Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
Megan terbangun dengan rasa mual yang langsung menghantam ulu hatinya. Jarum jam baru menunjukkan pukul enam pagi, tapi perutnya sudah bergejolak hebat seolah ingin dikuras habis.
Ia mencoba duduk, berniat lari ke kamar mandi sebelum isi perutnya mengotori sprei sutra itu.
Namun, sebuah tangan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya, menariknya kembali ke atas kasur yang empuk.
"Mau ke mana, Meg? Ini masih terlalu pagi," suara bariton Bradley terdengar serak khas orang baru bangun tidur.
Megan menegang. Ia ingin menyikut dada bidang itu, tapi sebuah keanehan yang menyebalkan terjadi. Begitu wajahnya terbenam di ceruk leher Bradley dan menghirup aroma tubuh itu, rasa mual yang tadi menyiksanya mendadak hilang. Lenyap begitu saja.
Megan tertegun. Ia mencoba menjauh, tapi setiap kali ia menjauh dari aroma tubuh Bradley, perutnya kembali bergejolak. Ia terpaksa mematung, membiarkan Bradley memeluknya dari belakang.
Perutnya yang rata belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang jelas, namun ikatan aneh ini membuatnya merasa terperangkap dalam tubuhnya sendiri.
Ia adalah agen yang kuat, terlatih untuk mengendalikan situasi apa pun, tetapi sekarang, rasa mual yang datang tak diundang itu seolah memiliki kendali penuh atas dirinya. Dan yang lebih buruk, penawarnya adalah sentuhan dan aroma pria yang paling ia benci di dunia.
Bradley tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun Megan bisa merasakan senyum sinisnya di bahunya. Pria itu menikmati momen ini, kemenangan kecil dalam perang dingin di antara mereka. Megan tahu, ini baru permulaan.
Kehamilan ini akan menjadi medan pertempuran baru, di mana tubuhnya sendiri menjadi sekutu musuh terbesarnya.
Ia menutup mata, mencoba mengabaikan panas tubuh Bradley yang merambat ke punggungnya. Ia harus mencari cara. Harus ada cara untuk melawan ikatan biologis yang konyol ini.
"Kamu kenapa diam saja, Meg?" tanya Bradley di balik seringaian puasnya karena Megan tak lagi memberontak dalam pelukannya.
"Kalau begitu lepaskan. Aku ingin pergi," balas Megan singkat.
Bradley melonggarkan pelukannya, membiarkan Megan beranjak. Namun, baru beberapa langkah dari ranjang, rasa mual kembali menyerangh. Tak ingin membuat Bradley merasa menang, ia menahan diri sekuat tenaga, lalu berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Bradley yang awalnya bersikap tak acuh, kini mulai merasa Megan terlalu lama di kamar mandi. Ia bangkit dan berjalan ke sana. Pintu kamar mandi yang tak tertutup rapat membuat Bradley bisa melihat Megan terduduk lemas di lantai, tubuhnya bergetar tak bertenaga. Pria itu mendengus, lalu mengangkat tubuh Megan dan membawanya kembali ke ranjang.
"Jangan pergi," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Megan saat Bradley hendak beranjak untuk mandi.
Bradley terdiam, tak percaya dengan pendengarannya. "Aku harus pergi bekerja, Meg. Aku tidak ada waktu bermain-main denganmu."
Megan tertegun, bingung kenapa ia sampai meminta Bradley tinggal. "Oke. Pergilah."
Megan menutup tubuhnya dengan selimut. Tak lama kemudian, Bradley sudah selesai dengan ritual mandinya. Ia kini sedang mengancingi kemejanya.
Saat aroma Creed Aventus yang mahal dan tajam itu menguar memenuhi kamar, Megan kembali berlari ke kamar mandi.
Setelah puas mengeluarkan isi perutnya, dengan sisa tenaga yang ada, Megan menghampiri Bradley, merebut botol parfum Creed Aventus dari atas meja, dan membantingnya ke lantai kamar mandi hingga pecah berantakan.
"Kau tahu aroma parfum ini menyiksaku! Sekarang lepaskan kemejamu! Itu membuatku mual!" tuntut Mega.
Bradley memandang heran pada Megan yang kini memaksanya melepas kemeja, dan juga botol parfum mahalnya yang hancur.
"Kau tahu berapa harga parfum yang kau buang, Meg?"
"Aku tidak peduli! Kau membunuhku dengan aroma sialan itu!"
Megan kembali berlari ke kamar mandi. "Sepertinya dia sangat tersiksa," batin Bradley, mulai merasa sedikit bersalah. Ia pun melepas kemejanya yang sudah terlanjur beraroma kuat, dan menggantinya dengan kemeja baru yang polos lalu keluar dari kamarnya.
***
Bradley kembali masuk kali ini dengan nampan berisi sarapan dan segelas susu hangat di tangannya.
"Makanlah, Meg. Kau sudah menghabiskan banyak tenaga hanya untuk memuntahkan isi perutmu," ucap Bradley, suaranya terdengar data.
Megan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menyambar nampan itu dari tangan Bradley dan membantingnya ke lantai dengan sekuat tenaga.
PRANG!
Pecahan porselen dan tumpahan susu berhamburan di lantai kamar yang mewah itu.
"Aku ingin pulang, Brad! Aku ingin bebas, bukan mendekam di sini bersamamu!" teriak Megan, napasnya memburu karena emosi.
Bradley tidak bergeming melihat kekacauan di kakinya. Ia justru maju satu langkah, mencengkeram kedua lengan Megan dengan sangat erat hingga wanita itu meringis.
"Dengarkan aku baik-baik, Megan Ford!" bentak Bradley, suaranya menggelegar hingga membuat nyali Megan sedikit menciut. Matanya berkilat penuh ancaman.
"Kau boleh membenciku sesukamu, tapi jangan pernah berani menyentuh apa yang menjadi milikku. Kalau sampai terjadi sesuatu pada janin itu karena ulah konyolmu... aku bersumpah, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Kau akan tahu apa artinya neraka yang sesungguhnya!"
Bradley menghempaskan tubuh Megan kembali ke ranjang dengan kasar, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Megan yang terisak frustrasi.
Tak lama setelah kepergian Bradley, seorang pelayan paruh baya masuk untuk membersihkan pecahan piring, disusul pelayan lain yang membawa nampan sarapan baru.
"Nona, Tuan meminta saya untuk membawakan sarapan ini untuk Anda. Tolong, makanlah sedikit saja," ucap pelayan itu dengan suara lembut.
"Aku tidak lapar," jawab Megan dingin tanpa menoleh pada wanita di hadapannya.
"Nama saya Martha, Nona. Saya sudah lama bekerja di sini dan Tuan meminta saya untuk menemani Anda selama di rumah ini."
Megan tiba-tiba menoleh, matanya menatap tajam Martha. "Apa Bibi bisa membantuku kabur dari neraka sialan ini?"
Martha menghela napas panjang, ia mendekat lalu mengusap lengan Megan dengan gerakan keibuan yang lembut. "Rumah ini sangat jauh dari pemukiman, Nona. Sejak kehadiran Anda, penjagaan di luar sana diperketat berkali-kali lipat. Saya rasa... tidak ada jalan keluar."
"Panggil aku Megan, Bi. Aku bukan nyonya di sini. Aku hanya butuh kebebasan."
Martha tersenyum tipis, matanya menyiratkan kesedihan. "Rumah besar ini dulunya sepi, jarang sekali ditempati. Saya tinggal di sini hanya untuk merawatnya. Tuan Bradley hanya datang sesekali, biasanya saat dia sedang sangat tertekan. Semua orang di London mungkin takut padanya, tapi percayalah, Megan... hatinya tidak seburuk yang orang-orang katakan."
Megan tertawa sinis. "Apa yang bisa aku percaya dari seorang kriminal kelas kakap yang kini jadi buronan, Bi?"
"Mungkin nanti kau akan lebih mengenalnya, Meg," jawab Martha tenang sembari meletakkan semangkuk sup hangat di pangkuan Megan.
"Sekarang makanlah. Sup ini sengaja saya buat, Tuan Bradley sendiri yang meminta saya memasaknya untukmu."
Megan tertegun menatap mangkuk di hadapannya. Aroma kaldu yang gurih dan rempah yang lembut itu seketika membuatnya teringat pembicaraannya dengan Bradley sebulan lalu di kafe.
Dia masih ingat? batin Megan kelu.
"Terima kasih, Bi," gumam Megan pelan, akhirnya meraih sendok dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Makanlah yang banyak. Kau bisa minta apa pun yang kau inginkan padaku, jangan sungkan," ucap Martha sembari mengusap kepala Megan sebelum pamit keluar.
*****
Pagi itu, atmosfer di The London Station terasa mencekik. Tidak ada aroma kopi yang biasanya menenangkan, yang ada hanyalah ketegangan yang pekat. Sean Miller duduk di ruang kerjanya dengan rambut yang berantakan dan dasi yang sudah longgar.
Matanya merah, ia tidak tidur satu detik pun sejak Megan menghilang.
Di depannya, layar monitor menampilkan titik terakhir sinyal ponsel Megan yang terputus di pusat kota London. Setelah itu? Gelap. Megan Ford hilang ditelan bumi.
"Sial!" Sean memukul meja dengan keras.
Pikirannya kalut. Bagaimana ia harus melapor. Bagaimana ia menjelaskan pada Langley bahwa putri kesayangan Direktur CIA hilang di bawah pengawasannya? Rasa frustrasi itu mulai berubah menjadi ketakutan yang dingin.
Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka kasar. Seorang agen bawahan masuk dengan napas memburu, membawa sebuah kantong plastik transparan bersegel Evidence.
"Sir! Kami menemukan sesuatu," ucap agen itu gemetar.
Sean berdiri seketika. "Megan? Kau menemukannya?"
"Bukan Agen Ford, Sir. Tapi... tasnya. Polisi sungai menemukannya tersangkut di dermaga pembuangan, jauh dari pusat kota. Di wilayah perairan Thames yang paling gelap."
Sean menyambar kantong plastik itu. Di dalamnya, tas kulit Megan tampak basah kuyup, berlumpur, dan rusak. Ia mengeluarkan isinya satu per satu, dompet yang basah, ponsel yang mati total, dan yang paling menyakitkan lencana CIA Megan yang sudah terlepas dari dompetnya.
"Ditemukan di sungai?" suara Sean bergetar hebat. "Siapa yang membuang barang-barangnya ke sungai kalau bukan untuk menutupi sebuah kematian?"
"Ada saksi yang melihat SUV hitam melaju kencang di jembatan pusat kota kemarin siang, tapi plat nomornya palsu, Sir. Kami sedang melacak CCTV, tapi sepertinya pelakunya tahu persis titik buta kamera keamanan kita."
Sean jatuh terduduk kembali di kursinya, mencengkeram lencana Megan yang dingin dan basah. Pikirannya langsung tertuju pada satu nama Bradley Brown.
"Bradley..." desis Sean dengan penuh dendam. "Jika kau menyentuh seujung kuku Megan, aku sendiri yang akan meruntuhkan seluruh London untuk menemukanmu."
****
Bradley menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk di lantai penthouse hotel miliknya. Cahaya dari tablet itu memantulkan kilat di matanya yang tajam saat ia melihat Megan meringkuk di bawah selimut di rumah Surrey.
"Mungkin dia kehabisan tenaga," batin Bradley dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. Ada kepuasan aneh melihat wanita sehebat agen CIA itu kini berada di bawah kendalinya.
Namun, ketenangannya terganggu saat pintu kantornya diketuk dua kali. Seorang pria tegap dengan setelan jas rapi masuk, ia tangan kanan Bradley, Peter Hod.
"Tuan, pengiriman dari pelabuhan tertunda. Ada pemeriksaan mendadak dari petugas otoritas yang tidak mau menerima suap," lapor Peter dengan suara rendah.
Bradley meletakkan tabletnya di meja dengan suara tak yang keras. Aura lembutnya saat menatap Megan tadi lenyap seketika, digantikan oleh hawa dingin yang mematikan. Ia meraih sebatang cerutu, menyalakannya, dan membiarkan asap tebal mengepul di udara.
"Petugas baru?" tanya Bradley singkat.
"Benar, Tuan. Anak buah kita sudah mencoba bernegosiasi, tapi dia bersih. Sangat merepotkan."
Bradley berdiri, berjalan ke arah jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota London dari ketinggian. "Bersih atau tidak, setiap orang punya harga, Pet. Jika dia tidak mau uang, cari tahu siapa yang dia sayangi. Istri, anak, atau rahasia kotor di masa lalunya."
Ia terdiam sejenak, memikirkan Megan yang sedang mengandung darah dagingnya. Ironis memang, ia sedang mengancam keluarga orang lain sementara ia sendiri sedang berusaha mati-matian "membangun" keluarganya dengan cara yang salah.
"Dan pastikan satu hal lagi," tambah Bradley, suaranya makin dingin. "Awasi The London Station. Sean Miller mulai bergerak liar mencari Megan. Kalau dia terlalu dekat dengan perimeter kita, beri dia peringatan yang tidak akan pernah dia lupakan."
Peter mengangguk patuh. "Baik, Tuan."
Setelah Petter keluar, Bradley kembali meraih tabletnya. Ia membelai layar itu tepat di wajah Megan yang sedang tertidur. “Jangan benci aku karena ini, Meg. Aku sudah lama berhenti berharap dunia memperlakukanku dengan cara yang benar. Monster ini dibentuk oleh seseorang yang lebih dulu mengajariku cara menghancurkan.”
😔
Megan hamil ✅
🤭🤭