Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Segalanya berubah.
Pagi datang terlalu cepat bagi sepasang suami istri yang masih terlelap dalam pelukan, tubuh mereka saling menempel tanpa sehelai kain pun yang membatasi. Di atas ranjang besar itu, sang pria akhirnya mengerjapkan mata perlahan. Sisa kantuk masih berat menekan kelopak matanya, apalagi ia baru benar-benar terlelap menjelang subuh setelah malam panjang yang melelahkan bersama istrinya.
Ia menarik napas pelan, menatap langit-langit sejenak sebelum menoleh ke samping, mendapati wajah wanita yang masih tertidur tenang di lengannya. Ada keengganan untuk beranjak, tapi tanggung jawab menunggu. Dengan hati-hati, ia mengatur gerak, berusaha bangun tanpa membangunkan sang istri, meski tubuhnya sendiri masih terasa enggan melepaskan hangat yang tersisa.
Pria itu turun dari ranjang, mengecup kening wanitanya yang masih terlelap, sama sekali tak terusik oleh pergerakannya. Setelah itu, ia segera mengenakan kembali pakaiannya dan berlalu keluar kamar dengan langkah pelan.
Tujuannya tak lain adalah dapur. Ia membuka lemari pendingin, mengeluarkan beberapa bahan makanan yang tersusun rapi di dalamnya. Jujur saja, sejak dua minggu terakhir, ia bukan lagi pria yang hanya duduk manis menunggu hidangan tersaji di meja makan. Segalanya berubah. Kini justru ia yang turun langsung ke dapur, sementara istrinya yang baru belum sekalipun memasak sejak mereka tinggal bersama di rumah ini.
Adrian berdiri di depan meja dapur, menatap lurus ke arah ponselnya yang kini memutar sebuah video YouTube. Sebuah tutorial memasak yang akan ia praktikkan pagi itu. Sesekali keningnya mengerut, jarinya menggulir layar, lalu melirik kembali bahan-bahan di depannya, seperti sedang mencocokkan satu per satu.
Ada kesungguhan di sana, juga sedikit kikuk, tapi ia tetap bertahan di tempatnya, seolah pagi itu tak hanya tentang sarapan, melainkan tentang peran baru yang diam-diam ia jalani selama kurang lebih dua minggu terakhir.
“Apa aku keburu kalau buat soto?” gumamnya pelan, menimbang waktu yang ia miliki sampai masakan itu benar-benar siap. Ia melirik jam sekali lagi. “Sepertinya cukup,” lanjutnya, lebih meyakinkan diri sendiri.
Ia pun mulai bergerak. Bawang putih dan bawang merah dikupas satu per satu, lalu dicincang rapi. Beberapa potong ayam direbus, disuir dengan tangan, semua dilakukan tanpa banyak ragu. Gerakannya terkesan cekatan, seolah dapur bukan lagi tempat asing baginya.
Tak lama kemudian, suara wajan berpadu dengan gesekan spatula saat bumbu mulai ditumis. Aroma perlahan memenuhi dapur. Untuk seseorang yang baru belajar, ia terbilang cepat menangkap. Sekali melihat, sekali mencoba, dan ia langsung bisa menerapkannya.
Meski rasanya tak pernah seenak masakan Aulia seperti biasanya, bagi Adrian, bisa makan setiap hari tetaplah sesuatu yang layak ia syukuri.
Di sela-sela itu, ia menyeduh kopi untuk dirinya sendiri. Lalu membuat segelas susu hangat untuk istrinya. Semua dilakukan dengan gerakan telaten, nyaris tanpa tergesa.
Dan setelah semuanya selesai, Adrian menghidangkannya di meja makan. Dua piring ia siapkan berdampingan, rapi, seolah membayangkan mereka duduk berhadapan menikmati sarapan bersama.
...****************...
Usai itu, ia kembali ke kamar. Arumi masih terlelap, posisinya tak banyak berubah sejak tadi. Adrian menghela napas panjang sebelum melangkah ke arah lemari pakaian. Tangannya memilih kemeja dan celana yang akan ia kenakan ke kantor nanti. Semua ia lakukan sendiri. Sangat berbeda dengan hari-hari saat masih bersama Aulia, ketika ia hanya perlu mengenakan pakaian yang telah siap tanpa harus repot mengurus apa pun.
Selesai mandi dan berpakaian, Adrian kembali mendekati ranjang. Dengan suara lembut, ia membangunkan wanitanya.
“Arumi… sayang, bangun.”
Arumi menggeliat pelan. Matanya terbuka perlahan ketika Adrian menepuk lembut pipinya beberapa kali.
“Apa sih, Mas… baru tidur, capek banget aku,” keluhnya manja.
Adrian terkekeh pelan. Ia mengecup bibir Arumi beberapa kali sebelum berbisik,
“Bangun, sayang. Sudah siang.”
Arumi akhirnya bangkit dengan sisa kantuk yang masih menggantung di wajahnya.
“Ayo makan. Aku sudah buatkan soto,” ajak Adrian sambil menarik tangan Arumi pelan.
Mereka berjalan menuju meja makan. Sebelum Arumi menyentuh segelas susu di depannya, Adrian lebih dulu menyodorkan air putih.
“Ini minum dulu,” katanya singkat.
Arumi menerima gelas itu tanpa protes, meneguknya perlahan.
Keduanya menikmati sarapan dalam suasana yang hangat. Obrolan ringan mengalir pelan, menambah rasa nyaman di antara mereka.
“Bagaimana pekerjaanmu di kantor, Mas?” tanya Arumi di sela-sela memasukan suap demi suap makanan ke dalam mulutnya.
Adrian menghentikan kunyahannya, meletakkan sendok di atas piring. Senyum di bibirnya kali ini semakin lebar.
“Sayang, semuanya baik-baik saja. Beberapa bulan lalu perusahaan kami menyelesaikan satu proyek besar, dan itu di bawah tanggung jawabku. Aku cukup yakin setelah ini akan ada kenaikan jabatan,” ujarnya dengan nada bangga, teringat pujian yang ia terima dari atasan dan rekan kerjanya saat proyek itu rampung.
Arumi tersenyum, matanya berbinar. “Semoga ya, Mas. Semoga secepatnya kamu dapat kabar baik dan naik pangkat.”
“Amin,” balas Adrian singkat. Lalu ia menatap Arumi lebih lama sebelum bertanya, “Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kuliahmu? Sudah lebih dari dua minggu kamu tidak masuk kampus.” Ya, pagi ini baru mereka bicara lebih banyak setelah selama ini seringnya menghabiskan waktu bertarung di atas ranjang.
“Itu…” Arumi menggantung ucapannya sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, ragu, sebelum akhirnya bersuara pelan. “Aku dapat surat panggilan dari kampus, Mas.”
“Surat panggilan?” Adrian langsung menatapnya lebih serius. “Kenapa?”
“Kejadian beberapa minggu lalu ternyata ada yang merekam,” jawab Arumi lirih. “Videonya sekarang menyebar… viral di kalangan kampus.”
Ucapan itu membuat tangan Adrian terhenti di udara. Sorot matanya mengeras, bukan marah, tapi jelas ada kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.
“Sabar, sayang… berarti kamu harus kembali ke kampus dulu. Temui pihak kampus, jelaskan semuanya, dan beri tahu bahwa kita sudah menikah.” ujar Adrian mengusap lembut tangan istrinya, menyalurkan rasa hangat.
Arumi hanya mengangguk pelan. Mama masih di Jakarta bersama Kak Aulia, kan ya? batinnya, sebelum kembali mengunyah makanannya yang seketika terasa hambar di lidahnya.
Selesai makan, Adrian bersiap pergi ke kantor, sementara Arumi kembali ke kamar untuk merebahkan diri setelah Ia mengantar suaminya sampai ke depan, lalu menutup pintu perlahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian