lebih besar, makhluk yang lebih tua, ancaman yang belum terlihat.
Naga Cahaya berbisik sebelum menghilang kembali ke kuil: “Perang baru dimulai. Dan kalian… adalah harapan terakhir.”
Mereka bertiga berdiri di puncak Lawu, memandang langit yang mulai cerah.
Tapi di hati mereka, duka atas Kirana masih membara.
Dan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.