Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, bahkan saat orang tua pemuda itu tidak setuju, mampukah mereka bersatu memperjuangkan cinta mereka. baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta izin calon mertua
Wajah Dewa langsung terlihat tidak suka melihat kedua cowok yang katanya teman sang pacar, pasalnya mereka dekat sekali, bahkan mereka berempat cekikikan, entah apa yang dibahas dibawah pohon jambu.
“Ada yang cemburu kek nya." seloroh Tian dengan senyum menggoda. Dan langsung mendapat tatapan tajam oleh Dewa, ia mendengus kesal, entahlah, ia benar-benar tidak suka melihat pemandangan diluar sana.
"Yuk, kita keluar, cari baju pasti disini ada toko baju kan, gak mungkin gak, ini juga bukan desa pelosok, masa iya gak ada." ajak Tian lagi, namun tidak mendapat jawaban, mata Dewa masih awas melihat keluar dimana Ana dan teman-temannya masih asik ngobrol, Dewa berdiri dan berjalan keluar membuat Tian kesal, karena omongan nya tidak mendapat respon malah ia ditinggal begitu saja.
"Pendek, ayo cepat antar, kita mau beli baju," ucap Dewa yang sudah berdiri dibelakang Ana yang duduk santai di atas balai lebar yang terbuat dari bambu setinggi pinggang.
"Sekarang?" tanya Ana menoleh menatap Dewa yang mukanya terlihat kesal.
"Iya keburu malam, belum mandi, ya walau pun aku gak mandi tetap ganteng, tapi kan gak nyaman." jawab Dewa narsis membuat Ana hampir tersedak. Sedangkan kedua pemuda itu hampir muntah mendengar ucapan Dewa yang kelewat pede, walau pun yang dikatakannya benar, Dewa memang ganteng pool. Dewa langsung mengangkat tubuh Ana tanpa permisi menurunkannya dari duduk santai nya.
"Mas Dewa ih.. Aku bisa turun sendiri." protes Ana yang malu dilihatin temannya.
"Lama, nanti kamu jatuh." ucap Dewa datar, membuat Ana gemas sekali ingin mencakar wajah tampan Dewa.
"Pamit dulu sama emak, trus sekalian nanya bapak dimana ada penginapan." ucap Ana Dewa mengangguk. Sebelum mereka melangkah Ana menoleh kearah Eli.
"El, jangan pergi, kamu harus ikut." peringat Ana, tanpa menunggu balasan masuk kedalam rumah, diikuti Dewa dibelakangnya, seperti anak ayam yang selalu ikut serta induknya. Ana mengetuk pintu kamar orang tuanya, tidak lama pintu terbuka dan muncullah sang emak.
"Napa?" tanya emak Ningsih singkat menatap anaknya dengan mata yang masih setengah mengantuk membuat Dewa hampir tertawa.
"Mau ijin antar mas Dewa beli baju, bapak mana?" ucap Ana, yang juga mempertanyakan keberadaan bapaknya.
"Masih tidur, kenapa dah nyari bapakmu." jawab emak Ningsih malas.
"Mau nanya emang disekitar sini ada penginapan ya Mak selain di kabupaten?" tanya Ana, membuat emak Ningsih memicingkan matanya.
"Lha ngapain kamu cari penginapan." tanya emak Ningsih yang masih tidak paham.
"Dewa Mak, yang mau cari penginapan" sahut Dewa biar tidak panjang lebar.
"Eh.. Lho ternyata belum pulang, kirain sudah pulang," ucap emak Ningsih kaget.
"Belum mak, besok rencana masih mau jalan-jalan mumpung lagi liburan, bosen lihat gedung terus." jawab Dewa tersenyum ramah pada calon mertua.
"Oh, iya disini banyak tempat wisata biar diantar Ana besok, pasti belum tahu tempatnya, gak usah cari penginapan, nginap disini saja, nanti tidur dikamar Ana, biar Ana tidur sama adeknya, penginapan jauh hanya ada di kabupaten, nanti biar bapak izin sama pak RT,." ucap emak Ningsih membuat Dewa semakin tersenyum senang bukan kepalang.
"Terimakasih lho Mak, maaf ngerepotin jadinya." balas Dewa fuul senyum, membuat Ana manyun.
"Udah gak papa, masa tamu harus ditelantar kan, apa lagi temannya Ana yang sudah jauh-jauh datang kesini." ucap emak Ningsih, membuat Ana menggerutu.
"Kayaknya emak kali ini kesambet, kok normal pikirannya." gumam Ana yang masih bisa didengar oleh emaknya dan langsung mendapatkan cubitan di lengannya. Ana meringis.
"Mulutnya, emang kamu pikir emak mu ini gila apa, sudah sana pergi nanti kemalaman, ditoko Bu Ros ada khusus baju laki-laki." ucap emak Ningsih memberi tahu.
"Aelah iya, Ana juga tahu, pamit dulu kalau gitu." ucap Ana meraih tangan emak nya dan diciumnya diikuti oleh Dewa.
"Hati-hati jangan ngebut." teriak emak Ningsih yang hanya diacungi jempol oleh Anaknya.
"Kampret bener tuh anak, kok bisa temenan ma cowok-cowok ganteng, anak emak emang keren." ucap emak Ningsih lirih sembari tersenyum lucu.
"Dah yuk berangkat," ajak Dewa melempar kunci mobil kearah Tian, yang dengan sigap menangkap kunci tersebut dan berdiri mengikuti mereka keluar rumah. Disana sudah ada Eli yang menunggu sedangkan kedua sahabat laki-lakinya sudah raib entah kemana.
"Lha kemana dua curut?" tanya Ana enteng.
"Pulang lah, tuan rumah menelantarkan." jawab Eli menohok.
"Ya maaf lupa aku tadi tidak pamit." jawab Ana tersenyum konyol, sembari mengikuti langkah kedua cowok itu untuk masuk mobil, kedua cowok berada didepan dan kedua cewek itu berada dibelakang, mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Jauh gak Na?" tanya Tian memecah kesunyian.
"Gak kak, keluar gang belok kiri lurus aja, pas dipinggir jalan ada tulisannya besar toko Bu Ros, sebelah kiri jalan." jawab Ana lengkap.
"Ok, siip." jawab Tian mengerti. Kedua cowok itu membiarkan kedua cewek dibelakang mengoceh dengan riang sedangkan mereka jadi pendengar setia, yang sesekali tersenyum mendengar pembicaraan random kedua cewek itu. Tidak lama mereka sampai ditoko yang dimaksud, toko itu lumayan besar Ana masuk diikuti kedua cowok tampan yang seakan jadi bodyguard.
"Dah pilih, kita tunggu disini." ucap Ana, namun Dewa malah mengandeng lengan Ana.
"Enak aja, loe ikut lah, nanti kalau gue hilang gimana, loe gak punya pacar lagi nanti." ucap Dewa sekenanya.
"Gak usah lebay." jawab Ana malas, Dewa hanya tersenyum terus mengandeng tangan Ana sembari melihat baju-baju. Meninggalkan Tian dan Eli yang sama-sama mendengus kesal karena di tinggal kan begitu saja sama pasangan somplak.
"Kaosnya begini semua yang.." tanya Dewa memegang kain kaos yang walaupun lembut tidak sama dengan kaosnya.
"Ada nya disini ya begini mas, udah gak usah cerewet, mas Dewa pake apa aja udah ganteng kok." ucap Ana memuji biar drama beli baju tidak lama. Senyum Dewa mengembang, entahlah dipuji Ana hatinya seperti taman bunga yang sedang mekar, padahal kata-kata Ana sudah sering ia dengar, tapi, begitu Ana yang mengucapkannya serasa berbeda ditelinga dan hati Dewa. Ia jadi senyum-senyum tidak jelas.
"Pilihkan yang, aku nurut aja." jawab Dewa, Ana mengangguk, sementara Eli dan Tian saling diam, canggung, tidak tahu harus ngobrol apa, Tian pun memilih baju walau tidak sesuai keinginannya, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena memang toko itu bukanlah butik yang sering ia datangi, jadi kualitas baju pun sudah pasti berbeda, jadi tidak bisa protes.
"Yang.." panggil Dewa pelan.
"Apa sih mas, geli tahu jangan manggil gitu." jawab Ana sewot.
"Hehe.. Anu yang sempak.." ucap Dewa. Alamak.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰