NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:492
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 26 — API BARU

Raka terbangun, begitu kesadaran mulai terbuka, rasa dingin yang mengigit menerpa kulitnya.

Tanah yang lembab menempel di punggungnya. Daun basah menutupi separuh tubuhnya, disusun rapi. Bau darah samar mengantung di udara—bau anyir yang menusuk hiuung, dan darah itu belum sepenuhnya kering.

Ia mencoba bergerak. Dunia berputar pelan, lalu berhenti.

“Diam, jangan banyak gerak Le.”

Suara itu rendah. Bukan suara nenek.

Tubuh Raka menegangkan, ada jejak kekawatiran nampak dari raut wajah Raka. Di seberang Raka terlihat dua sosok yang duduk menghadap perapian, apinya kecil dengan nyala yang redup, hampir mati. Api itu sengaja dijaga rendah, ditutup tanah di beberapa sisi, seperti tak ingin diketahui siapa pun.

Keduanya terasa asing. Bukan dari kelompok yang selama ini berjalan bersama.

Dari pakaiannya, pakaian tersebut bukan pakaian rakyat. Bukan pula seragam kerajaan. Terlalu bersih untuk dipakai pelarian, dan terlalu rapi untuk dipakai perampok.

“Di mana… nenek?” suara Raka serak.

Salah satu dari mereka—yang bertubuh lebih besar—menoleh sedikit. “Jangan kawatir, nenekmu, masih hidup.” sambil menunjuk ke arah tempat ”nenek”dirawat.

Jawaban singkat. Dingin.

Raka menoleh ke arah yang ditunjuk. Nenek terbaring beberapa langkah darinya. Tubuhnya dibalut kain seadanya. Ada darah mengering di sisi perut dan lengan, tapi dadanya masih naik-turun.

Raka menghela napas panjang, nyaris gemetar.

“Kenapa kalian menolong kami?” tanya Raka.

Yang satunya—lebih kurus, raut wajahnya sulit dibaca, dingin dan acuh— dia tersenyum tipis. “Pertanyaanmu salah sasaran.”

“Lalu, pertanyaan yang benar seperti apa?”

“Kenapa kau tidak bertanya mengapa kamu masih hidup.”

Raka terdiam.

Api kecil didepan kedua orang lelaki tersebut berderak pelan. Hutan di malam gari terasa mencekam, gelap tanpa bintang, hitam yang luas, terasa kosong. Mencekam.

“Kalian berdua dari pihak mana?” Raka bertanya lagi.

“Tidak penting, lebih sedikit yang kamu tahu, itu lebih baik” jawab si besar.

“Semakin banyak kau tahu itu tidak aman bagimu, tahu!!,” tambah yang kurus.

Jawaban itu justru membuat putaran kepala semakin berdenyut dan perut Raka terasa makin kosong.

Ia memejamkan mata sebentar. Ingatan terakhir sebelum gelap kembali muncul: serangan mendadak, teriakan, nenek yang mendorongnya jatuh, lalu cahaya senjata di mana-mana.

Saat ia membuka mata lagi, suara pelan terdengar dari arah api.

Bukan ditujukan kepadanya.

“…kalau begitu, laporannya tetap sama,” kata suara asing ketiga—tidak terlihat jelas, seolah datang dari balik semak.

“Mahapatih mengizinkan tindakan yang kita lakukan ini,” lanjut suara itu.

Raka menahan napas.

“Lalu bocah itu?” tanya suara lain tanpa menunjuk tanpa menoleh.

Hening sekejap.

“Biarkan umpan masih hidup, biar ikan-ikan besar mendekati umpan”

Kata itu menusuk lebih dalam dari luka mana pun.

Langkah kaki menjauh. Suara itu menghilang seperti tak pernah ada.

Raka membuka mata, jantungnya berdentum dengan keras. Dua sosok di dekat api tidak bereaksi, seolah percakapan barusan bukan sesuatu yang perlu dibahas.

“Aku dengar percakapan tadi, apa maksudnya itu?” tanya Raka pelan.

Yang kurus menatap api. “Diam lebih baik bagimu, jangan terlalu pingin tahu semua hal.”

“Dia menyebutku umpan.”

Kali ini, yang besar menoleh penuh. Tatapannya tajam, menilai. “Dan sekarang kau tahu.”

“Tahu apa?” Raka menantang, meski suaranya bergetar.

“Bahwa kau bukan lagi orang yang sedang melarikan diri,” jawabnya. “tapi kau adalah umpan yang digunakan untuk mengiring.”

Raka mengepalkan tangan. “Oleh siapa?”

Jawaban itu tidak datang.

Beberapa saat kemudian, dari kejauhan terdengar suara lain—bukan percakapan. Langkah kaki. Banyak. Teratur. Terlatih.

Yang kurus langsung memadamkan api dengan tanah. Gelap menelan mereka.

“Dari arah mana?” bisik Raka.

“Dua arah,” jawab si besar singkat. “Dan mereka tampaknya bukan dari satu pihak.”

Raka merasakan sesuatu yang runtuh di dalam dadanya. Semangatnya, selama ini ia berpikir bahwa bahaya datang karena ia berlari, ia dikejar, ia diburu. Karena ia menolak untuk ditangkap dan kembali ke Kota Raja. Karena itu ia bertahan didalam kelompok yang dia ikuti.

Kini ia sadar.

Pelariannya bukanlah sebab.

Pelariannya adalah akibat.

Nenek bergerak pelan, mengerang tertahan. Raka merangkak mendekat, menahan bahunya.

“Nek, kita harus pergi, kita sudah dikepung” bisik Raka.

Nenek membuka mata setengah. Tatapannya buram, tapi fokus pada Raka. Tidak ada penjelasan. Tidak ada pengakuan. Hanya satu kalimat pendek:

“Raka, jangan ambil keputusan yang terburu-buru tanpa pertimbangan, jangan berfikir semuanya akan aman-aman saja”

Langkah kaki makin mendekat.

Raka berdiri, tubuhnya gemetar—bukan karena takut mati, tapi karena satu kesadaran yang akhirnya jatuh didepan mata, utuh, bahwa dia adalah umpan.

Ia tidak lagi dikejar karena siapa dirinya.

Ia dikejar karena semua pihak membutuhkan dia untuk tetap hidup—untuk membunuh target yang sudah dikunci.

Di balik bayangan pepohonan yanggelap, samar bayangan-bayangan orang bergerak.

Dan untuk pertama kalinya, Raka mengerti:

dunia yang mengejarnya ternyata jauh dari pemikirannya, jurangnya terlalu lebar bagi dirinya yang masih kecil, 10 tahun, anak yang selalu dimanja orang tuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!