罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Taiketsu part I
...**...
...炎カラ蘇ル者...
...-Honō kara yomigaeru mono-...
...'Seseorang yang bangkit dari api'...
...⛩️🏮⛩️...
Dari belakang barisan, Jin tetap tidak bergerak.
Ia hanya berdiri dalam diam, wajahnya tersembunyi sebagian dalam bayang. Tapi sorot matanya... seolah ia sudah tahu akhir dari semuanya—dan memilih untuk membiarkan cerita ini berjalan sendiri.
Untuk sekarang.
Dalam batinnya, Jin mengamati lebih dari sekadar Noa.
Kuroda.
Dulu, pria itu lebih memilih diam seribu hari daripada berbicara satu kata yang tak perlu. Tapi malam ini... mulutnya lebih cepat dari pedangnya.
Ada yang berubah.
Atau mungkin... sesuatu di dalam diri Kuroda telah lama menunggu seseorang seperti Noa, dan akhirnya menemukan alasan untuk bersuara.
Jin tidak tersenyum. Tapi ia mengamati. Mencatat.
Dan ia menunggu.
Seperti mata langit yang tak berkedip.
...⛩️🏮⛩️...
Setelah pertemuan.
Noa tidak kembali ke kamarnya.
Ia berjalan keluar, ke pekarangan belakang dojo.
Langit masih kelabu. Gerimis turun tanpa arah.
Di bawah pohon plum yang belum berbunga, ia berdiri diam.
Irezumi di punggungnya berdenyut pelan. Seolah hidup. Seolah... menunggu.
Dan Noa tahu, apa pun yang terjadi semalam, belum selesai.
Baru dimulai.
"Kau tahu, kenapa aku meragukanmu tadi?"
Suara Kaede muncul dari belakang. Dingin, kaku, seperti menyamar dalam bayangan.
Noa hanya menoleh. Tidak menjawab.
Kaede berdiri di sampingnya, tapi tidak menatap.
"Karena kau bukan pewaris. Kau bukan keturunan resmi. Kau... adalah interupsi. Percikan api dari lilin yang seharusnya padam."
Noa mengangguk. "Aku tidak berniat jadi api. Tapi kalian sendiri yang menuangkan bensin."
Kaede tersenyum tipis.
"Kalau kau berpikir bisa hidup di sini hanya karena roh menerima tubuhmu... maka kau naif."
Noa kembali menatapnya. Mata Kaede tajam seperti orang yang sedang mempersiapkan perang.
"Klan ini tidak bergerak karena roh. Klan ini bergerak karena kesetiaan dan kekuasaan. Dan kau... tidak memiliki keduanya."
...⛩️🏮⛩️...
Hari itu, Noa tahu.
Ancaman terbesarnya bukan hanya Kuraokami.
Bukan roh pemangsa yang mendesis di bawah kulit.
Bukan irezumi darah yang masih terasa membakar punggungnya.
Tapi bayang-bayang orang-orang yang tidak akan pernah menerima.
Yang tidak akan pernah mengakui.
Dan yang—jika perlu—akan menghabisinya dari depan dan belakang.
Noa menatap langit Tokyo.
Di antara kabut dan angin, ia merasa... naga itu tidak sedang tidur.
Hanya membuka satu mata.
Menunggu.
Dan ia harus membuktikan bahwa tubuh ini—meski penuh luka, penuh penolakan—masih miliknya.
Untuk sementara.
...⛩️🏮⛩️...
Malam terasa terlalu sunyi. Angin yang biasa menyapu lembut kini membawa aroma tanah basah dan arang dari dupa ritual yang telah padam.
Kaede berdiri sendirian di pelataran luar aula meditasi, matanya menatap langit tanpa bentuk. Ia sudah berdiri di situ selama satu jam, tapi pikirannya menolak diam.
Noa telah melewati pengenalan.
Dan itu seharusnya menjadi kabar baik bagi klan.
Tapi tidak baginya.
Kilatan wajah itu masih menempel di kepalanya—wajah ibunya saat terakhir kali ditemukan di bathub kamar mandi. Terlelap dengan tubuh setengah terendam kubangan air yang bergradasi merah muda samar dan keunguan. Sebuah silet kecil tergeletak di lantai kamar mandi dan percikan darah yang sudah mengering. Tidak ada tanda perlawanan. Di nakas samping ranjang, segelas sake masih sisa sedikit dan selembar kertas dengan kalimat pendek. Hanya tiga baris tulisan, ditulis dengan tangan gemetar.
'Aku tidak bisa hidup bersama bayangan pelacur itu.'
'Otou-sama sudah memilih darah yang kotor.'
'Maaf, Kaede.'
Dulu ia tak mengerti. Tapi malam demi malam, fragmen menyesakkan itu mulai membuka: Raizen, ayahnya, berselingkuh dengan perempuan dari luar. Perempuan yang pernah menjadi hostess, yang menghilang entah ke mana. Tapi sebelum wanita itu menghilang, ia sempat melahirkan seorang anak perempuan.
Noa.
Kaede meremukkan rokoknya sebelum apinya mati.
Sekarang, anak dari pelacur itu—anak dari perselingkuhan—dipilih roh klan sebagai pewaris kekuatan Kuraokami.
Roh naga.
Sesuatu yang seharusnya tidak bisa diwarisi oleh darah luar.
Sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh darah murni.
'Kenapa dia? Bukan aniki Akiro-Reiji?
Bukan aku?'
Langkah pelan mendekat dari sisi barat halaman. Ia tak perlu menoleh untuk tahu.
Akiro.
Anak sulung Oyabun. Pewaris sah. Penjaga hukum dan martabat klan. Kakak tirinya.
"Apa kau akan berdiri di sini sampai fajar?" suara Akiro tenang, tapi mengandung teguran halus.
Kaede tak menjawab.
Akiro mendekat dan berdiri di sampingnya. Mereka sama-sama diam cukup lama hingga suara serangga terdengar seperti denting pisau di telinga.
"Kau gelisah karena Nakamura?" tanya Akiro akhirnya.
Kaede tertawa pendek, getir. "Dia anak dari wanita yang membunuh ibuku."
Akiro tidak terkejut. Seolah sudah tahu. "Kau pikir itu salahnya?"
Kaede menoleh, mata dingin. "Dia tidak harus ada di sini. Dia tidak pantas."
"Dia dipilih oleh roh naga, Kaede. Dan klan kita hidup berdasarkan pilihan yang datang dari dunia atas, bukan dari dendam pribadi."
Kaede menggertakkan gigi. "Kalau roh naga mulai memilih darah luar yang tercemar, mungkin sudah waktunya kita pertanyakan siapa yang sebenarnya mengendalikan siapa."
Akiro menatapnya dengan tajam. "Itu bahaya, Kaede. Pikiran seperti itu bisa membuatmu musnah. Atau lebih buruk—mengkhianati klan sendiri."
"Klan tidak bisa membedakan mana kehormatan dan mana cacat... pengkhianatan sudah terjadi sejak lama."
Angin malam menyapu mereka lagi. Hening. Tegang.
Kaede mengalihkan pandangannya ke arah bangunan tempat Noa dipulihkan setelah pengenalan.
"Dia akan tumbuh jadi ancaman," gumamnya. "Aku bisa lihat cara dia bicara, cara dia bergerak. Dia mungkin belum sadar, tapi ada sesuatu dalam dirinya. Bukan cuma roh. Tapi kemarahan. Kekacauan."
Akiro tidak menyela.
"Aku bisa menghadapinya sekarang, sebelum semua jadi lebih rumit."
Akiro perlahan memutar wajah, menatap Kaede dengan pandangan yang tajam namun mengandung sesuatu yang lebih dalam: belas kasihan.
"Kau bukan pembunuh," katanya.
Kaede mencibir. "Kita semua pembunuh di sini, aniki*."
"Ya. Tapi pembunuh yang tahu aturan."
Diam.
Akiro menarik napas, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tenang. "Jika dia menjadi ancaman, kita akan bertindak. Tapi kita akan menunggu. Menguji. Menilai dengan kepala dingin. Itu cara klan kita hidup. Kita bukan binatang."
Kaede tidak menanggapi.
Tapi dalam pikirannya, suara ibunya kembali bergema.
'Kau satu-satunya darah yang bisa membersihkan nama kita...'
...⛩️🏮⛩️...
Noa.
Ia berdiri di balik tirai tipis, tubuhnya lemah, tapi telinganya tajam.
Ia mendengar cukup.
Cukup untuk tahu bahwa beberapa mungkin banyak di antara mereka tidak menginginkannya di sini. Yang bahkan menginginkan kematiannya.
Tapi Noa tidak akan mundur.
Bukan karena ingin diterima, tapi ia memilih bertahan, menunggu waktu, mencari celah untuk membalas semua perlakuan klan ini padanya.
Dan sekarang, jika mereka pikir ia bisa dilenyapkan begitu saja—mereka tidak tahu siapa yang mereka hadapi.
Dia anak dari wanita yang dibenci.
Darah yang dianggap najis.
Tapi darah itu sekarang mengandung naga.
...—つづく—...
...*sebutan/panggilan saudara/yang lebih tua...
Dia bukan istri, bukan selir, cuma perempuan yang di takdirkan untuk melahirkan seorang bayi yang mungkin bisa saja menjadi ancaman untuk klan di masa depan.
prolog aja udah di suguhi cerita yang wah banget, penasaran sama kehidupan Rin dan bayinya nanti.