Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Teringat Teman Lama
Sore perlahan merambat menuju malam ketika Grace akhirnya meninggalkan Castle Castavia. Pekerjaannya hari itu selesai lebih lambat dari biasanya.
Mengurus ratu yang belum sepenuhnya pulih menguras tenaga dan pikirannya. Langkahnya terasa lebih berat saat menuruni jalan batu menuju rumah kecilnya, rumah yang telah ia tinggali sejak suaminya meninggal dua tahun yang lalu.
Langit mulai berubah warna. Jingga pucat bercampur kelabu, seperti ragu menentukan dirinya sendiri. Grace menarik napas panjang sebelum membuka pintu rumah.
Begitu pintu terbuka, aroma sayur rebus langsung menyambutnya. Grace berhenti di ambang pintu.
"Hugo?" panggilnya, sedikit tidak percaya.
Dari dapur, suara panci yang bergeser terdengar, disusul sosok putranya yang sedang memasak sayur.
"Ibu sudah pulang?" Hugo menoleh, wajahnya terlihat sedikit kikuk tapi tidak bersalah.
Grace melangkah masuk, menutup pintu pelan. Matanya tertuju pada meja dapur. Sepiring sayur sederhana sudah hampir matang, uapnya masih mengepul tipis.
"Kau yang memasak?" tanya Grace.
Hugo mengangguk. "Aku lapar. Ibu kelamaan pulang."
Nada suaranya datar, tanpa keluhan.
Grace mendekat, menyentuh bahu putranya.
"Kenapa tidak menunggu saja?"
Hugo mengangkat bahu.
"Tidak apa-apa. Aku bisa."
Ada sesuatu di kalimat sederhana itu yang membuat dada Grace terasa sesak. Bukan karena sedih, melainkan karena kesadaran bahwa anaknya tumbuh terlalu cepat. Ia masih dua belas tahun, tapi sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri.
"Maafkan ibu ya, nak. Belakangan ini ibu sangat sibuk di castle. Ratu kita sedang sakit." Ucap Grace
"Ratu sakit apa, bu?" tanya Hugo penasaran
"Batuk. Tidak terlalu parah." Jawab Grace
Grace meletakkan tas kecilnya, lalu mengambil alih sendok kayu dari tangan Hugo.
"Biar ibu saja yang lanjutkan."
Hugo tidak membantah. Ia hanya mundur sedikit, duduk di kursi kayu dekat meja.
"Aku tidak keberatan memasak, Bu," katanya.
"Tadi aku juga ke ladang sebentar."
Grace menoleh cepat. "Sendirian?"
"Iya. Tanamannya tinggal sedikit, tapi masih hidup."
Grace mengangguk pelan. Ia tahu ladang kecil itu. Warisan terakhir suaminya. Tidak luas, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tapi selalu dijaga Hugo dengan penuh perhatian.
Mereka makan malam bersama dalam keheningan yang nyaman. Tidak ada percakapan berat. Hanya bunyi sendok dan piring, serta suara malam yang mulai masuk melalui jendela kecil.
Setelah makan, Hugo membersihkan meja, lalu mengambil buku tebal dari tas kainnya.
Grace mengenali buku itu.
"Buku dari Rumah Baca?"
Hugo mengangguk, matanya sudah terpaku pada halaman.
"Tentang cara memperbaiki tanah yang mulai mati. Ada juga tentang pergiliran tanaman."
Grace duduk di seberangnya, memperhatikan wajah putranya yang serius membaca.
"Kau benar-benar menyukainya, Hugo" kata Grace pelan.
Hugo mengangguk tanpa mengangkat kepala.
"Aku ingin jadi petani yang hebat, Bu. Seperti mendiang Ayah."
Kalimat itu membuat tangan Grace berhenti bergerak. Ia menatap Hugo lebih lama dari biasanya.
"Petani hebat?" ulangnya.
"Iya. Ayah selalu bilang, tanah itu hidup. Kalau kita merawatnya dengan benar, dia tidak akan mengkhianati kita."
Grace menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang muncul tanpa ia sadari.
"Ayahmu akan bangga mendengarnya."
Hugo akhirnya menatap ibunya.
"Ibu bangga?"
Grace mengangguk. "Iya. Sangat."
Untuk sesaat, hanya itu yang mereka butuhkan.
Beberapa saat kemudian, Grace berbicara lagi, nadanya terdengar lebih hati-hati.
"Hugo..."
"Iya, Bu?"
"Kau tidak rindu ke castle?" tanya Grace.
"Rindu bertemu Thaddeus?"
Hugo terdiam. Jarinya berhenti membalik halaman. Ia menatap buku itu lama, lalu menghela napas kecil.
"Aku rindu," katanya jujur.
"Tapi… rasanya sudah berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Kami sudah asing bahkan sebelum Greta lahir," jawab Hugo pelan.
"Setelah Ayah meninggal, Thaddeus jarang ke ladang kita. Aku juga jarang ke castle. Sekarang... ya, kami punya dunia masing-masing."
Grace tidak menyela.
"Aku tidak terlalu kesepian," lanjut Hugo.
"Aku punya buku. Aku punya ladang dan aku punya ibu. Itu sudah lebih dari cukup."
Grace mengangguk, meski di dalam hatinya ada sesuatu yang bergetar. Ia bangga pada kemandirian putranya, tapi juga sedih menyadari jarak yang tercipta begitu alami.
Malam semakin larut. Hugo kembali membaca, sementara Grace merapikan dapur. Di luar, suara serangga malam mulai terdengar.
...****************...
Di Castle Castavia, suasana malam terasa lebih tenang dari hari sebelumnya.
Batuk Chelyne mulai mereda. Arion duduk di samping tempat tidur, memperhatikan istrinya yang tertidur lebih nyenyak. Napasnya lebih teratur.
Tidak ada lagi batuk panjang yang memecah keheningan.
"Akhirnya, batukmu sudah mulai membaik" gumam Arion pelan.
"Iya, Arion. Ini semua karena Grace. Dia tidak keberatan mengurusku bahkan selalu menyempatkan diri membuat air jahe untukku ditengah kesibukannya." Ujar Chelyne
Arion hanya tersenyum mendengar istrinya, setidaknya Grace sudah menjadi pelayan yang baik di castle itu.
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap halaman dalam castle yang disinari cahaya bulan. Hatinya terasa sedikit lebih ringan.
Di ranjang, Greta tertidur pulas. Toples kecil berisi kumbang koksi diletakkan di meja dekat tempat tidurnya.
Greta menolak keras melepaskannya tadi sore. Arion akhirnya mengalah, memastikan toples itu diberi lubang udara dan dedaunan segar.
"Kenapa Arion? Sepertinya kau memikirkan sesuatu." Tanya Chelyne ingin tahu
"Aku tiba-tiba terpikir mitos itu."
"Aku tahu. Tapi melihat putri kita, aku merasa mitos itu tidak ada kaitannya." Kata ratu
Greta tidur dengan senyum kecil di wajahnya, seolah mimpi tentang dunia kecil yang penuh makhluk hidup.
Thaddeus berdiri di ambang pintu kamar orang tuanya, memperhatikan sejenak sebelum menutup pintu pelan.
"Ibu, Ayah. Aku mau ke kamar. Selamat malam" Ujar Thaddeus
"Kamu berani pergi ke kamar sendiri?" tanya ibu
"Berani, Ibu. Aku kan sudah besar" ujarnya
Chelyne tertawa kecil dengan jawaban putranya. Ia masih tergolong anak-anak, padahal Thaddeus baru menginjak usia remaja pun belum
Ia berjalan menuju kamarnya sendiri, tidak ditemani oleh pelayan lagi. Perlahan Thaddeus mulai bersikap dewasa.
Entah mengapa, bayangan Hugo tiba-tiba muncul di pikirannya. Sudah lama mereka tidak berbicara. Tidak bertengkar, tidak juga berdamai.
Mereka hanya berhenti berjalan bersama.
Thaddeus duduk di tepi tempat tidurnya, memandang busur yang bersandar di dinding. Ia mengingat ladang kecil, tawa sederhana, dan hari-hari ketika dunia terasa lebih mudah dipahami.
...****************...
Di rumah kecil dekat pemukiman rakyat, Grace mematikan lampu satu per satu. Ia berhenti sejenak di depan kamar Hugo, melihat putranya tertidur dengan buku terbuka di dada.
Grace menutup buku itu pelan, menyelimutinya, lalu duduk di kursi kecil di samping ranjang.
"Hugo, ibu harap kamu menjadi anak yang kuat." batinnya
Grace mengelus pelipis putranya lalu mengecup keningnya. Hanya Hugo yang satu-satunya Ia punya.
Pikirannya kembali pada pagi tadi. Pada air pancuran. Pada kupu-kupu kaca yang berterbangan mengelilingi putri kecil kerajaan.
Grace menutup mata. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa yakin bahwa sesuatu sedang mengintai Castle Castavia.