Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar malam
Teriakan Dewa membuat Ana mendengus kesal, akhir-akhir ini, Dewa jadi tambah cerewet.
“Cepat pendek, nanti kita kemaleman.” teriaknya lagi, Ana muncul dari pintu kamarnya.
“Mas Dewa itu bisa gak sabar dikit, emang aku pesulap, tinggal jentik jari trus baju ganti sendiri, heran, dah ayok,” omel Ana, Dewa hanya mesem, mengikuti langkah pendek Ana, Dewa bahkan sudah tersenyum.
“Astaga langkahnya saja setengah langkahku,” gumam Dewa, mereka sudah sampai dihalaman rumah.
“Pake motor aja mas, biar cepat.” beritahu Ana.
“Ogah, kaki ku panjang, susah kalau naik motor, mana motor matic lagi.” jawab Dewa keberatan.
“Trus mas Dewa mau pake mobil mas Dewa yang milyaran, mau jadi pusat perhatian gitu, nanti kalau kenapa-kenapa sama mobilnya nyalahin aku lagi, bisa seumur hidup mas aku bayar hutang, gak mau aku “ seloroh Ana.
“Itu yang aku mau, kontrakmu seumur hidup.” balas Dewa cuek.
“Enak aja, udah kayak suami istri aja seumur hidup.” sahut Ana tidak terima, Dewa mesem.
“Ya jadi suami istri juga gak papa, aku ganteng, tajir, baik, kurang apa lagi.” jawab Dewa percaya diri.
“Eleh, tajir dari mana, jajan aja masih minta orang tua, yang tajir orang tua mas Dewa, bukan mas Dewa.” sahut Ana pedes, layak seblak level sepuluh.
“Gak gitu dong, harta orang tua kan harta anak, gue kan anak satu-satunya, ya sama aja harta gue lah, orang tua kan nyari uang buat gue habisin, mubazir nanti kalau gak dipake, sesimpel itu lho, gak usah ribet.” ucap Dewa sambil cengar-cengir.
“Gak mandiri, kapan kita berangkatnya ini, dari tadi debat mulu.” tanya Ana mendengus kesal.
“Loe yang ngajak debat ya ikan buntal, mana kunci motornya.” jawab Dewa.
“Mas Dewa bisa naik motor?” tanya Ana curiga, kalau majikannya ini tidak bisa pakai motor, melihat gelagatnya. Dewa cengengesan.
“Tinggal gas dan rem to.” jawab Dewa santai.
“Dhas mu!, (kepala mu) aku gak mau mati muda ya, sebentar lagi mana lebaran,” kesal Ana, ia bisa gila menghadapi Dewa, naik motor pun tidak bisa , hidup di jaman apakah majikannya ini. Ana menghampiri motor matic, keluaran Suzuki, yang baru pertama kali keluar dulu itu, Dewa sudah meringis melihatnya.
“Ayo mas, buruan naik.” perintah Ana.
“Gak ada yang lain?” Dewa malah bertanya.
“Emang mas Dewa pernah beli motor?” tanya balik Ana, Dewa menggeleng.
“Trus ini motor siapa?” tanya Dewa lagi.
“Pak satpam, buruan naik cepat, kapan berangkatnya kita ini, ngoceh mulu.” jawab Ana kesal, dengan ragu Dewa naik ke boncengan, Dewa menutup matanya, kakinya yang panjang sungguh akan tersiksa, inilah alasan kenapa Dewa sangat malas naik motor. Ana tersenyum, memberi Dewa helem berwarna putih bergambar kartun, membuat Dewa menghela nafas pasrah, ia sudah berjanji, seperti apa pun ia akan menepati. Motor itu perlahan melaju, jantung Dewa sungguh dah dig dug takut, sepanjang perjalanan ia hanya diam kaku seperti robot, berpegangan diatas kedua lututnya yang mulai gemetar, atas aksi Ana yang naik motor sedikit bikin spot jantung, bahkan Dewa berjanji setelah ini akan belajar naik motor agar si pendek tidak membonceng nya lagi, cukup ini terakhir kalinya Dewa berada dibelakang boncengan pacar uniknya, beda dengan Ana yg malah tersenyum ceria, tidak merasakan kalau yang dibonceng sudah hampir membeku karena ketakutan, takut motor yang mereka kendarai akan nyungsep, Ana malah menikmati perjalanannya, sudah lama sekali ia tidak merasakan sebebas ini, jalan-jalan naik motor. Tidak lama mereka sampai, Dewa yang masih shock belum beranjak.
“Mas, turun.” Ana menoleh kearah Dewa, dan ia hampir tergelak melihat wajah Dewa yang sudah pucat pasi.
“Awas loe ketawa.” ancam Dewa yang tahu gelagat Ana yang menahan tawa.
“Gak kok, siapa yang mau ketawa.” Ana melipat bibirnya.
“Loe itu bukan Valentino Rossi ya, main zig-zag naik motor, pantes aja loe nabrak gue.” Omel Dewa turun dari motor, walau masih sedikit gemetar.
“Apa sih, Cuma gitu doang, penakut, dah yuk lah.” ajak Ana yang sudah melepas helm nya. Pasar malam yang sedikit jauh dari rumah Dewa itu sangat ramai, semua adalah rekomendasi mba Wati, bukan hanya pasar malam tapi juga ada banyak permainan, mata Ana berbinar melihat itu, sementara Dewa melongo, bingung, banyak penjual makanan, membuat Ana semakin ngiler dibuatnya.
“Ayo mas.” ajak Ana tidak sabar melihat biang Lala.
“Tunggu, ini aman tidak, bagaimana kalau kamu nanti hilang, banyak orang begini.” ucap Dewa khawatir kalau mereka terpisah.
“Aku dah gede mas, tahu juga jalan pulang “ jawab Ana santai. Dewa langsung menggenggam tangan Ana.
“Biar kamu gak nyasar.” ucap Dewa serius, Ana menghela nafas, Dewa memperlakukannya seolah ia anak kecil.
“Seharusnya yang takut itu aku mas, takut mas Dewa nyasar, kan gak pernah ketempat gini.” jawab Ana.
“Ya makanya, jangan lepas genggamannya, tangan mu kecil banget sih.” ucap Dewa, melihat tangan Ana yang begitu kecil di genggamannya, Ana hanya memutar bola matanya malas.
“Ngeles, bilang aja mas Dewa yang takut, kalau terpisah.” ucap Ana, membuat Dewa cengengesan, karena itu benar, bukannya takut hilang, Dewa hanya merasa belum nyaman saja, tidak pernah berkunjung ketempat seperti itu, kalau sampai kehilangan Ana kan berabe, kemana ia mencari karena begitu banyak pengunjung berdesakan.
“Dah yuk, kita kemana dulu?” tanya Dewa pasrah.
“Naik biang Lala.” jawab Ana sembari menunjuk permainan berputar itu, membuat Dewa meneguk salivanya pelan.
“Yakin yang itu?” tanya Dewa ketar-ketir.
“Yakin lah, atau jangan-jangan mas Dewa yang takut?” tanya balik Ana, menantang.
“Gak lah, masa cowok takut hanya naik begitu, ayok lah.” jawab Dewa sok berani menutupi kegugupannya, hancur harga dirinya kalau sampai tahu ia takut, Ana tersenyum dan mengangguk mereka pun membayar tiket, dan masuk kedalam kotak persegi itu, Dewa sudah berkeringat dingin saat duduk, Ana mengawasi, ingin ia ketawa melihat wajah Dewa yang dibuat berani itu, saat roda mulai berputar Dewa memejamkan mata.
“Mas Dewa,” panggil Ana, Dewa langsung membuka mata.
“Apa pendek.” jawab Dewa singkat masih menormalkan degup jantungnya.
“Lihat pemandangannya indah banget.” ucap Ana tersenyum sumringah, Dewa pun mengedarkan pandangannya dan memang sangat indah dilihat dari atas.
"Mas Dewa baru pertama kali naik beginian?" tanya Ana, walau pun ia sudah tahu jawabannya. Dewa berdehem.
"Ya gitu, aman gak nih, awas ya kalau sampe terjadi apa-apa, kamu tanggung jawab." ucap Dewa yang masih khawatir.
"Tenang, aman mas." jawab Ana namun tiba-tiba roda biang Lala berhenti membuat Dewa berteriak.
“Asu!..."
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰