menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19 Memori yang Meluap
Saka terbangun di lantai toko Ki Ganda dengan rasa sakit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Di dalam kepalanya, jutaan baris kalimat dalam bahasa Yunani, Latin, Ibrani, dan bahasa-bahasa kuno yang telah punah saling beradu. Ia bisa melihat peta bintang yang belum ditemukan, rumus alkimia yang berbahaya, dan silsilah keluarga yang seharusnya terkubur bersama abu Alexandria.
Setiap kali ia mengedipkan mata, kilasan teks papirus menutupi pandangannya. Tubuhnya gemetar hebat; pembuluh darah di pelipisnya menonjol, berdenyut seirama dengan detak Arloji Void yang kini meredup.
"Saka! Tetap sadar!" Luna mengguncang bahunya. Wajah gadis itu tampak sangat pucat. "Otak manusia tidak dirancang untuk menampung seluruh literatur peradaban. Jika kau tidak segera mengeluarkan informasi itu ke medium yang tepat, kesadaranmu akan terhapus dan digantikan oleh data murni."
Saka mencoba bicara, namun yang keluar dari mulutnya hanyalah deretan angka koordinat kuno. Suaranya terdengar seperti tumpang tindihnya ribuan bisikan.
Di punggung tangannya, angka I berkedip semakin cepat. Waktunya tidak lagi dihitung dalam jam, melainkan menit.
Sementara itu, di rumah Saka, suasana mendadak mencekam. Anita, yang sedang membantu ibu Saka merapikan meja makan, tiba-tiba menjatuhkan gelas kaca hingga pecah berkeping-keping. Ia memegangi kepalanya yang mendadak pening.
"Anita? Ada apa, Nak?" Ibu Saka mendekat dengan cemas.
"Aku... aku melihat Saka, Tante," bisik Anita dengan mata melotot ketakutan. "Tapi dia tidak di sini. Dia sedang terbakar... dia sedang membawa buku-buku yang sangat banyak... dan dia memanggil namaku."
Ibu Saka tertegun. Ia menyadari bahwa putranya kembali terjebak dalam sesuatu yang di luar nalar. Namun, sebelum ia bisa menjawab, bayangan di bawah kaki mereka mulai memanjang dan bergerak menuju pintu keluar. Semua bayangan di rumah itu seolah-olah memiliki tujuan yang sama: Menuju Jalan Braga.
Toko Jam Ki Ganda, 22.00 WIB
Saka merangkak menuju meja kerja Ki Ganda yang penuh dengan tumpukan kertas kosong dan arloji rusak. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Dengan menggunakan Tinta Keabadian yang mengalir dalam darahnya, ia menusukkan ujung jarinya yang tajam ke atas meja.
Cairan perak keluar dari ujung jarinya. Saka mulai menulis.
Tangannya bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, seperti mesin cetak otomatis. Ia menyalin teks-teks Alexandria ke atas permukaan meja, dinding, hingga lantai toko. Huruf-huruf itu bersinar biru redup, mengunci pengetahuan kuno tersebut ke dalam struktur fisik bangunan itu.
Namun, setiap baris yang ia salin menguras energi kehidupannya. Rambutnya yang semula hitam kini hampir separuhnya memutih. Kulitnya tampak pucat dan keriput mulai muncul di sudut matanya. Saka sedang menua sepuluh tahun setiap jamnya.
"Saka, berhenti! Kau akan mati sebelum selesai!" Luna mencoba menarik tangan Saka, namun sebuah perisai energi perak terpental darinya.
"Aku... harus... menyimpannya..." suara Saka terdengar berat, serak oleh beban ribuan tahun. "Jika... pengetahuan ini hilang... pintu... masa depan... akan tertutup..."
Tiba-tiba, pintu depan toko hancur berkeping-keping. Bukan oleh polisi, melainkan oleh sekumpulan The Unwritten yang kini telah menyatu menjadi satu entitas raksasa setinggi tiga meter. Makhluk itu terbuat dari bayangan hitam yang pekat, dengan ribuan wajah yang meronta-ronta di permukaan kulitnya.
"Perpustakaan itu... milik kami..." suara entitas itu menggetarkan kaca-kaca jam di seluruh toko. "Berikan Tinta Keabadian itu, atau kami akan menghapus namamu dari setiap ingatan manusia!"
Saka berhenti menulis sejenak. Ia menoleh ke arah entitas itu dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna perak murni. Pengetahuan Alexandria yang ada di kepalanya memberinya satu informasi yang tidak dimiliki siapapun: Nama asli dari kegelapan tersebut.
"Kalian bukan lagi The Unwritten," ucap Saka, suaranya kini tenang namun berwibawa. "Kalian adalah Amnesia, parasit yang lahir dari ketakutan manusia akan dilupakan. Dan aku adalah penjaga dari semua yang diingat."
Saka mengangkat tangannya yang bersimbah tinta perak. Ia tidak menyerang dengan fisik. Ia "menuliskan" sebuah perintah di udara. Cahaya perak membentuk segel raksasa yang membelenggu entitas bayangan tersebut.
"Aku menuliskan takdir kalian di sini: Kalian adalah tiada, dan akan tetap menjadi tiada!"
Ledakan cahaya perak menghantam entitas itu hingga hancur menjadi serpihan debu hitam. Namun, ledakan itu juga menghabiskan sisa tenaga Saka. Ia tumbang, jatuh telentang di tengah lautan tulisan kuno yang menyelimuti lantai toko.
Di saat yang sama, Anita muncul di pintu toko yang hancur. Ia melihat Saka yang tergeletak, melihat rambutnya yang memutih, dan melihat seluruh ruangan yang dipenuhi tulisan cahaya.
"Saka!" Anita berlari dan memeluk kepala Saka. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu jadi seperti ini?"
Saka menatap Anita dengan pandangan yang mulai kabur. Angka di tangannya kini menunjukkan angka 0.
"Nit... aku... sudah menuliskan jalan pulang untukmu..." bisik Saka.
Tiba-tiba, seluruh tulisan cahaya di dinding dan lantai mulai meresap masuk ke dalam tubuh Anita. Sebagai sauh (jangkar) hidup Saka, Anita adalah satu-satunya medium yang bisa menyimpan pengetahuan itu tanpa hancur, karena ia terikat oleh cinta, bukan oleh takdir waktu.
Saka memejamkan mata. Detak jantungnya melambat hingga hampir berhenti.
Luna berdiri di sudut, menundukkan kepalanya. Ia tahu bahwa meskipun Saka berhasil menyelamatkan pengetahuan dunia dan mengalahkan bayangannya, ia baru saja membayar harga tertinggi: Jiwa manusiawinya kini telah sepenuhnya menyatu dengan aliran waktu.
Namun, tepat saat napas terakhir Saka hendak keluar, arloji saku di lantai yang tadinya mati, tiba-tiba berdetak kembali. Bukan suara tik-tok biasa, melainkan suara melodi yang sangat indah.
Sebuah tangan tua yang transparan menyentuh bahu Anita. Itu adalah roh Ki Ganda.
"Masih ada satu detik lagi, Nak," bisik Ki Ganda. "Detik yang tidak pernah ditulis oleh siapapun. Detik yang menjadi milik mereka yang berani berkorban."