Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghilang
Anak kucing itu tidak langsung pergi.
Ia tetap berada di pangkuan Elenna, kecil dan hangat, seolah memang seharusnya berada di sana. Bulu peraknya lembut, berkilau samar di bawah sinar matahari yang menembus sela dedaunan. Matanya yang merah tidak sekadar cerah, itu terlalu dalam untuk seekor hewan liar.
Seolah ia tidak hanya melihat wajah Elenna. Melainkan menimbangnya. Elenna menelan pelan, lalu mengangkat tangannya perlahan. Ia membelai kepala kecil itu dengan ujung jarinya.
“Apa kau tersesat?” bisiknya.
Kucing itu tidak menjawab, tentu saja karena ia adalah hewan. Namun, ia bergerak lebih dekat. Menggosokkan kepalanya ke telapak tangan Elenna. Dengkurannya pelan, stabil, ritmis seperti detak jantung yang menenangkan.
Untuk sesaat, sesuatu di dada Elenna melunak. Ia tidak merasa sedang menyelamatkan makhluk kecil itu. Justru sebaliknya. Seolah makhluk kecil itu datang untuk menemukannya, dan ia merasa tenang sejenak atas segala yang terjadi padanya.
Angin berembus lembut, membuat rambut Elenna tersibak tipis. Daun-daun berdesir, menciptakan irama alami yang sunyi tetapi hidup. Ia menunduk lagi, hendak membelainya-
Kosong. Tidak ada gerakan. Tidak ada lompatan. Tidak ada bayangan bulu perak. Kucing itu tidak pergi. Ia… lenyap. Seperti mimpi yang terpotong sebelum selesai.
Elenna berkedip keras. Ia berdiri cepat, hampir tersandung ujung gaunnya. Tangannya menyibakkan semak, memeriksa tanah, bahkan mendongak ke atas cabang pohon.
“H-Hei…”
Hening.
Hutan seolah tidak pernah menyimpan kehidupan barusan.
Namun, hangat kucing itu di pangkuannya masih tersisa. Ia yakin itu nyata. Jantungnya berdegup lebih cepat dari seharusnya. Beberapa menit berlalu sebelum ia akhirnya menyerah. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Mungkin hanya bersembunyi…”
Namun, ada sesuatu yang terasa tidak selesai. Dengan langkah yang lebih lambat, ia kembali ke taman utama.
Paviliun terlihat berbeda dari sebelumnya, lebih sepi, lebih teratur, lebih formal.
Seolah ruang itu baru saja dipersiapkan untuk panggung yang lebih penting. Dan di tengahnya, putri Isabella berdiri dengan keanggunan yang tidak pernah retak.
Gaun putih gadingnya jatuh sempurna mengikuti garis tubuhnya. Bordir emas tipis menghiasi bagian lengan dan kerah, memantulkan cahaya lembut. Rambutnya disanggul tinggi dengan mahkota kecil yang tampak ringan tetapi jelas bernilai mahal.
Ia menoleh saat mendengar langkah Elenna.
“Oh… Lady Elenna.”
Senyumnya sempurna. Terlalu sempurna.
“Maafkan keterlambatanku. Ada urusan yang tak bisa kutinggalkan.”
Elenna membungkuk sopan.
“Tidak apa-apa, Tuan putri"
Isabella tidak langsung duduk. Ia hanya mengamati. Matanya bergerak pelan menyusuri wajah Elenna. Mencari kerutan alis. Tarikan napas yang terlalu dalam. Gerakan gelisah.
Tidak ada.
“Kau tidak terlihat terganggu,” ucap Isabella ringan. “Sebagian orang mungkin sudah merasa terhina karena sikapku."
Nada itu terdengar santai. Namun, bukan sekadar komentar. Itu pancingan. Elenna menjawab tanpa terburu.
“Aku tidak merasa demikian.”
Isabella akhirnya duduk, menyilangkan jemarinya di atas meja kecil.
“Menunggu tanpa kepastian sering kali terasa seperti penolakan,” katanya pelan. “Terutama jika seseorang memiliki harga diri.”
Elenna ikut duduk.
“Jika Yang Mulia berniat menolak, saya tidak akan berada di sini.”
Jawaban itu sederhana. Namun, tidak tunduk. Untuk sesaat, angin berhenti. Isabella tersenyum tipis.
"Menarik."
Ia menuangkan teh dengan gerakan halus.
“Kau berjalan-jalan tadi?”
“Ya.”
“Ke mana?”
“Hutan kecil di sisi taman.”
“Sendirian?”
“Ya.”
Isabella mengangkat cangkirnya.
“Menemukan sesuatu?”
Pertanyaannya terdengar biasa. Namun, terlalu tepat.
Elenna mengangkat pandangan.
“Seekor anak kucing.”
Senyum Isabella tidak berubah.
“Ah.”
Satu suku kata.
“Berwarna perak?”
Jari Elenna berhenti sesaat di gagang cangkir.
“…Ya.”
Isabella menatapnya lebih dalam kali ini.
“Kucing itu tidak pernah mendekati sembarang orang.”
Kalimat itu tidak diberi penjelasan.
Ia dibiarkan menggantung.
Seperti rahasia yang hanya setengah dibuka.
Elenna menahan dorongan untuk bertanya lebih jauh. Isabella melanjutkan dengan ringan, seolah topik tadi tidak penting.
“Kau mengenal Alberto cukup lama, bukan?”
Perubahan arah itu terlalu halus untuk disebut kebetulan.
Elenna mengangguk.
“Kami tumbuh di lingkungan yang sama.”
“Dia pria yang cukup menonjol akhir-akhir ini,” Isabella berkata sambil memutar cangkirnya perlahan. “Banyak keluarga mulai memperhatikannya.”
Hening tipis.
“Banyak gadis yang menyukainya.”
Elenna tidak bereaksi. Isabella mengangkat wajahnya.
“Bagaimana denganmu, Lady Elenna?”
Tatapan mereka bertemu.
“Apakah kau memiliki perasaan lain terhadap Alberto?”
Pertanyaan itu lembut. Namun, presisi seperti ujung jarum. Elenna memahaminya lebih dari siapapun, Ini bukan rasa ingin tahu. Ini penilaian ancaman. Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena ragu. Melainkan karena ia memilih kata yang tidak meninggalkan celah.
“Tidak.”
Nada suaranya datar, jernih.
“Hanya sebatas kakak tiri."
Isabella nampak tidak puas dengan satu jawaban.
“Tidak pernah lebih?”
“Tidak sama sekali.”
Tidak ada getaran. Tidak ada perlawanan. Tidak ada yang disembunyikan olehnya.
Hanya sebuah fakta.
Isabella mengamatinya lama. Sangat lama. Seolah mencoba menembus kulit dan membaca jantungnya. Namun, yang ia temukan hanya ketenangan. Akhirnya, Isabella bersandar.
“Bagus.”
Senyumnya kembali.
“Alberto memiliki masa depan tertentu. Aku hanya memastikan tidak ada… masalah."
Kata itu dipilih dengan hati-hati.
Masalah.
Elenna menunduk tipis.
“Saya tidak berniat menyinggung siapa pun.”
Isabella menatapnya lagi.
“Kau tidak ingin mengganggu siapa pun… atau kau tidak ingin terlibat dalam permainan?”
Elenna mengangkat wajahnya perlahan..
“Saya tidak cocok untuk permainan.”
“Semua orang di istana berada dalam permainan,” Isabella menjawab tenang. “Hanya saja, tidak semua menyadarinya.”
Angin kembali berembus dari arah hutan.
Untuk sepersekian detik, Isabella menoleh ke arah pepohonan. Tatapannya berubah tipis. Seperti seseorang yang tahu lebih banyak daripada yang ia ucapkan.
“Kucing itu,” katanya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “biasanya hanya muncul ketika sesuatu mulai bergerak.”
Elenna merasakan getaran kecil di dadanya.
“Bergerak… bagaimana?”
Isabella berdiri. Rok gaunnya bergeser halus di atas lantai paviliun. “Takdir,” jawabnya ringan. “Atau malapetaka."
Ia tersenyum.
“Kadang keduanya sulit dibedakan.”
Lalu ia melangkah menjauh. Sebelum benar-benar pergi, Isabella berhenti.
“Besok akan ada pertemuan kecil bangsawan muda di aula dalam. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena membuatmu menunggu. Aku ingin kau turut hadir.”
Elenna terdiam. Ia tahu itu bukan acara resmi, dan justru karena itulah berbahaya.
“Justru di sana tidak ada aturan yang melindungimu,” lanjut Isabella, menoleh setengah badan. “Aku ingin melihat bagaimana kau bersikap.”
Ujian kedua. Lebih terbuka. Lebih tajam.
“Kau tentu tidak keberatan?”
Elenna menatapnya tanpa gentar. Kali ini dadanya tidak bergetar.
“Jika itu kehendak Tuan putri."
Isabella tersenyum tipis. “Bagus.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan Elenna sendiri di paviliun. Hening turun perlahan, namun perasaan diawasi kembali merayap. Elenna menoleh ke arah hutan. Di antara bayangan pepohonan, sekilas kilau merah kecil. Hanya sepersekian detik.
Namun, cukup membuat napasnya tertahan.
***
Isabella berjalan menyusuri lorong istana dengan langkah tenang. Seorang pelayan mendekat dan menunduk.
“Tuan putri, apakah Lady Elenna memenuhi ekspektasi?”
Isabella tidak langsung menjawab.
“Tidak."
Pelayan itu menegang.
“Dia melampauinya.”
“Apakah itu kabar baik?”
Isabella menatap taman melalui jendela tinggi. “Setidaknya dia tidak memiliki niat lain.”
“Berarti aman?”
“Belum.” Senyumnya samar. “Ancaman belum muncul.”
Ia terdiam sejenak, lalu berbisik pelan,
“Kucing itu tidak pernah salah memilih. Dan aku ingin tahu… apa yang dilihatnya pada gadis itu.”
Permainan belum sepenuhnya dimulai. Namun, sesuatu telah bergerak, dan di istana, ketika sesuatu mulai bergerak, jarang ada yang kembali seperti semula.