Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Warna yang Terlarang
Keluar dari bioskop, Gathan tampak jauh lebih rileks. Garis-garis kaku di wajahnya melunak, bahkan ada binar jenaka yang jarang terlihat di matanya. Ternyata, menonton film komedi tidak seburuk yang ia bayangkan. Selama ini hidupnya hanya diisi oleh angka, strategi bisnis, dan pengkhianatan, hingga ia lupa bagaimana rasanya tertawa lepas hanya karena lelucon receh di layar lebar.
Gathan meraih tangan Alisha, genggamannya terasa mantap namun lembut. "Terima kasih pilihannya, Na. Kakak tidak menyangka akan sehibur itu," ucapnya tulus.
Namun, kejutan untuk Alisha belum berakhir. Gathan menuntunnya masuk ke sebuah butik mewah yang interiornya didominasi warna emas dan marmer putih. Di sana, deretan tas dari desainer ternama berjejer rapi di balik etalase kaca yang berkilau.
"Pilih berapapun yang kamu mau," ucap Gathan santai, seolah sedang menawarkannya segelas air mineral.
Alisha melirik salah satu label harga pada tas kecil di depannya. Rp50.000.000. Ia menelan ludah dengan susah payah. Angka itu setara dengan biaya hidup keluarganya selama berbulan-bulan. Di rumah ini, uang benar-benar terasa seperti kertas biasa.
"Untuk apa tas lagi, Kak?" tanya Alisha mencoba menolak halus. "Aku tidak sedang butuh tas. Rasanya tas di kamar masih banyak dan bagus-bagus."
Gathan menghentikan langkahnya, menatap Alisha dengan tatapan sedikit bersalah. "Dulu, sebelum kecelakaan itu terjadi, Kakak sempat berjanji akan membelikanmu hadiah karena kamu berhasil memenangkan tender proyek besar. Tapi kemudian... kamu menghilang. Janji itu terus mengganjal di hati Kakak. Jadi, anggap saja ini pemenuhan janji yang tertunda."
Alisha terdiam. Ia tidak punya alasan lagi untuk menolak. Dengan langkah ragu, ia mulai mengitari butik tersebut. Matanya menyisir deretan koleksi musim panas, hingga langkahnya terhenti di depan sebuah tas berbahan kulit premium dengan warna soft pink yang sangat cantik. Desainnya feminin, manis, dan sangat "Alisha".
Tanpa sadar, jemari Alisha menyentuh permukaan tas itu. Wajahnya yang tadi tegang mendadak cerah. "Ini bagus..." gumamnya pelan.
Namun, saat ia menoleh ke arah Gathan, ia mendapati pria itu sedang menatapnya dengan dahi berkerut dalam. Tatapan Gathan seolah sedang membedah sesuatu yang ganjil.
"Ada yang salah, Kak?" tanya Alisha, jantungnya mulai berdegup kencang karena takut melakukan kesalahan lagi.
"Kamu memilih warna pink?" Gathan bertanya dengan nada heran yang kental. "Bukankah sejak dulu kamu paling anti dengan warna itu? Kamu selalu bilang pink itu warna yang terlalu... lemah dan kekanak-kanakan."
Duar!
Alisha merasa seperti baru saja menginjak ranjau darat. Ia merutuki dirinya sendiri. Ia terlalu terbawa perasaan pribadinya. Ia lupa bahwa Aruna adalah wanita tangguh yang dunianya didominasi warna monokrom. Di kamar Aruna saja, tas-tasnya hanya berwarna hitam legam atau cokelat tua yang maskulin.
"Ah... itu," Alisha memutar otak secepat kilat, mencoba menetralkan suasana. "Aku... aku hanya ingin mencoba sesuatu yang berbeda, Kak. Mungkin dengan mencoba warna baru, suasana hatiku juga bisa berubah jadi lebih ceria. Lagipula, aku ingin memulai hidup baru setelah amnesia ini, kan?"
Gathan terdiam sesaat, menatap tas pink seharga 76 juta itu, lalu menatap adiknya. Setelah beberapa detik yang terasa seperti satu jam bagi Alisha, Gathan akhirnya mengangguk.
"Selama kamu senang, Kakak tidak keberatan. Apapun untukmu."
Setelah transaksi selesai, Alisha keluar dari butik dengan menjinjing tas kertas mewah itu. Rasa senang karena mendapatkan barang favoritnya ternyata mampu mengalahkan rasa takutnya sesaat. Dengan wajah berseri-seri, tanpa sadar Alisha menggandeng lengan Gathan dan berjalan berdempetan dengan pria itu.
"Makasih ya, Kak! Tasnya benar-benar cantik!" ucap Alisha dengan nada riang yang jujur.
Gathan sempat tersentak kaget. Aruna yang asli jarang sekali melakukan kontak fisik seakrab ini di depan umum, apalagi menggandeng lengannya dengan begitu manja. Namun, melihat senyum tulus di wajah "adiknya", pertahanan Gathan runtuh. Ia merasa seolah mendapatkan kembali sosok adik yang selama ini tersembunyi di balik cangkang dingin Aruna.
Gathan menepuk punggung tangan Alisha yang melingkar di lengannya. "Sama-sama. Sekarang, bagaimana kalau kita makan malam? Ada satu restoran yang menyajikan makanan favoritmu, steak dengan tingkat kematangan medium rare tanpa saus tambahan."
"Steak?" Alisha mengulang kata itu dengan nada ragu. Bayangan daging setengah matang yang masih kemerahan tanpa saus sama sekali tidak menggugah seleranya. Mengingat lidahnya baru saja merindukan sambal ayam geprek tadi siang, ide makan steak terasa seperti siksaan baru.
Tiba-tiba, Alisha memegang pelipisnya. Ia memejamkan mata dan sedikit meringis, akting yang sudah menjadi senjata andalannya.
"Kak... sepertinya kepalaku mulai berdenyut lagi. Mungkin karena terlalu lama di bawah lampu mal atau karena efek obatnya mulai hilang."
Gathan seketika menghentikan langkah. Raut wajahnya yang santai berubah menjadi penuh kecemasan. Ia memegang kedua bahu Alisha, menatapnya dengan teliti.
"Pusing lagi? Ya Tuhan, maafkan Kakak. Harusnya Kakak tidak memaksamu jalan sejauh ini."
"Tidak apa-apa, Kak. Tapi sepertinya aku tidak sanggup jika harus duduk lama di restoran," ucap Alisha lirih.
"Kita pulang sekarang," putus Gathan tegas.
"Kita makan di rumah saja supaya kamu bisa langsung istirahat."
Gathan menuntun Alisha menuju parkiran dengan sangat hati-hati, seolah-olah Alisha adalah barang pecah belah. Sepanjang perjalanan pulang, Gathan tidak melepaskan tangan Alisha, memastikan gadis itu tetap nyaman.
Begitu mereka sampai di kediaman Ardiansyah, jarum jam sudah melewati waktu makan malam keluarga. Elena, Clarissa, dan Julian sudah tidak terlihat di ruang makan, yang merupakan sebuah keberuntungan besar bagi Alisha. Suasana rumah terasa sunyi, hanya ada cahaya lampu gantung kristal yang temaram.
"Mbak Sari sudah menyiapkan sup hangat dan makanan ringan di meja. Ayo, temani Kakak makan sebentar saja, kamu juga belum makan kan, setelah itu kamu tidur," ajak Gathan.
Kini, Alisha duduk di ruang makan yang luas, berhadapan langsung dengan Gathan. Meja makan panjang itu terasa sangat sempit karena intensitas kehadiran Gathan di depannya. Pria itu sudah melepas jam tangannya, melipat lengan kemejanya hingga ke siku, menampilkan kesan maskulin yang sangat kuat namun santai.
Alisha menunduk, mencoba fokus pada sup di depannya. Namun, ia bisa merasakan tatapan Gathan yang sesekali tertuju padanya dengan penuh kasih sayang. Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya melodi di antara mereka.
Setiap kali Gathan bertanya, "Rasanya enak?" atau "Masih pusing?", Alisha hanya bisa menjawab dengan anggukan atau gumaman pendek. Perutnya yang tadi berbunyi lapar, kini mendadak terasa penuh, bukan karena kenyang, melainkan karena rasa gugup yang menyesakkan dadanya.
Degub jantung Alisha berdetak jauh di atas normal. Berada sedekat ini, hanya berdua dengan Gathan di tengah keheningan malam, membuat Alisha tersadar betapa berbahayanya posisi ini. Gathan bukan hanya melindungi Aruna, tapi ia memberikan seluruh jiwanya. Dan Alisha, yang hanya seorang penyusup, mulai merasa bahwa benteng pertahanan hatinya perlahan-lahan mulai retak oleh kehangatan pria di hadapannya ini.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊