NovelToon NovelToon
Jejak Cinta Nirmala

Jejak Cinta Nirmala

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama / Berondong
Popularitas:420
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penculikan Orang Tak Bersalah

Rini mulai menyusun benda-benda di atas meja. Ada beberapa tabung yang tampak seperti bahan peledak rakitan, namun kali ini bukan diisi dengan bubuk kimia pengiritasi. Ia mencampurnya dengan serpihan logam tajam dan paku. Kegilaannya telah berevolusi menjadi sebuah kecerdikan teknis yang murni didorong oleh hasrat untuk menghancurkan.

"Satu ledakan untuk menarik mereka keluar," gumam Rini, matanya berkilat-kilat oleh cahaya lilin. "Satu sergapan untuk memisahkan sang pelindung dari putri mahkotanya. Dan satu belati untuk mengakhiri garis keturunan Dizan yang sok suci ini."

Ia mengambil belati yang tertancap di foto Ale, lalu menjilat ujung besi dingin itu dengan lidahnya. "Dendam ini... dendam ini abadi, Nirmala. Kau mencuri takhtaku, kau merusak harga diriku, dan kau membuatku dianggap gila. Sekarang, biarlah dunia melihat siapa yang sebenarnya gila saat aku menari di atas abu kerajaanmu."

Rini melemparkan botol anggurnya hingga pecah berantakan di lantai beton. Ia berdiri di tengah gudang, merentangkan tangannya lebar-lebar seolah-olah sedang menyambut tepuk tangan dari ribuan orang.

"Hahahaha! Datanglah padaku, Malaikat Kecil! Datanglah ke pelukan Bibi!"

Suaranya menggelegar, keluar dari gudang tua itu dan menghilang di antara deburan ombak pelabuhan. Di kejauhan, sirine kapal laut menyahut, seolah menjadi jawaban atas tantangan maut yang ia lemparkan.

****

Di kantornya, Nirmala tiba-tiba menggigil. Meski suhu ruangan diatur normal, ia merasa sebuah embusan angin dingin yang busuk baru saja melewati lehernya. Ia memejamkan mata, dan yang ia lihat hanyalah seringai Rini yang penuh darah.

"Ale," panggil Nirmala lirih.

"Ya, Nona?"

"Tingkatkan pengamanan di rumah orang tuamu. Dan juga untuk dirimu sendiri," Nirmala menatap Ale dengan mata yang penuh permohonan. "Dia tidak hanya mengincarku. Dia mengincar siapa pun yang kucintai. Aku tidak mau menang jika harganya adalah kehilangan kalian."

Ale mengangguk mantap, meski di dalam hatinya ia juga merasakan kegelisahan yang sama. Ia tahu bahwa Rini yang sekarang bukanlah lagi manusia yang bisa diajak berlogika. Rini adalah badai yang tidak punya arah, dan satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan menghancurkan pusat badai itu sendiri.

Malam itu, Jakarta tampak tenang, namun di bawah permukaan, sebuah skenario berdarah sedang digulirkan. Sang ratu gila telah menabuh genderang perang, dan fajar esok mungkin akan menjadi yang terakhir bagi siapa saja yang terjebak dalam pusaran dendam abadi seorang Rini Susilowati.

****

Langit Jakarta sore itu berwarna jingga pekat, seolah-olah semesta sedang melukiskan luka yang belum mengering. Di sebuah sudut kampus yang tenang, Aleandra Nurdin duduk dengan punggung tegak di hadapan meja kayu ek milik dosen pembimbingnya. Di tangannya, beberapa lembar revisi skripsi yang menjadi harapan masa depan ibunya di desa kini sudah bersih dari coretan tinta merah.

"Analisis ini jauh lebih matang, Ale. Kamu sudah bisa membawa emosi pribadimu ke dalam bahasa akademis yang kuat," ucap sang dosen sambil memberikan paraf pada lembar persetujuan.

Ale tersenyum tipis. "Terima kasih, Pak. Ini semua demi Ibu saya. Dia satu-satunya alasan saya bertahan sampai sejauh ini."

Namun, tepat saat Ale hendak menutup laptopnya, getaran ponsel di saku celananya terasa seperti sengatan listrik. Sebuah nomor asing berkedip di layar. Biasanya ia mengabaikan nomor tak dikenal, namun firasatnya mendadak dingin. Seolah-olah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram paru-parunya.

"Halo?" suara Ale bergetar pelan.

Keheningan menyambut di seberang sana, sebelum sebuah tawa melengking yang sangat ia kenali—suara yang telah menghantui mimpi buruknya—pecah membelah kesunyian.

"Mmph... Hmph... Hahahahahaha!"

Darah Ale serasa berhenti mengalir. "Rini..." desisnya, wajahnya yang tadinya tenang kini memucat seperti mayat.

****

Jauh dari lingkungan kampus yang teratur, di sebuah gudang tua di kawasan industri yang sudah mati, debu-debu menari di bawah pendar lampu bohlam yang berkedip. Di tengah ruangan yang berbau karat dan oli bekas, seorang wanita tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya terduduk di sebuah kursi kayu. Tangannya terikat kuat dengan tali nilon yang kasar, membuat kulit rentanya lecet kemerahan.

Itu adalah Bu Nurdin. Wajahnya yang penuh keriput kesederhanaan kini basah oleh air mata ketakutan. Di depannya, Rini Susilowati berdiri dengan keanggunan yang gila. Ia mengenakan gaun merah tua yang robek di bagian bawahnya, namun ia memegang ponsel itu seolah sedang memegang permata paling berharga.

"Ayo, Wanita Desa... katakan sesuatu pada putra jagoanmu," Rini menjambak pelan rambut Bu Nurdin, lalu mendekatkan ponsel itu ke bibir sang ibu yang gemetar. "Katakan padanya betapa rindu kau ingin melihat wajahnya sebelum... yah, sebelum perjamuan ini berakhir."

"A-Ale... Ale, Nak..." suara Bu Nurdin pecah oleh isak tangis. "Jangan datang, Nak! Lari! Wanita ini gila! Ale, demi Allah jangan d—"

PLAK!

Rini menampar pipi wanita tua itu dengan punggung tangannya hingga kepala Bu Nurdin terlempar ke samping. Rini kembali menarik ponsel itu ke telinganya, tawa histerisnya meledak kembali, lebih brutal dan lebih parau dari sebelumnya.

"Hahahaha! Kau dengar itu, Pahlawan Kecil? Suara ibumu yang suci itu terdengar sangat manis saat dia ketakutan," raung Rini. Ia menari-nari di sekitar kursi Bu Nurdin, menyeret belati karatan pada lantai semen hingga menimbulkan suara gesekan yang menyayat telinga. "Datanglah ke gudang sektor 4, pelabuhan lama. Datanglah sendirian jika kau ingin ibumu tetap bernapas. Jika kau membawa satu saja polisi... aku akan mengirimkan potongan jari ibumu ini sebagai hadiah kelulusanmu! Hahahaha!"

****

Di ruang bimbingan, Ale meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, matanya memerah oleh amarah yang tak terbendung. Sang dosen menatapnya dengan bingung. "Ale? Ada apa? Siapa yang menelepon?"

Ale tidak menjawab. Ia menyambar tasnya, meninggalkan laptopnya yang masih menyala. Pikirannya hanya tertuju pada satu titik: ibunya. Wanita yang selama hidupnya hanya tahu cara menanam padi dan mendoakannya, kini berada di bawah cengkeraman iblis yang paling ia benci.

Ia berlari menembus koridor kampus, melompati anak tangga dengan kecepatan yang dipicu oleh adrenalin murni. Ia mengeluarkan ponselnya, hendak menghubungi Nirmala, namun jarinya berhenti di atas layar.

“Kalau kau membawa satu saja polisi... aku akan mengirimkan potongan jari ibumu ini.”

Suara Rini terngiang seperti kutukan. Ale tahu Rini tidak sedang menggertak. Rini sudah kehilangan segalanya, dan orang yang tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan adalah musuh yang paling berbahaya. Ale menghidupkan mesin motornya, menderu di antara kemacetan Jakarta dengan satu tujuan pasti: membunuh atau dibunuh.

Kembali di gudang tua, Rini Susilowati kini sedang menyiapkan "panggung" untuk menyambut Ale. Ia menarik selendang imajinernya, melilitkannya ke leher Bu Nurdin yang sudah lemas tak berdaya. Rini berbisik di telinga wanita tua itu dengan nada yang sangat lembut, sebuah kontras yang mengerikan dengan perilakunya tadi.

"Kau tahu... putramu itu terlalu mencampuri urusanku. Dia pelindung yang setia, bukan? Tapi hari ini, kesetiaannya akan menjadi tali gantungan bagi kalian berdua."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!