Malam kelam merenggut masa kecil Carmenita yang baru berusia delapan tahun. Sebuah tragedi misterius merobek kebahagiaannya. Kedua orang tuanya tewas di tangan sosok tak dikenal. Samudera mengambil alih. Ia mengasuh Carmenita dengan segenap jiwa, memberinya rumah dan cinta sebagai seorang ayah angkat.
Waktu berlalu, bayangan gadis kecil itu kini menjelma menjadi perempuan dewasa yang menawan. Di usia delapan belas tahun, Carmenita tumbuh dalam sunyi pengaguman.
Ia tak hanya mengagumi Samudera yang kini menjelma menjadi Dosen berkharisma, idola para mahasiswa di kampus tempatnya mengajar. Carmenita telah jatuh cinta.
Cinta yang lama dipendam itu meledak dalam pengakuan tulus. Namun. Baginya, perasaan Carmenita hanyalah "cinta monyet"; gejolak sesaat dari seorang putri yang ia jaga. Ia melihatnya sebagai anak, bukan sebagai seorang wanita.
Mampukah ketulusan dan keteguhan cinta Carmenita, yang dianggapnya ilusi kekanak-kanakan, menembus dinding pertahanan hati Samudera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa hukuman berakhir, berujung diajak kencan
Seminggu terasa bagai selamanya bagi Carmen. Dinding kamar yang mewah itu kini terasa seperti jeruji besi yang membosankan. Sejak statusnya berubah dari keponakan menjadi istri Samudera, hidupnya penuh dengan aturan baru. Hari ini adalah hari terakhir hukumannya, dan rasa jenuh sudah mencapai puncaknya.
Di sisi lain rumah, Samudera masih terpaku di depan layar laptopnya. Meeting besar baru saja usai, menyisakan Bayu, asisten sekaligus orang kepercayaannya, yang masih setia di sambungan Zoom.
Bayu memperhatikan tuannya yang biasanya tegas, kini tampak lesu dan menopang dagu dengan pandangan kosong.
"Tuan, apakah terjadi masalah lagi?" tanya Bayu cemas melalui speaker laptop.
Samudera menghela napas panjang. "Tidak Bay, aku hanya bosan dan bingung mau ngapain setelah ini!"
Bayu terdiam sejenak, memutar otak hingga sebuah ide cemerlang melintas. "Aha! Di hari Sabtu malam Minggu seperti ini, kenapa Tuan tidak ajak Non Carmen jalan-jalan keluar? Bukankah selama seminggu ini Non Carmen sangat penurut menjalani hukumannya? Ajaklah sekali-kali pergi berkencan. Kalau dulu status Tuan dan Non Carmen adalah paman dan keponakan, sekarang semua itu telah berubah menjadi suami istri!"
Samudera terdiam. Kata-kata "suami istri" dan "berkencan" terasa masih asing namun menggelitik hatinya. "Lantas... apa kira-kira yang disukai anak remaja sepertinya di saat diajak jalan-jalan keluar? Kau bisa memberikan aku saran?"
Bayu tersenyum lebar. "Tuan ajak saja Non Carmen nonton ke bioskop, setelah itu kalian makan malam bersama di Mall. Biasanya di usia Non Carmen, mereka paling suka diajak ke tempat seperti itu."
Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat namun tulus, terukir di bibir Samudera. "Baiklah. Terima kasih, Bayu. Kita sudahi sampai di sini."
Masa hukuman "tahanan rumah" itu akhirnya berakhir hari ini, tepat di hari Sabtu yang cerah.
Di dalam kamarnya, Carmen berbaring telentang sambil menatap langit-langit. Jari-jarinya mengelus perutnya yang masih rata dengan gerakan lembut, sebuah gestur refleks yang kini sering ia lakukan sejak mengetahui ada kehidupan lain di sana.
"Bosannya..." gumam Carmen lesu. "Rasanya aku bisa lupa cara berjalan di aspal kalau terus-terusan di sini. Andai saja aku bisa nongkrong sebentar dengan teman-teman di kafe."
Namun, bayangan wajah tegas Samudera langsung melintas di benaknya, membuatnya menghela napas panjang. Ia sudah berjanji untuk patuh, dan ia tidak ingin merusak ketenangan yang baru saja tercipta di antara mereka.
Sementara itu, di ruang kerjanya, Samudera baru saja menutup aplikasi Zoom setelah percakapannya dengan Bayu. Saran asisten kepercayaannya itu terus terngiang-ngiang. Kencan? Bioskop? Mall?
Samudera berdiri, merapikan kemejanya di depan cermin besar. Ia sedikit ragu. Selama ini, interaksinya dengan Carmen hanya berkisar antara perintah, larangan, dan perdebatan. Mengajaknya keluar dengan status sebagai "suami" terasa sangat asing sekaligus mendebarkan.
Ia melangkah menuju kamar Carmen dan mengetuk pintu dengan ritme yang terjaga.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," suara Carmen terdengar malas dari dalam.
Samudera membuka pintu dan menemukan Carmen sedang meringkuk di atas tempat tidur dengan pakaian santai. Carmen tersentak, langsung duduk tegak saat menyadari siapa yang datang.
"Eh, Om... ada apa?" tanya Carmen canggung.
Samudera berdehem, berusaha menyembunyikan kegugupan di balik wajah datarnya. "Hukumanmu sudah selesai hari ini."
"Iya, aku tahu," jawab Carmen lirih, ada nada kecewa karena ia pikir Samudera hanya ingin mengingatkan hal itu.
"Jadi..." Samudera menjeda kalimatnya, matanya menatap ke arah jendela seolah mencari kata-kata di sana. "Karena ini malam Minggu, bersiaplah dalam tiga puluh menit. Kita keluar."
Carmen mengerjapkan matanya berkali-kali. "Keluar? Ke mana? Om mau menghukum ku di tempat lain?"
Samudera mendengus pelan, hampir tersenyum. "Jangan berpikiran buruk terus. Kita akan ke mall. Katanya anak seumurmu suka nonton film dan makan di luar, kan? Jadi, cepatlah bersiap sebelum aku berubah pikiran."
Mulut Carmen terbuka sedikit karena tidak percaya. "Om... mengajakku kencan?"
Pertanyaan itu membuat telinga Samudera memerah. "Hanya... hanya mencari suasana baru agar kau tidak mati kebosanan di rumah ini. Sudah, jangan banyak tanya. Tiga puluh menit, Carmen!"
Setelah Samudera menutup pintu, Carmen masih terpaku di tempatnya. Namun, tak lama kemudian, sebuah senyum lebar merekah di wajahnya. Ia segera melompat turun dari kasur dan berlari menuju lemari pakaian.
"Kencan pertama dengan Om Sam..." bisiknya sambil memilah-milah baju dengan antusiasme yang tak bisa ia bendung. "Ternyata dia tidak sekaku yang aku kira."
Tiga puluh menit kemudian, Samudera sudah menunggu di ruang tamu. Ia tampil lebih santai dengan polo shirt, celana chino, dan topi, melepaskan kesan kaku seorang CEO dan juga Dosen. Saat mendengar langkah kaki menuruni tangga, ia menoleh dan sejenak napasnya tertahan.
Carmen turun dengan gaun casual selutut berwarna pastel yang membuat kulitnya tampak bersinar. Rambutnya dibiarkan terurai alami.
"Aku sudah siap," ujar Carmen malu-malu saat tiba di hadapan Samudera.
Samudera mengangguk pelan, berusaha menjaga wibawanya. "Ayo berangkat. Aku sudah memesan tiket filmnya."
Saat berjalan menuju mobil, tanpa sadar Samudera mengulurkan tangannya. Carmen menatap tangan besar itu sejenak sebelum perlahan menyambutnya, membiarkan jemari mereka bertautan. Ada kehangatan yang menjalar, bukan lagi rasa takut, melainkan sesuatu yang jauh lebih manis.
Suasana Mall hari ini cukup ramai. Carmen berjalan di samping Samudera dengan langkah ringan, sesekali ia melirik suaminya yang terlihat sangat tampan dengan pakaian kasualnya. Begitu sampai di area bioskop, aroma mentega dari popcorn langsung menyambut indra penciuman Carmen, membuatnya seketika merasa lapar.
Carmen menghentikan langkahnya tepat di depan konter makanan. Ia menoleh ke arah Samudera dengan tatapan memelas yang dibuat-buat, persis seperti anak kecil yang sedang merayu ayahnya.
"Om... aku mau popcorn yang ukuran besar, ya? Sama minuman soda yang dingin banget, rasanya haus sekali," rengek Carmen manja sambil menarik-narik ujung lengan baju Samudera.
Samudera menghentikan langkahnya, ia sempat menggelengkan kepala melihat tingkah Carmen. Namun, alih-alih memarahi, ia justru mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Carmen, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Minuman yang mengandung karbonasi tidak baik untuk ibu hamil, Carmen... Sebaiknya kamu pesan minuman jus saja kalau tidak air putih, bagaimana?" bisik Samudera dengan suara berat yang menenangkan.
Carmen tertegun sejenak. Ia hampir lupa bahwa di dalam perutnya kini ada nyawa kecil yang harus ia jaga. Ia menatap Samudera, lalu mengangguk patuh. "Iya, Om Sam. Jus jeruk saja kalau begitu."
Samudera tersenyum tipis, sebuah senyum yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Ia mengulurkan tangannya, mengelus lembut rambut Carmen sebelum akhirnya memesankan apa yang diminta istrinya.
Setelah mendapatkan pesanan mereka, keduanya berjalan menuju ruang tunggu. Pintu masuk menuju Studio 1 masih tertutup rapat, sehingga mereka harus duduk sejenak di kursi sofa panjang yang tersedia.
Samudera duduk bersandar, sementara Carmen sibuk memakan popcorn-nya satu demi satu dengan lahap. Di sela-sela kegiatannya, Samudera tanpa sadar memperhatikan penampilan Carmen dari samping.
'Kenapa dia terlihat berbeda malam ini?' batin Samudera.
Samudera merasa ada yang aneh dengan dirinya sendiri. Biasanya, ia melihat Carmen sebagai gadis remaja yang merepotkan dan suka membangkang. Namun hari ini, di bawah pendar lampu bioskop yang temaram, Carmen terlihat sangat mempesona. Kulitnya tampak lebih bersih, dan wajahnya memancarkan rona kemerahan yang segar.
Samudera terus mengamati garis wajah istrinya itu. Ia berpikir, apakah benar mitos yang sering ia dengar? Bahwa aura seorang ibu hamil bisa membuat seorang wanita menjadi jauh lebih cantik berkali-kali lipat?
"Om ? Kenapa lihatin aku terus? Ada sisa popcorn di mukaku ya?" tanya Carmen tiba-tiba, menyadari tatapan intens suaminya.
Samudera berdehem pelan, sedikit salah tingkah karena tertangkap basah sedang mengagumi istrinya sendiri. "Bukan. Aku hanya berpikir, sepertinya berat badanmu sedikit naik. Tapi... itu membuatmu terlihat lebih pantas."
Carmen mengerucutkan bibirnya. "Ih, Om bilang aku gendut ya?"
Samudera terkekeh rendah, sebuah tawa yang jarang terdengar namun terdengar sangat seksi di telinga Carmen. "Bukan gendut, Carmen. Kamu terlihat... lebih cantik."
Mendengar pujian singkat itu, gantian Carmen yang mendadak salah tingkah dan menyembunyikan wajahnya di balik kotak popcorn.
Bersambung...
lagian kamu jangan ngehina Carmen y,,kamu belum tau y klo istri nya singa lg marah? 🙈
hati2 Saaam!! singa betina d samping mu siap menerkam klo kamu melenceng sedikit..🤭
awas lho Sam klo kamu sampe nyakitin Carmen,,dia udh menyerahkan seluruh hidup nya bwt kamu..jangan sampe kamu berpaling dr Carmen,,awas aj klo itu sampe terjadi!!!! 👊
maka nya Sam jangan bergelut dgn kerjaan aj atuuh,,peka dikit..kan skarang kamu udh punya istri, masih belia bgt lg 🤭..skali kali cari tau pergaulan anak remaja kaya gimana, biar kamu jg ikutan muda lg..biarpun yaaaa kamu jg masih keliatan muda sih dr usia kamu, tp kan klo kamu selalu update tentang kehidupan remaja jd nilai plus bwt kamu...secara istri kamu tuh 'putri kecil' mu yg naik tingkat 😁