Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan dari masa lalu
Aku tak menyangka, saat membuka akun media sosialku, sebuah DM muncul di layar.
Sederhana, singkat, namun entah mengapa, dadaku terasa berdebar.
“Namamu seperti tidak asing, seperti ada di masa laluku,”
tulisnya, diikuti tanda tertawa.
Aku menatap pesan itu lebih lama dari yang seharusnya. Beberapa detik terasa seperti berjam-jam. Aku mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa itu mungkin hanya kebetulan. Mungkin saja aku salah menafsirkan. Tapi ada sesuatu, suatu nada yang familiar dalam kata-katanya yang membuatku berhenti bernapas sejenak.
Aku teringat, dulu aku pernah menyimpan bukti percakapan kami. SMS panjang yang ku cetak, foto layar ponsel, disimpan rapi di kamar.
Aku masih bisa membayangkan betapa kikuknya aku saat membawa ponsel itu ke tukang foto. Meminta mereka memotret layar, menutupi rasa malu, dan tetap nekat agar bisa menyimpan setiap kata yang pernah ia kirim. Sekarang, setelah bertahun-tahun, kata-kata itu seperti menempel lagi di kepalaku. Hidup, lucu, dan hangat seperti dulu. Aku menatap nama pengirim DM itu berulang kali.
Hana.
Nama yang pernah kudengar, kutunggu, dan ku pendam diam-diam. Nama yang dulu membuatku memelihara rasa rindu yang tak pernah terucap.
Aku tidak langsung membalas. Aku duduk diam, memegang ponsel di tangan, membiarkan kata-katanya menempel di benakku. Ada campuran perasaan senang dan cemas. Senang karena ia ada, karena ia mengingat. Cemas karena apa yang harus kulakukan sekarang? Dulu, aku hanyalah teman dunia maya baginya. Aku yang terlalu memberi arti pada kata-kata. Sekarang, sepertinya ia mencoba menembus batas itu.
Beberapa kali aku menghapus pesan itu, berpura-pura tidak melihat, tapi tak lama kemudian membukanya lagi. Rasanya seperti menemukan pintu yang lama terkunci, dan aku menahan napas sebelum membuka kunci itu.
“Ah… tapi belum tentu benar,” pikirku dalam hati.
Tapi untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa ada sesuatu yang harus dicoba. Sesuatu yang dulu tidak pernah berani kulakukan.
Aku menatap layar ponsel, jari-jari gemetar sedikit.
Akhirnya, aku mengetik pesan balasan, dengan hati-hati, seolah setiap kata bisa mengungkap rahasia yang terlalu lama kusimpan.
“Iya… namamu juga seperti yang pernah ada di masa laluku,” tulis ku.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Jika itu benar… bagaimana caranya aku bisa tahu?”
Beberapa detik terasa seperti jam. Aku menatap dua centang biru yang belum muncul, berharap jawaban itu datang segera, tapi tidak juga.
Hatiku campur aduk. Senang karena ia masih ingat, tapi takut—takut jika ternyata aku salah menafsirkan perasaan lama itu.
Ingatan tentang SMS lama dan foto-foto yang kusimpan tiba-tiba muncul begitu jelas. Aku tersenyum sendiri. Betapa kikuknya aku dulu, tapi juga betapa tulusnya rasa itu.
Dan sekarang, setelah bertahun-tahun, rasa itu muncul lagi—lebih membingungkan, tapi juga lebih nyata.
Aku menunggu balasan, tapi tak berani menatap layar terus-menerus.
Rasanya seperti menahan napas, menunggu seseorang yang mungkin tak pernah kulihat, namun begitu lama kurindukan.
Aku menunggu balasan itu, tapi waktu terasa lambat seperti menyeret langkahku sendiri.
Lama… terlalu lama.
Aku menyerah, tapi bukan menyerah untuk menyerah. Aku menyerah pada kesabaran, dan memutuskan untuk melakukan satu hal yang dulu tak pernah berani kulakukan yaitu melihatnya.
Aku membuka profil Hana. Nama yang begitu asing dan akrab sekaligus. Foto profilnya membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat sederhana, tersenyum lembut, tanpa mencoba memamerkan apa pun.
Tapi mata itu… mata itu seperti pernah menatapku, meski aku tahu itu mustahil. Aku menelusuri unggahan-unggahannya, dengan hati-hati. Setiap foto, setiap kata yang ditulisnya, terasa seperti potongan masa lalu yang dulu ku sembunyikan dalam hatiku sendiri. Ada tiga wajah anaknya yang kurasakan energi hangatnya bahkan dari layar.
Ada senyum suaminya, tenang dan penuh tanggung jawab.
Dan di sana aku berdiri, di tepi dunia yang tidak pernah kutahu bisa kugapai. Rasanya aneh, senang, cemas, rindu, tapi juga takut.
Aku menyadari satu hal: yang kulihat bukan hanya akun media sosial. Yang kulihat adalah kehidupan nyata, yang berjalan tanpa menungguku.
Tapi juga, di setiap postingannya, ada jejak Hana yang dulu kukenal. Jejak kecil yang membuatku tersenyum sendiri, bahkan menahan air mata.
Aku menutup layar sejenak, menarik napas panjang.
“Aku harus berhati-hati,” bisikku.
“Ini bukan sekadar melihat ini kembali masuk ke dunia yang dulu tak pernah kukenal sepenuhnya.”
Tapi sejujurnya… aku tidak bisa berhenti. Setiap detik yang ku lalui di sana, setiap foto, setiap kata, membuat rindu itu menempel lebih erat.
Dan aku sadar, ini baru permulaan.