Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Sarapan Pertama dan Koper yang Berat
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar Zalina yang mewah.
Zalina mengerjap-erjapkan matanya, terbangun karena alarm biologisnya. Ia meregangkan tubuh di atas kasur king size-nya yang empuk. Selama beberapa detik, ia lupa bahwa statusnya sudah berubah. Ia merasa ini hari Minggu biasa.
Namun, saat ia menoleh ke samping, ia melihat sosok itu.
Fatih.
Laki-laki itu sedang tertidur lelap di sisi ranjang, napasnya teratur. Ia masih mengenakan kaos putih polos sisa semalam. Wajahnya terlihat begitu damai tanpa beban kerutan di dahi yang biasanya muncul saat ia mengerjakan tugas arsitektur.
Jantung Zalina berdesir hangat. Ya Allah, ini beneran suami aku, batinnya sambil tersenyum malu sendiri.
Zalina bangun perlahan agar tidak membangunkan Fatih. Ia berjalan ke kamar mandi, mengambil wudhu, lalu menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
Saat Zalina keluar dari kamar mandi, Fatih sudah bangun. Ia duduk di tepi kasur sambil mengucek mata, rambutnya berantakan lucu.
"Assalamu'alaikum, Imamku," sapa Zalina lembut.
Fatih tersentak kaget, seolah belum terbiasa dipanggil begitu. Wajahnya memerah seketika. "Wa-wa'alaikumussalam, Istriku. Maaf, Mas kesiangan ya? Subuh tadi kita tidur lagi sih abis jamaah."
"Nggak kok, Mas. Masih jam enam. Mas mandi dulu gih, abis itu kita sarapan bareng Ayah Ibu. Terus..." wajah Zalina berubah sedikit sendu. "...Terus kita packing."
Kata "packing" itu membuat suasana kamar yang hangat mendadak sedikit berat.
Sesuai kesepakatan sebelum nikah, Fatih tidak mau tinggal menumpang di rumah mertua (Pondok Indah Mertua). Ia ingin mandiri. Fatih sudah menyewa sebuah rumah petak kecil—sangat kecil—tak jauh dari lokasi Kedai Kopi "Tuang" agar hemat ongkos.
"Zal," Fatih berdiri, menghampiri Zalina. Ia memegang kedua bahu istrinya. "Kamu... beneran siap pindah hari ini? Kalau kamu masih mau di sini seminggu lagi sama Ibu, Mas nggak apa-apa kok bolak-balik."
Zalina menggeleng mantap. "Tempat istri itu di samping suami, Mas. Mau di istana atau di gubuk, asal ada Mas Fatih, itu rumah Zalina."
Fatih tersenyum haru, lalu mengecup kening Zalina. "Terima kasih sudah mau berjuang sama Mas."
Satu jam kemudian, di Ruang Makan Keluarga Yusuf.
Suasana sarapan pagi itu hening. Hanya denting sendok yang terdengar. Ibu Ratih tampak tidak bersemangat. Matanya sembab. Ia terus-menerus menatap Zalina yang sedang menyendokkan nasi goreng ke piring Fatih.
"Makan yang banyak, Nak Fatih," ujar Pak Yusuf memecah keheningan. "Nanti butuh tenaga buat angkat-angkat barang."
"Iya, Pak. Terima kasih," jawab Fatih sopan.
"Bu," panggil Zalina pelan. "Ibu kok nggak makan?"
Ibu Ratih meletakkan sendoknya. Air matanya menetes lagi. "Ibu nggak tega, Zal. Ibu barusan liat kontrakan yang disewa Fatih itu. Kecil banget, Nak. Kamar mandinya aja mungkin lebih kecil dari lemari baju kamu di sini. Nggak ada AC, nggak ada water heater. Kamu kan nggak tahan panas, kamu biasa mandi air anget..."
Fatih menunduk, merasa tertampar. Ia tahu standar hidup Zalina. Dan ia tahu apa yang ibunya Zalina katakan itu fakta, bukan hinaan. Kemampuannya saat ini memang baru segitu.
"Bu," Fatih memberanikan diri bicara. "Maafkan Fatih kalau belum bisa kasih fasilitas yang sama kayak di rumah ini. Tapi Fatih janji, Bu. Fatih akan kerja keras supaya Zalina nggak kepanasan. Nanti Fatih pasang kipas angin yang bagus. Airnya Fatih masakin kalau Zalina mau mandi anget."
"Bukan gitu maksud Ibu, Fatih," isak Bu Ratih. "Ibu cuma takut Zalina nggak betah terus sakit. Dia anak mami banget lho."
Zalina bangkit, memeluk ibunya dari belakang.
"Bu, dengerin Zalina. Zalina nikah sama Mas Fatih bukan buat cari AC atau air anget. Zalina cari ridho Allah. Kalau Zalina manja terus di sini, kapan Zalina bisa jadi istri yang tangguh? Ibu doain aja rezeki Mas Fatih lancar, biar nanti kita bisa bangun rumah sendiri."
Pak Yusuf mengangguk setuju. "Benar kata Zalina, Bu. Biarkan mereka mandiri. Dulu kita awal nikah juga ngontrak di petakan, kan? Makan tempe tiap hari. Justru itu seninya rumah tangga. Kalau langsung enak, nggak ada kenangannya."
Kata-kata Pak Yusuf sedikit menenangkan Bu Ratih, meski wajahnya masih cemas.
Siang harinya. Prosesi kepindahan.
Semua barang Zalina—yang tadinya memenuhi dua lemari besar—harus disortir. Fatih hanya bisa membawa dua koper besar dan beberapa kardus di mobil bak terbuka sewaan.
"Baju pesta, tas-tas branded, sepatu hak tinggi... tinggalin aja di sini dulu, Zal," kata Fatih lembut saat melihat Zalina bingung memilih. "Di kontrakan nanti lemari kita kecil. Lagian, kamu bakal lebih sering ke proyek atau ke kedai kopi, kan? Bawa yang nyaman aja."
Zalina mengangguk. Ia menutup lemari yang berisi koleksi tas mahalnya. Ia meninggalkan kehidupan lamanya di sana.
Mereka pun berangkat. Zalina duduk di depan mobil bak terbuka (pickup) di samping supir, sementara Fatih dan Hadi duduk di bak belakang menjaga barang-barang agar tidak jatuh.
Sepanjang perjalanan, angin menerpa wajah Fatih. Ia melihat Zalina dari kaca spion. Istrinya itu tidak tampak sedih. Malah sesekali menengok ke belakang dan melambaikan tangan ke Fatih sambil tertawa, rambutnya yang tertutup kerudung berkibar-kibar.
Wanita ini... batin Fatih. Ya Allah, muliakanlah dia yang telah merendahkan hatinya untuk membersamai hamba.
Sampailah mereka di tujuan.
Sebuah rumah petak di gang sempit daerah Dago Atas. Catnya berwarna hijau muda yang sudah agak pudar. Terasnya hanya cukup untuk parkir satu motor.
"Sampai, Nyonya Fatih!" seru Hadi sambil melompat turun.
Fatih buru-buru turun, membukakan pintu untuk Zalina. Ia cemas melihat reaksi Zalina. Ini pertama kalinya Zalina melihat langsung kondisi rumah ini (sebelumnya hanya lewat foto).
Zalina turun. Ia memandang rumah mungil itu.
Atap asbes.
Jendela nako jadul.
Pintu kayu yang catnya mengelupas.
Fatih menahan napas. "Gimana? Kalau kamu ngerasa terlalu sempit, kita bisa cari—"
"Lucu!" potong Zalina. Matanya berbinar.
"Hah?" Fatih dan Hadi melongo barengan.
"Iya, lucu! Mungil kayak rumah boneka!" Zalina berjalan masuk ke teras, menyentuh pot bunga lidah mertua yang ada di situ. "Ini bisa kita dekor, Mas! Temboknya kita cat ulang warna putih atau cream biar luas. Terus di sini kita kasih kursi rotan. Wah, bakal homey banget!"
Fatih menghela napas lega. Ia lupa kalau istrinya ini punya darah seni dan calon desainer interior. Di mata orang biasa, ini rumah kumuh. Di mata Zalina, ini kanvas kosong yang siap dilukis.
"Yaudah, ayo masuk. Welcome to our palace," ucap Fatih sambil membuka kunci pintu yang agak macet.
Mereka masuk. Ruangannya kosong melompong. Hanya ada satu kasur busa di lantai (belum ada dipan), satu lemari plastik, dan kompor satu tungku di dapur.
Hadi membantu menurunkan barang, lalu pamit pulang karena tidak mau jadi "nyamuk".
Kini, tinggal mereka berdua.
Matahari mulai terbenam. Cahaya oranye masuk lewat jendela nako, menciptakan siluet debu yang beterbangan.
Zalina duduk di atas kasur busa di lantai, meluruskan kakinya yang pegal. Fatih duduk di sebelahnya, memberikan sebotol air mineral.
"Capek ya?" tanya Fatih.
"Lumayan," Zalina meminum air itu, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Fatih.
Suasana hening sejenak. Suara anak-anak mengaji di mushola dekat gang mulai terdengar.
"Mas..."
"Hmm?"
"Uang belanja kita tinggal berapa?" tanya Zalina tiba-tiba, mode 'Menteri Keuangan'-nya aktif.
Fatih merogoh saku, mengeluarkan dompet. "Sisa uang amplop kondangan kemarin sebagian udah dipake bayar sewa mobil sama beli kasur ini. Sisa... lima ratus ribu buat pegangan seminggu ini. Sampai invoice kedai kopi cair."
Zalina mengambil dompet itu, menghitung lembaran uangnya. "Oke. Cukup. Besok aku ke pasar tradisional aja, nggak usah ke supermarket. Kita masak sayur asem sama tempe goreng. Hemat dan sehat."
Fatih menatap istrinya dengan pandangan takjub.
"Kamu beneran Zalina anak Pak Yusuf kan? Bukan kembarannya?" goda Fatih.
Zalina mencubit pinggang Fatih pelan. "Ih, Mas mah! Aku belajar dari Youtube tau, tips hemat ibu rumah tangga!"
Fatih tertawa, lalu menangkap tangan Zalina dan menggenggamnya erat.
"Zal, maafin Mas ya kalau awal perjalanan kita terjal begini."
Zalina menatap mata Fatih dalam-dalam. "Mas, jalan yang nanjak itu emang capek, tapi pemandangannya lebih indah daripada jalan datar. Aku siap nanjak bareng Mas. Asal Mas janji satu hal."
"Apa?"
"Jangan pernah nyerah. Kalau Mas capek, istirahat di bahu aku. Jangan dipendem sendiri kayak waktu kasus Erlangga dulu."
Fatih mengangguk mantap. "Janji."
"Yaudah, sekarang ayo mandi. Eh, lupa... Anduknya mana?"
Fatih menepuk jidatnya. "Astagfirullah, ketinggalan di jemuran rumah Ibu! Tadi buru-buru!"
Zalina melongo, lalu tertawa terbahak-bahak. "Yahhh! Terus kita ngeringin badan pake apa? Pake horden?"
"Pake kaos bekas Mas aja dulu ya?" Fatih nyengir kuda.
Malam pertama di rumah kontrakan itu diwarnai dengan tawa renyah karena kelakuan konyol pengantin baru yang serba kekurangan, tapi berlimpah kebahagiaan. Tidak ada AC dingin, tapi hangatnya cinta mereka cukup untuk mengusir dinginnya angin malam Bandung.
Namun, di luar sana, kehidupan tidak akan membiarkan mereka santai terlalu lama.
Di seberang jalan gang, seseorang sedang mengamati rumah kontrakan Fatih dari balik kaca helm motor ojek online. Seseorang yang memegang ponsel, mengetik pesan laporan:
"Target sudah pindah ke lokasi B. Kondisi pengamanan minim. Siap eksekusi rencana selanjutnya sesuai perintah Bos Besar (bukan Erlangga, tapi musuh bisnis baru)."
Siapakah orang ini? Apakah sisa-sisa jaringan ayah Erlangga? Atau saingan bisnis baru yang merasa terancam dengan kehadiran "Langit Arsitektur"?