kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEGELISAHAN SANG RAJA
Vion mengembuskan napas kasar, jemarinya menyisir rambut panjangnya yang lepek oleh keringat—sebuah gestur untuk menyalurkan kekesalan sekaligus rasa rindu yang menyesak d**a kepada keluarganya di dunia sana. Ia terdiam sejenak, menatap deretan tiang kayu ek yang terpancang acak dan tak beraturan di depannya.
Ia mulai memicingkan mata, menghafal setiap sudut dan jarak antar tiang. Entah apa nama formasi rumit ini dalam istilah militer kuno, tapi dengan otak pintarnya yang terbiasa dengan pola-pola logika, struktur itu perlahan melekat kuat dalam ingatannya seperti sebuah peta digital.
Vion menarik napas dalam-dalam, mengeratkan kepalan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Setelah sekitar tiga puluh menit terpaku dalam pikiran, ia mulai melompat.
Langkah pertamanya goyah, ia sedikit kesusahan menyeimbangkan berat badannya, namun kali ini ia tidak jatuh. Ia terus bergerak, melompati setiap rintangan hingga berhasil menyelesaikan satu putaran penuh.
Ia tidak berhenti. Vion mengulang kembali gerakan itu, terus-menerus, hingga matahari mulai tenggelam di balik cakrawala dan bayangan hutan menelan halaman pondok.
Hari berikutnya, rutinitas menyiksa itu ia ulangi lagi. Dari fajar hingga senja, tanpa keluhan. Hingga kini, Vion tidak lagi sekadar melompat ragu; ia sudah mampu berlari cepat di atas ujung-ujung kayu yang sempit itu.
Tubuhnya bergerak luwes, menyeimbangkan diri dengan sempurna seolah-olah ia telah terlahir untuk menari di atas maut.
Master Hephaestus mengubah formasi tiang-tiang kayu itu, menyusunnya dalam pola zigzag yang jauh lebih curam dan licin, lalu kembali memerintahkan Vion untuk melaluinya seperti semula.
Di balik wajah kaku dan bicaranya yang kasar, ada binar kebanggaan di mata sang pandai besi tua itu. Vion, dengan kecerdasan dari dunia modern, mampu memahami logika di balik setiap gerakan dan formasi yang diajarkan dengan sangat cepat.
Sementara itu, di tempat yang sangat jauh dari kedamaian hutan, kegelapan tengah menyelimuti kerajaan.
Beberapa ksatria elit yang diutus oleh Raja Valerius untuk menjemput Pangeran Alaric di Utara tak pernah sampai ke tujuan.
Mereka terjebak dalam perangkap dan kini mendekam di penjara bawah tanah yang lembap di Kastil Fangrong, wilayah kekuasaan Archduke Valerius. Semua rencana licik Lady Elara dan Archduke Valerius berjalan mulus, membuat otoritas Raja di ibu kota mulai goyah.
Saat ini, di dalam aula istana yang dingin, Raja Valerius dilingkupi rasa khawatir yang luar biasa. Ia tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya.
Putranya, sang Putra Mahkota, hilang tanpa kabar. Setiap utusan rahasia yang ia kirim untuk mencari jejak Pangeran Alaric tidak pernah ada yang kembali.
Mereka semua menghilang tanpa jejak, bagai ditelan bumi atau lenyap di ujung pedang para pengkhianat yang kini mengintai setiap sudut jalan kerajaan.
"Tidak ada satu pun?" tanya Raja Richard dengan suara bergetar, menatap aula yang kosong.
"Bagaimana mungkin seluruh pasukan pencari hilang begitu saja tanpa meninggalkan satu pun lencana ksatria?"
Ia tidak menyadari bahwa di sekelilingnya, dinding-dinding istana kini telah memiliki telinga dan mata milik musuh.
Enam bulan telah berlalu sejak hilangnya Pangeran Alaric. Selama waktu itu, Raja Valerius lebih banyak mengurung diri di dalam ruang kerja pribadinya yang gelap, membiarkan urusan pemerintahan terbengkalai.
Aula istana yang biasanya megah kini terasa suram. Di barak-barak prajurit hingga pasar-pasar rakyat, desas-desus mengenai hilangnya sang Putra Mahkota telah menyebar luas, menjadi buah bibir yang meresahkan seluruh negeri.
"Kepala Pelayan..." suara Raja Valerius terdengar sangat lirih, hampir tenggelam di balik jubah beludrunya yang tebal.
"Sepertinya... aku sendiri yang harus pergi mencari Alaric."
Kehilangan seorang putra untuk kedua kalinya adalah luka yang terlalu dalam bagi seorang ayah. Sebagai penguasa, Richard hanya memiliki satu putra mahkota.
Selir-selir istana tidak ada yang mampu memberinya keturunan, dan sang Ratu, Lady Elizabeth, hanya memberinya seorang putri.
"Eleanor, pergilah bicara pada ayahmu," ucap Ratu Elizabeth kepada putri satu-satunya, Lady Eleanor, saat mereka berada di taman istana yang mulai layu.
"Dia merasa sangat kesepian dan hancur sejak adikmu menghilang tanpa jejak."
Lady Eleanor terdiam sejenak. Hubungannya dengan sang Raja memang tidak pernah sedekat itu. Sejak kecil, ia dibesarkan di asrama biara yang jauh, berbeda dengan Alaric yang setiap hari berada di sisi Raja untuk mempelajari hukum dan tata kenegaraan.
"Ibu, aku tidak akan bisa mengobati kesedihan Ayahanda. Aku bukan Alaric, putra emas yang selalu ia banggakan," tolak Eleanor dengan bibir mengerucut, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang nyata.
Ratu Elizabeth menepuk lengan Eleanor dengan gemas. "Cckk, anak ini! Jangan keras kepala. Ayo, temui ayahmu. Dia membutuhkan keluarganya sekarang."
Eleanor membuang muka, masih merasa enggan.
"Eleanor!" tegur Ratu dengan nada yang lebih tegas.
"Iya, iya, Ibu," gumam gadis cantik itu. Dengan gaun sutra khas putri kerajaan yang megah namun terasa berat, ia melangkah gusar.
Ia menghentakkan sepatunya di atas lantai marmer, lalu berjalan menuju Paviliun Matahari, tempat di mana Raja Richard sering menghabiskan waktu dalam keheningan.
Langkahnya melambat saat memasuki selasar paviliun yang sepi. Ia menaiki undakan tangga batu kecil dengan anggun, lalu membungkukkan badan dalam-dalam, memberikan hormat yang kaku kepada sang ayah.
Di belakangnya, para pengawal zirah perak dan dayang-dayang istana turut menunduk khidmat, menjaga jarak agar tidak mengganggu privasi sang raja yang tampak rapuh di balik kemegahan takhtanya.
"Ayahanda," panggil Eleanor lembut, suaranya memecah kesunyian paviliun yang dingin.
"Aku tahu, pikiran Ayahanda sedang tidak tenang memikirkan Pangeran Alaric. Namun... aku percaya, Alaric pasti akan baik-baik saja di luar sana."
Raja Richard menoleh perlahan, menatap putri sulungnya yang kini benar-benar telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang anggun.
Sang Raja menghela napas panjang, beranjak dari kursi kebesarannya yang terbuat dari kayu ek tua, lalu melangkah menuju balkon yang menghadap langsung ke kolam air mancur di samping paviliun.
"Alaric tidak bisa memegang pedang, apalagi mengenakan zirah berat. Bagaimana mungkin Ayah bisa tenang?" suaranya terdengar berat dan serak.
"Kau pun tahu hal itu, Eleanor. Kata 'baik-baik saja' yang kau ucapkan... itu hanyalah hiasan untuk menenangkan hati yang sedang hancur."
Eleanor beranjak dari tempatnya dengan bantuan seorang dayang yang memegangi ujung gaunnya yang panjang. Dengan langkah yang begitu anggun, ia mendekati Raja Richard.
"Aku juga sangat mengkhawatirkannya, Ayahanda. Bagaimanapun juga, dia adalah satu-satunya adikku," ucap Eleanor lembut.
Ia memberanikan diri menyentuh lengan sang Raja, memberikan usapan ringan yang menenangkan sembari menyunggingkan senyum manis.
"Kami memang tidak tumbuh besar bersama di istana ini, tapi aku tetap menyayanginya sebagai darah dagingku sendiri. Mari kita berdoa kepada Yang Kuasa, semoga Alaric benar-benar dilindungi di mana pun ia berada."
Sruuut!
Anak panah yang baru saja dilepaskan Vion melesat di udara, namun hanya berakhir tertancap di batang pohon tua. Guci tanah liat yang berjarak sepuluh meter dari tempatnya berdiri masih utuh, tak tersentuh sedikit pun.
Vion menggeram pelan, kembali mengambil anak panah dari tabung di punggungnya. Ia menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangan antara ujung mata panah dan deretan guci di depan sana.
Sruuut!
"Cckk, sialan!" umpatnya saat anak panah itu kembali melesat jauh dari sasaran.
"Susah banget sih pakai busur manual begini!"
"Istirahatlah, anak manja. Anak panahmu sudah habis berserakan di tanah, namun guci-guciku masih tertawa mengejekmu di sana," ejek Master Hephaestus dengan seringai tipis.
Lelaki tua itu berbalik, berjalan santai masuk ke dalam pondok batunya sembari meneguk anggur dari botol kulit yang selalu tersampir di pinggangnya.
"Vion, kau mau minum dulu? Kau terlihat sangat kelelahan," tawar Von Gardo yang sejak tadi setia berdiri di sampingnya, mengawasi setiap pergerakan sang pangeran.
Vion terdiam sejenak, menimang satu-satunya anak panah yang tersisa di tangannya. Ia menoleh ke arah sang ksatria pelindung.
"Von Gardo, kau cobalah. Aku akan memperhatikan dan meniru teknikmu," ucapnya sembari mengulurkan busur kayu panjang dan anak panah itu.
TUUK!
"Awwh!" seru Vion spontan saat sebuah ranting kayu keras mendarat tepat di atas kepalanya.
Ia berbalik dengan gusar dan mendapati Master Hephaestus sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan melotot, memegang sebatang kayu kecil di tangannya.
"Apa-apaan kau, Tua Bangka?!" teriak Vion sembari mengelus kepalanya yang berdenyut.
"Di kerajaanku, kau bisa dijebloskan ke menara penjara paling bawah kalau berani menyentuh d**a seorang pangeran!"
Von Gardo hanya bisa berdehem keras, berusaha sekuat tenaga menahan tawa yang hampir meledak. Baginya, tingkah laku Vion jauh lebih menghibur dan "hidup" dibandingkan Pangeran Alaric yang asli.
Pangeran yang sekarang lebih berani bicara, bisa bergaul layaknya rakyat jelata, dan memiliki selera humor yang aneh.
"Jika kau terus mengandalkan orang lain, kau akan membusuk di hutan ini selamanya. Lalu ucapkan selamat tinggal pada dunia asalmu!" ucap Hephaestus tegas, namun nadanya terdengar sangat santai seolah sedang membicarakan cuaca.
Vion seketika terdiam. Bahunya merosot, ia menunduk menatap busur panah di genggamannya dengan tatapan nanar. Ada keraguan besar yang menghimpit d**anya.
Bagaimana mungkin dia, seorang pemuda biasa dari dunia modern, bisa menjadi ahli pedang dan pemanah legendaris dalam waktu singkat? Terlebih lagi, lawan yang menantinya adalah Archduke Valerius—pria bertangan besi dengan kekuatan sihir gelap yang sanggup meruntuhkan tembok benteng.