Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**Bab 16 Waktu yang Dicuri**
Defit terbangun dengan perasaan asing seperti pulang ke rumah yang pernah ia kenal, tapi tata letaknya sedikit berubah.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap telapak tangannya sendiri. Ada garis halus di sana yang ia tak ingat pernah ada. Atau mungkin selalu ada, hanya saja hari ini terasa… baru. Kepalanya berat, bukan sakit, hanya penuh. Seolah pikirannya baru saja ditata ulang tanpa izin.
Dari dapur, terdengar suara piring.
“Maya?” panggilnya.
Tak ada jawaban.
Defit berdiri, melangkah keluar kamar, dan berhenti di ambang pintu dapur. Maya berdiri membelakanginya, bahunya tegang. Di meja, dua cangkir teh satu sudah dingin.
“Kamu bangun terlambat,” kata Maya, tanpa menoleh.
Defit mengerjap. “Jam berapa?”
Maya menoleh cepat. Tatapannya tajam, bukan marah takut. “Jam sembilan. Kamu biasanya bangun sebelum subuh.”
Defit ingin berkata aku lelah, tapi kata itu terasa terlalu kecil. Ia mengangguk saja, duduk, meraih cangkirnya. Tehnya pahit. Atau mungkin lidahnya yang berubah.
Di balai desa, suasana lebih sunyi dari biasanya. Orang-orang berbicara pelan, seolah takut mengganggu sesuatu yang tak terlihat. Kepala desa memanggil Defit ke ruang belakang.
“Kami menemukan ini,” katanya, meletakkan kain tua di meja.
Defit mengenalinya simbol yang tergores kasar, setengah terhapus. Simbol yang seharusnya tidak muncul lagi.
“Semalam muncul di tepi hutan,” lanjut kepala desa. “Seseorang memanggil mereka. Bukan kamu.”
Defit merasakan dingin merayap. “Siapa?”
“Kami tidak tahu. Tapi” kepala desa ragu, “orang itu tahu caranya menunggu. Seperti tahu kamu… melambat.”
Kata itu menusuk lebih dalam dari tuduhan apa pun.
Sore hari, Defit berjalan ke tepi sungai, mencoba menata pikirannya. Air mengalir seperti biasa konstan, tak peduli siapa yang kelelahan. Ia duduk, menatap arus, dan untuk sesaat… ia lupa kenapa ia datang ke sana.
Panik kecil menyala.
Ia menarik napas panjang, memaksa ingatan kembali. Sungai. Tenang. Fokus.
Bayangan itu muncul di permukaan air, lebih jelas dari sebelumnya.
“Jam-jam itu terasa, ya?” katanya lembut. “Kami tidak mengambil dengan kasar. Kami hanya… menggeser.”
Defit menatap bayangan dirinya sendiri yang tampak sedikit lebih tua. “Kamu membuatku rapuh.”
“Kami mengungkapkan apa yang selalu ada,” jawabnya. “Dan orang lain mencium baunya.”
Defit mengepalkan tangan. “Siapa yang memanggil kalian?”
Bayangan tersenyum. “Seseorang yang lelah menunggu penjaga yang sempurna.”
Malam itu, konflik pecah tanpa teriakan.
Maya duduk di lantai, menata buku-buku tua yang Defit simpan. Tangannya gemetar saat menemukan catatan lama tulisan Defit, rapi dan penuh keyakinan.
“Kamu bilang ini aman,” katanya pelan, mengangkat buku itu. “Kamu bilang tahu batasnya.”
Defit berlutut di depannya. “Aku masih mengendalikan”
“Kamu lupa sarapan,” potong Maya. “Kamu lupa janji ke Ratna. Dan tadi sore… kamu memanggilku dengan nama ibumu.”
Kata-kata itu jatuh satu per satu, berat.
Defit menelan ludah. “Aku tidak bermaksud”
“Aku tahu,” Maya menatapnya, air mata menggenang. “Itu yang membuatku takut. Kamu tidak bermaksud apa-apa, tapi kamu tetap terkikis.”
Ia menyentuh dada Defit, tepat di atas segel. “Berapa banyak waktu yang sudah mereka ambil?”
Defit diam.
Maya tertawa kecil, getir. “Kamu bahkan tidak tahu, ya?”
Keheningan itu lebih kejam daripada kemarahan.
Di luar, hutan berdesir. Angin membawa bisik-bisik yang bukan milik malam.
Defit berdiri, menatap pintu. Ia merasakan panggilan itu lagi bukan permintaan bantuan, melainkan tantangan.
“Aku harus pergi,” katanya.
Maya berdiri juga, menggeleng. “Tidak sendirian.”
Defit menatapnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat bukan orang yang ingin ia lindungi melainkan orang yang memilih bertahan meski tahu risikonya.
“Kalau kamu ikut,” katanya pelan, “aku bisa kehilanganmu.”
Maya melangkah mendekat, menggenggam tangannya. “Kalau aku tinggal, aku kehilangan kamu sedikit demi sedikit.”
Di hutan, sebuah cahaya redup menyala tanda pemanggilan yang tidak sempurna, tapi cukup berbahaya.
Defit menghela napas panjang. “Baik. Tapi denganku.”
Maya mengangguk.
Di sungai, bayangan itu memudar, meninggalkan satu kalimat yang menggantung di udara:
“Ketika waktu penjaga menipis, yang diuji bukan kekuatannya melainkan siapa yang ia izinkan berjalan di sisinya.”
Malam menutup desa dengan janji luka yang lebih jujur.
terus menarik ceritanya 👍